Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Bukan Adek


__ADS_3

kini seluruh keluarga dan beberapa tetangga kanan kiri yang tadi ikut menghadiri akad nikah Lifi dan Byan sudah nampak pulang, menyisahkan pak Rahman, istri dan tentu saja adiknya Naila.


Pak Ilham dan Pak Rahman, Faris juga Byan, mereka sedang berada diruang tamu. Sedangkan para perempuan berada di ruang tengah. Mereka terlihat sedang mengobrol santai.


Setelah dirasa waktu cukup malam, akhirnya pak Rahman dan keluarga mohon pamit pada keluarga besannya.


"sayang, mama balik dulu ya. besok mama tunggu kedatangan kamu dirumah" ucap bu Kinan sambil membelai sayang kepala menantunya.


Bu Maira yang melihat anaknya diperlakukan begitu lembutnya oleh sang mertua merasa sangat bahagia dan bersyukur. Setidaknya ia merasa sedikit lega saat Lifi tinggal bersama mertuanya nanti.


Ya, memang dari awal pak Rahman sudah meminta izin pada besannya bahwa setelah menikah ia akan memboyong menantunya ke rumahnya. Dan sebagai ayah dari seorang putri, tentu dia sudah tidak berhak lagi. Karena seorang istri akan selalu ikut kemana suaminya pergi. Begitu yang di fahami oleh pak Ilham.


Mereka semua sudah berada diteras untuk mengantar kepulangan pak Rahman dan keluarga. Saat hendak melangkah keluar dari teras, bu Kinan menghampiri Lifi dan berbisik ketelinganya.


"Mama titip Byan ya, kalau dia nakal kamu bisa lapor saja sama mama"


Lifi pun tersenyum saat mendengar ucapan mama mertuanya. Byan yang melihat interaksi keduanya hanya bisa mengernyitkan keningnya. Ia hanya berfikir apa yang sedang dibicarakan oleh ibunya sampai harus bisik-bisik segala.


Mobil Pak Ilham sudah tak terlihat lagi. Mereka pun semuanya langsung masuk.


"Nak Byan pasti capek kan, sebaiknya sekarang istirahat saja" ucap bu Maira pada menantu nya.


"Lif....ayo antar suamimu ke kamarmu. Biarkan dia beristirahat. Kamu juga istirahat" kali ini ayahnya yang berkata pada Lifi.


Setelah mengatakan hal itu, baik ayah maupun bundanya sama-sama langsung beranjak dari situ.


Kini tinggallah mereka berdua. tanpa berkata apapun Lifi langsung berjalan menuju kamarnya dengan diikuti Byan dari belakangnya.


Merekapun kini tengah berada di kamar Lifi. Kamar yg tidak begitu luas namun sangat bersih dan rapi. Hal ini sangat menggambarkan karakter Lifi yang notabenenya memang anaknya sangat rapi dalam segala hal.


Berada dikamar dengan lawan jenis untuk pertama kalinya, tentu membuat keduanya canggung. Bahkan Jika biasanya Byan paling suka menggoda Lifi, namun entah kenapa sekarang dia terlihat nampak gugup sekali.


"Ehem...." Byan sengaja berdehem untuk menetralkan kegugupannya.


"Boleh numpang ke kamar mandi" ucap Byan membuka obrolan.

__ADS_1


"saya tidak terbiasa tidur sebelum membersihkan diri" ucap Byan kemudian


Lifi tidak menjawab perkataan Byan, namun dengan cepat tangannya langsung mengarah pada pintu lemari, mengambil handuk bersih untuk diberikannya pada Byan.


Byan pun menerimanya dengan senyuman, dan setelahnya ia langsung bergegas ke kamar mandi.


Didalam sana nampak Byan menikmati ritual mandinya. Sedang Lifi, dia nampak duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang entah berkelana kemana.


Hingga beberapa saat ia mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Lifi pun mendongakkan kepalanya, dan alangkah terkejutnya karena dia langsung disuguhi pemandangan dimana Byan hanya menggunakan handuk sampai pinggangnya.


"komet....lo porno deh" ucap Lifi sambil dirinya berbalik arah agar tak melihat Byan.


"aku dari tadi manggil-mnggil kamu buat minta tolong ambilin baju, tapi kamunya gak denger" ucap Byan membela diri.


Karena memang setelah mandi tadi Byan sempet beberapa kali memanggil istrinya itu untuk diminta mengambilkan baju ganti. Namun Byan tak mendengar jawaban dari sang istri. Al hasil dia keluar hanya dengan menggunakan handuk.


Lifi pun sama sekali tak menghiraukan Byan. Ia malah sibuk mengambil bajunya dan segera bergegas ke kamar mandi.


"ish....ini baju apaan sih, susah banget di lepasinnya" nampak Lifi terlihat mendumel sendiri si kamar mandi, dia terlihat kesulitan membuka baju kebayanya. Namun dengan susah payah akhirnya Lifi bisa melepasnya juga. Dia tidak ingin seperti di novel-novel, dimana disitu ada adegan pemeran wanita meminta bantuan suaminya untuk meminta tolong melepaskan bajunya.


Namun sayang sekali, dugaan Lifi salah. Byan malah nampak asik duduk bersandar pada headboard ranjang sambil memainkan ponselnya.


Melihat istrinya sudah berada didepannya Byanpun meletakkan ponselnya di nakas.


"udah mandinya, kok lama banget sih" ucap Byan


"suka-suka gue lah, awas ah gue mau tidur" ucap Lifi sambil mengibaskan tangannya, bermaksud menyuruh Byan pindah dari tempatnya.


"tidur ya tinggal tidur aja dek" ucap Byan enteng sambil dirinya merebahkan diri di kasur.


Lifi nampak mengernyitkan keningnya karena merasa mendengar sesuatu yang sepertinya sangat aneh dengan panggilan yang di lontarkan Byan padanya


"Dek...?" jawab Lifi kaget

__ADS_1


"Ia, kamu udah resmi jadi istri saya, jadi akan sangat tidak sopan jika saya manggil kamu hanya dengan nama saja. dan satu lagi, gak ada lagi Lho atau gue. Itu namanya gak sopan DEK" ucap Byan dengan sedikit menekan kata Dek.


"sorry gue bukan adek lho" ucap Lifi kesal karena tak terima dirinya lagi-lagi di panggil begituan oleh Byan.


"Maunya di panggil apa hem" ucap Byan sambil beringsut mendekat pada Lifi yang sejak tadi hanya berdiri di sisi ranjang satunya. Bahkan dengan tiba-tiba Byan menarik tangan Lifi hingga gadis itu teduduk tepat di depan Byan dengan posisi Byan merangkulnya dari belakang.


Lifi yang nampak kaget, langsung berusaha memberontak. Tapi jelas dia kalah tenaga dari Byan. Karena semakin dia berontak, semakin erat pula rangkulan Byan padanya.


Kerena sudah tidak bisa melawan lagi, akhirnya Lifi memilih diam.


"nah diem gini kan enak" ucal Byan saat merasakan tak ada pergerakan dari Lifi.


"tolong lepasin, gue sesek nih" ucap Lifi sedikit lembut dengan maksud agar Byan mau melepasnya


"emang kenapa, kita udah sah lho Dek, jadi mau lebih dari ini juga boleh" Byan sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda Lifi.


"dak dek, udah dibilangin gue bukan adik lo" ucap Lifi kesal.


"sama, tadi juga udah dibilangin, gak ada lagi Lho gue Gue." ucap Byan tak mau kalah.


"ck....nyebelin " Lifi berdecak kesal karena Byan terlihat tak mau kalah.


"bisa dilepas gak, gue sesek banget ini" Lifi kembali bergerak, karen merasa dirinya agak sulit bernafas gara-gara posisi Byan yang merangkulnya dari belakang.


Byan pun perlahan melepaskan rangkulannya, dan dengan cepat Lifi berusaha untuk segera beranjak dan berdiri. Namun belum sampai sempurna posisinya berdirinya, Byan sudah menariknya kembali.


" mau kemana, duduk sini. Kita perlu bicara" ucap Byan kemudian.


Lifipun memilih menurut dengan berpindah posisi duduk di sebelah Byan. Dari pada berontak, yang akan berujung pada Byan akan merangkulnya kembali.


"ya udah mau ngomong apa, cepetan. Udah ngantuk ini" kembali Lifi berkata dengan nada ketusnya.


"Hem...." Byan nampak membuang nafas berat.


Byan nampak berfikir, bahwa saat ini dia harus memiliki kesabaran ektra untuk menghadapi Lifi yang sepertinya belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya.

__ADS_1


Melihat Byan yang masih belum bicara satu katapun, membuat Lifi kesal.


Pasalnya lelaki yang sejak beberapa jam lalu telah resmi menjadi suaminya tiba-tiba nampak diam saja dan belum mau membuka suara.


__ADS_2