Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Insomnia


__ADS_3

Byan sampai di rumahnya sekitar jam setengah tujuh malam, itu karena dia harus mampir dulu ke cafenya untuk memantau langsung sekaligus melihat laporan bulanan. Memang sejak mulai kuliah Byan tidak setiap hari bisa datang ke cafe. Ia pergi ke sana hanya tiga sampai empat kali dalam seminggu. selebihnya ia pasrahkan pada Alvian sahabat yang sekaligus merangkap sebagai asistennya.


setelah membersihkan diri, Byan langsung turun dan bergabung dengan anggota keluarganya untuk makan malam bersama. "kamu mau makan pakek apa sayang, biar mama ambilin" Bu Kinan berbicara pada Byan yang baru saja duduk. "aku mau lauk saudaranya si Nila aja mah" Byan berbicara sambil tangannya menunjuk ke arah menu ikan gurame asam manis, tapi tatapannya mengarah pada si Naila adiknya. "Mah, kak Byan mulai deh" Naila mengadu pada mamanya karena tak terima dirinya dibilang saudaraan sama ikan gurame. "Byan, bisa gak sih sehari aja gak godain adiknya" ucap bu Kinan dengan nada sedikit kesal. "Tau tuh, udah mau nikah masih aja godain adiknya" Naila semakin mendramatisir agar kakaknya semakin kena omel oleh mamanya. "ck....nikah nikah pala lo" Byan kesal karena bisa-bisanya didepan kedua orang tuanya Naila malah membahas soal pernikahan.


Byanpun memilih makan tanpa bersuara lagi. Meski hatinya masih kesal, namun ia memilih diam. Hal itu dia lakukan, karena takut kalau diladeni, adiknya bisa-bisa ngomongnya makin ngelantur.


Saat ini adiknya sudah meninggalkan meja makan terlebih dulu. Dia bilang ada PR yang masih harus dikerjakan. Al hasil tinggallah Byan dan kedua orang tuanya saja.


Saat Byan juga nampak hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba papanya bersuara "Byan, papa minta kamu duduk dulu. Ada yang mau papa omongin". Tanpa menjawab Byan langsung duduk kembali di tempatnya.


Byan sebetulnya sudah bisa menebak kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh papanya ini, pasti ujung-ujungnya tidak jauh-jauh dari topik perjodohannya. Dan benar saja, tanpa basa-basi papanya langsung spontan mengatakannya "Byan, minggu ini kamu akan menikah. Papa sudah membahas ini dengan teman papa dan iapun setuju. Acaranya hanya akad nikah saja, dan semuanya sudah papa atur" Mendengar itu tentu saja membuat Byan kaget. Dia mendongakkan wajahnya, menatap kesal pada papanya yang bisa-bisanya mengambil keputusan sebesar ini tanpa bertanya dulu padanya.


Melihat ekspresi putranya bu Kinan yang kebetulan duduk berhadapan dengannya ikut angkat bicara "kali ini percaya sama papa. Mama yakin kamu tidak akan kecewa". Bukan tanpa alasan mamanya berkata seperti itu. Hanya saja dia tidak bisa mengatakan kebenaran tentang siapa calon yang akan dinikahinya. Andai Byan tau, pasti dia akan loncat-loncat kegirangan.

__ADS_1


Membayangkan hal itu membuat bu Kinan senyum-senyum sendiri. sampai-sampai pak Rahman suamianya, memberi isyarat dengan menggeleng-gelengkan kepala, karena khawatir istrinya ini bisa keceplosan dan mengatakan semuanya. Bisa-bisa niatnya gagal untuk memberi pelajaran putranya itu.


Byan sendiri masih nampak terdiam ditempatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Andai sekali saja Lifi memberi signal hijau padanya, pasti saat itu juga ia akan berusaha memperjuangkan cintanya. Tapi masalahnya, sikap Lifi masih terlihat sama seperti kemarin-kemarin, tidak nampak perubahan malah terkesan cuek.


Iapun kemudian memilih meninggalkan kedua orang tuanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Tujuannya satu, yaitu kekamarnya. Di sana Byan nampak melamun sendiri, ia tidak bisa membayangkan jika dalam beberapa hari lagi statusnya akan berubah.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Lifi. Setelah makan malam tadi, ayahnya juga mengatakan hal sama seperti yang dikatakan pak Rahman pada Byan tadi. tentu hal ini juga membuat Lifi gelisah. Hingga sampai dini haripun ia tak kunjung bisa memejamkan matanya.


Untuk mengurangi kegelisahannya dia memilih membuka ponselnya, berselancar didunia maya dengan membuka aplikasi tok tok, melihat konten-konten yang mungkin bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari masalah yang sedang menderanya. Hingga beberapa saat kemudian dia menemukan sebuah akun yang kontennya berisi sebuah kata-kata yang sepertinya terlihat pas dengan kondisinya saat ini. Diapun mengunduh dan menjadikannya sebagai status di story WA nya.


Byan yang kala itu yang juga sedang memainkan ponselnya, melihat apa yang ditulis oleh Lifi. Byan berfikir kenapa tengah malam begini Lifi belum juga tidur. Ditambah lagi dari isi story yang ditulisnya, sepertinya dia sedang ada masalah. Mana dikampus tadi dia nampak cemas. Terbukti saat mereka di kantin, dia terlihat hanya mengaduk-ngaduk makannnya tanpa memakannya sedikitpun.


"Oke, fix ni anak lagi ada masalah" Byan berbicara sendiri. Ia pun kemudian mengirim pesan pada Lifi

__ADS_1


[ aku tak tau keresahan apa yang sedang menderamu, namun yang aku tau aku selalu siap untuk jadi tempat penampung keluh kesahmu ]


Lifi mengernyitkan dahinya manakala dijam-jam seperti ini ada yang mengirim pesan padanya. Ia kemudian melihat dan membukanya. Dan alangkah terkejutnya manakala ia tau pesan itu dari Byan. "bahkan tengah malam kayak gini ni anak masih aja ngintilin hidup gue mulu" lifi berguman sendiri. Bahkan dalam hatinya sesekali ia mengumpat kesal pada Byan.


[ Gue memang sedang mengalami keresahan, dan keresahan gue itu adalah karena lo ngintilin hidup gue mulu. 😡 ]


Byan tersenyum juga sedih manakala membaca pesan dari Lifi. Tersenyum karena pesan di balas, artinya Lifi tidak sepenuhnya mengabaikannya. Sedih karena dirinya di anggap biang keresahan dalam hidupnya dan ini menunjukkan jika Lifi memang tak ada rasa padanya. "bo-doh amatlah, mending gue pepet terus, masih ada waktu bebeberapa hari. Minimal entar gue gak nyesel karena seenggaknya gue udah pernah berjuang" Byan berbicara sendiri sambil menulis pesan kembali untuk Lifi.


[ gue pikir lo resah karena kangen sama gue 🤭 ]


Byan yakin saat ini Lifi pasti bertambah kesal, hal itu terbukti dari isi balasan pesan dari Lifi yang hanya bergambar emogi lagi mode marah


[ Udah, jangan marah-marah mulu. Sekali-kali senyum napa, gue lagi butuh asupan glukosa. Kadar gula gue lagi turun nih, seenggaknya senyum lho yang manis bisa jadi penawarnya 😀✌️ ]

__ADS_1


Setelah mengirim pesan itu, Byan bergegas langsung mematikan ponselnya. Bisa dipastikan saat ini kekesalan Lifi bertambah berpuluh-puluh kali lipat. Ia bisa memprediksi sebentar lagi ia akan mengumpatnya lewat pesan, sehingga ia memilih mematikan ponselnya. Biar saja disana dia makin kesal.


Dan benar saja, di sana Lifi sudah nampak ngoceh-ngoceh sendiri. Ia makin kesal lantaran pesan yang dia kirim, yang isinya tak lain adalah umpatan rasa kekesalan hanya bernasib centang satu. Itu artinya ponsel Byan sedang dinonaktifkan.


__ADS_2