
Saat ini Lifi tengah mengamati lekat-lekat wajah suaminya. Disana tergambar jelas gurat-gurat kekecewaan. Namun suaminya ini pandai sekali menyembunyikannya. Namun karena Lifi yang sudah faham betul bagaimana suaminya ini, tentu saja dia bisa memahaminya.
"Mas...." Ucap Lifi lirih. Diapun kemudian langsung menghambur memeluk suaminya.
Sungguh sikap Lifi yang seperti ini membuat Byan semakin yakin jika istrinya ini tidak sedang hamil. Mungkin hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan. Sehingga hanya dengan mendengar cerita dan keadaan istrinya, dirinya sudah berasumsi sendiri jika istrinya ini tengah hamil.
Dalam hati Byan merasa sangat bersalah karena secara tidak langsung dirinya sudah membuat istrinya ini merasa tidak enak hati padanya.
"Sayang....mas gak pa pa kok kalau memang hasilnya negatif. Kita masih bisa mencobanya lagi bukan" Byan terlihat membelai sayang puncak kepala istrinya.
"Buat apa coba lagi mas, kalau sekarang aja udah berhasil" Ucap Lifi yang membuat suaminya ini sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataannya.
"Sayang....maksud kamu apa. Bisa tolong kamu jelasin. Sungguh mas tidak mengerti maksud kamu ngomong kayak gitu barusan" Byanpun sampai mendongakkan wajah istrinya karena merasa sangat penasaran dengan maksud ucapan istrinya itu.
"Coba mas tutup mata dulu" Lifi berbicara sambil mengisyaratkan agar suaminya menutup kedua matanya.
"Kenapa musti tutup mata segala. Memangnya kenapa sih. Bikin mas penasaran aja deh" Byan terlihat enggan menutup matanya. Hingga membuat raut wajah istrinya seketika terlihat kesal. Bahkan Lifipun sampai memanyunkan bibirnya.
"Gak usah manyun gitu, bikin mas gemmes aja liatnya"
Mau tidak mau Byanpun mengikuti perintah istrinya untuk menutup kedua matanya.
"Udah belum" Byan yang sudah dilanda penasaran, sampai tidak sabar ingin membuka kedua matanya. Entah apa yang hendak istrinya ini tunjukkan kepadanya sampai-sampai menyuruhnya untuk menutup mata segala.
"Bentar mas, sabar dikit napa sih" terdengar suara istrinya seperti sedang kesal padanya.
"Mas kalau kelamaan tutup mata jadi kangen sama kamu lho Yang" Goda Byan agar istrinya ini tidak jadi kesal.
"Ish....dasar kang gombal. Yasudah mas bisa buka mata sekarang"
Dengan cepat Byan langsung membuka matanya. Dan saat ini didepannya sudah terpampang tiga alat tes kehamilan yang ditunjukkan oleh istrinya.
Mata Byan seketika terbelalak begitu melihat apa yang tertera pada alat tersebut.
__ADS_1
"Sayang....ini, ini beneran kan" Ucap Byan sambil tangannya meraih tiga alat tespek itu sekaligus. Kemudian dipandanginya tespek itu lekat-lekat.
Lifipun kemudian menjawabnya dengan hanya menganggukkan kepalanya.
"Tolong yakinkan mas jika ini benar" Byan nampaknya belum puas dengan isyarat yang Lifi tunjukkan.
"Bener mas, itu hasilnya udah jelaskan. Aku positif" Lifipun memberikan pernyataan dengan ucapan, bukan dengan isyarat anggukan kepala lagi agar suaminya ini benar-benar percaya.
"Sayang....cobak kamu cubit mas, mas takut ini hanya mimpi" Byan terlihat meraih tangan istrinya.
Rupanya Byan masih sebelumnya percaya dengan apa yang dikatakan istrinya barusan.
Lifi yang mulai merasa kesal karena suaminya ini tak kunjung percaya dengan apa yang diucapkannya, langsung saja mencubit lengan suaminya dengan keras hingga membuat suaminya menjerit karena kesakitan.
"Aw.....sayang kok dicubit beneran sih. Mana sakit lagi" Byan terlihat protes dengan ulah istrinya.
"Kalau gak dicubit beneran entar jatuhnya malah cubit bo'ongan. Katanya mau buktiin ini beneran apa mimpi" Tak terima dengan protes yang dilontarkan oleh suaminya, Lifipun juga tak mau kalah dengan ikut-ikutan memprotes.
"Maksud aku jangan keras-keras Yang. Kalau gini akunya kan berasa sakit banget" Byan terlihat mengusap-usap lengannya.
Diapun kemudian hendak beranjak dan bermaksud meninggalkan suaminya. Namun sayangnya dengan cepat Byan sudah menariknya terlebih dahulu.
"Eits....mau kemana. Habis nyubit malah mau main kabur aja. Tanggung jawab dulu dong. Kalau perlu bayar ganti rugi karena udah bikin lengan mas kesakitan"
"Idih....apaan sih, lebay deh" Lifi terlihat memincingkan sebelah matanya.
"Mas bukannya lebay, tapi ini beneran sakit Yang. Sebagai ganti rugi mas juga harus nyubit kamu. Jadinya kita impas"
"Mana ada aku harus ganti rugi segala. Orang tadi yang minta dicubit situ sendiri" Lifipun tidak terima jika dirinya harus mendapat cubitan balik dari suaminya.
"Oke-oke mas gak bakalan nyubit kamu. Tapi sebagai gantinya mas bakalan gigit kamu. Gimana" Byan mengatakan itu sambil tertawa licik. Sepertinya ada niat tersembunyi dari ucapannya ini.
"Gak ada ya mas. Aku kan cuman ngelakuin apa yang kamu suruh" Lifipun lagi-lagi bermaksud untuk pergi dari suaminya.
__ADS_1
"Dengerin dulu. Mas belum selesai ngomong" Byanpun lagi-lagi menarik tangan istrinya.
"Apaan sih" Lifi mulai kembali kesal pada suaminya.
"Mas bukan mau gigit tangan kamu kok. Tapi mas cuman mau gigit bi...." Belum sempat Byan menyelesaikan ucapannya, Lifi sudah terlebih dulu memotongnya.
"Gak usah aneh-aneh deh. Heran banget dari awal nikah sampek sekarang sifat mesumnya gak ilang-ilang" Lifi terlihat menggerutu sendiri.
"Canda sayang.....jangan ngambek dong. Nanti bumilnya mas ini ilang cantiknya" Kali ini Byan memilih memeluk tubuh istrinya.
"Ya habisnya kamu nyebelin terus dari tadi" Lifi masih juga terlihat kesal
"Mas minta maaf ya. Dan terima kasih kamu udah mau hamil lagi. Mas janji akan selalu jagain kamu, Rayyan dan calon anak kita ini" Byanpun kini beralih mengusap perut istrinya yang masih terlihat rata.
"Sama-sama mas. Aku juga mau ngucapin terima kasih juga sama mas. Karena sejauh ini mas udah jadi suami yang baik buat aku dan juga udah jadi ayah yang baik buat Rayyan. Aku juga berharap mas nanti bakal ngelakuin hal yang sama buat calon dedeknya Rayyan" Lifipun terlihat membalikkan badan dan langsung berhambur memeluk suaminya.
Keduanyapun kemudian saling mengeratkan pelukannya. Bagi keduanya posisi ini adalah posisi yang paling nyaman. Karena saat dalam keadaan seperti ini keduanya sama-sama merasakan ketenangan dan kenyamanan tersendiri.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti ini. Hingga akhirnya Byan terlihat mengendorkan pelukannya dan beralih menatap lekat-lekat wajah istrinya.
"I Love You My Wife, I Love You Naira Alifi Istiqomah" terlihat Byan mengucapkan kalimat ungkapan cintanya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.
"I Love You Too My Husband, I Love You Too Mas Abyan" Lifipun tak kalah tulusnya saat menjawab ungkapan cinta dari suaminya.
Setelah itu Byan mendekatkan wajahnya pada istrinya dan berakhir dengan Byan mengecup kening istrinya dalam-dalam.
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu cerita Byan dan Lifi. Semoga bisa memberikan hiburan tersendiri buat yang membaca.
Aku juga mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat semuanya yang udah mau nyempetin waktunya buat baca novel receh aku ini. Dan jika berkenan tolong mampir ke novel aku yang baru ya. Judulnya udah aku umumkan dibab sebelumnya.
__ADS_1
Salam hangat dan peluk jauh dari aku buat semuanya. Pokoknya lope-lope yang banyak deh buat semunya.