Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Kontraksi


__ADS_3

Didapur Lifi terlihat hanya duduk sambil mengamati mama mertuanya dan bik Darsih memasak. Itu karena bu Kinan yang melarangnya untuk membantu melakukan apapun. Alasannya hanya satu, tak ingin membuat Lifi kecapek'an. Apalagi saat ini kondisi perut Lifi yang sudah besar, tentu menurut mertuanya akan membuat Lifi kesusahan saat mengerjakan sesuatu.


"Sayang, kamu mau mama masakin apa" Seperti biasa bu Kinan selalu menanyakan makanan apa yang diinginkan Lifi. Perlakuan seperti inilah yang selalu membuat Lifi merasa sungkan pada mertuanya


"Apa aja deh mah" dan ini juga jawaban yang selalu Lifi diberikan setiap kali mertuanya menanyakan hal itu.


"Sayang...kalau gak salah minggu ini kamu udah masuk HPL kan" Tanya bu Kinan pada menantunya.


"Ia mah, tante Lisa bilang minggu ini jika sesui dengan prediksi"


"Kalau bisa kamu kuliahnya ambil cuti aja dari sekarang. Soalnya mama khawatir sekali kalau kamu masih aktivitas diluar" Bu Kinan berbicara sambil duduk dikursi sebelah menantunya.


"Lifi gak pa pa kok mah. Lagian kan ada mas Byan yang jagain, entar habis lahiran aja cutinya" Lifi berusaha meyakinkan mertuanya agar dirinya diizinkan tetap kuliah sebelum melahirkan.


"Nak...biasanya orang mau lahiran itu, beberapa hari sebelumnya mengalami kontraksi, kadang sering ngerasa mules, punggung sakit. Mama takutnya kamu ngalamin kontraksi pas lagi dikampus dan suamimu gak ngerti kalau itu gejala mau lahiran" Bu Kinan memperlihatkan wajah kekhawatirannya.


"Mama tenang aja ya, mas Byan pasti jagain Lifi kok. Kemarin aja waktu mas Byan liat Lifi sakit punggung, dianya langsung mau bawa Lifi ke dokter. Cuman Lifinya yang gak mau. Karena memang Lifi cuman sakit punggung biasa, mungkin akibat kelamaan duduk." Jelas Lifi pada mertuanya.


"Yasudah kalau begitu. Tapi ingat kabari mama jika terjadi sesuatu"


"Siap mah" Jawan Lifi mantap.


Saat Lifi sedang asik berbincang dengan mertuanya, tiba-tiba Byan datang dan langsung berdiri dibelakang Lifi sambil merangkulkan kedua tangannya.


"Mas, kebiasaan banget sih kayak gini. Gak malu apa ada mama sama bik Darsih juga" Protes Lifi pada suaminya karena kebiasaan Byan yang suka nempel tanpa melihat kondisi sekitar terlebih dahulu.


"Kenapa mesti malu, lagian kita kan suami istri. Udah sewajarnya kalau kita kayak gini" Byan seolah acuh dengan apa yang dikatakan Lifi barusan.


Bu Kinanpun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. Sementara bik Darsih, dia hanya tersenyum karena senang melihat kemesraan yang terjadi diantara Byan dan Lifi.


"Itu tadi manisan mangganya mas habisin lo Yang" Ucap Byan pada istrinya.


"Udah habis bilangnya belakangan" guman Lifi namun masih bisa didengar oleh Byan


"Mas kan takutnya kamu entar nyariin sisanya"


Setelah mendengar penuturan suaminya, Lifipun terlihat beranjak menuju kamar mandi yang ada didekat dapur. Entah kenapa perutnya mendadak tiba-tiba merasa mules dan agak sakit.

__ADS_1


Cukup lama Lifi berada dikamar mandi, hingga membuat Byan dan yang lain merasa khawatir.


"Sayang....kamu baik-baik saja kan didalam" Byan terlihat sedang mengetuk pintu kamar mandi dan menanyakan keadaan istrinya.


Tanpa menjawab apapun Lifi langsung membuka pintu kamar mandi. Karena memang saat Byan memanggilnya, dirinya kebetulan juga akan keluar dari kamar mandi.


"Sayang....kamu kenapa, kok sampek keringetan gitu" Byan langsung panik saat mendapati istrinya keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh berkeringat sambil tangannya terus memegangi perutnya.


"Mas....perut aku sakit. Tadinya aku pikir mau BAB mas, tapi nyatanya enggak" Lifi mengatakan itu seperti sedang menahan rasa sakit.


"Ayo Byan bantu istrimu duduk dulu" Bu Kinan menyuruh Byan untuk memapah Lifi agar dia bisa duduk disofa yang ada diruang tengah.


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Lifi menghentikan jalannya.


"Mas....ini kenapa aku seperti orang lagi ngompol"


Mendengar penuturan Lifi, bu Kinan langsung melihat kearah kakinya. Dan benar saja, ada cairan yang mengalir.


"Sayang, sepertinya ketuban kamu sudah pecah" ucap bu Kinan begitu melihat cairan yang ada dikaki Lifi


"Bik....tolong bilang mang Asep siapkan mobil sekarang. Byan kamu bawa istri kamu kemobil. Kita kerumah sakit sekarang" Bu Kinan terlihat memberi intruksi.


Byanpun kemudian langsung menggendong istrinya menuju mobil. Dan beruntung mang Asep sudah memarkirkan mobilnya tepat diteras rumah. Jadi Byan bisa langsung membawa istrinya ke dalam mobil dan langsung berangkat menuju rumah sakit.


"Mas....sakit banget perut aku" terdengar suara Lifi merintih karena merasakan sakit.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit" Byan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala istrinya. Bahkan sesekali Byan mengecup kening istrinya.


Hingga tak lama kemudian akhirnya mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan rumah sakit.


Lifipun kemudian dibawa menuju ruang pemeriksaan


"Tan, gimana kondisi istriku. Apa dia sudah mau melahirkan" Byan terlihat begitu panik melihat kondisi istrinya.


"Kamu tunggu diluar sebentar, biar tante periksa kamu dulu"


"Tapi aku mau dampingi istri aku tan" Ucap Byan dengan wajah seperti sedang memohon pada tante yang sekaligus merangkap sebagai dokter kandungan istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi tante harap kamu harus bisa tenangin istri kamu. Kasih dia semangat biar persalinannya bisa lancar"


Setelah mendapat lampu hijau dari tantenya, Byan langsung bergegas kembali menghampiri istrinya.


"Mas...." Lifi terlihat seperti sedang menahan sakit


"Iya sayang....mas disini bakal temenin kamu. Kita berjuang sama-sama ya" Byan menggenggam erat tangan istrinya sambil bi-birnya terus memberi kecu-pan dikening dan pipi istrinya.


Dokter lisapun terlihat mulai memeriksa kondisi Lifi.


"Ini sudah pembukaan tujuh, tinggal menunggu tiga lagi baru proses persalinannya bisa dimulai" Dokter Lisa menyampaikan hasil pemeriksaannya.


"Tan, kenapa banyak banget pembuakaannya. Gak bisa dikurangi dikit apa, biar gak lama-lama. Kasian ini istri aku udah kesakitan" Byan terlihat protes pada tantenya karena saking tidak teganya melihat istrinya yang sepertinya kesakitan.


"Ck....bikin anak aja pinter. Giliran masalah kayak gini gak faham." Doker Lisa terlihat mengomel sendiri karena merasa kesal mendengar ocehan keponakannya.


"Ayo sayang, tidurnya miringan aja biar pembukaannya cepat."


Dokter Lisa tak lagi menghiraukan Byan. Bisa-bisa dirinya jadi pusing sendiri dengan tingkah keponakannya ini.


"Mas....sakitnya kok bertambah sih" Lifi terlihat semakin merintih kesakitan.


Bu Kinan yang baru sampai dirumah sakit langsung menghampiri menantunya.


"Sabar sayang, semua wanita juga ngalamin kayak gini. Nanti kalau bayinya sudah keluar rasa sakitnya langsung hilang seketika" Bu Kinan terdengar memberi pengertian pada menantunya.


"Mah, kalau setelah bayi keluar bisa bikin sakitnya hilang, kenapa gak segera dikeluarin aja sih. Kasian ini istri aku"


Ucapan Byan barusan langsung mendapat hadiah jeweran telinga oleh mamanya. Karena bisa-bisanya putranya ini bicara seabsurd gini.


"Kamu kalau malah bikin keadaan makin panik mending diluar aja." Omel bu Kinan pada putranya


"Mah, kok aku malah diusir, Byan kan bapaknya." Byan terlihat tidak terima dengan ucapan mamanya barusan yang terkesan menyuruhnya untuk keluar.


"Yasudah, kalau masih mau didalam kasih support istri kamu biar dia semangat lahirannya, gak usah ribet apalagi bikin panik keadaan" Kali ini dokter Lisa yang ikutan mengomeli Byan.


Byanpun kemudian kembali fokus pada istrinya. Ia terlihat terus memberikan semangat dengan membisikkan kata-kata sayang pada Lifi. Byan terus menggenggam erat jemari istrinya, sedang tangan satunya ia gunakan untuk membelai-belai sayang kepalamya

__ADS_1


Byan berharap dengan ini bisa sedikit mengurangi rasa sakit akibat kontraksi yang dialami oleh istrinya.


__ADS_2