Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Benar-benar Menjadi Kita


__ADS_3

Kini Lifi sudah nampak selesai dirias. Nadira yang sejak tadi menemaninya sempat dibuat pangling akan kecantikan adik iparnya ini.


Lifi sendiri saat ini tengah memandang lekat-lekat wajahnya di depan cermin. Ia masih tidak menyangka jika dalam waktu beberapa menit lagi dirinya akan sah menjadi istri dari pria yang entah siapa dan seperti apa orangnya.


"sayang....kamu cantik sekali" ucap mamanya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.


Bundanya sengaja masuk, ia hendak memberi tahu jika sang mempelai pria sudah datang. Iapun menghampiri Lifi, memandang lekat-lekat wajah putrinya yang sebentar lagi akan beralih menjadi tanggung jawab orang lain.


Sungguh saat ini bu Maira sedang diliputi rasa haru. Ia tidak menyangka jika dirinya akan secepat ini melepas Lifi pada orang lain.


Namun rasa haru itu ia tahan. Ia tidak ingin terlihat menangis didepan putrinya dan iapun memilih keluar lagi untuk menemui para tamunya dengan di ikuti oleh Nadira menantunya.


"dek kakal tinggal dulu ya, nanti kalau akadnya sudah selesai kakak jemput kamu" ucap Nadira sebelum berlalu.


Suasana diruang tamu nampak sedikit tenang, hal ini karena sebentar lagi prosesi akad akan dimulai. Sudah nampak tangan Byan menggenggam erat tangan lelaki paruh baya yang sebentar lagi akan resmi menyangdang status sebagai ayah mertuanya.


Dengan sekali tarikan Byan mengucapkan kalimat itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naira Alifi istiqomah binti Ahmad Ilham Afandi dengan mas kawin uang tunai dua puluh lima juta, satu set perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"


Kata sah pun kini menggema diruangan tersebut. Byan mengucapkan ijab qobulnya dengan begitu lancar.


Setelah itu penghulu membacakan doa, baru kemudian pak penghulu meminta agar pengantin wanitanya di panggil untuk menerima buku nikah dan tentunya untuk dipertemukan dengan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


"dek....ayo keluar dulu, akadnya sudah selesai. Kamu diminta untuk menemui suamimu" Nadira berbicara sambil melangkah ke arah Lifi


"emang udah ya kak" ucap Lifi lemas dengan raut wajah yang tampak menahan tangis.

__ADS_1


"jangan sedih gitu dong, pengantin gak boleh sedih. Masa mau ketemu suami pertama kali dengan wajah yang kayak gitu" ucap Nadira dengan mangangkat sedikit dagu adiknya.


digenggamnya erat-erat tangan kakak iparnya ini oleh Lifi. ia melakukan itu untuk mencari kekuatan. Karena saat ini entah kenapa jantungnya seperti bermasalah karena sejak dari tadi berdetak lebih cepat dari biasanya.


saat Lifi sudah sampai didepan, semua yang ada disana nampak kagum akan kecantikan Lifi, apalagi Byan laki-laki itu sampai tidak berkedip bahkan mulutnya terlihat menganga. Antara kagum dan rasa masih bulum percaya sepenuhnya dengan kenyataan yang ada didepannya.


Lifi sendiri memilih menundukkan kepalanya. Ia begitu malu saat semua mata tertuju padanya. Rasanya ia tidak mampu lagi untuk berdiri memijakkan kakinya.


Bu Kinan kini tampak mendekat pada Lifi. Ia membantu Nadira menuntun Lifi untuk mendekat ke meja akad.


Merasa tangan sebelah ada yang memeganggnya membuat Lifi menoleh kearah si pemilik tangan tersebut.


Dan alangkah terkejutnya saat mengetahui siapa orang itu. Lifi pun dibuat bingung sendiri. Pasalnya kenapa sampai ada orang ini saat acara akad nikahnya.


"tante....." ucap Lifi kaget namun masih dengan suara pelan.


"Iya sayang....ini tante. Tapi mulai sekarang manggilnya jangan tante lagi ya, tapi MAMA" ucap bu Kinan dengan sedikit menekan kata mama.


ucapan bu Kinan kali ini sungguh membuat Lifi semakin bingung sekaligus kaget. Mama....? Apa maksud semua ini. Jangan bilang jika pria yang saat ini sudah berstatus sah menjadi suaminya adalah Byan, pria yang menurut Lifi menyebalkan karena selalu mengganggunya.


Bulum selesai dengan rasa kagetnya, kini Lifi diminta untuk mendekat kemeja akad untuk menyalami tangan suaminya. Dengan tangan dingin dan sedikit gemetar Lifi melakukannya. Diraihnya tangan itu untuk di ciumnya sebagai tanda bakti jika istri harus patuh dan hormat pada suami. Sesaat setelah bersalaman Lifipun mendongakkan wajahnya.


Sungguh betapa terkejutnya Lifi saat melihat ternyata lelaki yang barusan ia cium tangannya tidak lain dan tidak bukan adalah Byan. Bahkan sampai membuat kedua mata Lifi membola penuh.


"Ka-Kamu" ucap lifi dengan terbata.


Byan pun menjawabnya hanya dengan senyuman yang sengaja dibuat semanis mungkin tanpa mempedulikan ekspresi istrinya itu.

__ADS_1


Hingga sayup-sayup terdengar penghulu meminta agar Byan mencium kening sang istri sebagai bentuk tanda cinta kasih.


Byan pun perlahan semakin mendekat ke arah Lifi, sebelum benar-benar melakukan apa yang di intruksikan oleh si penghulu, Byan malah sedikit berbisik di telinga Lifi.


"gak nyangka ya, doa aku yang waktu itu jadi kenyataan. Akhirnya Aku dan kamu saat ini benar-benar menjadi kita"


Mendengar itu, membuat Lifi selangkah mundur kebelakang. Namun belum sempat melangkahkan kakinya, Byan sudah terlebih dulu menarik pinggang Lifi hingga membuat Lifi menabrak dada bidang suminya. Dan saat itu juga Byan tanpa aba-aba langsung me-nge-cup kening Lifi sedikit lama.


tubuh Lifi tiba-tiba menegang karena ini baru pertama kalinya ia bersentuhan sedekat ini dengan laki-laki lain selain ayah dan kakanya.


Kejadian dimana Byan mencium Kening Lifi, membuat seisi ruang tamu itu dipenuhi suara sorakan tepuk tangan dari orang-orang yang berada disana.


Sementara Lifi, jangan ditanyakan lagi bagaimana kondisinya. Wajahnya sudah persis seperti kepiting rebus karena menahan malu akibat ulah suami tengilnya itu.


Sedang Byan malah nampak senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.


Mereka berduapun kemudian diminta untuk menandatangani dokumen-dokumen nikah, baru setelah itu penghulu menyerahkan buku nikah pada keduanya.


Setelah semua sudah beres, kini acara di lanjut dengan sesi foto-foto. Selama itu berlangsung tak sedikitpun Byan melepas rangkulan tangannya dari pinggang istrinya. Tentu saja hal ini membuat Lifi menjadi risih. Ia sudah berulang kali mengatakan pada Byan untuk melepaskannya. Namun bukan dilepas Byan malah semakin mengeratkan rangkulannya.


"kakak dari tadi bawaannya nempel mulu. Kemarin aja so' so'an nolak waktu dijodohin. Sekarang udah tau orangnya malah nempel mulu kayak perangko saja" Naila tiba-tiba berbicara. Ia sengaja mengatakan itu karena kemarin-kemarin ia melihat sendiri jika kakaknya bersikeras dan kekeh menolak perjodohan itu. Tapi sekarang tiba-tiba kakaknya udah lengket aja sama sang istri. Tak memperdulikan bagimana wajah kakak iparnya yang nampak risih.


Ucapan Naila itu lagi-lagi membuat orang-orang disana yang mendengarnya tertawa dan lagi-lagi kejadian ini membuat Lifi semakin malu saja.


Andai saat ini dia tidak sedang berada di tengah-tengah keluarganya dan juga sumianya. pasti sejak tadi ia akan menghempaskan tangan itu.


Namun Lifi urung tak melakukannya karena tidak ingin memberikan kesan buruk dimata keluarganya dan keluarga suaminya.

__ADS_1


Hingga akhirnya acara selesai dan semua yang hadir disana diminta untuk menikmati jamuan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


__ADS_2