
Pagi-pagi buta keduanya nampak meninggalkan hotel dimana tempat semalam keduanya menghabiskan malam berdua.
Tujuan mereka tentu pulang kerumah. Namun sebelum itu ditengah perjalanan, Byan nampak menepikan mobilnya dan menghampiri pedagang bubur ayam yang berada tak jauh dari rumahnya.
Tak lama kemudian Byan kembali dengan membawa empat styrofoam berisi bubur ayam tersebut.
"Mas, banyak amat belinya. Bukannya jam segini dirumah udah pada sarapan semua" Lifi mengatakan itu saat melihat suaminya membeli bubur sedikit banyak.
"Tadi mama juga minta sekalian dibeliin"
"Oh..." Lifi menjawab hanya dengan ber oh ria
Merekapun segera pulang karena jika berlama-lama khawatir bubur yang dibeli keburu dingin.
"Kalian sudah pulang" terdengar bu Kinan menyapa anak dan menantunya begitu mereka tiba diruang tamu.
Keduanyapun langsung menyalami bu Kinan. Baru setelahnya Lifi langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan bubur yang sudah dibelinya.
Merek terlihat menikmati bubur ayam bersama diruang makan. Tak lupa juga bik Darsih ikut diajak bergabung bersama mereka.
Dirumah itu, mereka memperlakukan pembantu selayaknya keluarga sendiri. Apalagi bik Darsih yang notabenenya sudah bekerja disana sudah lama sekali. Bahkan saat Byan masih berusia balita
"Mah Lifi minta maaf karena kemarin nginep dihotel tanpa pamit sama mama lebih dulu" Ucap Lifi tiba-tiba karena merasa tidak enak hati pada mertuanya
"Gak pa pa sayang, malah mama pengennya kalian itu nginepnya agak lamaan. Apalagi sejak menikah kalian belum pergi bulan madu. Kali aja pulang dari nginep dihotel bawa kabar baik. Bukan begitu bik"
"Uhuk...uhuk...uhuk..." mendengar ucapan mertuanya Lifi langsung tersedak bubur yang sedang dimakannya.
"Sayang, kamu pelan-pelan makannya" Byan langsung sigap memberikan air minum pada istrinya.
Sebenarnya Byan mengerti kenapa istrinya ini bisa tersedak makanannya. Hanya saja Byan memilih tidak berkomentar apapun karena tidak ingin membuat mood istrinya berubah.
Lifi sendiri kemudian memilih diam karena merasa begitu malu. Sedang bu Kinan dan bik Darsih nampak senyum-senyum sendiri melihat tingkah Lifi yang dinilai sangat lucu.
Setelah menyelesaikan sarapan baik Lifi maupun Byan, keduanya langsung bergegas menuju kamar mereka untuk bersiap berangkat kuliah.
Tak butuh waktu lama, akhirnya merekapun saat ini sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Dan hanya dengan waktu tidak sampai setengah jam, mereka sudah sampai disana.
__ADS_1
Keduanyapun langsung bergabung bersama Chaca dan putri yang sudah terlihat datang lebih dulu.
"Mana Airin sama Alan, tumben mereka belum datang" Lifi nampak mencari keberadaan kedua temannya yang belum datang
Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Lifi, keduanyapun sudah nampak dari kejauhan.
"Noh yang diomongin udah nongol aja" Putri terlihat menunjuk pada keduanya.
Setelah semua berkumpul merekapun bergegas menuju kelas karena memang sebentar lagi jam perkuliahan akan segera dimulai.
Dan benar saja, lima menit kemudian dosen pengampu mata kuliah tersebut datang.
Mereka mengikuti kelas dengan tenang, hingga tanpa terasa waktu perkuliahan selesai. Dan seperti biasa Lifi beserta kawan-kawannya akan bergegas menuju kantin.
Suasana kantin hari ini tidak sebegitu rame seperti biasanya. Hingga tak butuh waktu lama pesanan mereka sudah datang.
Saat mereka tengah menikmati makanannya tiba-tiba datang seorang perempuan yang langsung duduk begitu saja disamping Byan.
Bahkan dengan tanpa malunya dia menyandarkan kepalanya pada pundak Byan dan tak lupa tangannya ikut bergelayut manja pada lengan Byan
"By.....kangen banget. Kamu kamarin-kemarin kemana saja, kok jarang terlihat dikampus" ucap gadis itu dengan manjanya.
Hanya Alan yanh bersikap biasa saja. Karena sebelumnya Byan pernah bercerita kepadanya kalau gadis itu sejak SMA sudah menyukainya. Hanya saja Byan tidak pernah menggubrisnya sama sekali.
Lifi sendiri saat ini sedang berusaha sekuat mungkin untuk meredam emosinya. Meski saat ini hatinya teramat dongkol karena melihat suaminya sedang didekati perempuan lain, bahkan sampai berani bersikap seperti itu tepat didepan mata kepalanya sendiri. Namun ia tidak ingin memperlihatkan emosinya di depan banyak orang.
Sementara Byan, dengan sigap langsung mendorong perempuan itu hingga hampir terjungkal jika saja Alan tidak menangkapnya. Karena kebetulan bangku Byan berada tepat disebelahnya.
"By...bisa gak sih sekali aja kamu gak nyuwekin aku kayak gini" Perempuan itu nampak berbicara dengan nada mengiba.
Wajah Byan saat ini nampak merah padam karena tersulut emosi. Baru selesai masalah Clarisa kemarin, sekarang malah muncul lagi si Manda.
Ya, seperti halnya Clarisa. Manda juga adalah teman satu SMA dengan Byan.
Kedua orang ini dulunya bersahabat baik. Hanya saja sekarang sudah pupus lantaran sama-sama bersaing untuk mendapatkan Byan.
Byan sendiri dari awal sudah tidak memiliki ketertarikan pada keduanya sama sekali. Hanya saja mereka yang tidak ada bosannya terus mengejar Byan.
__ADS_1
"Manda....tolong kamu jaga sikap kamu. Selama ini aku tidak berlaku kasar sama kamu karena aku masih menghormatimu sebagai perempuan. Tapi sekarang jika kamu bersikap seperti ini lagi, aku pastikan kamu akan menyesal. Dan satu lagi, tolong jangan ganggu kehidupanku lagi, aku sudah menikah. Dan wanita yang berada disebelah kananku ini adalah ISTRIKU."
Byan berusaha menjelaskan panjang lebar. Dan Byan juga dengan sengaja menekan kata istri. Bahkan Byanpun juga langsung meraih pinggang Lifi serta mencium keningnya dan setelah itu beralih mencium bi-birnya sekilas.
Melihat ini, baik Manda maupun yang lain dibuat menganga karena kaget melihat perilaku Byan yang dianggap terlalu nekat karena sedang berada ditempat umum
Sementara Byan sendiri tidak peduli lagi dengan pangdangan orang-orang yang melihat aksinya sekarang. Karena bagi Byan perasaan Lifi adalah yang paling utama.
Lifi sendiri yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya langsung merasa kaget.
Ia tidak menyangka kali ini didepan matanya sendiri, suaminya ini bisa bersikap setegas ini sekaligus bisa berbuat semesum ini ditempat umum.
Berbeda saat kemarin menghadapi Clarisa, Byan kali ini terlihat lebih tegas menurut Lifi.
"By...kamu gak usah ngarang cerita deh. Aku tau kamu sedang berbohong kan. Bukannya gadis yang disampingmu adalah teman sekelasmu" Sama halnya dengan Clarisa yang tidak mau percaya begitu saja, Mandapun juga demikian.
"Ye....dibilangin malah ngeyel" Chaca tiba-tiba ikut menyela. Namun sebelum makin panjang, secepat mungkin Airin menutup mulut Chaca dengan telapak tangannya.
"Emmmpppp...." Chaca terlihat meronta
"Lho bisa diem gak, kebiasaan banget ini mulut suka nimbrung aja" sambil berbisik Airin mencoba menasehati Chaca.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas gadis ini adalah istriku dan selamanya akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menempati ruang hatiku. Karena aku tidak akan pernah membiarkan perempuan manapun menggantikannya" Byan berkata penuh penekanan.
"Lagian biarin itu ulat keket gk percaya. Jadi sebelum wisuda dia udah punya gelar Pelakor" Lagi-lagi mulut Chaca tidak bisa dikondisikan.
Mendengar itu membuat Manda sejenak terdiam namun wajahnya terlihat jelas kalau dia sedang menahan emosi. Entah apa yang sedang dipikirkannya, karena tak lama kemudian diapun langsung berdiri dan tiba-tiba langsung mendorong tubuh Lifi lumayan keras hingga dia terjatuh dari bangku tempat dia duduk.
"Mas Byan...." Lifi berteriak memanggil suaminya
"Sayang...."
"Lifi..."
Terdengar suara Lifi, Byan, dan teman-temannya yang langsung panik begitu melihat Lifi terjatuh dari bangkunya.
Setelah mendorong Lifi, Manda langsung bergegas secepatnya berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara yang lain sibuk membantu Lifi.
__ADS_1
Byan terlihat panik sekali. Pasalnya dia melihat darah keluar dari kening istrinya. itu terjadi karena saat posisi Lifi jatuh keningnya membentur ujung bangku disebelahnya. Byanpun dengan segera menggendendong Lifi menuju parkiran dan membawanya ke rumah sakit terdekat.