
Saat ini suasana kelas sedikit ramai. Pasalnya hingga jamnya tiba, dosen pengampu mata kuliahnya tak kunjung datang.
hingga beberapa saat kemudian, sang ketua kelas mendapat kabar jika memang hari ini dosen berhalangan untuk hadir karena ada kepentingan mendadak.
"Tau gitu tadi gak usah ke kampus, mana hari ini cuman satu mata kuliah aja" terlihat Lifi menggerutu sendiri
"ya gapapa lah Lif, ini tu namanya rezeki dan yang namanya rezeki gak boleh di tolak" Airin berkata seperti itu karena mendengar sahabatnya sedang menggerutu.
"ye itu mah menurut lho" Lifi berkata sambil memukul Airin dengan buku yang dipegangnya
Karena hari ini jadwal kuliah kosong, akhirnya teman-teman Lifi berencana untuk tidak pulang dulu. Mereka berencana untuk jalan-jalan, atau paling tidak ngobrol sambil minum di cafe dekat-dekat kampus.
Setelah sepakat, Kini Lifi dan kelima temannya termasuk Byan terlihat sedang berada parkiran kampus. setelah tadi sedikit berembuk, hari ini mereka sepakat untuk nongkrong di cafe X, dan ternyata cafe itu sebenarnya milik Byan. Dia awalnya menolak karena khawatir teman-temannya akan tau. Bukan karena takut nanti temannya minta makan dan minum gratis. Hanya saja biarlah sementara ini mereka cukup mengenal Byan sebagai mahasiswa biasa.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka sudah sampai di tempat yang dituju.
"wah, keren juga cafe nya" ucap Chaca yang nampak kagum dengan desain arsitek bangunan caffe tersebut.
"pengunjungnya juga lumayan rame" Putri ikut menimpali.
Merekapun kemudian masuk dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Saat itu pula salah satu pelayan di cafe itu melihat keberadaan Byan diantara teman-temannya.
Pelayan itu bermaksud menyapa dan memberi hormat kepada Byan yang notabenenya adalah pemilik cafe tersebut. Namun dengan cepat Byan memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya, agar pelayan pura-pura tidak mengenalnya. Dan untungnya pelayan itu faham dengan apa yang dimaksud Byan.
Saat mereka tengah sibuk memilih apa yang hendak dipesan, Byan beranjak hendak bermaksud pergi keruangannya sekaligus menemui Alvian, dengan dalih pergi ke toilet. Hal itu ia lakukan agar teman-temannya tidak ada yang curiga padanya.
namun baru saja Byan beranjak dari tempatnya, punggungnya tiba-tiba ada yang menepuk.
"Bos,tumben jam-jam segini mampir ke cafe"
Semua yang di sana kaget saat orang itu memanggil Byan dengan sebutan bos. Merekapun saling menatap satu sama lain karena merasa aneh.
"Bos" Ucap mereka bersamaan
"Iya, dia bos saya dan saya asistennya" Alvian memberi penjelasan
"jangan bilang kalau lo yang punya cafe ini" ucap Alan penuh selidik sambil tatapannya mengarah ke arah Byan.
__ADS_1
Merasa dirinya sudah tidak bisa menemukan alasan lagi, membuat Byan reflek menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"sumpah lo jahat banget. Orang cafe milik sendiri malah pura-pura jadi pengunjung" Chaca berkata dengan bibir mengerucut.
"jangan-jangan lo takut kita makan gratisan ya" ucap Airin tak mau kalah
"enggak, mungkin takut kalau nanti kapan-kapan kita kesini lagi minta diskonan" kali ini putri ikut-ikutan.
Byan pun hanya bisa tersenyum garing menanggapi omelan teman-temannya.
" bukan gitu juga maksudnya. Gue cuman belum siap aja buat cerita ke kalian" ucap Byan membela diri.
"yasudah, sebagai tanda permintaan maaf gue, kalian boleh pesen sepuas kalian. Dan itupun gratis"
Merekapun kemudian kembali memesan menu yang tadi sempat tertunda. Semua nampak sibuk memilih-milih. Pikir mereka karena mumpung gratis, mereka akan memilih menu yang spesial.
Hanya Lifi yang nampak biasa saja, iapun hanya memesan jus melon dan kentang goreng.
"kok cuma itu doang Lif" Byan berbicara pada Lifi sesaat setelah Lifi mengatakan pesanannya pada pelayan yang tengah berdiri disampingnya.
"gue masih kenyang" jawab Lifi singkat.
"udah jangan liatin gue kayak gitu, jantung gue suka jedag jedug kalo ditatap cewek cantik kayak lho" Byan berbicara dengan sedikit mendekat ke arah telinga Lifi.
Sumpah demi apapun kali ini ingin rasanya Lifi nimpuk si Komet ama sepatu yang dipakainya. Namun tentu saja hal itu tak dilakukannya, mengingat disitu ada teman-temannya.
"ish....kebiasaan banget kalian,mesra-mesraan gak liat tempat" Alan sengaja berbicara seperti itu untuk menggoda keduanya.
"lagi-lagi kita dianggap makhluk astral sama mereka berdua" kali ini si Putri ikutan buka suara
"kalian gak usah ngacok, mana ada gue mesra-mesraan. Yang ada tu si komet ngintilin gue mulu" kesal Lifi karena merasa diledekin.
"wih....panggilan sayangnya unik banget" lagi-lagi Alan tak hentinya menggoda Lifi yang terlihat wajahnya sudah nampak seperti kepiting rebus.
Lifi yang merasa sangat kesal, memilih untuk ke toilet. Berharap setelah dia kembali dari sana topik pembicaraan mereka akan berubah haluan.
Lifi kembali dari toilet bersamaan dengan pesanan datang. Merekapun semua terlihat menikmatinya. Dan setelah menghabiskan makanan dan minumannya, merekapun lantas pulang
__ADS_1
...****************...
Byan yang sudah sampai dirumahnya langsung disuguhi pemandangan yang menampakkan mamanya sedang sibuk di ruang keluarga.
"mama lagi ngapain, kok keliatannya sibuk sekali" ucap Byan yang langsung duduk disebelah mamanya.
"mama lagi nyiapin seserahan buat di bawa kerumah calon istrimu"
Mendengar ucapan mamanya membuat Byan terkejut. Ia tak menyangka jika kedua orang tuanya betul-betul serius mempercepat pernikahan ini.
"Mah, Byan belum jawab ia kok mama sama papa sudah siap-siap aja" Byan bicara dengan nada sedikit kesal
"kali ini percaya sama mama, di jamin kamu gak bakalan kecewa" mamanya berkata sambil memegang kedua tangan putranya, berusaha memberi keyakinan pada putranya tersebut.
"Ck...." Byan hanya bisa berdecak kesal kemudian berlalu meninggalkan mamanya.
Sementara di rumah Lifi juga tak kalah terkejutnya, pasalnya tiba-tiba kakak iparnya datang. Biasanya dia datang selalu bersama kakaknya, ini malah tidak biasanya dia datang hanya berdua dengan Abidzar. Lifi bisa menebak karena dihalaman rumahnya tidak terlihat mobil kakaknya terparkir.
"baru pulang kuliah dek" Nadira menyapa adik iparnya yang nampak baru datang.
"ia kak" jawab Lifi
"kak ini belanjaan bunda banyak banget, emang buat apa" tanya Lifi penasaran
"loh...loh...loh...ini gimana sih ceritanya kok kamu malah gak tau" jawab Nadira keheranan
"emang ada apa kak" tanya Lifi lagi
"ini buat acara akad nikah kamu dek, kan besok lusa. Emang ayah gak bilang?" tanya Nadira pada adiknya
dan penjelasan dari Nadira ini langsung membuat Lifi membeku ditempatnya. Bahkan tanpa terasa air mata Lifi sudah menggenang dipelupuk matanya
"emang beneran ayah mau menikahkan Lifi secepat ini ya kak? Apa ayah udah gak sayang sama Lifi lagi?" Lifi berbicara dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi
"dek...kamu gak boleh ngomong kayak gitu, justru karena ayah sayang sama kamu makanya ayah ngelakuin hal ini. Percaya sama kakak. Ayah pasti pasti milihin calon yang terbaik buat kamu" Nadira mencoba menasehati Lifi sambil sesekali menyeka air mata adik iparnya. Nadirapun kemudian membawa Lifi kedalam pelukannya.
Jujur, sebetulnya ia tidak tega melihat adik ipar yang sudah dianggapnya seperti adik kandung harus mengalami hal seperti ini. Namun ia tidak bisa membantu. Karen suaminyapun juga nampak setuju dengan keputusan ayahnya.
__ADS_1
Nadirapun akhirnya mengantar Lifi kekamarnya, agar adiknya itu bisa sesikit menenangkan hati dan pikirannya.