Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Dua Minggu, Deal.....


__ADS_3

Saat ini Lifi masih dengan posisi membelakangi suaminya. Ia bahkan mengabaikan Byan yang sedari tadi memaksanya untuk makan.


Tak kehilangan akal, Byanpun akhirnya beralih posisi dengan duduk tepat didepan Lifi. Secepat kilat Byan menahan tubuh gadisnya sebelum dia keburu membalikkan badan lagi.


"Sayang....ayo makan sedikit saja. Mas suapin ya" Byan berkata dengan begitu lembutnya.


Sungguh saat ini dirinya sangat menyesal karena sudah membuat orang yang begitu dia sayangi jadi seperti ini.


Dirinya terlalu mencintai Lifi, hingga saat tadi melihat Lifi dekat dengan pria lain, hatinya terasa sakit hingga dirinya tidak mampu membendung lagi rasa emosinya.


Byan takut kehilangan istrinya. Apalagi saat ini istrinya itu belum mencintainya, jadi kemungkinan Lifi akan meninggalkannya itu masih ada. Begitu menurut pemikiran Byan.


"Bawa aku pulang ke rumah ayah, aku mohon mas"


Lagi-lagi kalimat itu yang terucap dari mulut istrinya, hingga membuat Byan bingung harus bagaimana lagi untuk bisa meyakinkan istrinya ini.


"Sayang....jangan pernah meminta untuk pergi dari sini, karena sampai kapanpun mas gak akan biarin kamu ninggalin mas. Tolong jangan kayak gini. Mas sungguh minta maaf"


Setelah itu Byan langsung menghujani wajah istrinya dengan ciuman. Byanpun kemudian mendekap tubuh istrinya erat-erat.


Hingga tanpa Byan sadari saat ini istrinya itu sudah nampak tertidur. Mungkin efek terlalu lama menangis hingga membuat istrinya ini sangat mudah untuk memejamkan matanya.


Byan baru menyadari jika istrinya itu sudah terlelap karena merasa sejak tadi tidak ada pergerakan sama sekali dari Lifi. Yang terdengar justru hanya suara dengkuran halus yang menandakan kalau istrinya saat ini nampak benar-benar tertidur pulas.


Byanpun kemudian membenarkan posisi tidur istrinya dan menyelimutinya agar merasa nyaman. Baru setelah itu Byan ikut merebahkan diri disamping istrinya dengan posisi memeluknya dari belakang.


Tengah malam, Lifi nampak mengerjapkan matanya. Perutnya tiba-tiba terasa sangat lapar.


Iapun perlahan memindahkan tangan Byan yang nampak melingkar di perutnya dengan sangat hati-hati.Takut-takut kalau si empunya ini akan terbangun.


Namun sayang sekali, ternyata suaminya ini sudah nampak membuka matanya.


"Sayang, mau kemana hem" tanya Byan saat mendapati istrinya ini hendak turun dari ranjang.


Lifipun bingung harus menjawab apa. Karena jujur saat ini dia masih sangat kecewa dengan sikap suaminya, namun disisi lain perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Bahkan saat ini saja perutnya nampak berkukuriuk, hingga terdengar oleh telinga Byan. Dan saat itu juga Byan menyadari jika istrinya ini bangun karena merasa sangat lapar.


"Sayang....mas tau kamu sedang lapar. Yasudah kamu tunggu disini dulu ya. Mas mau kedapur buat ambil makanan sekaligus mas panasi dulu ya" ucap Byan kemudian hendak beranjak dari tempatnya


Namun sebelum Byan beranjak, Lifi sudah menolaknya terlebih dahulu.


"Gak usah, aku bisa sendiri"


Setelah mengatakan itu Lifi lantas pergi ke dapur tanpa menghiraukan Byan.


Byan nampaknya belum mau menyerah. Iapun mengikuti Lifi dibelakangnya.

__ADS_1


"Lho sayang....kok malah bikin mie sih" ucap Byan saat melihat Lifi bukannya memanasi makanaan, malah terlihat sedang membuat mie instan.


"Aku lagi pengen aja" kali ini Lifi menjawabnya meski dengan sedikit ketus.


"Yang....makan nasi aja ya. Mas takut kamu sakit perut lagi " cegah Byan agar Lifi tak melanjutkan niatnya untuk makan mie instan.


"Udah kamu pergi kalau bisanya cuman protes aja" kesal Lifi pada suaminya ini.


"Ya sudah kalo begitu, sini mas aja yang buatinnya. Kesayangannya mas mending duduk saja"


Dari pada dirinya diusir, akhirnya Byan memilih untuk menuruti kemauan istrinya.


Byanpun mengambil alih mie yang sedang berada ditangan istrinya itu, kemudian memasaknya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mie yang dibuatnya pun sudah jadi.


Byan membawa mie yang sudah matang dan memberikannya pada Lifi.


"Sayang....mienya sudah mateng, sini mas suapi ya makannya?" Tawar Byan pada istrinya


"Aku bisa sendiri" jawab Lifi tanpa melihat wajah Byan


Dari pada berdebat dan berujung istrinya tidak makan, akhirnya Byanpun memberikan semangkuk mie tersebut pada Lifi.


Belum sempat menyentuh mie tersebut, Lifi nampak beranjak dari tempatnya. Byan pikir istrinya ini marah lagi. Tapi ternyata dia salah. Malah Lifi terlihat sedang mengambil sendok satu lagi.


"Mas kita makannya barengan, ini porsinya terlalu banyak. Aku gak mungkin ngabisin ini sendiri" Lifi berucap sambil memberikan sendok pada Byan.


Setelah menyelesikan makannya, mereka berdua kembali kekamar. Terlihat Lifi sedang duduk bersandar pada headboard ranjang.


Melihat situasi yang dirasa cukup kondusif, Iapun mendekat pada istrinya dan duduk tepat dihadapan istrinya.


Byan mengambil kedua telapak tangan Lifi dan memenggengamnya sedikit erat.


"Yang....mas minta maaf ya, seharian tadi mas nyuwekin kamu. Sungguh mas gak bermaksud nyakitin kamu. Mas hanya gak bisa lihat istri mas dekat dengan laki-laki lain"


"Maksud kamu?" ucap Lifi sambil mengerutkan keninganya karena merasa tidak faham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya


"Siapa laki-laki yang bicara sama kamu dilorong dekat toilet kampus siang tadi?


Deg.....


Saat ini Lifi langsung faham, kenapa suaminya sejak siang tadi cuek terhadapnya.


"Dia mas Raka, tetangga depan rumah. Tapi itu dulu, karena tiga tahun yang lalu dia sudah pindah dan sejak itu kita gak pernah ketemu lagi" jelas Lifi pada suaminya


"Benarkah itu? Tapi kenapa kalian dekat sekali sepertinya. Sedang sama mas aja kamu seperti jaga jarak"

__ADS_1


"Namanya juga tetangga mas, kamu gak usah mikir aneh-aneh deh. Masalah aku yang ke kamu jaga jarak itu wajar lah. Orang aku baru kenal kamu" ucap Lifi sedikit sewot


"Tapi kan aku suami kamu" bantah Byan tak terima dengan ucapan Lifi barusan


" Iya iya aku lupa kalau kamu suami aku yang suka ngambekan, marah-marah gak jelas dan sekaligus nyebelin" Lifi sengaja mengatakan itu untuk meledek suaminya


"Mana ada kayak gitu. Akutuh suami idaman sejuta ummat. udah ganteng, setia meski sering diabaikan dan satu lagi, aku ini tipe suami yang full sayang sama istri" Byan bicara dengan sedikit narsis


Lifi hanya menatap jengah suami narsisnya ini.


"Idaman sejuta ummat apaan kalau orangnya ngambekan gak jelas kayak tadi" gerutu Lifi namun masih bisa didengar oleh Byan


"Sayang....mas bukannya ngambek, tapi mas cemburu. Suami mana yang gak akan marah lihat istri yang begitu dikhawatirkan keadaannya malah nampak asik ngobrol sama pria lain. Mas itu tadi berniat nyusulin kamu. Mas khawatir kamu kenapa-napa di toilet. Eh....malah yang dikhawatirin lagi asik bernostalgia sama mantan tetangga" jelas Byan panjang lebar.


"aku tuh gak sengaja ketemunya mas. Masak mas Raka nyapa, mau aku cuwekin"


"Ya tapi gak sedekat itu juga. Sama mas aja kamu suka jauh-jauh. Padahal kita pasangan halal. Mau ngelakuin apa aja bebas. Ini malah digantung kayak gini. Gimana gak was-was saat mas liat kamu deket sama cowok lain. Kamu aja sampai saat ini belum jadi istri mas yang seutuhnya" Byan nampak mengomel pada istrinya dan ini membuat Lifi merasa tak enak hati.


"Mas aku butuh waktu untuk itu" ucap Lifi lirih


"Berapa lama, kasih mas kepastian"


"tiga bulan mungkin" jawab Lifi enteng


"What....tiga bulan? gak sekalian aja kamu bunuh mas" Byan nampak kaget dan kesal dengan pernyataan Lifi barusan.


"Suatu minggu" ucap Byan kemudian


"Mana ada itu terlalu dekat mas, satu bulan gimana?" tawar Lifi


"Dua minggu deal..." Byan berucap sambil menjabat tangan Lifi.


"Gak...gak...main deal-deal aja. Itu namanya keputusan sepihak" kesal Lifi karena suaminya ini membuat kesepakan atas kemauannya sendiri.


"Gak bisa yang, kita kan udah jabatan tangan. Itu artinya kita sudah saling sepakat" Bantah Byan pada istrinya.


"Mana ada yang begitu" kesal Lifi


"Ada yang, buktinya kita ini"


"Oke deal, tapi selama dua minggu juga kita tidurnya pisahan. Gimana? Lifi masih terus berusaha bernegoisasi dengan suaminya ini.


"Apa yang, tidur pisah, gak mau, mas nolak keras kalau urusan ini" Jawab Byan tak terima.


"Cuman dua minggu mas, gak sampek sebulan"


"Tetep kayak yang tadi, atau malam ini juga kamu mas eksekusi habis" ucap Byan penuh intimidasi hingga membuat Lifi bergidik ngeri.

__ADS_1


"Oke, yang tadi aja" Lifi nampak terpaksa menyetujuinya


Sedang Byan, jangan ditanya lagi. pria itu saat ini nampak tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2