
Setelah Lifi selesai menyusui bayinya, kedua kakek itu kembali lagi kedalam ruangan dimana Lifi dirawat. Tentu saja karena keduanya masih ingin melihat cucu mereka.
Tak lama dokter Lisapun masuk dan memberikan informasi jika besok pagi Lifi sudah diizinkan pulang. Karena memang Lifi melahirkan secara normal dan kondisinya berangsur-angsur membaik jadi tidak membutuhkan waktu lama untuknya berada dirumah sakit.
Dan tanpa terasa hari sudah berganti malam, Byanpun meminta agar kedua orang tua dan mertuanya untuk pulang saja.
Meski bu Maira dan bu Kinan memaksa ingin menginap dirumah sakit, namun Byan meminta mereka agar beristirahat dirumah saja, Byan beralasan besok siang mereka masih bisa kembali lagi untuk menjemput istrinya dan juga dedek bayinya.
Selain itu, sebenarnya para sahabatnya juga sempat mengabari jika mereka akan datang untuk menjenguk Lifi dan dedek bayinya ke rumah sakit. Namun lagi-lagi Byan juga menyuruh mereka agar datang kerumahnya saja besok.
Bukan maksud Byan menolak kunjungan mereka. Hanya saja Byan kasihan mengingat waktunya sudah malam. Apalagi diantara mereka berempat, yang tiga adalah perempuan. Jadi Byan merasa khawatir sendiri jika sampai teman-temannya itu harus keluar malam-malam.
"Mas....kamu istrirahat aja. Lagian aku gak pa pa kok. Mas sendiri pasti capek, jadi pasti butuh istirahat" Ucap Lifi karena merasa kasihan pada suaminya.
"Gak pa pa mas disini aja. Mas khawatir nanti kamu butuh sesuatu" Byan masih terlihat duduk dikursi yang ada disebelah ranjang Lifi.
"Yasudah, sini mas naik aja. Lagian ini ranjangnya muat kok buat dua orang" terlihat Lifi sedikit menggeser posisi tidurnya.
"Udah kamu istirahat aja. Mas gak pa pa kok disini aja"
"Beneran nih mas gak mau tidur sama aku" Lifi mengatakan itu sambil tersenyum nakal.
"Yang....gak usah mancing-mancing deh. Emang kamu gak kasian apa, suamimu ini harus puasa selama empat puluh hari malah kamu pancing-pancing segala." Byan terlihat menampakkan wajah melasnya pada Lifi
"Loh....emang siapa juga yang mancing-mancing. Aku kan cuman nanya mas beneran nih gak mau tidur sama aku. Mas kan sering bilang kalau mas gak bisa tidur nyenyak kalau gak meluk aku." Lifi sengaja mencari alasan agar Byan yakin jika apa yang dilakukannya tidak ada niatan untuk sengaja menggodanya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Lifi barusan. Hanya saja saat ini yang Byan fokuskan hanyalah bagaimana sekiranya istrinya bisa segera pulih.
"Sayang....gak pa pa malam ini mas libur gak meluk kamu. Tapi setelah kamu pulih nanti mas bakal minta ganti sama kamu. Sekarang mas rela puasa empat puluh hari, tapi nanti mas juga bakalan minta ganti jatah mas yang terlewat selama empat puluh hari itu." Kali ini sengaja Byan yang menggoda balik istrinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Byan itu sontak Lifi langsung membulatkan kedua matanya. Bisa-bisanya suaminya ini malah minta ganti jatahnya. Padahal jelas-jelas dia seperti ini karena habis ngelahirin anaknya.
Byan yang merasa jika saat ini istrinya sedang memberikan tatapan yang sedikit menakutkan langsung meralat apa yang diucapkannya barusan.
"Canda sayang" Byan berucap sambil membalai sayang kepala istrinya.
"Tapi kalau emang nanti beneran mau diganti mas gak bakal nolak kok."
Sedikit kesal dengan ucapan suaminya, membuat Lifi langsung mencubit tangan suaminya dengan sedikit keras
"Aw....sakit lo ini Yang....," Byan terlihat mengusap-usap tangannya.
"Biarin, suruh siapa hobi banget bikin orang kesel"
"Oke-oke papa minta maaf yah mah, sekarang mama istirahat aja. Biar tenaganya segera pulih kembali." Entah mengapa tiba-tiba Byan memanggil dirinya dengan sebutan mama
"Kok mama sih" meski panggilan suaminya tidak salah, mengingat saat ini dirinya memang sudah berstatus sebagai mama. Tapi entah kenapa Lifi merasa sedikit aneh dengan panggilan itu.
"Rayyan...."Ucap Lifi lirih namun masih bisa didengar oleh telinga suaminya.
"Evan Rayyan pratama, panggilannya Rayyan. Bolehkah mas ngasih nama itu buat dedek bayi" Byan terlihat meminta persetujuan istrinya. Karena bagaimanapun Lifi adalah ibu yang sudah melahirkannya.
"Nama yang bagus mas, aku suka kok" Ucap Lifi dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Kamu tau gak, sebenarnya Rayyan itu gabungan antara nama aku sama kamu, Naira dan Abiyan." Byan memberi penjelasan terkait alasan dia memberi nama itu pada putranya.
Mendengar penuturan suaminya, membuat Lifi merasa terharu. Karena untuk nama saja suaminya itu bisa sampai berfikir sampai kearah sana.
"Ayo istirahat, mas temenin disini" Byanpun kemudian mengelus-elus puncak kepala istrinya agar bisa segera tertidur. Hingga tak lama kemudian Lifipun benar-benar tertidur pulas.
__ADS_1
Melihat istrinya yang nampak tertidur, Byanpun kemudian mencium kening istrinya dalam-dalam.
"I Love you my wife" Bisik Byan tepat ditelinga istrinya.
Sungguh Byan tidak menyangka jika akhirnya dirinya dan Lifi bisa sampai ketahap ini. Tahap dimana dirinya dan Lifi berubah status menjadi orang tua.
Bagi Byan bisa menjadi suami dari seorang Lifi adalah anugerah terbesar, dan saat ini ditengah-tengah mereka hadir buah hati yang begitu menggemaskan. Bagi Byan ini adalah kebahagiaan yang sangat sempurna.
Dan setelah itu, Byanpun ikutan tertidur dengan posisi sambil duduk disebelah Lifi. Tangannya terlihat terus menggenggam erat jemari istrinya. Seolah-olah mengisyaratkan jika sampai kapanpun dirinya tidak ingin kehilangan istri tercintanya itu.
Tengah malam, dirinya bangun karena mendengar Lifi yang bergerak untuk berusaha bangun dari tidurnya.
"Sayang....kamu mau kemana, kenapa gak bangunin mas" Ucap Byan dengan suara khas orang bangun tidur.
"Maaf mas, gara-gara aku mas jadi terbangun" Lifi merasa tidak enak hati pada suaminya.
"Gak pa pa sayang, mas kan disini emang buat jagain kamu. Ayo kamu mau apa, biar mas bantu" terlihat Byan membantu Lifi untuk bisa duduk.
"Aku mau kekamar mandi mas"
"Ya sudah ayo mas anter"
Dengan sangat hati-hati, Byan memapah Lifi menuju kamar mandi. Sementara Lifi sendiri terlihat berjalan sangat pelan sekali, ia masih terlihat takut untuk berjalan.
"Mas tunggu diluar saja" ucap Lifi setelah dirinya sampai didepan pintu kamar mandi.
"Sayang.....mas masuk aja yah, mas khawatir kamu kerepotan didalam sana" terlihat Byan menawarkan diri untuk masuk kedalam kamar mandi menemani istrinya.
"Gak ah mas, aku malu"
__ADS_1
"Kenapa malu segala sih, lagian mas kan suami kamu. Dan mas juga udah liat semua yang ada dikamu, jadi kenapa musti malu-malu" Byan sedikit memaksa agar dirinya bisa masuk menemani istrinya. Bukan maksud apa-apa, hanya saja Byan merasa khawatir jika membiarkan istrinya sendirian didalam kamar mandi.
"Aku bisa kok mas, mas tunggu diluar aja. Nanti kalau aku didalam kerepotan, aku bakalan panggil mas kok" Lifi masih saja menolak tawaran suaminya. Hingga Byanpun mengiyakannya saja.