Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Mual


__ADS_3

Sepulang dari kampus Lifi langsung bergegas menuju kamarnya untuk menaruh tas dan berganti pakaian.


Diapun terlihat seperti sedang terburu-buru sekali. Entah apa yang akan dilakukan istrinya kali ini.


"Sayang, kamu mau ke mana sih kok kayak terburu-buru gitu" Byan mengatakan itu karena melihat istrinya sedikit grasak-grusuk.


"Aku mau kedapur, mau bikin bakwan. Mas mau ikut?"


"Mending kamu istirahat aja deh, biar mas keluar sebentar beliin kamu bakwan. Dari pada kamu buat sendiri entar kamunya malah kecapek'an"


"Tapi mas aku pengennya makan bakwan buatan sendiri, jadi bisa pakek bumbu sendiri biar lebih kerasa mas"


"Hem.....yasudah sana, tapi minta tolong bik Darsih buat bantu kamu ya, biar kamunya gak capek-capek. Mas gak mau liat kamu sakit cuman gara-gara kecapek'an" Byan terlihat mendesah berat sebelum kemudian dia mengizinkan istrinya ini untuk memasak sendiri.


Begitu mendapat izin dari suaminya, Lifipun langsung bergegas menuju dapur. Disana dia mulai mempersiapkan bahan apa saja yang akan digunakannya.


"Non Lifi lagi bikin apa, keliatannya sibuk bener. Sini biar bibik bantuin"


Bik Darsih langsung menghampiri nyonya mudanya yang sepertinya sedang mempersiapkan bahan untuk membuat sesuatu.


"Eh Bibik, ini aku mau bikin bakwan. Entah kenapa pulang dari kampus tiba-tiba pengen makan bakwan sayur. Tapi pengennya yang buatan sendiri"


"Yasudah sini bibik bantu biar cepet kelar masaknya. Non Lifi tinggal bilang bibik bagian bantu apa ini"


Lifipun kemudian membagi tugas dengan bik Darsih. Dimana bik Darsih dia beri tugas memotong sayuran. Sedang dirinya bagian membuat bumbunya.


Namun baru saja Lifi mengupas bawang merah, perutnya tiba-tiba langsung mual.


Diapun sampai harus muntah-muntah setelah hidungnya mencium bau bawang merah yang baru dikupasnya tadi.


"Non, non Lifi kenapa" Bik Darsih terlihat panik karena mendapati Lifi yang tak mau berhenti memuntahkan isi perutnya. Bahkan wajahnyapun seketika terlihat pucat serta tubuhnya seperti tidak bertenaga lagi.


"Gak tau bik, perut aku tiba-tiba mual banget seperti diaduk-aduk ini rasanya" Lifi mengatakan itu sambil terus memegangi perutnya.

__ADS_1


Byan yang semula memang ingin kedapur untuk melihat istrinya memasak, langsung kaget begitu mendapati bik Darsih sedang memijat tengkuk istrinya didepan wastafel.


"Sayang.....kamu kenapa. Kok jadi seperti ini sih" Byan mengambil alih untuk memijati tengkuk istrinya


"Gak tau mas, tadi tiba-tiba perut aku mual banget. Kayak diaduk-aduk gitu"


Byanpun langsung membawa Lifi menuju kamarnya. Disana dia langsung menidurkan istrinya ini agar beristirahat.


"Mas panggil dokter kerumah ya buat meriksa keadaan kamu. Mas khawatir banget liat kamu kayak gini"


Baru saja Byan mengambil ponselnya dan hendak menelfon dokter langganan keluarganya, Lifi sudah terlebih dulu mencegahnya.


"Mas gak usah, aku gak pa pa kok. Cuma mual aja. Beneran deh mas"


"Tapi kamu sampek lemes kayak gini"


"Beneran mas, ini udah mendingan kok"


Sementara Bu Kinan langsung menuju kamar putranya begitu bik Darsi memberi tahu jika menantunya mengalami mual yang berujung muntan-muntah.


"Itu mah tadi habis nyium bau bawang merah langsung mual dan muntah-mudah" tutur Byan pada mamanya.


"Bener nak yang dikatakan suamimu" Bu Kinanpun langsung menghampiri menantunya yang terlihat sedang terbaring lemas.


"Iya mah, gak tau kenapa pas tadi nyium bau bawang merah itu kepala Lifi tiba-tiba pusing dan perut langsung terasa mual seperti sedang diaduk-aduk.


Mendengar penuturan menantunya, membuat senyum bu Kinan langsung merekah seketika.


Namun tidak dengan Byan, dia nampak heran melihat mamanya. Pasalnya bisa-bisanya mamanya ini tersenyum saat melihat istrinya sedang sakit.


"Mah kok malah tersenyum sih, bukannya prihatin kek" Byan nampak merasa sedikit kesal pada mamanya yang terlihat tidak khawatir sama sekali dengan keaadaan istrinya. Dia juga merasa tidak enak pada Lifi karena sikap mamanya ini.


"Byan, coba nanti sore kamu ajak istri kamu ke tempat tante Lisa"

__ADS_1


"Maksud mama ke rumah tante Lisa? Emangnya mau ngapain mah?" Byan masih belum mengerti maksud bu Kinan yang menyuruhnya untuk menemui tantenya ini.


"Kok ke rumahnya sih, kamu bawa istri kamu ke rumah sakit tempat tantemu praktek. Habis ini mama telfon tantemu dulu, biar nanti kamu bisa langsung masuk tanpa harus nunggu-nunggu lagi"


Byanpun hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan mamanya tanpa faham apa maksud mamanya menyuruhnya ke tempat tantennya praktek.


Lifi sendiri juga bingung, kenapa mertuanya ini menyuruhnya kerumah sakit. Padahal dirinya tidak sakit parah.


"Mas, kenapa mesti kerumah sakit sih, Aku kan udah gak pa pa"


"Udah kita ikutin aja saran mama. Ini demi kebaikan kamu"


"Memangnya kalau boleh tau tante Lisa itu dokter apa ya mas" Lifipun jadi penasaran sendiri


"Kalau gak salah dia dokter kandungan. Tapi bentar deh, emangnya siapa yang hamil ya, kok kita mesti kesana segala" Byan nampak mulai berfikir


"Bentar-bentar, jangan-jangan kamu lagi ham...."


Tanpa melanjutkan ucapannya Byan langsung memeluk erat tubuh istrinya. Dia baru menyadari maksud mamanya tadi yang menyuruhnya untuk menemui tantenya. Dan dia juga baru faham kenapa mamanya tadi tersenyum begitu mendengar jika istrinya ini sedang mual-mual karena mencium bau bawang merah.


Sementara Lifi, dia terlihat mematung ditempatnya. Dia tidak tau harus berbahagia atau harus bersedih. Karena jika boleh jujur, Lifi sendiri masih ingin menikmati masa mudanya tanpa harus terikat dengan anak.


Namun disisi lain dia menyadari jika statusnya saat ini sebagai istri, jadi jika saat ini dia hamil itu merupakan hal yang sangat lumrah. Dan bukankah salah satu tujuan dari pernikahan adalah mempunyai keturunan.


"Sayang, kamu kenapa diam saja hem? Apa kamu tidak merasa senang seandainya tuhan benar-benar menitipkan amanahnya pada kita secepat ini?"


"Aku seneng kok mas, hanya saja aku masih sedikit kaget. Kenapa bisa secepat ini"


Tanpa bicara lagi, Byan langsung membawa Lifi kedalam dekapannya. Mungkin dengan ini Byan berharap bisa memberi sedikit ketenangan pada istrinya ini.


Byan memaklumi betul dengan kondisi mental istrinya saat ini. Karena menurut Byan tidak mudah menjadi seorang Lifi.


Dipaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai. Bahkan bisa dibilang tidak menyukainya sama sekali.

__ADS_1


Namun demi baktinya kepada orang tua, dengan susah payah dia berusaha menata hati dan perasaannya agar bisa menerima pernikahan yang terpaksa dia jalani dengan seutuhnya.


Dan kini dirinya lagi-lagi harus dihadapkan dengan sesuatu yang begitu sulit. Adanya kemungkinan dirinya sedang berbadan dua, tentu membuatnya harus menerima kenyataan hidup yang sudah digariskan kepadanya.


__ADS_2