Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Berpamitan


__ADS_3

Saat ini Byan berada di ruang tengah bersama kakak dan mertuanya. Mereka nampak terlibat obrolan santai.


Awalnya Byan merasa canggung berada diantara mertua dan kakak iparnya. Namun setelah beberapa menit berbincang dengan mereka, ternyata mereka orangnya hangat dan begitu terbuka. Diapun merasa nyaman meskipun rasa canggung itu masih ada.


Sementara Lifi sendiri saat ini tengah berada di kamarnya. Ia di temani bundanya untuk berkemas, karena siang ini rencananya Byan akan langsung membawa Lifi kerumahnya.


Dengan raut wajah yang nampak cemberut Lifi mulai mengemasi pakaian dan beberapa buku kuliahnya ke dalam koper. Bahkan perlahan pelupuk matanya mulai digenangi air mata. Hal itu tentu membuat bundanya merasa bersalah karena terlalu cepat menikahkan putri yang teramat dicintainya.


"sayang jangan cemberut gitu. Bunda gak bisa lihat kamu kayak gini" ucap bu Maira sambil membelai kepala sayang putrinya


"Bun, Lifi masih bolehkan kalau kapan-kapan nginep disini" tiba-tiba Lifi menanyakan hal seperti itu. Dan tentu saja pertanyaan Lifi ini membuat bu Maira merasa semakin bersalah.


"sayang, kamu bicara apa sih. Rumah ini akan selalu jadi rumah kamu. Sampai kapanpun rumah ini akan senantiasa terbuka buat kamu, asal kamu dapat izin dari suamimu" jelas bu Maira pada putrinya.


Lifipun kemudian langsung beranjak dan memeluk erat bundanya. Bu Maira sendiri juga tak kalah eratnya memeluk Lifi, hingga membuat tangis Lifi pun seketika pecah.sungguh ia sudah tidak bisa menahannya lagi untuk tidak menangis.


"sudah jangan nangis lagi" ucapa bu Maira mencoba menghentikan tangisan putrinya.


Lifipun mulai melepas pelukannya, dan bersamaan itu pintu kamar Lifi ada yang mengetuk dan orang yang mengetuk itu tidak lain adalah Byan.


Diapun masuk dan disana dia mendapati istrinya ini seperti habis menangis.


Ingin rasanya dia bertanya saat ini juga, namun hal itu urung ia lakukan mengingat disitu ada ibu mertuanya juga.


"sayang, kamu sudah berkemasnya?" tanya Byan pada Lifi


"Hem...." hanya satu kata itu yang keluar dari mulut istrinya.


"Bunda keluar dulu ya, itu sudah ada suami kamu" Bu Kinan nampak beranjak namun sebelumnya tak lupa ia membelai sayang kepala putrinya ini.


"kamu sepertinya habis nangis, kenapa?" Byan bertanya sambil memposisikan dirinya duduk disebelah Lifi.


"gak pa pa, tadi cuman kelilipan aja. Mungkin kena debu" bohong Lifi


"gak usah bohong, saya bisa melihat kalau kamu habis nangis" ucap Byan tak percaya


"yasudah kalau gak percaya" Lifi kembali ke mode ketusnya.

__ADS_1


"saya tau kamu pasti berat buat pergi dari rumah ini. Kamu tenang saja, setiap sabtu minggu kita bisa menginap disini. Atau kalau pas ada waktu senggang, saya janji bakalan antar kamu berkunjung kesini" ucap Byan mencoba menghibur istrinya.


Dalam batin Lifi sebenarnya merasa sedikit lega karena ternyata Byan mengerti apa yang diinginknnya meskipun dia belum mengatakannya.


Setelah Lifi menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua nampak sudah keluar kamar dengan Byan membawakan koper milik istrinya.


Sebelum menutup pintu kamarnya, Lifi memandang lekat kamar itu. Kamar yang selama ini menjadi tempat ternyamannya, mulai hari ini akan ditinggalkannya.


Diapun kemudian segera menyusul suaminya ke depan untuk berpamitan.


"Nak Byan, ayah titip Lifi. Tolong jaga putri ayah. Ingatkan dia kalau melakukan kesalahan" tutur pak Ilham pada menantunya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Byan.


"kamu baik-baik disana ya, jadilah istri yang baik dan menurut sama suami" kali Ini pak Ilham berbicara pada putrinya dan kemudian dia langsung memeluknya.


Lifipun kemudian beralih memeluk kakak, bunda, dan kakak iparnya untuk berpamitan.


Setelah acara berpamitan yang penuh drama karena Lifi yang terus meneteskan air matanya, akhirnya disinilah mereka sekarang. Berada di dalam mobil, hendak berangkat menuju kerumah Byan, lebih tepatnya lagi ke rumah orang tua Byan.


Lifi masih nampak terdiam, hingga beberapa saat kemudian ponselnya berdering karena ada panggilan masuk.


[ assalamu......]


[ Lif, lho udah nyampek mana. Dari tadi gue tungguin belum datang juga. Ini bentar lagi udah mau masuk ]


Terdengar di sana Airin bicara panjang lebar tanpa memberi jeda sedikitpun pada Lifi untuk menjawab.


[ gue gak masuk hari ini, gue lagi gak enak badan ]


Lifi berkata dengan sedikit gugup. Pasalnya ia sendiri sampai lupa untuk bilang pada temannya kalau hari ini dia tidak bisa ke kampus. Padahal jum'at kemarin sebelum pulang kuliah, dia sudah menghadap dosennya untuk izin tidak masuk dua hari.


[ Ya ampun, ternyata lo lagi sakit. maaf gue gak tau. Yasudah entar pulang kuliah gue langsung le rumah lo]


mendengar Airin akan berkunjung ke rumahnya membuat Lifi sedikit panik dan gugup, pasalnya mengapa dirinya tadi malah mengatakan kalau lagi tidak enak badan. Harusnya dia bilang lagi keluar kota, atau apalah yang penting bukan sakit


[Ga-gak usah Rin, lagian gue cuman gak enak badan biasa , dan lagi entar sore gue mau keluar. Gue mau kerumah saudaranya bunda ]


Lifi nampak mencari Alasan agar temannya ini tak jadi kerumahnya.

__ADS_1


Disana Airin yang percaya dengan perkataan Lifipun langsung menutup panggilannya karena dosennya sudah hadir, jadi otomatis dia sudah harus masuk kelas.


Byan dari tadi nampak menyetir sambil mendengarkan obrolan istrinya.


setelah Lifi selesai dengan panggilannya, tiba-tiba tangan Byan menyentuh kening Lifi.


"gak demam" ucap Byan sambil tersenyum


"ish....apaan sih. gak usah pegang-pegang deh" ucap Lifi kesal


"lho, mas cuman mastiin kamu beneran sakit apa enggak. Masak istri sakit suaminya gak tau" ucap Byan sambil tekekeh.


Ia sebenarnya faham kenapa istrinya ini berbohong. Karena semalam Lifi meminta padanya untuk merahasiakan pernikahan ini dari teman-temannya.


Lifi tidak ingin teman-temannya tau, karena yang ada mereka bisa meledeknya setiap hari. Apalagi dirinya dan Byan satu kampus, bahkan satu kelas. Menurut Lifi itu bisa berdampak pada konsentrasi kuliahnya yang terganggu.


Sebenarnya Byan sendiri sedikit keberatan, namun Byan berusaha mengikuti kemauan istrinya dulu. Byan mengerti jika saat ini istrinya masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini.


Walaupun hati Byan ingin kalau teman-teman mereka tau Lifi adalah istrinya. Karena menurut Byan jika mereka tau, setidaknya dia aman. karena tidak akan ada laki-laki yang berani mendekati istrinya.


Bukan tanpa alasan Byan mengatakan hal ini. Karena memang sebenarnya di kampus lumayan banyak mahasiswa yang menyukai istrinya. Namun istrinya ini tidak merespon mereka satupun. Bahkan malah terkesan cuek. Termasuk dirinya yang juga menjadi salah satu orang yang dicuekin oleh Lifi kala itu.


Sungguh miris sekali dirinya. Tapi sekarang ia beruntung karena saat ini, dia menjadi laki-laki yang paling berhak untuk memiliki seorang Naira Alifi Istiqomah.


" bisa gak sih kata MAS itu gak usah ikut. Heran deh dari tadi mas mas mulu" kesal Lifi karen Byan selalu menyebut dirinya dengan kata Mas.


"Mas cuman ngikutin panggilan kamu aja. Lagian mas suka kok kamu manggil kayak gitu"


Jawab Byan


"terserah" kali ini Lifi berbicara sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.


"udah gak usah ngambek kayak gitu. Mas suka gemes kalau liat kamu marah. Bawaannya pengen nyi...." belum selesai Byan berbicara Lifi sudah terlebih dahulu mencubit lengan suaminya.


"sayang, kok dicubit sih. Mas kan maunya disayang" ucap Byan dengan wajah sok melas.


" dasar mesum" umpat Lifi pada suaminya

__ADS_1


"ya gak pa pa dong yang, kan mesumnya sama istri sendiri" Byan tak mau kalah.


Lifipun memilih diam. Karena dirinya tidak akan pernah menang jika berdebat dengan suaminya ini.


__ADS_2