
Saat ini pak Ilham dan istrinya sudah sampai di kediamannya. Keduanya langsung bergegas untuk membersihkan diri. Malamnya sengaja pak Ilham menyuruh istrinya untuk memanggil Lifi, ia ingin membicarakan masalah perjodohannya dan menjelaskan alasan mengapa ia sampai melakukan perjodohan itu. Terlebih lagi sahabatnya yang mendesak agar pernikahan mereka disegerakan, membuat pak Ilham harus sesegera mungkin memberi tau hal ini pada Lifipp.
"Yah, kata bunda ayah manggil Lifi, emang ada perlu apa. Kok kayaknya serius sekali" Lifi berkata sesaat setelah ia duduk dikursi ruang tengah rumahnya. "Benar nak, memang ada hal yang begitu serius yang ingin ayah jelaskan" pak Ilham berbicara dengan manatap wajah Lifi lekat-lekat.
Sebenarnya ia bingung harus dari mana dan bagaimana mengatakan hal ini pada putrinya. Ada perasaan bersalah dalam diri pak Ilham, tapi dia pun kemudian melanjutkan pembicaraannya. "sebelumnya maukah kamu mendengarkan kisah tentang sebuah persahabatan?" tanya Pak Ilham sebelum ia bicara pada intinya. Lifi yang belum faham sebenarnya apa yang hendak di bicarakan sang ayah hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.
Setelah mendapat jawaban dari putrinya pak Ilham pun kemudian menceritakan kisah persahabatnnya dengan pak Rahman. Dari mulai awal bertemu dengan pak Rahman, hingga kedekatan yang terjalin begitu erat, bahkan sampai dengan bagaimana keluarga pak Rahman yang membantu masalah keuangan saat dia harus menunggak pembaran sekolah lantaran ayahnya yang waktu itu sedang sakit-sakitan, sehingga membuat dirinya kala itu sering mengalami masalah keuangan saat dipesantren. Bukan itu saja, pak Ilham juga menceritakan bagaimana pak Rahman dan keluargnya yang memperlakukannya layaknya keluarga sendiri.
Hingga suatu hari, ayahnya meninggal dunia dan memaksa dia harus meninggalkan pesantren lantaran sudah tidak ada lagi yang bisa membiayai pendidikannya dipesantren. Ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga dan dia juga mumpunyai adik perempuan yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Sungguh keadaan ini memaksanya untuk mengambil alih tanggung jawab atas keluarganya.
__ADS_1
Sebenarnya pak Rahman kala itu meminta ayahnya untuk membiayai pendidikan pak Ilham. Pak Rahman melakukan itu karena ia sangat kasihan dan tidak ingin berpisah dari sahabatnya. hanya saja pak Ilham menolaknya. Ia tidak ingin lebih banyak berhutang budi lagi pada Rahman dan keluarganya. Hingga saat hari dimana ia harus benar-benar pergi meninggalkan pesantren, pak Rahman mengajukan sebuah permintaan berupa sebuah perjanjian yang kala itu di inyakan oleh dirinya.
Setelah menceritakan semuanya, kini saatnya pak Ilham harus mengatakan perihal perjanjian apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan sahabatnya. Saat ini pikiran tidak enak sedang menyelimuti Lifi. Ia merasakan sesuatu akan terjadi menimpa dirinya, namun ia sendiri tak tau apa itu. Ia hanya diam sambil terus mendengarkan ayahnya melanjutkan ceritanya.
"jadi begini nak, ayah dulu sudah berjanji pada teman ayah. Jika suatu saat nanti kita sama-sama memiliki anak, maka kita akan menjodohkannya .Ayah pikir saat itu kita tidak akan pernah bertemu lagi, dan teman ayah itu akan melupakan perjanjian itu. Mengingat waktu yang begitu lamanya." ucap pak Ilham sambil menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Namun ternyata dugaan ayah salah. Teman ayah justru selama ini selalu mencari keberadaan ayah. Hingga akhirnya dia menemukan tempat tinggal ayah dan kemudian dia datang menemui ayah seminggu yang lalu. Dia yang sudah tau kalau ayah mempunyai seorang putri dan diapun kebetulan mempunyai seorang putra.maka dia pun menagih janji ayah untuk menjodohkan kamu dengan putranya."jelas pak Ilham panjang lebar.
"Maafkan ayah nak, karena sebelum mendapat persetujuan darimu ayah sudah terlebih dahulu menerima perjodohan ini. Ayah tidak mau berhutang janji, apalagi teman ayah tidak hentinya terus memohon pada ayah hingga ayah pun menerimanya dan mungkin dengan cara ini ayah bisa sedikit membalas budi pada mereka. Ayah mohon sekali nak, kamu mau berlapang hati menerima perjodohan ini" pak Ilham berkata sambil mengatupkan kedua tangannya sebagai pertanda ia memohon pada putrinya.
__ADS_1
Mendengar semua itu membuat Lifi hanya bisa mematung ditempat. Pikirannya sangat kacau bahkan tanpa sadar air mata yang sejak tadi ditahannya sudah lolos begitu saja. Ingin rasanya ia berteriak menolak keras keputusan ayahnya ini. Namun melihat ayahnya yang terlihat begitu memohon dengan nada iba, membuat Lifi tidak tega. Rasanya sebagai anak tidak sepantasnya membuat orang tuanya memohon sesuatu padanya. Namun untuk menerima perjodohan ini bukanlah pekara yang mudah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus menikah di usia muda, ditambah lagi dia sama sekali tidak pernah mengenal bahkan tidak pernah tau sekalipun dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Ia berfikir Entah akan jadi seperti apa pernikahnnya nanti.
ayahnya hanya bisa memandang sendu wajah putrinya. Bahkan bu Maira memilih tidak ikut dalam pembicaraan itu, karena ia tidak tega jika nantinya harus melihat Lifi bersedih. Akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Lifi membuka suara "Jika menurut ayah dia pria yang baik, Lifi mau memenuhi janji ayah pada teman ayah. Tapi sebelum itu Lifi punya permintaan pada ayah" Lifi berbicara dengan sesekali pandangannya mengarah ke atas. Itu ia lakukan agar air matanya tidak kembali jatuh. Ia tidak ingin terlihat rapuh dihadapan ayahnya yang bisa berujung membuat ayahnya khawatir akan keadaannya.
"Katakan nak, apa permintaanmu. Ayah akan berusaha untuk memenuhinnya" jawab pak Ilham mantap. "Lifi ingin tidak ada resepsi dipernikahan itu. cukup keluarga saja yang tau. Biarkan teman-teman lifi tidak tau dulu. Paling tidak sampai Lifi lulus kuliah." ucap Lifi
"Baiklah nak, jika itu permintaan kamu. Nanti ayah akan menyampaikannya pada teman ayah"
Setelah mengatakan itu pak Ilham pun menghampiri putrinya. Ia membelai sayang kepala Lifi. "terima kasih nak, kamu sudah mau berbesar hati untuk menerima perjodohan ini, dan sekali lagi maafkan ayah nak, karena mengambil keputusan ini tanpa melibatkan mu terlebih dahulu" ucap ayahnya yang kemudian dijawab hanya dengan anggukan kepala oleh Lifi.
__ADS_1
Setelah itu Lifipun beranjak meninggalkan ayahnya dan bergegas menuju kamarnya. Melihat Lifi yang nampak sedikit berlari menuju kamarnya, membuat bu Maira ingin mengejarnya. Namun ia dicegah oleh suaminya. "Bun, biarkan Lifi sendiri dulu. Ayah yakin tidak akan terjadi apa-apa pada putri kita" Pak Ilham berusaha meyakinkan sang istri.
Didalam kamar, Lifi menangis sejadi-jadinya. perasaan hancur, kecewa, semua melebur jadi satu. Sungguh tidak pernah terbayang kalau dia akan menikah secepat ini. Padahal impiannya sangat besar. Ia ingin berkarir setelah lulus S1, menikmati masa mudanya dan masih banyak lagi. Tapi semua itu hanya akan jadi sebuah angan-angan saja. satu jam lebih ia menangis, hingga tanpa terasa ia tertidur dengan sendirinya.