Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Teman Mama


__ADS_3

Hanya semalam saja mereka menginap dirumah orang tua Lifi. Hal itu tentu karena Lifi yang mengajak Byan pulang.


Dia merasa tidak enak pada mama mertuanya karena main pergi tanpa berpamintan langsung.


Meski Byan sudah mengatakan jika dirinya sudah mengabari mamanya, tetap saja bagi Lifi dia merasa tidak enak hati jika belum bicara langsung pada mama mertuanya. Meskipun sebenarnya dia masih betah untuk berlama-lama berada dirumah orang tuanya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai dirumah orang tua Byan.


Disana Lifi langsung mencari keberadaan mama mertuanya.


"Lho....kalian udah balik. Kata Byan mau nginep dua hari" Bu Kinan menanyakan itu karena kemarin putranya berpamitan akan menginap dua hari dirumah mertuanya. Tapi nyatanya mereka pulang satu hari lebih cepat.


"Iya mah memang rencananya gitu. Tapi Lifi merasa tidak enak, karena Lifi perginya belum pamit langsung sama mama." Lifi menjawab seraya menyalami mama mertuanya itu.


"Mama gak pa pa kok. Kayak sama siapa aja pakek gak enak hati. Kalian sudah sarapan"


"sudah mah, tadi sekalian sarapan dirumah bunda sebelum pulang."


"Yasudah kalian istrirahat saja, mumpung lagi libur kuliah kan."


Bu Kinan sendiri sebenarnya sudah tau penyebab kenapa menantunya itu sampai harus pergi kerumah orangtuanya. Hal itu tentu karena Byan terpaksa bercerita pada mamanya pada saat dirinya menanyakan keberadaan Lifi melalui telfon.


Bu Kinan bahkan sampai memarahinya karena terlalu khawatir, takut-takut kalau terjadi apa-apa pada menantunya. Belum lagi bu Kinan khawatir kalau nanti Lifi akan bercerita tentang masalahnya pada kedua orangtuanya.


"Kalau begitu kita ke atas dulu ma" Byan yang mengatakan itu sambil tangannya dia rangkulkan pada pinggang istrinya.


Lifipun terlihat menepis tangan suaminya karena malu pada mama mertuanya.


Sesampainya dikamar, Lifi langsung merebahkan tubuhnya. Saat ini dirinya benar-benar merasa lelah. Rasanya sekujur tubuhnya remuk semua, ditambah lagi dengan rasa kantuk yang tak kunjung reda.


"Mas, aku mau tidur dulu. Awas aja kamu gangguin aku" Lifi terlihat mewanti-wanti suaminya agar tak mengganggunya.


"Kamu tenang saja, hari ini kamu bisa full istirahat. Ya anggap saja buat isi daya, persiapan entar malam" ucap Byan sambil menaik turunkan alisnya.


Lifi yang kesal langsung melemparinya dengan bantal.


"Bisa gak sih sehari aja gak bahas itu" ucap Lifi dengan ketusnya.


"Mana bisa kalau istrinya aja secantik ini. Bawannya pengen mas kurungin seharian penuh di kamar"


"Ck....emangnya ayam pakek dikurungin segala"

__ADS_1


"Udah gak usah marah-marah gitu. Katanya mau istirahat. Atau jangan-jangan sekarang malah mau olah raga pagi aja" Lagi-lagi Byan menggoda istrinya.


"Ogah..." bersamaan itu Lifi langsung menarik selimutnya hingga menutupi seluruh anggota tubuhnya.


Byan sendiri tidak ikut menemani istrinya tidur karena merasa tidak sedang mengantuk. Diapun memilih untuk membuka laptopnya dan membuka email yang berisi laporan perkembangan cafe yang dikirim Alvian kemarin.


Setelah hampir satu jam dia berkutat dengan laptopnya, Byanpun turun karena merasa sangat haus. Kebetulan air dikamarnya belum diisi, jadi mau tidak mau Byan mesti turun ke bawah untuk mengambilnya.


Baru saja dia menuruni anak tangga, dia sudah disuguhi pemandangan dua orang wanita beda generasi sedang duduk diruang tamu dan sedang terlihat berbincang-bincang bersama mamanya.


Byan sengaja berpura-pura tidak mengetahui keberadaan dua orang tersebut. Karena jujur saja Byan malas jika harus berurusan lagi dengan salah satu wanita yang merupakan tamu mamanya tersebut.


Namun sayangnya, gadis yang sangat tidak ingin ditemuinya itu malah melihatnya terlebih dahulu.


"Byan...." Terdengar Clarisa memanggil dirinya.


Ya, kedua wanita tersebut adalah Clarisa dan mamanya, Sarah.


Mau tidak mau Byanpun menghampiri mereka. Bukan karena Clarisa yang memanggilnya, tapi lebih karena Byan ingin menghormati mamanya Clarisa.


"Tante Sarah, bagaimana kabar tante?" terdengar Byan menyapa mamanya Clarisa.


"Kabar tante baik, kamu sendiri bagaimana" Bu Sarah nampak bertanya balik


Bagaimana Byan tidak akan mengatakan dirinya dalam keadaan yang sangat baik, karena Byan merasa saat ini hidupnya berasa sempurna. Diberikan jodoh sesuai harapan, dikelilingi keluarga yang begitu menyanyangi ditambah lagi usahanya kian hari kian bertambah maju. Bahkan dalam waktu dekat ini sudah akan membuka cabang baru.


"Kok cuma mama aja sih yang disapa, aku enggak nih ceritanya" Clarisa tiba-tiba ikut nimbrung.


Byanpun hanya menatap jengah ke arahnya tanpa berniat untuk menggubris ucapannya.


Melihat ekspresi ketidaksukaan putranya, Bu Kinan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Sar..... katanya tadi ada hal penting yang mau kamu omongin sama aku"


"Ya Ampun hampir lupa, habisnya aku pangling waktu liat Byan, jadinya sampek lupa sama tujuan aku datang kemari" Bu Sarah nampak menepuk jidatnya sendiri.


"Jadi begini Kin, tujuan aku kemari adalah ingin kembali meminta agar Byan dan Clarisa bisa berjodoh. Sepertinya sampai saat ini mereka sama-sama masih sendiri. Jadi apa salahnya kita mencoba lagi. Aku yakin sekarang pasti Byan menyukai Clarisa. Karena dia sekarang sudah banyak berubah. Lebih mandiri" panjang lebar bu Sarah menyampaikan keinginannya.


Mendengar perkataan bu Sarah, Byan dengan sengaja memanggil Lifi yang saat itu kebetulan muncul. Sepertinya dia hendak pergi ke dapur.


"Sayang....kemari, kenalin ini ada temen mama"

__ADS_1


Byanpun menghampiri Lifi dan Byan jiga sengaja merangkul pinggang Lifi dengan begitu posesif. sedang Lifi sendiri nampak malu kala mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


Bu Sarah terlihat menatap heran pada keberadaan Lifi disana. Dalam hati dia menebak-nebak siapa perempuan yang dipanggil sayang oleh Byan itu.


"Jadi begini Sar, sebelumnya aku mau minta maaf karena belum sempat memberi tahumu. Sebenarnya Byan sudah menikah belum lama ini. Ya...hampir sebulanan lah. Namanya Lifi, dia putri tamannya mas Rahman" ucap Bu Kinan panjang lebar.


"Sini sayang, kenalin ini temen SMA mama. Namanya tante Sarah, dan ini putrinya Clarisa" Bu Kinan kemudian terlihat memperkenalkan menantunya pada sahabatnya.


Baik Lifi, Bu Sarah dan Clarisa, ketiganya sama-sama terkejut.


Bu Sarah terkejut bahkan bercampur malu karena mendapati putra sahabatnya ternyata sudah menikah.


Sementara Lifi, dia baru sadar bahwa salah satu dari tamu mertuanya adalah Clarisa, si ulat bulu yang kemarin sore berusaha menggoda suaminya.


Dan Clarisa sendiri, dia tidak menyangka jika ucapan Byan dicafe kemarin ternyata benar adanya. Byan sudah menikah dan yang dinikahinya adalah gadis kemarin yang mengaku sebagai pegawai Byan dicafe.


Setelah kejadian kemarin yang dialaminya, Clarisa masih menganggap kalau Byan hanya beralasan saja agar bisa menghindar darinya. Makanya dia sampai merengek pada orang tuanya untuk berkunjung kerumah Byan sekaligus meminta kepada orang tua Byan untuk menjodohkan dirinya dengan Byan.


Namun sayang, semua harapan Clarisa tinggal isapan jempol saja. Karena laki-laki yang berdiri tepat dihadapannya kini sudah mempunyai seorang istri. Dan parahnya lagi, Byan seperti terlihat begitu menyayangi istrinya.


"Aku minta maaf, aku gak tau kalau ternyata Byan sudah menikah" Ucap bu Sarah tulus pada bu Kinan kemudian beralih menatap pada Byan


"Gak pa pa tan, lagian kemarin saya sudah memberi tahu Clarisa waktu dia menemui saya dicafe" Ucap Byan yang seketika membuat Clarisa kaget begitu mendengar penuturan Byan pada mamanya yang mengatakan kalau dirinya sudah menemui Byan terlebih dulu.


Pasalnya Clarisa sengaja berbohong dengan tidak mengatakan pada mamanya jika dia kemarin habis menemui Byan dan mengetahui kabar terakhir tentang Byan.


Kalau sampai mamanya tau, bisa jadi beliau tidak akan mengabulkan keinginannya.


Yang dia tahu saat itu adalah, bagaimana caranya agar bisa menikah dengan Byan. Dan Clarisa menggunakan mamanya sebagai alat untuk memaksa pada bu Kinan.


Clarisa berfikir karena bu Kinan adalah sahabat mamanya, maka akan sulit untuk menolak keinginan sahabatnya. Ditambah lagi saat ini baik usianya mapun usia Byan sudah bisa dibilang cukup untuk menikah, begitu fikir Clarisa.


"Ris....benar yang dikatakan Byan kalau kamu kemarin menemuinya" tanya bu Sarah tegas.


"Benar mah, tap-tapi Byan kemarin ti...."


"Cukup, kamu sudah membohongi mama. Dan kamu juga sudah bikin mama malu karena ulah kamu. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini" bu Sarah mengatakan itu dengan sedikit berbisik karena tidak enak jika sampai terdengar yang punya rumah


Belum sempat tadi Clarisa menyelesaikan ucapannya, mamanya sidah lebih dulu memutuskan untuk berpamitan.


"Kin...aku pamit dulu. sebelumnya atas nama putriku aku minta maaf. Sungguh aku tidak tau kalau Byan sudah menikah. Maafin tante dan anak tante juga ya nak"

__ADS_1


Setelah meminta maaf pada sahabatnya, dia kemudian meminta maaf pada Byan dan terakhir kepada Lifi.


Baik Byan maupun Lifi, keduanya nampak mengangguk kompak


__ADS_2