
Perlahan Byan mulai membuka matanya saat ia merasakan sepertinya ada beban di atas tubuhnya. Dan ternyata beban itu adalah tangan istrinya yang nampak terlihat merangkul tubuhnya cukup erat. Sungguh menurut Byan ini adalah pemandangan terindah.
Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama ia membuka mata dengan nampak pemandangan wajah Lifi yang terlihat damai berada tepat disampingnya. Apalagi ditambah dengan posisi Lifi yang nampak tertidur lelap dengan tangan yang memeluk tubuhnya.
Diapun perlahan menyentuh wajah ayu Lifi. Sebenarnya dalam hati Byan, Ia ingin sekali membelai wajah Lifi berlama-lama. Hanya saja dia takut si empunya bangun.
Dan ternyata benar, baru saja Byan mengalihkan tangannya sudah nampak Lifi mengerjapkan kedua matanya.
Byan berpura-pura memejamkan matanya agar Lifi mengira kalau dia masih tidur.
Ekpresi Lifi nampak terkejut sekali. Bagaimana tidak, dia yang kemarin malam menaruh guling di tengah sebagai pembatas dan dia juga mempiringatkan Byan agar tidak melewati batas tersebut, justru malah dirinya sendiri yang melewatinya. Bahkan bisa-bisanya dia sendiri sampai merangkul Byan.
"Ya ampun, ni tangan ngapain coba pakek ngerangkul si komet segala. Kalau sampai tau bisa besar kepala itu orang" Lifi terlihat menggeturu sendiri.
"bo-doh, bo-doh, bo-doh" bahkan Lifi nampak memukul-mukul kepalanya sendiri.
Karena takut ketahuan, Lifipun menggerak-gerakkan tangannya tepat di atas wajah Byan. Memastikan jika suaminya ini masih belum terjaga.
Saat tidak melihat sedikitpun pergerakan dari Byan, tentu membuat Lifi merasa lega. Bahkan iapun mengelus-elus dadanya sendiri.
Melihat itu semua, sungguh rasanya Byan ingin tertawa saat itu juga. Ia dari tadi yang hanya pura-pura tidur tentu saja bisa melihat ekspresi Lifi dari celah-celah kecil penglihatannya.
Khawatir dirinya takut tidak bisa mengontrol karena dari tadi tawanya itu hampir pecah, Byan pun berpura-pura menggeliatkan tubuhnya. Iapun bangun dan langsung memposisikan dirinya duduk bersandar pada Headboard ranjang. Sementara Lifi, dia langsung berlalu ke kamar mandi saat merasakan Byan sudah mulai bangun dari tidurnya.
"lucu juga tingkahnya jika lagi panik" ucap Byan berguman sendiri.
Beberapa saat kemudian, Lifi nampak sudah keluar dari kamar mandi. Byanpun beranjak dari tempatnya dan hendak menuju kamar mandi juga.
"jangan sholat dulu, tungguin saya sebentar. Kita sholat sama-sama"
Ia mengatakannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak ingin berdebat di pagi hari, Lifipun memilih mengiyakan apa yang diucapkan oleh Byan barusan.
Untuk pertama kalinya setelah semalam sah menjadi pasangan suami istri, mereka melakukan sholat subuh bersama.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Byan menyodorkan tangannya agar di cium oleh Lifi.
Dengan ekspresi tanpa tersenyum sedikitpun, Lifi meraih tangan Byan dan melakukan apa yang dimaksud suaminya.
Meskipun telihat jika istrinya ini melakukannya karena terpaksa, namun Byan tetap tersenyum. Setidaknya istrinya ini mau melakukan sesuatu yang diinginkannya.
__ADS_1
Iapun kemudian mendekatkatkan wajahnya pada sang istri. Namun saat melihat pergerakannya, secepat kilat istrinya ini memundurkan kepalanya.
"Ka-kamu mau apa" ucap Lifi gugup. Pasalnya tadi wajah Byan sudah tepat berada di depannya.
"mau cium keninglah" jawab Byan santai.
"ish....pagi-pagi udah mesum" jawab Lifi kesal.
"itu hal yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri dek" Byan berkata dengan lembut.
"lagian mesum sama istri sendiri kan gak dosa, malah berpahala"
Mendengar perkataan Byan yang seperti itu, Lifi reflek membulatkan kedua bola matanya. Bisa-bisanya sepagi ini Byan sudah berfikiran kotor.
"gak usah macem-macem " kesal Lifi
"mana ada saya macem-macem, saya kan hanya mau satu macam dulu. Tapi kalau kamu mintanya yang bermacem-macem, saya sih siap-siap aja" jawab Byan yang sengaja menggoda Lifi.
Lifi yang sudah terlihat sangat kesal, langsung mencubit lengan Byan dengan sedikit keras.
"aduh, kok dicubit sih dek" Byan berkata sambil mengelus lengannya yang dicubit Lifi. Sungguh cubita istrinya ini rasanya sedikit panas.
"Biarin, lagian suruh siapa pagi-pagi udah berfikiran mesum" ucap Lifi membela diri
"maunya di panggil apa hem?" tanya Byan pada istrinya
"kayak biasanya aja" jawab Lifi singkat
"ya gak bisalah, itu namanya tidak sopan. ingat kita sudah menikah, jadi akan sangat tidak sopan jika saya manggil kamu dengan nama langsung. Begitu juga sebaliknya" jelas Byan pada istrinya.
"oke, kalau kamu gak mau dipanggil kayak tadi, bagaimana jika saya manggilnya sayang aja?" tawar Biyan pada Lifi
"gak mau, itu ma....." tanpa aba-aba Byan langsung memotong ucapan Lifi. Karena Byan faham, ujung-ujunga Lifi tetap akan protes dengan tawarannya ini.
"udah, saya tidak menerima penolakan. Apapun alasannya saya tetap akan manggil kamu dengan panggilan sayang" ucap Byan tegas
"cih...maksaan banget jadi orang" Lifi berbicara dengan ketus dan setelah itu di memanyunkan bibirnya.
"itu bibir gak usah dimanyun-manyunin kayak gitu, mau saya cium pagi-pagi hem?"
Mendengar ucapan Byan yang barusan, membuat Lifi dengan cepat menutup mulutnya rapat-rapat. Byanpun dibuat terkekeh dengan tingkah istrinya yang menurutnya terlihat sangat lucu.
__ADS_1
Tak ingin berdebat lagi dengan suaminya, ia melilih segera melipat mukenahnya dan beranjak.
"mau kemana?"tanya Byan saat melihat istrinya hendak keluar kamar.
"Mau ke dapur "jawab Lifi singkat dan berlalu begitu saja tanpa menunggu tanggapan suaminya lagi.
"Bunda, ada yang bisa Lifi ban...." ia tidak meneruskan ucapannya manakala ia melihat beberapa menu masakan sudah siap tersaji. Hanya tinggal membawanya saja ke meja makan.
"cie...baru bangun aja nih pengantin baru. Habis ngapain aja dek semalam" tiba-tiba tersengar suara Faris dari belakang.
Faris sendiri pergi ke dapur karena hendak menaruh gelas dan bersamaan dengan itu, ia melihat adiknya yang baru datang. Padaha biasanya adiknya ini paling rajin kalau masalah urusan bantu-bantu didapur. Hingga akhirnya iapun berinisiatif untuk menggoda adiknya.
"kakak apaan sih, adek tu bangunnya udah dari tadi. Cuman itu tadi sedikit ada perdebatan sama si komet" ucap Lifi karena mesara tidak terima dirinya dikira kesiangan
Semua yang ada didapur kompak mengernyitkan dahi. Mereka merasa mendengar ada nama aneh disebutkan oleh Lifi
"komet siapa dek?" Nadira nampak bertanya
" ya Byan lah, emang siapa lagi" ucap Lifi enteng.
"Ya ampun dek, manggilnya kok gitu sih sama suami" ucap Nadira kemudian.
"sayang....manggil suami itu harus sopan. Masak suami sendiri dipanggil kayak gitu. pokoknya bunda gak mau denger lagi anak bunda manggil suaminya kayak gitu" kali ini bundanya menasehatinya
" terus Lifi mesti manggil apa dong" ucap Lifi kesal. Pasalnya pagi-pagi begini dia sudah dua kali mendapat siraman rohani.
"panggil Mas aja dek, kayak kakak manggil kakakmu" Nadira memberi saran
"terserahlah" ucap Lifi sambil berlalu dengan membawa piring berisi lauk untuk ditaruh di meja makan.
Mereka yang didapurpun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tesenyum karena melihat tingkah Lifi.
Saat semua menu sarapan sudah siap, Lifipun diminta untuk memanggil Byan dikamarnya untuk bergabung dan saralan bersama
"Lif....kamu layani suamimu" terdengar suara pak Ilham menyuruh Lifi untuk mengambilkan makan Byan.
"Iya yah" jawab Lifi. Dia tidak akan bisa protes jika ayahnya yang menyuruhnya.
"Mas, mau makan pakai apa?" ucap Lifi dengan nada canggung. Dan seketika itu juga membuat Byan tersedak minumannya karena kaget mendengar panggilan dari istrinya barusan.
Pasalnya tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba istrinya ini mendadak memanggil dirinya dengan panggilan "Mas". Namun tidak dengan Bu Maira, Faris dan istrinya. Mereka justru sedikit tersenyum dengan panggilan Lifi yang disematkan pada Byan. Karena sebelum ini mereka sudah membicarakan hal ini saat didapur tadi.
__ADS_1
"hati-hati nak Byan" ucap pak Ilham pada menantunya.
Merekapun kemudian makan bersama dengan tenang hingga selesai