
Terlihat Byan nampak mondar-mandir didepan ruang UGD. Hatinya merasa sangat tidak tenang sebelum memastikan keadaan istrinya ini baik-baik saja.
Sudah setengah jam Byan menunggu didepan UGD namun belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan itu.
Tadi saat diperjalanan menuju rumah sakit Lifi sempat tidak sadarkan diri, itu terjadi sesaat setelah Lifi menyadari jika dari keningnya keluar darah segar.
Tepat satu jam akhirnya dokter keluar dari ruang UGD dan meminta salah satu dari keluarga pasien keruangan dokter tersebut untuk menemuinya
Byanpun segera beranjak mengikuti langkah dokter yang memintanya untuk menemuinya diruang kerjanya.
"Jadi bagaimana dok kondisi istri saya?" Byan bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena dari semua hasil pemeriksaan yang saya lakukan, tidak terdapat luka yang serius pada kepala pasien" terang dokter tersebut pada Byan.
"Tapi kenapa istri saya tadi bisa tidak sadarkan diri?" Byan masih bertanya lagi.
" Itu karena istri anda merasa kaget ditambah lagi rasa pusing yang timbul akibat benturan tersebut"
"Apa sekarang istri saya sudah bisa ditemui" Byan sudah terlihat tidak sabar untuk segera melihat kondisi istrinya.
"Tentu saja bisa. Sekarang istri anda sudah dipindahkan dari ruang UGD. Nanti setelah infusnya habis, istri anda sudah bisa pulang." begitulah keterangan dokter sebelum Byan beranjak menemui istrinya.
Dengan sedikit berlari Byan langsung menuju ruangan dimana saat ini istrinya berada. Dan saat sampai disana Byan langsung duduk disebelah istrinya yang terlihat masih memejamkan matanya. Mungkin saja itu akibat pengaruh obat yang masuk ke dalam tubuhnya.
Byanpun menggenggam kedua tangan istrinya itu erat-erat. Sebenarnya Byan ingin sekali membelai sayang kepala istrinya sambil menci-um keningnya. Namun hal itu urung ia lakukan mengingat ada perban yang masih menutupi sebagian keningnya. Byan tidak ingin istrinya ini merasa kesakitan akibat ulahnya.
Tak berapa lama kemudian, terlihat Lifi mulai membuka matanya.
"Mas...." terdengar Lifi memanggil Byan dengan suara Lirih
"Iya sayang......kamu sudah sadar" Byan mengatakan itu sambil menci-umi tangan istrinya.
"Apa ada yang sakit, kamu ngomong sama mas kalau memang ada yang dirasa sakit"
Lifipun menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Maafin mas ya, mas gak bisa jagain kamu dengan baik. Kamu kayak gini ini gara-gara mas. Mas janji akan membawa masalah ini kejalur hukum. Karena tindakan Manda ini sudah mengandung unsur kekerasan" Byan terlihat mengatakan ini dengan sangat serius.
"Mas jangan, kasian kak Manda. Dia masih kuliah, aku gak mau masa depannya hancur, lagian akunya kan gak pa pa. Meskipun aku sebenarnya kesel sama dia karena udah berani godain suami aku, tapi aku juga kasihan kalau lihat dia harus masuk penjara. Bagaimana perasaan orang tuanya" Lifi nampak memberi pengertian pada suaminya.
"Tapi dia udah nyelakain kamu. Dan itu bisa membahayakan dirimu kamu. Biar saja dia dipenjara, biar disana dia bisa merenungi kesalahannya" Byan nampak masih enggan untuk menerima penuturan istrinya
__ADS_1
"Mas....aku mohon. Aku yakin Kak Manda gak bakalan ngulangin lagi kok kesalahannya. Mungkin tadi itu dia ngerasa shock banget makanya sampek nekat ngelakuin hal kayak gini. Coba mas pikir perempuan mana yang gak sakit hati kalau laki-laki pujaan hati yang dikejar-kejarnya selama ini malah nikah sama orang lain."
"Huft....." Byan nampak menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Oke terserah kamu saja, tapi kalau sampai sekali lagi dia berani nyakitin kamu meski seujung kuku sekalipun, mas pastikan dia akan mendekam dipenjara" terdengar ucapan Byan tidak main-main.
"Hem....." hanya itu jawaban Lifi pada suaminya.
Sesuai yang diuacapkan dokter tadi, begitu infusnya sudah habis maka Lifipun diizinkan untuk pulang.
Selama perjalanan dari ruang rawat menuju tempat parkir mobilnya, Lifi sama sekali tidak dibiarkan berjalan. Byan menggendongnya hingga sampai mobil.
Meskipun dari awal Lifi sudah berusaha menolak dan meminta untuk berjalan sendiri, atau jika masih tidak diijinkan berjalan Lifi meminta untuk naik kursi roda saja. Namun suaminya ini tetap bersikeras untuk menggendongnya.
Lifi sendiri merasa sangat malu, karena semua mata saat ini tertuju pada dirinya dan juga Byan. Sungguh kelakuan suaminya ini menurut Lifi sangat berlebihan.
Kini Byan sudah mulai memacu kendaraannya, meninggalkan rumah sakit.
Didalam mobil Lifi nampak cemberut sambil memanyunkan bibirnya. Ia masih merasa kesal pada suaminya karena sudah menggendongnya didepan umum.
"Sayang...kenapa istri mas ini manyun kayak sini sih" Byan mengatakannya sambil mencubit pelan hidung istrinya
"Tau ah kesel aku sama kamu. Aku itu malu mas, orang-orang didalam semuanya pada ngeliatin kita. Emang mas sendiri gak malu apa" kesal Lifi pada suaminya.
"Mas....istri sakit masih aja sempet-sempetnya mikir kayak gituan. Dasar omes" Lifipun dengan sengaja mencubit lengan suaminya dengan lumayan keras.
"Aw....aw....ini sakit banget Yang" Terlihat Byan mengeluh sakit hingga ia mengusap-usap lengan bekas cubitan istrinya.
"Syukurin, makanya jadi orang jangan ngeselin" Bukannya meminta maaf, malah Lifi sengaja meledek suaminya juga
"Ngeselin-ngeselin gini tapi bisa bikin kamu melek merem lho Yang" Sekarang giliran Byan yang mulai meledek dirinya.
"Apaan sih gak jelas banget. Aku ngomongnya apa situ jawabnya apa" terlihat Lifi kembali ke mode kesal pada suaminya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Byan.
"Sayang....kamu duduk dulu jangan beranjak" Byan memerintahkan agar Lifi tidak keluar dulu dari dalam mobil.
Lifi yakin, pasti suaminya ini tidak akan membiarkannya berjalan sendiri.
Sebelum Byan menggendongnya lagi, Lifi buru-buru keluar dari mobil suaminya.
__ADS_1
Saking terburu-burunya kepala Lifi sampai terbentur sedikit bagian atas mobil.
"Aduh....." Terdengar suara Lifi sepertinya sedang kesakitan.
Byan yang mendengarnyapun langsung berjalan lebih cepat ke arah Lifi.
"Astaga kamu kenapa, apa kepalanya masih sakit" Byan bertanya karena melihat istrinya memegangi kepalanya dan Byan juga tidak tau kalau istrinya ini sebenarnya terbentur bagian atas pintu mobil saat akan keluar lebih dulu karena takut digendong lagi oleh dirinya.
"Ak-aku gak pa pa kok mas, be-beneran deh gak pa pa" Lifi berbicara sedikit terbata karena ternyata suaminya ini tau kalau dia tadi sempat merasa kesakitan
"Mas bilang apa tadi. Kamu diem dulu biar mas yang gendong kamu masuk kedalam"
"Tapi mas aku bisa jalan sen...."
Tanpa menunggu Lifi selesai berkomentar, Byan dengan sigap langsung menggendongnya.
Lifipun nampak pasrah saja, karena untuk memberontak kepalanya masih terasa begitu pusing.
"Byan...istri kamu kenapa, kok kepalanya sampek.diperban begitu" terlihat bu Kinan nampak panik begitu melihat menantunya dalam keadaan tidak baik-baik saja
Bu Kinan menyuruh Byan agar menidurkan Lifi dikamar tamu terlebih dulu.
"Sayang, kamu kenapa bisa kayak gini" Bu Kinan langsung mengambil posisi duduk disamping menantunya.
"Lifi gak pa pa kok mah, tadi kepala Lifi cuman sedikit terbentur"
"Tapi kenapa bisa sampel kayak gini. Harusnya kalau kebentur kan cuman memar saja. Itu kenapa sepertinya ada bekas darah?" Bu Kinan sepertinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lifi padanya.
"Byan....bisa kamu jelaskan kenapa istri kamu bisa kayak begini" Terlihat Bu Kinan menatap tajam pada Byan dan meminta penjelasan pada putranya
"Itu mah, tadi Lifi didorong Manda pas kita lagi makan dikantin" Byan mengatakan dengan jujur pada mamanya
"Astaga anak itu, dari dulu gak ada bosen-bosennya apa bikin masalah"
"Mama kenal sama kak Manda" Lifi terlihat heran, pasalnya mertuanya ini seperti mengenal sosok Manda
"Ya mama kenallah, Manda itu dari dulu suka sama Byan. Dia juga sering kesini buat nyamperin Byan. Mama sampek capek sendiri lihat dia bolak-bolak balik kerumah" Terlihat wajah Bu Kinan kesal saat bercerita tentang Manda padanya.
"Byan, ingat kamu kali ini harus lebih tegas sama dia. Mama gak mau kalau sampek istri kamu jadi korban kayak gini" Ucap Bu Kinan memperingatkan Byan.
"Mama jadi pusing deh. Baru kemarin urusan Clarisa beres, sekarang gantian Manda yang muncul. Dari dulu mereka berdua emang gak ada bosan-bosannya ngejar suami kamu. Kayak didunia ini gak ada laki-laki lain aja" Bu Kinan menceritakan kekesalannya soal Clarisa dan juga Manda pada Lifi.
__ADS_1
Lifipun hanya menanggapinya dengan tersenyum sendiri. Dia tidak menyangka jika suaminya ini ternyata banyak penggemarnya juga.