
Sesuai janji Byan pada Lifi, bahwa setiap weekend mereka akan menginap dirumah orang tua Lifi
"mah, pah Lifi pamit dulu ya" Lifi nampak berpamitan kepada mertuanya sebelum berangkat menuju rumahnya.
"sayang, ini Kamu bawa buat oleh-oleh ya"
Bu Kinan nampak memberikan sebuah paper bag berisi oleh-oleh pada Lifi.
"gak usah repot-repot mah" Lifi terlihat sungkan untuk menerimanya
"kamu bawa saja nak dan salam untuk ayah sama bunda kamu" kali ini pak Rahman ikutan menimpali.
Lifi dan Byanpun kini nampak berada dimobil sedang dalam perjalanan menuju kediaman orang tua Lifi.
Sejak tadi wajah Lifi sudah nampak bahagia sekali. Terlihat dari raut wajahnya yang nampak berseri-seri dan senyum yang terus mengembang dari bibirnya
Ini adalah kali pertamanya Lifi pulang ke rumahnya setelah resmi menikah dengan Byan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Lifi dan Byan sampai juga.
Kedatangan mereka tentu disambut antusias sekali oleh bunda Maira yang memang sudah sangat merindukan anak perempuannya ini pulang.
"Asslalamualaikum....." Lifi memberi salam
"Waalaikium salam....." Jawab Bu Maira sambil membukakan pintu
"Bunda...."Lifi langsung berhambur memeluk bu Maira untuk menumpahkan rasa rindunya pada sang bunda.
"Ayah mana bun, masih ditoko?
"Iya, bentar lagi pulang"
Setelah dirasa interaksi antara ibu dan anak ini sudah selesai, barulah Byan menyapa ibu mertuanya.
"sehat bun?" Byan bertanya sambil menyalami mertuanya dengan takdzim.
"Alhamdulillah....seperti yang nak Byan lihat"
"nak Byan dan kabar keluarga di rumah bagaimana?" Bu Maira bertanya balik
"Alhamdulillah, semuanya sehat bun"
"ayo-ayo langsung masuk saja"
Dengan ramahnya bu Maira menyuruh Byan masuk.
Dan ternyata di ruang tamu sudah siap teh beserta cemilan pendampingnya.
Merekapun nampak terlibat obrolan ringan sebentar. Hingga beberapa saat kemudian,
"Lif...ayo antar suamimu istirahat dikamarmu". Bu Maira nampak memberi intruksi pada anaknya
Tanpa banyak protes Lifipun mengajak Byan untuk ke kamarnya.
"Mas istirahat dulu saja, aku mau ke bunda dulu"
Tanpa menunggu persetujuan suaminya Lifi kemudian beranjak untuk kembali ke dapur.
Byan yang bingung harus ngapain akhirnya memilih merebahkan diri dikamar istrinya. Dia nampak mengamati suasana ruang kamar istrinya.
"Bun...lagi masak apa ini?" Lifi tiba-tiba muncul dari arah belakang bundanya yang saat ini terlihat sedang menumis bumbu.
"kok disini sih?" bu Maira nampak mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Pasalnya tadi dia menyuruh putrinya kekamar untuk menemani suaminya istirahat.
"Lifi mau bantuin bunda masak" Lifi menawarkan diri untuk membantu.
"sayang...kamu istirahat saja , lagian bunda masaknya tinggal ini saja kok" tolak bu Maira halus
"gak papa deh, kalau gak boleh bantu-bantu biar Lifi ngeliatin bunda masak aja" Lifi masih keukeh untuk masih tetap didapur.
"sayang, kamu temani suami kamu. Kasian dia sendirian. Nanti kalau ayah sudah datang kamu bisa ngobrol lagi sama bunda dan suamimu biar ngobrol sama ayah" bu Maira nampak memberi pengertian pada putrinya.
Lifipun kemudian beranjak menuju kekamarnya. Dan setelah agak jauh dari bundanya Lifi sedikit menggerutu dan mengungkapkan kekesalannnya.
Pasalnya gak dirumah mertuanya, gak dirumahnya sendiri, setiap kali hendak membantu ke dapur pasti ujung-ujungnya disuruh balik istirahat.
Sampai di kamar Lifi mendapati suaminya sedang tidur-tiduran sambil bermain ponsel.
Lifi nampak berdiri di depan pintu kamarnya dan terlihat bingung harus berbuat apa.
"sayang, kok cuman berdiri disitu" Byan membuka suara
"ah iya, ini juga mau istirahat" nampak Lifi terlihat gugup
Diapun kemudian melangkah dan duduk disisi ranjang yang satunya.
Tangannya nampak meremat-remat bajunya. Mungkin itu dia lakukan untuk mengurangi rasa gugupnya.
"kamu kenapa hm" tanya Byan pada istrinya.
"gak pa pa kok"
Byanpun mendekat ke arah Lifi dan menariknya hingga saat ini posisi Lifi yang semula duduk menjadi berbaring. Byanpun dengan cepat mendekap tubuh istrinya ini.
"M-mas mau apa" Lifi terlihat panik
Byan semakin mengeratkan pelukannya.
"mas....." ucap Lifi
"udah kamu diem saja, mas tau kamu gugup" ucap Byan seolah-olah faham dengan perasaan istrinya saat ini.
"iya, tapi jangan kayak gini, akunya gerah"
"gerah apa memang sengaja mau menghindar?" Byan bertanya dengan wajah yang saat ini terlihat serius sekali.
"tidak bisakah kamu berusaha perlahan-lahan membuka hati untuk menerima pernikahan ini" Byan bertanya seraya menatap lekat-lekat wajah istrinya.
"mas....ak-aku....butuh waktu untuk itu" jawab Lifi gugup
"sampai kapan" tanya Byan lagi
"aku gak tau mas, tapi aku akan berusaha membuka hati aku untuk kamu"
"dengan berusaha menghindari ku seperti ini?" Byan nampak tersenyum kecut.
"mas, aku...aku...."
Belum sempat Lifi menjawab, Byan sudah menjawabnya terlebih dulu.
"Lif, gimana kamu bisa buka hati kamu buat aku, kalau setiap kali kita berdua kamu selalu menghindar"
Byan kali ini memanggil Lifi dengan menyebut namanya. Lifi tau mungkin saat ini Byan sedang marah atau lebih tepatnya kecewa dengan sikapnya.
Padahal dalam hati, Byan rasanya ingin sekali tertawa.
__ADS_1
Ia sengaja beracting seperti itu hanya ingin melihat bagaimana ekspresi istrinya saat dia marah dan kecewa karena sikapnya
"maaf mas, mulai hari ini aku janji akan berusaha untuk menerima pernikahan ini dan akan berusaha membuka hati aku buat kamu"
Lifi berbicara tanpa menatap pada lawan bicaranya.
Sungguh Lifi tak sanggup jika harus menatap Byan dengan jarak sedekat ini. Jantungnya kadang kala sulit untuk diajak bekerja sama.
"sungguh.....kamu gak sedang menghibur hati mas kan" tanya Byan untuk meyakinkan lagi, apakah yang barusan dikatakan oleh istrinya ini benar adanya.
Lifipun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.
Dalam hati Byan bersorak gembira. Ternyata rencananya ini berhasil.
"berarti kalau begitu mas boleh nyicil dari sekarang dong"
pertanyaan absurd itu tiba-tiba terlontar dari mulut Byan.
Ni orang dikasih hati malah minta jantung
Lifipun sontak membulatkan kedua matanya. Karena bisa-bisanya suaminya ini mengatakan hal seperti itu. Sebelumnya ia merasa bersalah karena sudah mengabaikan suaminya ini, lah sekarang yang dikasihani malah balik ke mode ngeselinnya lagi.
" maaf, gue bukan tukang kredit"
Saking kesalnya dia pada sang suami, sampai-sampai Lifi ikut-ikutan berbicara absurd.
Lifipun sedikit berontak agar bisa lepas dari dekapan suami nyebelinnya ini.
"yasudah kalau gitu mas bayar kontan aja. Bukankah sebelumnya cinta mas ke kamu juga udah mas bayar tunai" ucap Byan sambil menyeringai licik.
"kalau urusan itu, mas boleh ngutang. Gak dibayar sekalipun aku ikhlas. Pakek banget malah" ucap Lifi kesal.
Andai nimpuk suami tidak dosa, pasti saat inipun sudah Lifi lakukan.
"mas, tangannya bisa dikondisikan enggak sih"
Lifi mengatakan hal itu karena sebenarnya mulai tadi tangan suaminya ini mulai bergerak ke mana-mana. Bahkan saat ini salah satu tangan Byan nampak sedang berusaha membuka satu kancing baju yang dikenakannya.
"katanya tadi mau berusaha membuka diri, jadi mas cuman berusaha bantuin kamu aja biar lebih mudah dan lebih cepat"
"mas Byan....." Ucap Lifi geram.
Pasalnya dari hari kehari suaminya ini semakin bertambah mesum saja.
"canda sayang....."
"awas ah, aku mandi. deket-deket kamu bikin gerah aja"
Lifipun menghempaskan tangan Byan dari pinggangnya dan segera beranjak untuk bangun.
"Yasudah mandi bareng yuk, mas juga gerah ini" Ucap Byan sambil ikutan beranjak.
" apaan sih, siang-siang gini pikarannya udah mesum aja" kesal Lifi
"berarti kalau malem boleh dong mikir mesumnya?"
Byan mengatakan itu sambil menaik turunkan alisnya
"Dasar nyebelin"
Setelah mengucapkan itu Lifi langsung beranjak ke kamar mandin dengan sedikit berlari.
Iapun kemudian mengunci pintu kamar mandinya. Takut-takut kalau suami mesumnya ini tiba-tiba masuk.
__ADS_1