Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
The First and The Last


__ADS_3

Sepulangnya Clarisa dan mamanya, Lifi langsung beranjak ke kamarnya tanpa menunggu suaminya yang masih terlihat duduk bersama mamanya di ruang tamu.


"Mah, aku ke kamar dulu. Kayaknya nyonya besar lagi ngambek lagi. Bisa bahaya buat kelangsungan hidup Byan" Byan mengatakan itu saat dia melihat Lifi menaiki tangga menuju kamarnya.


Byanpun langsung bergegas menyusulnya. Sedang bu Kinan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah putranya yang terlihat begitu bucin pada istrinya.


"Sayang, kok mas ditinggalin sih" Byan langsung merangkul istrinya dari belakang begitu dia berhasil mengejarnya.


"Ini apaan sih kebiasaan banget deh main rangkul-rangkul seenaknya saja" Lifi terlihat sedang menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya.


"Yang, kamu ngambek lagi ya gara-gara Clarisa datang. Sumpah mas gak tau tadi kalau ada dia dirumah. Mas tadi keluar cuman ingin ambil air minum, eh malah kelihatan sama mereka" jelas Byan karena tak ingin membuat istrinya marah lagi.


"Idih.....siapa juga yang marah" Lifi menyangkal apa yang Byan duga terhadapnya


"Kalau gak marah kenapa mas ditinggal ke kamar gitu aja hem" Byan masih nampak belum percaya dengan apa yang barusan Lifi katakan.


"Mas, kamu bukan anak TK kan yang kemana-mana harus ditungguin"


"Ya emang bukan anak TK sih, tapi kan biar keliatan romantis. Biasanya pengantin baru itu bawaannya kamana-mana pengen berdua terus, gandengan terus, sebelas dua belas lah sama rel kereta" Jelas Byan pada istrinya


"Pengantin baru apaan, nikahnya aja udah hampir sebulan" Lifi nampak menggerutu sendiri, namun Byan masih bisa mendengarnya.


"Ya pengantin barulah yang, kan dapat jatahnya masih baru. Jadi nuansanya masih berasa pengantin baru gitu"


Lifi langsung menatap jengah begitu mendengar ucapan suaminya itu. Entah ada apa dengan suaminya ini kenapa tiba-tiba otaknya isinya hanya seputar masalah jatah saja.


Sesampai dikamar Lifi memilih langsung duduk selonjoran diatas ranjang sambil sambil memainkan ponselnya.


Saat ini dia nampak terlihat sedang sibuk berbalas pesan dengan teman-temannya.


Byan yang melihatnyapun sampai merasa kesal. Karena Lifi sama sekali tidak menghiraukannya.


"Sayang...ponselnya bisa ditaruh dulu gak, ini masak ada suami disebelahnya malah di cuwekin" Byan mengatakan itu sambil menyandarkan kepalanya dipundak Lifi.


"Mas....kamu ini kenapa sih, awas jangan ginilah. Kamunya berat" Lifipun kemudian sedikit mendorong kepala suaminya agar menjauh


"Masak gini aja berat, coba berat mana sama waktu mas nindih tubuh kamu?" Lagi-lagi ucapan Byan membuat Lifi jengah.

__ADS_1


"Mas, kamu bisa gak sih sehari aja gak berfikiran mesum, gak ngucapin kata-kata yang mengarah sama hal yang mesum juga. heran deh punya pikiran kotor banget. Andai bisa udah aku kasih pemutih biar jernih itu pikiran" Lifi terlihat sedang mengomeli suaminya itu.


"Mas itu gak lagi bicara mesum, tapi mas itu emang nanya bener-bener. Gak ada itu niatan berfikir mesum. Justru yang ada itu kamu yang selalu berfikiran mesum sama mas. Hayo ngaku" Byan terlihat menuduh balik Lifi.


Lifipun kemudian memilih diam karena kalau dipikir-pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Byan.


Iapun kemudian menutup ponselnya dan meletakkannya diatas nakas. Baru setelah itu Lifi merebahkah tubuhnya.


"Sayang, kenapa malah rebahan. Kamu masih ngantuk" tanya Byan saat melihat istrinya ini tiba-tiba main rebahan saja.


"La emangnya mau ngapain lagi mas, Tugas kuliah sudah beres. Mau bantuin masak, masih belum waktunya. Mau main sama Naila, orangnya lagi gak ada. Yasudah mending rebahan ajalah." Terang Lifi panjang lebar.


"Gimana kalau kita jalan-jalan aja yuk. Kamu gak pengen shoping apa sekali-kali. Beli baju, tas, sepatu, atau apalah. Biasanya cewek demen banget yang begituan. Lagian mas lihat uang kamu yang dari mas kayak gak pernah dipakek deh" Byan nampak mengajak pergi istrinya.


"Misalnya kita jalan-jalannya gak usah shoping-shoping boleh gak" Tawar Lifi pada suaminya.


"Boleh, kemanapun asal kesayangan mas ini bisa merasa senang" Byan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala istrinya.


"Aku mau ke alun-alun, kebetulan aku lagi pengen jalan-jalan disana"


"itu aja" Tanya Byan memastikan, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Lifi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka bisa sampai disana. Kebetulan Suasananya sedang terlihat cukup ramai karena memang hari ini adalah hari libur.


Bahkan saat ini jumlah pengunjungnya di dominasi pasangan muda-mudi yang sepertinya ingin mengbahiskan waktu libur mereka dengan orang-orang terkasih.


"Sayang, apa kamu sering pergi ke sini" Tanya Byan saat mereka mulai berjalan menyusuri sekitaran alun-alun.


"Em.....bisa dibilang cukup sering sih"


"Biasanya kamu kesininya sama siapa" Jiwa penasaran Byan sepertinya mulai meronta-ronta.


"Sama siapa lagi mas, palingan sama Airin. Udah itu aja biasanya," jawab Lifi jujur. Karena memang selama ini jika Lifi pergi kemana-mana temannya tidak ada lagi selain Airin.


"Mas pikir kamu perginya sama siapa gitu" Byan mencoba memancing Lifi agar bercerita. Karena sebenarnya Byan ingin tau lebih banyak cerita tentang istrinya ini.


"Sama laki-laki gitu maksudnya" Lifi seolah faham apa yang sebenarnya ingin ditanyakan istrinya.

__ADS_1


"Ya bisa dibilang seperti itulah"


"Mau jawaban jujur apa bohong" goda Lifi pada suaminya


"Gak usah dijawab kalau sekiranya bikin aku cemburu" Byan tiba-tiba saja langsung mengatakan itu.


"Ck....belum dijawab udah main asal nebak saja"


"Bukannya asal nebak sayang, cuman mas belum siap mendengar kenyataan kalau istri mas ini pernah jalan sama cowok lain"


"Lebay deh"


"Kok lebay sih, ini tu berarti mas sayang banget sama kamu" Byan terlihat sekilas membelai sayang pipi istrinya.


Setelah itu Byapun mengaja Lifi untuk duduk disalah satu bangku yang memang sudah ada di sana.


"Mas...aku kadang ngerasa heran sama kamu, gimana bisa kamu punya perasaan kayak gitu ke aku. Sedangkan kita aja kenalnya kan baru. Apalagi selama ini aku kurang suka sama kamu" Lifi mencoba mengelurakan rasa penasarannya selama ini.


"jangan kan kamu, mas saja suka heran. Kok bisa ya mas itu langsung bisa punya perasaan kayak gitu ke kamu. Mungkin ini kali ya yang disebut cinta pada pandangan pertama"


Lifi terlihat diam saja mendengar penuturan dari suaminya.


"Kamu sendiri sekarang gimana perasannya sama mas" Tanya Byan sambil dirinya meraih kedua tangan Lifi dan menggenggamnya.


"Aku tidak tau mas, yang jelas saat ini aku ngerasa nyaman saja saat sama kamu. Ya, meskipun hampir tiap hari kita sering ribut. Tapi kalu boleh jujur Kadang aku suka kesel kalau liat mas lagi deket sama perempuan lain."


Mendengar penuturan istrinya, membuat Byan jadi senyum-senyum sendiri. Ia merasa senang karena ternyata istrinya ini mulai memiliki perasaan pada dirinya.


"Tapi mas ada pertanyaan buat kamu, Kenapa kemarin mas waktu nanya kamu cemburu sama Clarisa, kamu malah jawab "idih siapa juga yang cemburu"." Byan sengaja menirukan ucapan istrinya tempo hari.


"Emang aku gak lagi cemburu dan gak ada itu aku bilang cemburu. Aku itu cuman kesel aja habisnya itu ulat bulu nekat banget mau deketin suami orang. Aku gak mau ya habis manis sepah dibuang. Habis kamu dapetin aku, terus kamu mau ganti sama yang lain. Awas aja, aku bakalan potong bu-rung kamu" Lifi mengatakan itu dengan menggebu-gebu, hingga membuat Byan yang mendengarnya bergidik ngeri.


"Kamu kalau lagi marah serem juga ya" ucap Byan sambil tersenyum


"Ini itu namanya tindakan preventif. Sebelum kejadian aku musti jaga-jaga dulu. Bukankan mencegah lebih baik dari pada mengobati" terang Lifi pada suaminya.


"iya-iya deh, lagian siapa juga yang punya niatan buat nyari ganti cewek lain. Ingat ya, kamu itu satu buat mas dan selamanya tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Pokoknya kamu itu The Fisrt and The Last buat mas" Byan mengatakan itu sambil membawa Lifi kedalam dekapannya.

__ADS_1


Sungguh dalam hati Byan tidak ada niatan sedikitpun untuk menggantikan posisi Lifi disana. Bagi Byan dialah pemilik Tahta tertinggi dihatinya.


__ADS_2