
Sejak terjadinya kesepakan itu Byan selalu aktif melihat kalender. Bahkan setiap hari ia akan mencoret setiap tanggal yang sudah terlewat.
Tidak hanya dikalender, di ponselnya dia sengaja mengaktifkan alarm sebagai pengingat jika waktunya sudah tiba nanti.
Lifi sendiri sampai jengah melihat tingkah absurd suaminya ini. Bagi Lifi ini terlalu berlebihan.
"Mas bisa gak sih sehari aja gak ribet sama itu kalender. Aku aja liatnya bosen" protes Lifi pada suaminya.
"Mana bisa, yang ada entar aku kelewatan harinya. Kan rugi diakunya"
"Ck....." Lifi hanya bisa berdecak kesal
Pasalnya saat dia dan Byan sudah masuk mobil untuk berangkat ke kampus, suaminya ini malah balik lagi ke kamar hanya karena dia lupa belum mencoret tanggal yang kemarin.
Sungguh alasan yang menyebalkan mengingat lima belas menit lagi jam kuliah mereka akan dimulai.
"Maaf ya sudah bikin kesayangannya mas ini menunggu" ucap Byan yang di balas dengan tatapan jengah oleh istrinya.
Byan pun mengemudi mobilnya lumayan ngebut. Niat hati Byan tidak ingin istrinya ini marah-marah kalau sampai ia terlambat sampai kampus. Tapi kenyataannya malah sama saja.
"Mas bawa mobilnya jangan cepet-cepet. Aku gak mau kita mati sia-sia. Mana usia aku masih muda lagi"
Lifi nampak menceramahi Byan.
"Mas juga gak kepengen kali mati muda. Ya meskipun udah nikah tapi kan belum pernah ngerasain gimana nikmatnya nikah kayak yang orang-orang ceritain" Ucap Byan tak mau kalah.
"Kamu pikirannya itu mulu, gak bisa mikir lainnya apa"
"Ya gak bisa lah yang, coba dikasih jatah sekali aja" jawab Byan enteng
"Ck....." lagi-lagi Lifi hanya bisa berdecak kesal.
Kini keduanya sudah berada dikampus. Beruntung mereka sampai disana tepat waktu. Karena saat keduanya masuk kelas, nampak dosen mereka belum datang karena memang jam perkuliahan baru akan dimulai lima menit lagi.
Benar saja, taka lama kemudian dosenpun nampak memasuki kelas. Semua mahasiswa nampak tenang mengikuti perkuliahan hari ini. Itu terbukti dari kondisi kelas yang terlihat cukup kondusif.
Setelah perkuliahan selesai, seperti biasa Lifi dan teman-temannya langsung beranjak menuju kantin.
Saat mereka sudah berada dikanti, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil dari belakang.
"Ra....."
Entah siapa yang dipanggil, karena salah satu dari mereka tidak ada yang merasa memiliki panggilan ataupun nama itu.
Namun tidak bagi Lifi, saat ini dirinya tengah ketar-ketir. Dia tau betul siapa pemilik suara tadi dan siapa orang yang dimaksudnya.
"Mampus gue, kenapa mesti ketemu kak Raka pas barengan komet" Lifi berucap dalam batin
"Ra...." ucap pria itu lagi, kemudian mengambil posisi duduk tepat depan Lifi.
"K-Kak Ra-ka" ucap Lifi terbata.
__ADS_1
"Kak Raka, beneran kak Raka kan?" Airin berbicara dengan begitu hebohnya.
Ya, Airin mengenal Raka karena memang dulu waktu masih SMA dia sering main ke rumah Lifi.
"Ia ini gue, kamu apa kabar Rin?" tanya Raka
"Aku baik-baik aja kak. Kak Raka kuliah disini? Tapi kok baru ketemu sekarang ya?"
"Ia soalnya baru selesai magang dan sekarang sedang proses persiapan skripsi" jelas Raka
"Oh....gitu ya kak"
"Ra...kamu kok diem aja.Kemarin waktu ketemu, kamunya buru-buru karena masih ada jam perkuliahan. Sekaran lagi break kan?
"Iya Kak" jawab Lifi singkat
"Gue bisa minta nomer ponselnya? Kemarin kakak lupa mau minta sama kamu"
Lifi nampak bingung apakah dia harus memberikan nomor ponselnya atau tidak.
Pasalnya laki-laki disebalahnya, yang berstatus sebagai suaminya ini sudah mulai menampakkan wajah yang kurang mengenakkan. Hal ini tentu membuat Lifi sedikit was-was kalau-kalau suaminya ini akan bersikap seperti beberapa hari yang lalu apa saat dirinya kedapatan tak sengaja bertemu Raka dan mengobrol.
"Ra.....mana ponselnya? Raka nampak mengulurkam tangannya untuk meminta ponsel Lifi.
Dengan ragu-ragu Lifi memberikan ponselnya pada Raka. kemudian Raka mengetikkan nomernya pada ponsel Lifi untuk melakukan panggilan.
"Udah dapat, Thanks ya" ucap Raka tulus. Sedang Lifi hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Kakak balik dulu ya, mau ketemuan sama dosen. Nanti kaka telfon kamu" Lagi-lagi Lifi menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepala.
Sedari tadi teman-teman Lifi bukannya mengamati Raka, malah mereka sibuk mengamati Wajah Byan yang sudah nampak merah padam menahan emosi.
Mereka saling sikut dan saling bertanya dengan isyarat saling menatap sambil mengangkat alisnya.
Lifi sendiri sekarang sudah nampak gugup bercampur takut.
Namun untuk mengalihkan itu, Lifi sengaja membuka suara
"Mas.....mau makan apa, biar aku yang pesenin" ucap Lifi sedikit ragu-ragu
"Gak usah, aku masih kenyang" jawab Byan tanpa menoleh pada istrinya
Melihat ekpresi Byan yang seperti itu membuat teman-teman Lifi terutama Alan, faham jika saat ini Byan sedang dalam mode cemburu pada laki-laki yang bernama Raka tadi.
"Gue ke kelas dulu" Byan mengatakan itu sambil beranjak tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya
Melihat Byan sudah nampak berlalu, Lifipun berinisiatif mengejarnya. Namun tiba-tiba Alan mencegahnya.
"Udah mending Lho disini aja, biar gue yang urus tuh anak"
Alanpun kemudian pergi untuk menyusul Byan.
__ADS_1
"Lif....siapa yang tadi, kok manggil lho nya beda sendiri, apa dia mantan Lho?
Chaca yang punya kebiasaan kepo, sejak tadi batinnya sudah meronta-ronta untuk bertanya hal itu
Makanya begitu suasananya lumayan kondusif ia langsung nyerocos bertanya ini itu
"Dia Kak Raka" jawab Lifi singkat
"Yaelah....kalau itu mah gue tau, gue belum tuli kali. Maksud gue dia itu siapanya lho? Ucap Chaca sedikit kesal.
Pasalnya Airin menanggapi pertanyaannya kurang begitu serius
"Dulu dia tetangga depan rumah gue. Tapi sekarang dia sudah pindah rumah" jawab Lifi kemudian
"Terus kenapa dia manggil lho dengan panggilan Ra?" tanya Chaca lagi
"La apa salahnya, itu kan nama gue" jawab Lifi enteng
"maksud gue kenapa beda gitu Lif, sumpah lo ngeselin banget deh. Dari tadi gak faham-faham sama maksud pertanyaan gue" Chaca nampak sedikit kesal.
"Makanya kalau nanya yang jelas" Bantah Lifi karena tak terima dengan apa yang dikatakan Chaca barusan.
"Udah-udah gak usah ribut. Kalian kayak anak TK aja deh" Putri yang sejak tadi merasa kesal dengan perdebatan keduanya langsung membuka suara.
"Lif....mending lo susulin laki lho, kayaknya suami bucin lho itu lagi ngambek deh" Airin nampak memberi masukan
"Gak cuman ngambek doang, lebih tepatnya lagi cemburu kayaknya itu anak" ucap Putri ikutan berbicara
"Entar ajalah, biar dia sama Alan dulu. Lagian kan gue gak ngapa-ngapain. Mengapa mesti ngambek sama gue" Diluar Lifi bisa bicara sesantai itu. Tapi dalam batin sungguh saat ini dia merasa khawatir kalau suaminya ini akan marah
"Ye...itukan menurut lho, tapi buktinya Byan tadi kelihatan kesel banget deh. Lho itu harusnya tau kalo laki lho itu punya riwayat penyakit bucin akut sama lho" Chaca nampak kembali menimpali
"Iya lif, saran gue mending lho harus segera jelasin sama Byan kalau dia bukan siapa-siapa lho" Airin juga nampak memberi masukan lagi.
"Oke, entar gue jelasin" Jawab Lifi dengan wajah sedikit kesal karena ngerasa kalau teman-temannya pada dipihak Byan. Padahal dirinya kan sama sekali tidak melakukan apa-apa.
sementara didalam kelas, Alan nampak duduk berhadapan dengan Byan.
"Bro....lo kenapa hem" Alan membuka obrolan
"Gue gak pa pa"
"Lho gak usah bohong. Gue tau lho lagi sebel sama Lifi dan pria tadi" ucal Alan kemudian
"Gue kesel, ngapain cobak Lifi ngasih nomer ponselnya ke itu orang. Kayak gak ngehargai gue sebagai suami"
"Mungkin dia punya alasan lain, lho harusnya bicara baik-baik, jangan langsung bersikap kayak tadi" Lagi Alan nampak memberi masukan
"Gue cuman takut Lifi berpaling dari gue. Secara meskipun kita udah nikah, tapi dia belum cinta sama gue. Jadi wajar dong kalau gue bersikap kayak tadi"
"Gue yakin Lifi gak kayak gitu. Dia itu cuman butuh waktu aja bro. Makanya lho harus pinter-pinter ngambil hatinya, jangan kayak tadi"
__ADS_1
"Oke entar gue coba ngomong baik-baik sama tu anak"
Setelah mengatakan itu keduanya diam karena dari arah pintu nampak Lifi dan kawan-kawannya sudah kembali dari kantin