
Saat ini baik kondisi Byan maupun Lifi sama-sama dipenuhi keringat. Pasalnya setelah keduanya sudah berada dikamar hotel, Byan benar-benar melakukan apa yang tadi dia ucapkan pada istrinya saat sedang berada didalam mobil.
Dan setelah melakukan itu, baik Byan maupun Lifi keduanya sama-sama tertidur pulas.
"Egggghhhhh" Terlihat Byan menggeliat saat hendak bangun.
Iapun kemudian menatap jam dinding yang ada dikamar hotel itu. Ia teringat jika dirinya dan Lifi belum melaksanakan kewajiban sholat.
Meski sebenarnya tidak tega, Byanpun tetap membangunkan istrinya yang terlihat masih tertidur pulas.
"Sayang....bangun dulu yuk. Kita belum sholat asar. Udah jam empat lebih ini"
Dengan mata yang masih terpejam, Lifi memaksakan dirinya untuk bangun.
"Kamu duluan atau mas dulu yang kekamar mandi" Tanya Byan saat mendapati istrinya sudah dengan posisi duduk sambil bersandar di headboard ranjang.
"Mas duluan aja. Kepala aku rasanya masih pusing"
Byanpun kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Byanpun sudah meyelesaikan ritual mandinya dan langsung diganti oleh istrinya.
Saat Lifi dikamar mandi Byan berinisiatif menelfon pihak layanan hotel untuk meminta agar diberikan fasilitas mukena agar bisa digunakan istrinya saat sholat.Dan tak butuh waktu lama bagi pihak hotel untuk menyediakan apa yang menjadi permintaan Byan.
Setelah Lifi merampungkan ritual mandinya, keduanyapun langsung melaksanakan sholat bersama.
"Sayang, kenapa habis sholat itu muka keliatan manyun kayak gitu sih" Byan heran kenapa istrinya ini tiba-tiba terlihat kesal. Hal itu bisa terlihat dari wajah Lifi yang nampak manyun.
"Gak usah pura-pura gak tau deh" Lifi terlihat kesal
"Lho, mas kan emang beneran gak tau, makanya mas nanya"
__ADS_1
"Aku lapar mas, dari tadi belum makan. Masak istri habis ujian bukannya diajak makan malah dijadikan santapan makanan sama kamu. Mana istrinya lagi hamil" Lifi mengatakan itu dengan nada penuh kekesalan.
"Maaf, habisnya suruh siapa sok sok'an berani mikirin cowok selain mas. Ingat ya, mas paling gak suka dan gak pernah rela kalau istri mas sampek berfikiran tentang laki-laki lain, kecuali ayah dan kak faris tentunya. Kalau yang lain gak boleh." ucap Byan dengan sengaja menekan kata tidak boleh agar istrinya ini betul-betul mengerti maksud dari perkataannya.
"Lebai deh, padahal aku kan tadi cuma bercanda. Lagian kalaupun aku emang bicara serius, gak bakalan mungkin itu mas Bright makalan meluk aku pas tidur." Lifi masih dalam mode kesalnya.
"Emang gak mungkin. Tapi tetap saja mas gak suka mendengarnya meskipun hanya bercanda" Byan sepertinya tidak mau kalah.
"Terserah deh, aku mau pulang. Lagian ini udah sore banget" jawab Lifi sambil beranjak melipat mukenanya.
"Katanya tadi lapar, kok sekarang malah pulang" Tanya Byan heran. Pasalnya tadi istrinya ini mengatakan kalau dia sangat lapar dan ingin makan. Tapi sekarang malah istrinya ini tiba-tiba minta pulang.
"Makan dirumah aja, kasian pasti mama udah khawatir banget karena sampek sore belum pulang juga. Mana gak ngabarin lagi. Awas aja entar, aku aduin sama mama kalau anaknya ini udah bikin aku sama calon cucunya sampek kelaparan"
Byanpun hanya menanggapinya dengan tersenyum, meskipun ia tau andai Lifi benar-benar mengadukannya pada mamanya, sudah bisa dipastikan dia akan mendapat ceramah dengan durasi yang lumayan panjang. Belum lagi biasanya ada bonus jeweran telinga juga.
Namun ia yakin, istrinya ini tidak akan berani mengadu. Karena pasti istrinya ini akan malu untuk mengatakan alasan kenapa dia bisa pulang sampek kesorean.
"Bukan ngeledek, cuman heran aja. Kenapa istri mas ini makin hari makin cantik banget. Mas kan bawaannya pengen gak pulang dari sini biar bisa berduaan aja" Byan mengatakan itu sengaja ingin menggoda istrinya. Meskipun sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya byan memang mengakui jika istrinya ini memang terlihat makin bertambah cantik dari hari ke hari.
"Apaan sih gak jelas banget"
Wajah Lifipun langsung memerah karena menahan malu akibat perkataan Byan barusaja.
"Cie yang malu-malu habis dipuji suami" Byan semakin gencar menggoda istrinya.
"Apaan sih, kok malah tambah nyebelin. Awas ah aku mau pulang" Lifi langsung berusaha melepas tangan Byan dari pinggangnya. Karena saat ini posisi Byan sedang merangkulnya dari belakang.
"Beneran nih gak mau nginep aja sekalian. Mas kan masih pengen nengokin sidedek"
"Dasar omes, pikirannya cuman gituan mulu"
__ADS_1
Tak ingin istrinya merasa kesal lagi, Byanpun akhirnya memilih mengabulkan permintaan istrinya untuk pulang.
Apalagi dari awal niat Byan membawa istrinya ke hotel hanya untuk memberikannya hukuman dan tidak ada niatan untuknya menginap dihotel. Mengingat besok mereka masih ada jadwal ujian semester. Jika sampai menginap, yang ada istrinya bakal marah tujuh hari tujuh malam karena tidak bisa belajar.
Saat baru tiba dirumah benar saja, mamanya sudah langsung memberondongi istrinya ini dengan begitu banyak pertanyaan.
Rupanya mamanya ini sejak tadi mengkhawatirkan istrinya. Sampai-sampai saat baru tiba dirumah, Byan melihat mamanya nampak berdiri diambang pintu.
"Sayang, kamu udah makan" Tanya bu Kinan pada memantunya.
Lifi yang memang belum makan ditambah lagi dirinya yang sudah benar-benar merasa lapar langsung menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
Bu Kinanpun langsung mambawa Lifi menuju meja makan dan mempersilahkan Lifi untuk makan
"Kasian cucu nenek pasti lapar banget ya didalam. Awas aja papa kamu yang nakal itu bakal nenek jewer telinganya karena udah bikin istri sama anaknya kelaparan" Bu Kinan mengatakan itu sambil membantu Lifi mengambilkan makanan.
Byan yang mendengar omelan mamanya hanya bisa dia saja dan lebih memilih ikutan makan bersama istrinya. Karena kalau boleh jujur dirinya juga sama-sama merasa sangat lapar.
"Byan, kamu sebenarnya bawa istri kamu kemana. Sampek sore gini baru pulang. Mana istrinya lagi hamil, kamu gak takut apa kalau terjadi apa-apa sama kandungannya" Disela-sela mereka makan, mamanya nampak mengomeli dirinya.
"Aku dibawa ke hotel mah sama mas Byan" ucap Lifi dengan begitu entengnya.
Byanpun sampai harus tersedak makanan yang sedang dimakannya hanya karena dia kaget.
Byan sama sekali tidak menyangka jika istrinya yang biasanya akan malu-malu jika sudah bicara masalah yang mengarah pada hal begituan, justru saat ini dengan entengnya dia malah berkata jujur pada mamanya.
"Ya ampun Byan, kamu bener-bener ya. Istri kamu ini lagi hamil muda, habis mikir ujian juga masih sempat-sempatnya digempur. Awas aja kamu, pokoknya malam ini Lifi tidur sama mama saja dikamar tamu" terdengar bu Kinan memberi ancaman karena saking kesalnya pada Byan.
"Mah, mana ada yang kayak begituan. Lagian istri aku gak bakalan mau tidur terpisah sama aku. Secara dedek bayinya kalau tidur minta dipeluk semalaman sama papanya" Byan merasa dirinya mendapat kemenangan karena sikap istrinya yang seperti itu semenjak dirinya hamil.
"Ck....awas aja, mama tetep bakalan ngukum kamu dengan cara lain" Bu Kinan masih belum mau menyerah untuk mencari cara agar bisa memberi hukuman pada putranya ini.
__ADS_1
Sementara Lifi sendiri lebih memilih menikmati makanannya dari pada harus ikut dalam perdebatan yang terjadi antara suami dan mertuanya.