
Minggu-minggu ini aktifitas perkuliahan sedikit renggang. Pasalnya minggu depan akan dilaksanakan ujian semester.
Beberapa mata kuliah sudah merampungkan materi perkuliahannya, jadi sebagian dosen memilih mengkosongkan jamnya.
"Mumpung lagi jamkos, gimana kalo kita makan siangnya diluar aja yuk" Alan nampak memberi ide pada teman-temannya.
"Gak ah males, kantin ajalah" Airin nampak tidak setuju.
"Bener tu, mending dikantin kampus aja. Panas-panas gini males mau keluar" Chacapun ikut menyetujui saran dari Airin
"Okelah gue ikut" Sahut Putri kemudian.
"Buruan lah berangkat, udah laper banget ini" Lifi langsung menggait tangan suaminya agar segera berangkat.
Tanpa banyak babibu lagi keenam orang itupun langsung bergegas menuju kantin kampus.
"Yang, kamu mau makan apa biar mas yang pesen, kamu duduk aja biar gak kecapek'an" Byan menanyakan hal itu begitu sampai dikantin
"Aku mau soto ayam aja sama minumnya es cincau"
Semua yang disana langsung saling menatap satu sama lain begitu Lifi mengatakan menginginkan es cincau.
"Lif, lho gak lagi ngelantur kan. Mana ada es cincau dikantin ini" Airin nampak heran dengan keinginan temannya ini.
"Mas...." Lifipun memandang wajah Byan dengan penuh harap
Byan yang melihatnyapun langsung faham dengan maksud istrinya.
"Yasudah tunggu bentar, mas beliin es cincau yang ada diseberang kampus"
Byanpun mau tidak mau jadi menuruti keinginan istrinya. Mungkin menurut Byan istrinya ini lagi ngidam. Karena setau Byan istrinya ini sebelum-sebelumnya tidak pernah manja apalagi rewel soal makanan. Byanpun berfikir ini pasti akibat hormon yang terjadi pada wanita hamil.
"Lif....sejak kapan lho demen es cincau. Bukannya dulu lho kurang suka sama cincau?" Airin yang faham betul perihal makanan dan minuman yg Lifi suka dan tidak suka tentu merasa heran begitu tiba-tiba sahabatnya ini menginginkan es cincau.
Lifipun menanggapinya hanya dengan mengedikkan bahunya pertanda jika dia sendiri tidak faham mengapa dirinya tiba-tiba ingin meminum es cincau.
setelah beberapa saat, akhirnya Byan datang dengan membawa dua kantung berisi beberapa porsi es cincau.
"Banyak bener lho belinya" Airin menatap heran dengan banyaknya porsi es cincau yang dibeli oleh Byan
"Nanti khawatir kalian pada pengen"
Merekapun semua terlihat mulai menyantap makanan mereka. Namun baru saja dapat satu suapan Byan menyantap bakso yang dipesennya tadi sebelum membeli es cendol, istrinya terlihat seperti ada yang sedang diinginkan.
__ADS_1
"Sayang, kamu pengen apalagi hem" dengan nada selembut mungkin Byan menanyakan perihal keinginan istrinya ini.
"Mas aku tiba-tiba pengen bakso"
"Oke mas pesenin ya"
"Gak mau, aku maunya punya mas aja"
Lagi-lagi semua yang disana menatap heran dengan tingkah Lifi. Tidak biasanya temannya ini jadi rewel dan manja.
"Lif, lho sebenarnya kenapa sih. Dari tadi kayak nguji kesabaran Byan banget"
Sebagai sahabat Airin merasa aneh sekaligus kesal juga dengan tingkah temannya ini.
Diapun sampai harus menegur sikap temannya yang menurutnya terlalu manja, tidak seperti Lifi yang dia kenal.
"Maaf"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lifi. Bahkan matanyapun saat ini terlihat berkaca-kaca.
"Udah gak pa pa, ayo dimakan baksonya sebelum dingin. Mas suapi aja ya biar cepet"
Dengan telaten Byan menyuapi istrinya. Sementara temannya yang lain, mereka memilih diam karena tidak ingin melihat Lifi tiba-tiba hampir menangis lagi.
"Perlu mas anter sayang"
"Aku bisa sendiri mas. Mending mas lanjut makan saja"
Seperginya Lifi menuju toilet, barulah mereka berempat menanyakan perihal apa yang sedang terjadi pada Lifi.
"Istri lo kenapa Yan, beberapa hari ini tingkahnya terlihat aneh" Chaca yang sedari tadi penasaran langsung melayangkan pertanyaan begitu melihat Lifi beranjak menuju toilet.
"Dia lagi hamil"
"What....hamil, kok bisa" Chacapun kaget bukan main dengan kabar kehamilan Lifi. Diapun tanpa sadar melontarkan pertanyaan yang terdengar absurd.
"Lho dodol apa gimana sih. Ya biasalah orang ada suaminya" Airin jadi kesal sendiri dengan Chaca.
"Ya itu gue faham. Tapi maksud gue itu , kalian taulah gimana Lifi selama ini sama Byan. Jadi pas gue denger tiba-tiba Lifi hamil, ya gue kaget lah. Gimana caranya Lo nerobos itu gawang pertahanan"
"Mulut Lo Cha, kalau ngomong difilter dikit napa. Emang sepak bola pakek nerobos gawang segala" Putri terlihat menegur ucapan Chaca yang dianggap terlalu vulgar.
"Tapi omongan Chaca ada benernya juga. Gimana caranya lo bikin hati itu anak luluh sama lo. Bahkan kalau dibilang waktunya singkat banget" Alan merasa heran sendiri pada Byan yang dengan cepat berhasil membuat Lifi yang awalnya benci menjadi luluh seketika.
__ADS_1
"Gak ada yang tidak mungkin bagi tuhan. Bukankah Dia yang Maha bisa membolak-balikkan hati seseorang" Byan menjawabnya dengan bijak.
"Udah berapa bulan usia kandungannya," kali ini Putri yang bertanya.
"Baru jalan dua minggu"
"Pantesan aja itu anak kemarin-kemarin tingkahnya aneh banget, gak kayak biasanya" Airin merasa menemukan jawaban dari keheranannya beberapa hari ini terhadap sikap Lifi.
"Ngomong-ngomong ini anak kemana ya kok gak balik-balik dari tadi" Airin tiba-tiba teringat Lifi yang belum kembali sejak tadi dari kamar mandi
"Astaga istri gue, kalau begitu gue susul dia dulu" Seketika Byan langsung bergegas menyusul istrinya. Jujur dia sangat panik, takut terjadi apa-apa pada istrinya ini. Hingga Byanpun kekamar mandi sambil berlari.
Sesampai disana dia mendapati suasana kamar mandi sedang sepi. Hingga dengan leluasa ia bisa masuk ke kamar mandi yang notabenenya khusus perempuan.
Sayup-sayup terdengar suara orang sedang muntah-muntah. Tanpa paduli siapa yang didalam Byan langsung menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut agar orang yang didalam langsung membukanya.
Setelah pintu terbuka, ternyata orang yang didalam sana adalah istrinya. Wajahnya terlihat lemas dan berkeringat dingin.
"Sayang....kamu muntah-muntah lagi. Kenapa gak telfon mas sih. Kalau ada apa-apa sama kamu disini gimana" Byan langsung mendekati istrinya dan langsung mengecek kondisi istrinya.
"Habis makan bakso tadi gak tau kenapa tiba-tiba perut aku mual banget. Rasanya kayak diaduk-aduk mas"
"Kamu tadi pagi udah minum obat yang dari tante Lisa belum?" Tanya Byan pada istrinya
"Aku lupa mas"
"Yasudah kita pulang saja ya. Lagian udah gak ada mata kuliah lagi bukan, Jadi mending kamu istirahat dirumah saja."
Setelah itu Byan membawa istrinya untuk pulang. Namun sebelum itu tak lupa keduanya berpamitan terlebih dulu pada keempat temannya.
"Lif lo kenapa" dengan kompak Airin dan Chaca bertanya perihal keadaan Lifi yang nampak terlihat lemas dan pucat begitu dia kembali dari kamar mandi.
"Dia mual dan habis muntah dikamar mandi" Byan yang menjawab pertanyaan dua orang sahabatnya itu.
"Ya ampun...tapi sekarang udah gak pa pa kan" Sebagai sahabat yang paling dekat, tentu Airinlah yang paling merasa khawatir.
"Gue gak pa pa kok, lagian yang kayak gini sudah biasa" Lifi mengatakan itu karena tak ingin membuat Airin terlalu mengkhawatirkannya.
"Kalau gitu gue balik dulu ya. Kasian kalau istri gue kelamaan disini. Dia butuh istirahat" Byan berpamitan pada teman-temannya.
Sebelum pergi Byan menyodorkan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan pada Alan.
"Minta tolong lo bayarin makanan gue sama Lifi. Sekalian sama punya kalian juga"
__ADS_1
Tanpa menunggu Alan berkomentar Byan langsung pergi dengan menggandeng tangan istrinya. Karena yang Byan fikirkan saat ini adalah bagaimana dia bisa segera sampai rumah agar istrinya ini bisa segera beristirahat.