
"aku turun didepan saja" Lifi berbicara sambil menunjuk kearah tempat biasa dia menunggu bus.
"sayang, kalau turun disini nanti kamu masih harus jalan kaki ke kampusnya" Byan merasa kurang setuju karena dirasa tempatnya masih agak jauh dari kampus.
"Lah emang biasanya kayak gitu, kamu lupa kalau tiap kuliah saya mesti lewat sini" jawab Lifi mencoba mengingatkan Byan
"Ia tau, tapi itu berlaku sebelum kamu menikah. Sekarang gak lagi, aku gak mau kamu kecapek'an" ucap Byan tak mau dibantah
"kalau kita ketahuan satu mobil berangkat ke kampusnya, entar mereka malah curiga lagi. Aku gak mau kalau mereka sampai tau kita sudah menikah" ucap Lifi memberikan alasan kenapa dia sampai tidak mau semobil bersama Byan sampai kampus.
"Biarkan saja mereka tau, emang dasarnya kita udah menikah" Ucap Byan acuh dengan alasan Lifi.
"tapi kan......." belum selesai Lifi berucap tiba-tiba
Cup.......satu kecupan singkat mendarat halus di pipi kanan Lifi, hingga seketika itu juga membuat Lifi langsung bungkam begitu saja.
Lifi masih belum sadar dengan apa yang barusan terjadi, karena sampai detik ini Lifi masih saja terus memegangi pipinya.
"Ciuman pertama gue" ucap Lifi lirih namun masih bisa didengar oleh Byan.
Mendengar itu, tentu saja Byan merasa sangat senang karena sudah menjadi orang pertama yang mengambil ciuman istrinya.
"udah gak usah dipegangi terus itu pipi, kalau mau tinggal bilang aja. Mas gak masalah kok" Byan sengaja berkata seperti itu untuk menggoda Lifi
"dasar omes" Lifi mengatakan itu sambil tangannya mencubit lengan Byan.
"aduh sayang sakit" Byan berbicara seperti terlihat sedang menahan sakit. Itu lantaran memang Lifi sengaja mencubitnya sedikit keras. Lifi melakukan itu karena dia merasa kesal, Byan dengan tiba-tiba sudah berani mencuri ciuman pertamanya.
Hingga tanpa terasa kini mobil Byan sudah berada di parkiran kampus.
"sayang, ayo turun. Kita sudah sampai" ucap Byan saat mendapati Lifi hanya diam mematung ditempatnya.
"kita turunnya gak usah barengan" Lifi berbicara dengan nada kesal. Pasalnya Byan benar-benar tidak membiarkannya turun di tempat biasa Lifi menunggu bus.
"yasudah kamu duluan saja" ucap Byan yang meminta Lifi untuk turun lebih dulu.
sebelum turun, terlebih dahulu Lifi memastikan bahwa ditempat itu tidak ada satupun orang yang dikenalnya.
Lifipun terus berjalan menuju ruang kelasnya dan tak lama kemudian Byan juga sudah nampak tiba dikelas dan langsung ikut bergabung bersama mereka.
"Woi, kalian kemarin pada kemana, izin kok barengan" Alan yang mengatakan itu sambil menepuk bahu Byan hingga membuat si empunya kaget.
"tau tuh, jangan-jangan kalian emang sengaja janjian?" kali ini Chaca ikut bertanya
__ADS_1
"gak usah pada sok tau deh kalian. Tuh tanya sama Airin kenapa kemarin gue sampek gak masuk" ucap Lifi pura-pura tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan Chaca.
"kemarin kan udah gue bilang. Lifi lagi gak enak badan sama ada acara juga" Airin nampak menjelaskan perihal Lifi yang kemarin tidak masuk
"kalo lo kenapa, jangan bilang gak enak badan juga" kali ini Chaca bertanya pada Byan.
"gue ada urusan yang gak bisa ditunda" ucap Byan tegas.
Merekapun akhirnya masuk kelas karena dosen nampak sudah hadir.
...****************...
"kantin yuk, cari yang bisa ngademin nih otak" ucap Alan mengajak teman-temannya saat melihat dosen yang baru selesai mengajar nampak meninggalkan ruang kelas.
Dan disinilah mereka sekarang, nampak sedang berada di kantin hendak memesan sesuatu.
" ayo kalian mau pesen apa saja, biar sekalian gue yang jalan" ucap putri pada para sahabatnya
"Lif, lo yang nulis ya" putripun menyuruh Lifi untuk menulis setiap menu yang hendak dipesan mereka.
"gue sama chaca samain Lif, soto sama es teh" ucap putri .
"Gue juga" kali ini Alan menimpali
"kalau gue mau makan bakso aja sama minum jus melon" nampak Lifi mencatat pesanannya sendiri.
"kalau kamu?" kini Lifi beralih bertanya pada Byan
"mas samain kayak kamu saja" ucap Byan dengan entengnya menyebut dirinya dengan panggilan mas.
Lifipun nampak membulatkan kedua bola matanya saat Byan dengan entengnya memanggil dirinya dengan sebutan Mas didepan teman-temannya.
"bentar-bentar deh, kuping gue gak lagi salah dengar kan" ucap Chaca sambil tangannya menggerakkan telinganya karena merasa aneh dengan ucapan Byan barusan
"Lif, sejak kapan lo ngubah panggilan dari komet jadi mas?" kali ini Airin yang nampak mengintrogasi Lifi
"maaf, tadi gue reflek ngomong kayak gitu. Karena pas Lifi nanya, gue lagi bales chat adik gue. Makanya tiba-tiba gue manggilnya kayak tadi" terlihat Byan nampak memberi penjelasan atas apa yang diucapkannya tadi.
"Kirain ada sesuatu yang sedang terjadi sama kalian berdua" ucap Airin masih menaruh sedikit curiga.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka nampak terlibat obrolan santai. Hingga tidak lama kemudian pesanan merekapun datang.
jam mata mata kuliah yang kedua akan dimulai sepuluh menit lagi. Kini Lifi dan teman-temannya sudah berada diruang kelas. Saat ini Lifi tengah asik bercengkrama dengan Airin. Dan bersamaan dengan itu tiba-tiba ponsel Lifi berbunyi. Nampaknya ada sebuah pesan masuk disana
__ADS_1
[nanti pulangnya langsung mas tungguin dimobil]
Rupanya pesan itu dari Byan
[hem]
Balas Lifi singkat
[Yang, kok cuman hem doang]
Byan sampai dibuat gemas karena istrinya ini membalas pesannya dengan super simpel sekali.
[terus mintanya]
Tanya Lifi heran
[Ya kasih embel-embel apa kek]
Balas Byan lagi
[gak usah aneh-aneh, ini lagi dikampus]
Lifi mulai sedikit kesal
[berarti kalau dirumah boleh dong kalau minta yang aneh-aneh✌️]
membaca pesan terakhir yang dikirim Byan membuat Lifi bertambah kesal saja.
Pasalnya pria yang sekarang sudah berubah status menjadi suaminya ini seperti tidak pernah ada habisnya untuk mengganggu ketenangannya.
Iapun memilih untuk tidak membalasnya lagi.
Tepat disebelah Lifi, nampak Airin terlihat memanyunkan bibirnya. Ia kesal karena saat dirinya tengah asik bercerita, sahabatnya malah nampak sibuk berbalas pesan.
"eh gimana-gimana tadi ceritanya" ucap Lifi setelah ia meletakkan kembali ponselnya kedalam tasnya
"udah selesai ceritanya" jawab Airin ketus
"idih....gitu aja ngambek" Lifi mengatakan itu sambil mencubit hidung sahabatnya ini
"habisnya lo terima pesan dari siapa sih, kayak serius amet. Sampek-sampek gue aja dicuekin" ucap Airin masih dengan mode ngambeknya
"bukan siapa-siapa. yaudah ayo lanjutin critanya"
__ADS_1
"lanjutin-lanjutin, noh biar dilanjutin ama tu dosen aja ceritanya" Airin berbicara sambil tangannya menunjuk ke arah dosen yang nampak baru datang.