
"sayang kok aku gak dibangunin sih" tanpa aba-aba Byan langsung memeluk Lifi dari belakang.
Lifi yang saat itu tengah memasak, sontak saja merasa sangat kaget ketika dengan tiba-tiba Byan memeluknya dari belakang dan hampir saja Lifi memukulnya dengan spatula yang dipegangnya.
"bisa lepas gak sih, kebiasaan banget deh ngagetin orang" kesal Lifi pada suaminya.
Namun bukannya di lepas, seperti biasa Byan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"lepas gak" ucap Lifi semakin kesal.
Namun Byan masih saja tak menghiraukan ucapan istrinya itu.
"gak malu apa kalau nanti dilihat mama sama bik Darsih" Lifi mencoba memperingatkan Byan
"berarti kalau gak ada yang ngeliat boleh dong kayak gini" ucap Byan sambil menaik turunkan alis matanya.
"kenapa tadi gak bangunin mas hm" ucap Byan kemudian
"siapa suruh habis sholat subuh tidur lagi" Lifi berbicara sambil berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Byan.
Memang tadi setelah melaksanakan sholat subuh berjama'ah, Byan bukannya terus bangun justru ia malah tidur lagi. Sedang Lifi sendiri, dia langsung beranjak ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan pagi sebagaimana biasa dilakukannya saat masih tinggal dirumah orang tuanya sendiri.
Sebenarnya mertuanya tadi sempat melarangnya untuk membantu, namun Lifi memaksa hingga bu Kinan terpaksa mengizinkannya untuk membantu pekerjaan didapur.
"ehem......"
Saat keduanya tengah sibuk dengan perdebatannya, tiba-tiba bu Kinan muncul dari arah belakang sambil berdehem.
"Ma-mama" ucap Lifi gugup karena saat ini posisinya masih sedang dipeluk Byan dari belakang.
Ingin rasanya ia tenggelam saja ke dasar sungai karena saking malunya harus ketahuan mertuanya saat dalam posisi seperti ini.
Lifi yakin saat ini pasti ibu mertuanya itu mengira jika dia dan Byan sedang bermesraan.
Sedang Byan sendiri, ia nampak biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Andai yang didepannya saat ini bukan mama mertuanya, sudah sejak tadi Lifi menimpuk suaminya itu dengan spatula yang sedang dipegangnya.
"udah, gak usah malu dan gugup kayak gitu. Lagian mama seneng kok liat kalian bisa seromantis ini" bu Kinan berbicara selembut mungkin dan dibarengi dengan senyuman. Ia faham betul jika saat ini pasti menantunya itu sedang mati-matian menahan rasa malu akibat ulah putranya itu.
"tuh kan mama aja seneng liatnya. Lagian pengantin baru jam segini itu tempatnya bukan di dapur, tapi dikamar tidur" ucap Byan dengan sedikit berbisik ke telinga Lifi.
__ADS_1
Lifipun memilih dengan tidak menghiraukan perkataan Byan barusan. Iapun melanjutkan untuk menyelesaikan masakannya.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu dibantu, Lifipun pergi kekamarnya. Di sana dia mendapati suaminya itu sepertinya sedang berada dikamar mandi.
Lifi memilih untuk mempersiapkan buku-buku yang akan dibawanya ke kampus. Tak lupa dia juga membantu mempersiapkan buku-buku suaminya.
Meskipun belum sepenuhnya bisa menerima pernikahan ini, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk memenuhi segala keperluan suaminya. Hanya saja untuk kebutuhan batin mungkin saat ini ia masih belum bisa memberikannya. Karena dia sendiri masih perlu waktu untuk meyakinkan hatinya terlebih dulu.
tak berapa lama kemudian, Byan sudah nampak keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan sampai pinggangnya.
Lifi yang melihatnyapun langsung memalingkan wajahnya.
"bisa gak sih sekalian pakek bajunya dikamar mandi" kesal Lifi karena ini kali keduanya ia mendapati Byan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
Namun bukannya segera memakai baju, Byan malah mendekat ke arah Lifi hingga membuat Lifi tidak bisa menghindarinya lagi karena kini posisinya sudah menabrak tembok.
Dengan cepat Byan mengunci tubuh Lifi dan semakin mendekat lagi hingga Lifi bisa merasakan hembusan nafas Byan.
"Ka-kamu mau apa" Lifi terlihat gugup saat berada diposisi seperti ini hingga ucapannya menjadi terbata.
"menurut kamu" Byan justru bertanya balik
"sa-ya tidak ta-hu" Lifi masih nampak gugup
"kenapa matanya ditutup hm"
Byan mengatakan itu sambil tersenyum karena melihat ekspresi Lifi yang sepertinya begitu ketakutan.
"belum juga diapa-apain udah kayak gini" Byan berbicara dalam hati.
Diapun kemudian melangkah mundur karena kasihan pada istrinya, pagi-pagi seperti ini sudah mengeluarkan keringat dingin.
Tak ingin melewatkan kesempatan, secepat mungkin Lifi berlari kekamar mandi. Namun sebelumnya Lifi menyempatkan diri untuk mengambil baju ganti yang tadi sudah disiapkannya terlebih dahulu.
Kini mereka tengah sama-sama sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Namun sebelum itu, terlihat Byan nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
"Ini kamu pegang, kamu bisa menggunakannya untuk kebutuhan kamu. Nomer Pinnya tanggal pernikahan kita" Byan mengatakan itu sembari tangannya memberikan sebuah kartu ATM pada Lifi.
Lifi lantas tak langsung menerimanya begitu saja, Ia masih nampak bergeming .
Byanpun akhirnya meraih tangan Lifi dan meletakkan kartu ATM itu ditelapak tangannya.
__ADS_1
"kamu adalah istri saya, jadi memberi nafkah untuk kamu itu adalah kewajiban saya" jelas Byan pada Lifi.
Kata-kata Byan yang barusan sungguh membuat Lifi merasa tersindir. Pasalnya ia sendiri belum bisa menunaikan kewajibannya sebagi seorang istri.
"maaf saya tidak bisa menerimanya, karena saya sendiri belum bisa menunaikan kewajiban saya sebagai seorang istri" ucap Lifi sambil menyerahkan kembali kartu ATM itu pada Byan.
"saya tidak mempermasalahkan itu, saya bersedia menunggu sampai kamu betul-betul siap untuk menjadi istri saya seutuhnya" jawab Byan sambil memasukkan ATM itu kedalam tas yang sedang dipakai Lifi saat ini.
"yasudah kita turun, dibawah sana mereka pasti sudah menunggu kita untuk sarapan pagi" ucap Byan kemudian
Kini mereka sudah berada dimeja makan dan menikmati sarapan dengan tenang.
"kalian sudah masuk kuliah hari ini" pak Rahman berbicara begitu dia selesai dengan sarapannya
"iya pah" jawab Byan
"kalian tidak ada rencana liburan atau honeymoon mungkin" tanya pak Rahman lagi
"entar aja pa, nunggu waktu yang tepat. Mungkin pas libur semester" Byan yang menjawabnya lagi
"yasudah kalau begitu, terserah kalian berdua saja"
Setelah mengatakan hal itu pak Rahman langsung beranjak untuk pergi dengan diantar oleh bu Kinan kedepan.
Untuk Naila sendiri, pagi tadi dia berangkat lebih dulu karena ada jadwal bimbingan tambahan.
Sementara Byan dan Lifi, mereka masih nampak menyelesaikan sarapannya karena memang mereka turunnya belakangan.
"Kalian kuliah jam berapa hari ini" tanya bu Kinan sambil berjalan dari arah ruang tamu.
"pagi mah, nih bentar lagi berangkat" ucap Byan sambil beranjak dari tempat duduknya.
mereka berdua berpamitan sebelum berangkat.
"Byan, kamu ke kampusnya bawa mobil aja, gak usah bawa motor. Dan satu lagi, jaga mantu mantu mama baik-baik" bu Kinan berpesan pada putranya
"gak usah di suruh juga bakal dijagain mah, secara dia kan kesayangannya Byan" ucapnya sambil melirik ke arah Lifi.
Namun orang yang dituju nampaknya cuek-cuek saja.
Bu Kinan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi keduanya. Karena yang satu mode bucin, sementara satunya lagi mode cuek.
__ADS_1
Tapi apapun itu, ia bersyukur setidaknya saat ini mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Sehingga sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.