Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Calon Besan


__ADS_3

"Assalmualaikum" Sayup sayup terdengar suara orang mengucap salam dari luar rumah, hingga membuat sang pemilik rumah yang saat itu hendak meneguk secangkir teh jadi mengurungkannya.


Diapun kemudian bergegas untuk membukakan pintu seraya menjawab "Wa-alaikum Sa-lam" dengan suara yang terbata karena antara ingat dan tidak ingat dengan sosok yang sekarang sedang berdiri dihadapannya.


"Rahman, apa benar ini Rahman?" Pak ilham bertanya dengan sedikit ragu, meskipun kini ia sudah mengingat siapa tamunya ini. "Betul kang, ini saya Rahman, bagaimana kabar kang Ilham"


Pak Rahman tersenyum karena ternyata sahabatnya ini tidak sepenuhnya melupakan dirinya. "Alhamdulillah....seperti yang kamu lihat sekarang Man, aku baik-baik saja."


Kedunya kemudian berpelukan, untuk saling menumpahkan rasa rindu mereka. Pak Ilham pun kemudian membawa sahabatnya masuk dan keduanya bercengkrama menanyakan kabar masing-masing. Hingga tanpa sengaja pandangan pak Rahman tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpampang didinding ruang tamu tersebut. "Maaf kang, kalau boleh tau apakah gadis di foto itu adalah putrimu?" Pak Rahman sengaja bertanya karena ingin betul-betul memastikan apakah temannya ini benar-benar memiliki anak perempuan sesuai informasi dari asistennnya Danu. Pak Ilham menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Seutas senyum terbit dari bibir pak Rahman. Ia sangat bahagia karena informasi dari Danu ternyata benar adanya jika sahabatnya ini betul-betul memiliki anak gadis. Meskipun ia belum bisa memastikan apakah putri sahabatnya sekarang ini sudah mempunyai calon suami atau belum. Tapi setidaknya ia mempunyai kesempatan untuk menjodohkan putranya sesuai perjanjian yang dulu pernah mereka sepakati.


"Ehem..." Pak Rahman sengaja berdehem, berusaha menetralkan fikirannya ketika hendak ingin menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah sahabatnya. "Sebelumnya saya meminta maaf, jika nanti apa yang saya sampaikan pada kang Ilham kurang berkenan." Pak Rahman berusaha bernafas panjang sebelum melanjutkan pembicaraannya. "jadi begini kang, maksud kedatangan saya kemari adalah saya ingin menanyakan perihal bagaimana kelanjutan perjanjian yang dulu pernah kita buat pada saat dulu kita masih dipesantren. Saya harap kang Ilham masih mengingatnya." Jelas pak Rahman.


Flash Back


Hari itu adalah hari yang paling menyakitkan bagi Ilham, dimana ia mendapat kabar jika ayahnya meninggal dunia. Diapun akhirnya pulang dari pesantren dengan dijemput oleh pamannya. Setelah peringatan 7 hari kematian ayahnya, Ilham kembali ke pesantren. Namun ia kembali hanya untuk berpamitan dan mengambil barang-barangnya dipesantren. Ilham tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya karena ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarganya telah berpulang kepangkuan sang Khalik. Ibunya yang notabenenya hanya seorang ibu rumah tangga, tentu masih harus mulai belajar mencari pekerjaan. Dan kondisi inilah yang membuat ibunya tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan Ilham dipesantren.

__ADS_1


Rahman sendiri adalah santri yang baru setahun ini masuk dipesantren tersebut. Ilham yang lebih senior darinya, oleh pengurus pesantren diberi tugas untuk menjadi pembimbing Rahman yang masih baru pada waktu itu. dan karena inilah akhirnya Rahman dan Ilham jadi bersahabat. Bahkan orang tua Rahman sangat menyukai Ilham.


Bagi Rahman, Ilham bagaikan sosok seorang kakak yang mampu memberikan perlindungan dalam keadaan apapun. Rahman sendiri yang notabenenya berasal dari keluarga kaya dan sudah terbiasa dengan fasilitas yang super lengkap, tentu merasa sedikit kesulitan beradaptasi saat awal-awal tinggal dipesantren. Dan sosok Ilham inilah yang dengan telaten mendampingi Rahman hingga ia bisa merasa nyaman dan betah berada dipesantren.


Namun saat mendengar sahabatnya harus berhenti dari pesantren, tentu membuat Rahman sangat merasa kehilangan.


"Kang, tidak bisakah untuk tetap disini sampai aku lulus, aku akan bilang sama ayah agar beliau mau membiayai pendidikanmu disini." ? Mohon Rahman pada ilham. "Maaf aku gak bisa Man, kamu tau sendiri aku adalah anak laki-laki pertama. Aku masih punya adik, jadi mau tidak mau aku harus membantu ibu Man." Jelas Ilham dengan wajah yang nampak sayu. "Kang, maukah kau berjanji satu hal padaku, begitupun dengan aku akan berjanji padamu" Rahman berbicara sambil menggenggam tangan Ilham. "Janji apa Man?"


"Begini, kelak jika kita sudah sama-sama punya anak, kita akan menjodohkan anak-anak kita. Aku tau perkataan ku ini terdengar sangat begitu konyol, karena kita berdua belum menikah tapi sudah memikirkan untuk menjodohkan anak. Tapi kita harus yakin kang, karena dengan cara ini hubungan persahabatan kita akan tetap terjaga nantinya. Bahkan akan semakin erat." Jelas Rahman.


Dan setelah itu, akhirnya Ilham betul-betul pamit dan meninggalkan pesantren dengan perasaan yang begitu berat.


Flash Back Off


Suasana sedikit menegang, namun itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba dari arah dapur nampak istri pak Ilham, bu Maira datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan makanan ringan. pak Ilham pun kemudian memperkanalkan istrinya pada sahabatnya. Merekapun nampak berbincang singkat, karena setelahnya bu Maira pamit kebelakang.


"Jadi bagaimana kang, apa kita bisa melanjutkan perjanjian itu, saya sangat berharap putri kang Ilham belum mempunyai calon dan kang Ilham maubmenerima putra saya untuk di jodohkan dengan putri kang Ilham" kali ini pak Rahman berbicara dengan nada memohon.

__ADS_1


"Hem....." Pak ilham menghela nafas dalam-dalam. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Mau menolak sudah terlanjur berjanji, mau menerima dia merasa kalau keluarganya sangat tidak pantas jika harus menjalin hubungan dengan keluarga pak Rahman. Mengingat latar belakang pak Rahman yang berasal dari keluarga berada.


"Jadi begini Man, memang betul saya mempunyai satu orang putri sekarang dia berusia delapan belas tahun. Dia juga baru masuk perguruan tinggi tahun ini namanya Lifi." jelas pak Ilham.


"Wah kalau begitu sama kang, putra ku juga baru masuk perguruan tinggi. Seharusnya dia sekarang sudah semester tiga. Hanya saja dia memaksa padaku untuk menunda masa kuliahnya karena dia ingin belajar membuka usaha dan fokus pada usahanya dulu. tapi aku hanya memberinya waktu setahun untuk menundanya." setelah mengatakan itu pak Rahmah menyodorkan ponselnya pada pak ilham. Bermaksud menunjukkan wajah putranya pada sahabatnya. Pak ilham melihatnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas memang wajah putra pak Rahman terlihat tampan dan masih muda.


"Jadi bagaimana kang, apa kita bisa melanjutkannya?" lagi-lagi pak Rahman menanyakan pertanyaan yang sama.


"Sebenarnya begini Man, aku tidak keberatan untuk menjodohkan Lifi dengan anakmu.dan lagi istriku juga sudah sepenuhnya menyerahkan urusan jodoh Lifi padaku. Bagi istriku yang terpenting anaknya baik, mau menyayangi Lifi dan menerima Lifi apa adanya. Tapi masalahnya keluarga kita berbeda Man. Apa putramu mau menerima putriku dengan kondisi keluarga yang seperti ini,


mengingat kita ini berasal dari keluarga yang bisa dibilang kurang sepadan. Jujur aku merasa tidak pantas Man. Ditambah lagi mereka belum pernah bertemu." jelas pak Ilham.


Dan setelah mengatakan itu ia merasa lega karena ia bisa menyampikan apa yang membuat hatinya ragu untuk menerima dan terus melanjutkan perjanjian itu.


"Kang, sungguh aku sama sekali tidak mempermasalahkan status kita. Bagiku kita ini sama saja. begitu juga dengan putra ku, dia tidak pernah melihat orang dari sisi kekayaan yang dimilikinya. Buktinya dia sendiri memilih membuka usaha dari pada menikmati semua fasilitas yang sudah ada. Dan untuk masalah mereka belum pernah bertemu, kita nanti bisa mengaturnya. Itu perkara mudah, jadi kamu tidak usah terlalu kepikiran masalah itu." Pak Rahman berusaha meyakinkan sahabatnya.


Hingga pada akhirnya, karena sudah tidak menemukan alasan lagi untuk pak Ilham membatalkan perjanjian ini, iapun juga sepakat melanjutkannya dan menjodohkan Lifi putrinya dengan anak pak Rahman, sahabatnya. Tentunya hal ini membuat pak Rahman sangat bahagia, saking bahagianya ia pun sampai reflek memeluk sahabatnya tiba-tiba. Kini dua sahabat itu sudah resmi menjadi calon besan. Ia juga meminta pada sahabatnya untuk mempercepat meresmikan kesepakatan ini. Bukan apa-apa, hanya saja pak Rahman tidak ingin sahabatnya ini berubah fikiran.

__ADS_1


__ADS_2