
Sesampainya dirumah, Lifi nampak masih belum terbangun dari tidurnya. Byanpun jadi tidak tega sendiri mau membangunkannya. Sehingga Byan membawa Lifi kedalam dengan cara menggendongnya.
"Byan, itu kenapa istri kamu" Bu Kinan kaget saat mendapati menantunya digendong dalam keadaan mata yang terpejam. Bu Kinan mengira jika Lifi sedang pingsan.
"Dia tadi ketiduran waktu dimobil mah. Mau dibangunin kasian, soalnya keliatan nyenyak banget tidurnya"
Byan terus berjalan menuju kamarnya dilantai dua. Bu Kinanpun juga terlihat mengikuti Byan dibelakangnya. Dia tau jika putranya itu baru pulang dari rumah sakit untuk chek up. Jadi otomatis bu Kinan sangat penasaran sekali dan ingin segera mengetahui hasilnya.
"Byan, gimana hasil pemeriksaannya?" tanya mamanya saat Byan sudah berhasil menidurkan istrinya diatas ranjang.
"Seperti dugaan mama. Lifi positif hamil mah. Usia kandungannya baru masuk minggu kedua, kondisi janinnya juga sehat."
Mendengar kabar itu, bu Kinan sampai terharu. Dia sangat bahagia sekali karena impiannya untuk menimang cucu akan segera terwujud.
Selain itu, sama juga halnya dengan Byan. Bu Kinan bahagai karena berharap dengan kehamilan Lifi ini bisa membuat hubungan keduanya semakit erat dan bu Kinan juga berharap dengan ini Lifi bisa lebih mencintai putranya dengan seutuhnya.
Setelah mengetahui kabar pasti tentang menantunya ini, bu Kinapun kemudian beranjak meninggalkan kamar putranya. Kini tinggallah Byan dan Lifi saja dikamar itu.
Sembari menunggu istrinya bangun, Byan nampak memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.
Disana dia nampak mencari referensi-referensi seputar kehamilan. Mulai dari menjaga kesehatan janin, makanan apa saja yang baik untuk dikonsumsi, aktifitas apa saja yang diperbolehkan selama masa kehamilan, dan lain sebagainya.
Byan kali ini bertekad untuk menjadi suami yang siaga. Ia betul-betul ingin menjaga Lifi beserta calon banyinya agar tetap dalam kondisi aman dan sehat.
Tak lama kemudian terlihat Lifi mulai menggeliatkan tubuhnya dan juga nampak mengerjapkan matanya.
Melihat pergerakan istrinya itu, Byan langsung menghampirinya dan memposisikan dirinya duduk disebelah istrinya.
"Kamu sudah bangun sayang" Tanya Byan sambil membelai rambut istrinya
"Mas, ini dimana?" Lifi sepertinya masih belum sepenuhnya sadar.
"Kita sudah sampai dirumah dari tadi. Mas sengaja gak bangunin kamu karena mas gak tega liat kamu tidur pulas banget"
"Jadi mas gendong aku tadi nyampek kamar? "
__ADS_1
Byanpun menjawabnya dengan menganggukkna kepala.
"Maaf ya mas, aku udah bikin mas repot. Padahal akunya berat banget ini, harusnya tadi mas bangunin aku aja"
"Sayang....mas mau minta maaf sama kamu. Mungkin kamu kurang merasa nyaman dengan kehamilan kamu sekarang. Tapi mas harap kamu mau menjaganya, mas mohon. Mas tau kamu belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan mas sebagai suami kamu. Apalagi dengan keberadaan calon bayi ini. Tapi mas mohon, bertahanlah paling tidak sampai anak itu lahir. Dan setelah itu mas akan berusaha ikhlas jika memang kamu berniat meninggalkan mas."
Byan berbicara seperti itu karena sejak dirumah sakit tadi istrinya ini sama sekali tidak menampakkan raut bahagianya. Bahkan senyumnya pun terkesan dipaksakan.
"Mas, kamu jangan bicara seperti itu. Jujur memang awalnya aku ngerasa berat menerima ini. Karena aku masih ingin menikmati masa mudaku dengan berkarir, menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan masih banyak lagi. Namun lagi-lagi aku sadar, mungkin ini yang paling terbaik buat aku saat ini. Aku janji akan menjaganya dengan sebaik mungkin. Dan jangan pernah berfikir setelah dia lahir aku bakal ninggalin kamu. Enak kamunya dong, entar malah nikah lagi dan nyari yang masih single."
Ditengah-tengah pembicaraannya yang nampak serius, bisa-bisanya Lifi sengaja menyelinginya dengan candaan.
Byanpun sampek dibuat gemas sendiri dengan ulah istrinya ini.
"Untung mas sayang, kalau enggak udah mas pites kamu dari tadi" Kesal Byan pada istrinya namun tak sampai hati Byan melakukannya.
"Suruh siapa mikir jelek terus sama aku. Emang dipikir aku gak sayang apa sama calon bayi aku. Gak tau aja kalau proses bikinnya sakit banget" Lifi terlihat menggerutu sendiri
"Proses apaan tuh yang sampek bikin kamu sakit, kayaknya mas lupa deh. Gimana kalau kita reka ulang aja. Ya itung-itung biar ingatan mas balik lagi" Byan sengaja menggoda istrinya
"Kalau mas bilang sayang keduanya gimana?"
"Mana ada yang kayak begitu" Lifi tidak menerima dengan ucapan Byan barusan.
"Sayang, kamu ada kepengen sesuatu gitu? Biar mas pesenin" Byan terus saja mencoba menawari istrinya ini sesuatu.
Lifipun hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Mas aku mau mandi dulu. Gerah banget soalnya"
Lifipun kemudian beranjak kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai Lifi berniat untuk pergi kedapur. Seperti biasa, dirinya ingin membatu menyiapkan masakan untuk makan malam.
"Sayang....kamu mau kemana hem?" tanya Byan saat melihat istrinya yang sepertinya akan bergegas meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Aku mau bantu-bantu bunda sama bibi masak"
"Sayang...mas gak ngizinin kamu buat ke dapur. Ingat kamu lagi hamil, gak boleh capek-capek. Lagi pula entar didapur mas takut kamu mual lagi pas nyium bau bawang merah kayak tadi."
"Tapi mas...."
"Udah plis...kali ini nurut sama mas ya, ini demi kebaikan kamu sama anak kita juga"
"Mas, janji deh disana aku cuman liat-liat aja. Lagian dikamar terus akunya bosen" Lifi masih saja terlihat merengek agar diizinkan oleh suaminya ini.
"Sayang, dikamar ada suami kamu lho, mana ganteng banget lagi. Masak kamunya bosan sih" Byan sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan istrinya, namun untuk menutupinya Byan menyelinginya dengan candaan agar tidak terlihat kesan seriusnya
"Ish....ganteng apaan, nyebelin sih ia. Lagian maksud aku bukan bosan sama kamunya, tapi bosan sama tempatnya. Pengen keluar biar ganti suasana bentar lah mas" Lifipun terlihat meluruskan maksud ucapannya tadi.
"Yasudah kamu boleh kedapur. Tapi janji cuman lihat-lihat aja, gak usah bantuin lo yah. Awas aja kalau kamu gak nurut sama mas"
"Siap komandan" Lifi berucap dengan ekspresi seperti orang yang sedang memberikan hormat saat upacara.
"Kalau begitu mas mandi dulu ya"
Setelah memastikan suaminya pergi ke kamar mandi, Lifi langsung bergegas menuju dapur.
Disana ternyata sudah ada bik Darsih dan mama mertuanya. Mereka berdua nampak sedang sibuk membuat sesuatu.
"Mah, lagi bikin apa ini" Tanya Lifi yang tiba-tiba mucul dibelakang mertuanya, membuat sang mertua menjadi kaget.
"Loh, kok malah disini sih. Kamu istirahat aja sayang. Ingat kamu lagi hamil muda sekarang, jadi sebisa mungkin jangan terlalu beraktifitas yang bikin kamu cepet lelah. Kalau kamu ada kepengen dibuatin sesuatu, kamu tinggal minta sama mama gak usah sungkan atau sama bibik juga" Bu Kinan terlihat begitu perhatian pada menantunya ini.
"Iya mah, tapi Lifi bosan dikamar terus. Gimana kalau disini Lifi cuman liat-liat mama sama bibik masak" sekarang giliran Lifi bernegoisasi dengan mama mertuanya, setelah tadi dikamar dia mencoba bernegoisasi dengan suaminya.
"Yasudah kamu boleh liatin mama sama bibik masak"
Lifipun kemudiaan benar-benar duduk di kursi yang ada didekat dapur sambil memperhatikan ART berserta mama mertuanya memasak.
Sungguh dalam hati Lifi merasa sungkan sendiri karena hanya duduk-duduk saja tanpa membantu pekerjaan sedikitpun. Namun menolakpun Lifi juga tidak bisa. Karena baik mama mertuanya maupun suaminya, keduanya sama sekali tidak membiarkannya kecapek'an sedikitpun.
__ADS_1
Dan alasan mereka berdua sepertinya sama, karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu padanya dan juga calon bayinya.