Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Butuh Waktu


__ADS_3

Setelah dirasa cukup lama berada dirumah Byan, merekapun semuanya pamit untuk pulang.


"Bro...kita pulang dulu. Lho cepet sembuh. ingat masih sakit, jadi acara pendakiannya libur dulu lah" Alan berpamitan sekaligus sambil menggoda Byan.


Lifi sendiri sudah merasa jengah dan kesal karena sedari tadi dirinya dan Byan selalu jadi sasaran ledekan teman-temannya itu.


Saking kesalnya Lifipun sampai reflek mencubit lengan Alan dengan sedikit keras


"Aw sakit, Lif lho kalo mau KDRT jangan sama gue dong, noh sama laki lho" terlihat Alan nampak menahan sakit. Iapun sampai mengusap-usap lengannya.


" Syukurin lagian itu mulut bisa gak sih direm dikit doang, dari tadi perasaan blong mulu deh" Lifi nampak mengomel karena merasa kesal pada Alan yang sejak tadi bicara mesum.


"Tau tuh, gue aja sampek bosen sendiri dengernya" Airin nampak ikutan kesal


"Ye.....lho bosen karena lho jomblo, gimana kalo lho nikah sama gue aja. Entar gue ajakin lho mendaki tiap hari deh" ucap Alan dengan entengnya


"Ogah, mending gue jomblo seumur hidup dari pada gue nikah sama cowok mesum kayak lho"


"oke, gue pegang omongan lho" ucap Alan sambil menunjuk wajah Airin.


"Rin, ati-ati kalau ngomong. Belajar dari yang sudah-sudah. Dulu Lifi ogah-ogahan banget sama Byan. Eh gak taunya sekarang diam-diam malah udah merried aja." Chaca berusaha memberi nasihat.


"kok jadi gue ikutan kebawa-bawa sih"


Kalau boleh jujur, Lifi merasa sangat tersindir sekali.


Pasalnya dulu memang dirinya begitu teramat tidak menyukai Byan.


Meskipun Byan terang-terangan selalu memberikan dirinya perhatian lebih, namun tidak sedikitpun dia ada hati padanya.


Lifi selalu merasa ilfil setiap kali bertemu dengan si Komet. Nama panggilan yang dia sematkan untuk Byan.


Alasan memberinya nama panggilan itu karena Byan yang berasa tak ada habisnya selalu mengekorinya hampir setiap saat.


"Woy kita gak lagi ada niatan buat nginep disinikan?" tanya Putri tiba-tiba


"Maksud lho" Airin nampak bingung dengan perkataan putri barusan


"Ya habisnya dari tadi berpamitan bukannya langsung pulang, malah masih ngrobrol-ngobrol gak jelas .


" oke kita pulang sekarang. Lif, mana mertua lho . Kita mau pamit" ucap Alan kemudian


"bentar gue panggilin."


Lifipun nampak beranjak ke belakang untuk memanggil mama mertuanya.


Dan tak lama kemudian bu Kinan muncul bersamaan dengan Lifi dibelakangnya .

__ADS_1


"kok kalian buru-buru aja sih. Kan bisa pulang entar sore-sorean" ucap bu Kinan Ramah


"lain kali aja tan. Sekarang biar yang sakit bisa istirahat" jawab Airin sopan.


Merekapun kemudian menyalami bu Kinan satu persatu. Dan setelah itu mereka benar-benar pulang dengan di antar Byan dan Lifi sampai luar rumah.


Saat mereka sudah tak terlihat lagi, Lifi langsung bergegas masuk duluan.


"Sayang, mas kok ditinggal sih" Ucap Byan sambil mempercepat jalannya agar bisa mensejajarkan langkahnya dengan sang istri.


"Mas lepas, jangan kayak gini"


Begitu Byan sampai disamping Lifi, ia langsung saja meraih pinggang istrinya dan merangkulnya.


"kenapa ngambek hem, mas itu gemes kalau liat kamu lagi mode ngambek kayak gini"


Byapun seperti biasa akan mencubit kedua pipi istrinya ini.


"mas sakit, kebiasaan banget deh nyubitin pipi" Lifi nampak memanyunkan bibirnya.


"sakit ya, ayo mas obatin di kamar. Kalau mas obatin disini entar takut yang lain pada minta diobatin juga" ucap Byan sambil cengengesan


"apaan sih, gak jelas banget deh"


"apanya yang gak jelas sih sayang, jelas-jelas ini mas sayang sama kamu" goda Byan pada istrinya


Setelah itu baik Byan maupun Lifi langsung menuju kamar untuk beristirahat.


Saat baru saja Lifi hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berdering.


Dan ternyata itu adalah panggilan dari Airin.


Ada apa rin? ~Lifi


Lif, gue nelfon lho karena gue mau minta maaf, gue tadi gak bisa nyegah mereka untuk tidak ke rumah Byan. tapi sumpah gue gak bilang apa-apa sama mereka ~ Airin


gue percaya kok sama lo Rin, lagian ada hikmahnya juga mereka tau. Jadi besok-besok kalau gue ke kampus gak usah sembunyi-sembunyi lagi kalau bareng sama sikomet" ~Lifi


Yaudah kalau begitu gue tutup dulu telfonnya ~Airin


Setelah menerima telfon dari Airin, Lifi tak lantas kembali untuk istirahat. Ia sepertinya hendak keluar kamar.


"Mau kemana" terdengar suara Byan bertanya


"Mas aku ke luar bentar. Mau bantu beresin piring sama gelas-gelas sisa anak-anak tadi"


"Kan ada bi Darsih" ucap Byan lagi

__ADS_1


"Kasihan mas kalau semua pekerjaan musti bi Darsi yang ngerjain"


"Kalau kamu keluar, mas ditinggal sendirian ini ceritanya" Byan kembali pada mode manjanya.


hem.........


Lifi nampak menghela nafas berat. Iapun kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi kedapur dan memilih duduk ditepi ranjang.


"yang kok jauhan gitu sih, sinilo rebahan sebelah mas"


Dengan wajah yang ditekuk, Lifipun menuruti kemauan suaminya dengan ikut merebahkan diri disebelahnya.


"yang, kira-kira kapan ya mas boleh buka puasa" entah ada angin apa tiba-tiba Byan bertanya seperti itu sambil memeluk tubuh istrinya6 dari belakang.


Sontak saja Lifi menjadi kaget dengan pertanyaan suaminya itu.


"Mak-maksudnya apa ya?


Byanpun kemudian membalik tubuh Lifi agar menghadapnya.


"Mas tau kamu faham dengan maksud omongan mas barusan, hanya saja memang kamu terlihat belum siap"


"Mas aku...."


belum selesai Lifi berbicara Byan seperti biasa sudah membungkam mulut istrinya.


Awalnya Lifi menolak dengan berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun lama kelamaan sepertinya Lifi nampak pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya ini kepadanya.


Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Byanpun memperdalam ci-u-man-nya.


Tak lupa juga ia memberikan banyak sekali stempel kepemilikan dileher jenjang istrinya.


"Terima kasih untuk perkenalannya hari ini. Maaf mas sedikit memaksa".


Byan nampak mengecup kening Lifi lumayan lama. Dan setelah itu dia memilih beranjak ke kamar mandi untuk meredam nafsunya.


Sungguh jika setiap kali berdekatan dengan istrinya, dia kesulitan untuk mengontrol diri.


Sementara Lifi sendiri masih berada ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun.


Ada rasa tidak tega dalam benaknya. Namun entah kenapa saat ini dirinya belum siap untuk menjadi istri Byan yang seutuhnya.


Tapi kalau boleh jujur, saat ini Lifi sudah mulai ada sedikit rasa untuk suaminya. Hanya saja dia butuh waktu untuk meyakinkannya. Maklum, pernikahannya saja masih berumur semingguan.


Sudah beberapa menit berlalu, namun tak ada tanda-tanda suminya itu akan keluar dari kamar mandi.


Entah apa saja yang dilakukan suaminya itu didalam.

__ADS_1


Tak mau ambil pusing, Lifi memilih untuk beranjak dari kamar dan pergi ke dapur untuk melihat apakah ada pekerjaan yang bisa dilakukannya disana.


__ADS_2