
Suasana ruang kerja nampak begitu tegang, pasalnya saat ini Byan sedang dipanggil papanya.
Setelah makan malam selesai pak Rahman meminta Byan untuk ikut ke ruang kerja.
"Byan....papa akan bicara langsung ke intinya. Jadi begini, papa sudah menemukan alamat tempat tinggal teman papa, tadi papa juga pergi ke rumahnya. Dan sepertinya takdir berpihak pada papa, karena ternyata teman papa punya anak perempuan yang belum menikah. Dia juga saat ini sudah sepakat akan menepati janjinya pada papa dengan menjodohkan putrinya dengan kamu. Jadi intinya papa harap setelah kamu mengetahui hal ini, kamu bisa menerimanya. Papa mohon dalam hal ini jangan ada penolakan, karena papa tidak akan menerima penolakan itu dari kamu." pak Rahman berbicara dengan nada begitu tegas
"Tapi pah, ini bukan zaman perjodohan seperti yang biasa dilakukan orang-orang zaman dulu, dan lagi Byan juga sudah punya kriteria tersendiri untuk siapa yang akan menjadi pasangan Byan. Bahkan saat ini Byan sudah menemukannya. Dia anaknya cantik, pintar dan......
Belum selesai Byan bicara, papa nya sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya. "apakah dia juga menyukaimu?" bukan tanpa alasan papanya bertanya seperti iku, karena papa nya pernah mendengar cerita dari istrinya kalau Byan sepertinya menyukai teman kuliahnya. Tapi yang disukai nampak cuek dan tidak meresponnya.
"masalah suka, memang dia belum menyukai Byan. Tapi akan Byan buat dia untuk suka sama Byan. Dan Byan pastikan itu bakal terjadi pa."ucap Byan penuh yakin. Karena saat ini ia dalam kondisi sedikit emosi. Hanya saja ia berusaha menekan emosinya agar tidak sampai ia berkata kasar pada papanya.
"jangan macam-macam Byan. Selama ini papa tidak pernah menuntut mu dalam hal apapun. Bahkan saat kamu meminta waktu untuk menunda kuliah, papa mengizinkannya. Jadi kali ini saja papa mohon, menurutlah dan menikahlah dengan anak dari teman papa." pak Rahman berbicara dengan nada yang tak kalah tegasnya.
Byanpun tertunduk lesu setelah mendengar permintaan papanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya harus menikah dengan gadis lain, sementara saat ini hatinya sudah dipenuhi oleh Lifi. Meskipun saat ini Lifi belum menaruh perasaan apapun padanya, tapi ia tidak bisa melupakan perasaannya begitu saja. Dengan membawa perasaan yang entah bagaimana, Byan keluar meninggalkan ruang kerja papanya tanpa berkata lagi.
Bu kinan, sang mama nampak menghela nafas saat melihat putranya keluar dengan wajah yang terlihat sendu. setelah Byan betul-betul menghilang dari pandangannya, barulah bu Kinan masuk ke ruang kerja suaminya.
"Pa...jangan terlalu keras sama Byan, bunda khawatir dia tertekan." dia berusaha memberi pengertian pada suaminya. "mama tenang saja, Byan gak akan sampai tertekan. Papa hanya mencoba menjelaskan pada Byan agar dia mau menerima perjodohan ini. Papa harap mama kali ini betul-betul mendukung papa. Bantu papa untuk meyakinkan Byan."pak Rahman berbicara sambil menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"dan satu lagi mah, lusa papa akan ke rumah kang Ilham. Mau membicarakan masalah ini lebih lanjut. Apa mama mau ikut?" tanyanya pada sang istri."Maaf pah, mama sudah terlanjur janji mau jenguk teman di rumah sakit. ini aja mama udah dua kali ngebatalin. Masak mau dibatalin lagi. Entar yang ada malah temen mama keburu pulang dari rumah sakit." jelas bu Kinan pada suaminya. "Tapi kalo boleh nanti papa minta foto anaknya sama kang Ilham. Karena sebenarnya mama juga penasaran kepengen tahu seperti apa putri pak Ilham." Usulnya pada sang suami yang di jawab dengan anggukan kepala.
Sementara di kamarnya Byan nampak uring-uringan sambil ngoceh-ngoceh sendiri. "Perjodohan macam apa ini, mereka membuat kesepakan bahkan sebelum mereka menikah. Dan sialnya kenapa anak temen papa ini harus perempuan. Coba kalau anaknya laki-laki, kan biar si ikan Nila yang ngejalanin ini. Mana gue sekalipun belum pernah ketemu ma orangnya. Konyol....benar-benar konyol." terlihat Byan mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.
"Dari pada gue mikirin perjodohon konyol itu, mending gue chat Lifi aja deh. Kira-kira tu anak lagi ngapain ya." Byanpun mengambil ponselnya, dan jari jemari tangannya mulai bergerak untuk mengirim pesan pada gadis yang akhir-akhir ini selalu mengganggu fikirannya.
[ Seragam batik buat hajatan,hai cantik calon masa depan]
[ Jemur kasur di atas meja, udah tidur apa masih terjaga]
Pesan terkirim dengan notifikasi centang dua, pertanda ponselnya masih aktif.
Raut wajah Lifi berubah kesal manakala ia tahu jika pesan itu dari Byan. Apalagi saat membaca isi pesannya, semakin membuat Lifi bertambah kesal.
Byan yang melihat pesannya hanya dibaca saja, semakin gencar mengirim pesan kembali pada Lifi.
[ kok di read doang ]
[ bales dong ]
__ADS_1
[ Kangen nih ]
Hingga saking banyaknya pesan yang masuk, membuat Lifi mau tidak membalas pesan darinya.
[ komet....Bisa gak sih, sehari aja lo berhenti neror gue ]
Byan tersenyum manakala ia mendapat balasan dari Lifi. "Wow.....galak amat neng. Gak kebayang gimana gemmesnya wajah tuh anak pas lagi marah." ucap Byan, ia pun kemudian berniat terus mengerjai Lifi
[ gk bisa.....bukankah kata Dilan nahan rindu itu berat 😔]
[ dengan begini seenggaknya rindu gue berkurang dikit lah, jadi gak berat-berat amat ]
Byan mengirim pesan sambil senyum-senyum sendiri. Dia tidak menyangka kalau hanya karena Lifi dirinya bisa selebay ini sama perempuan. Padahal sebelumnya dia selalu bersikap cuek kecuali pada ibu dan adiknya Naila.
Lifi yang melihat pesan Byan yang semakin lama semakin ngelantur, akhirnya memilih untuk menonaktifkan ponselnya. Ia pun kemudian berbaring untuk mengistirahatkan fisik dan batinnya. Sedang disana Byan masih setia menunggu balasan dari Lifi. Walaupun nyatanya hasilnya nihil. Karena tak satupun pesannya yang dibalas.
Hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.30 , tapi Byan masih saja tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih kepikiran masalah perjodohannya. Di satu sisi dia tidak bisa menolak kehendak papanya. Tapi disisi lain ia tidak bisa melepaskan perasaannya begitu saja. Namun jika dia bertahan memperjuangkan perasaannya rasanya mungkin akan sia-sia, karena yang diperjuangkan sama sekali tak menganggapinya.
"Gini amat rasanya berjuang sendiri, coba gue berjuanganya bareng zaman penjajahan dulu. Kan enak bisa rame-rame" Byan berguman berusaha menghibur hatinya sendiri.
__ADS_1
"Hah.....sekarang gue bisa ngerasain rasanya mengagumi tanpa dicintai. Ah.... kenapa kayak lirik lagunya bang pasha ya" Lagi-lagi Byan berguman sendiri, sampai-sampai dia tertidur dengan sendirinya, larut ke alam mimpi dengan membawa kegundahan hatinya.