Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Marah


__ADS_3

Lifi kembali ke kelas saat jam perkuliahan hampir selesai.


Lifipun meminta maaf kepada dosennya karena sedikit lama berada di toilet. Hal itu tidak lain karena memang tadi perut Lifi masih terasa sedikit sakit saat dia keluar dari toilet


Beruntung dosen yang mengampu mata kuliah tersebut tergolong dosen yang sabar, sehingga bisa menerima alasan Lifi tanpa harus marah-marah.


Dosen sudah nampak meninggalkan kelas beberapa menit yang lalu. Namun entah kenapa Byan masih belum menghampiri Lifi untuk mengajaknya pulang.


Lifi sedikit merasa aneh, karena tidak biasanya Byan bersikap seperti itu.


Akhirnya Lifipun berinisiatif untuk menghampiri suaminya yang ternyata masih tetap setia duduk ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Wajah Byan juga nampak begitu masam.


Lifi menatap kepada Alan yang kebetulan duduk disebalah Byan dengan mengangkat kedua alisnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan suaminya.


Namun sayang, ia tidak menemukan jawabannya karena Alan hanya menjawab dengan mengedikkan kedua bahunya sebagai pertanda kalau dia juga tidak tau apa yang sedang terjadi pada Byan.


Alan sendiri sempat heran, pasalnya Byan tadi izin keluar untuk memastikan kondisi Lifi, tapi tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi sendirian dengan raut wajah yang seperti sedang menahan emosi.


"Mas....kita gak pulang" Ucap Lifi sembari berdiri tepat disamping suaminya.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya Byan langsung beranjak dari tempatnya.


Keempat temannya dibuat heran dengan sikap Byan kali ini. Karena tidak biasanya seorang Byan bersikap cuek terhadap Lifi yang notabenenya adalah orang yang paling Byan prioritaskan dalam segala hal.


Lifipun terpaksa mengikuti kamana suaminya ini melangkah, ternyata Byan langsung menuju parkiran kampus dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa bertanya, Lifipun ikut masuk ke dalam mobil. Hingga beberapa saat kemudian Byanpun mulai memacu kendaraannya.


Didalam mobil Byan tidak bicara sepatah katapun. Tentu saja ini membuat Lifi bingung sendiri, pasalnya tadi saat dikantin suaminya ini masih terlihat seperti biasanya.


Hingga mobil yang mereka kendarai tiba di halaman rumah, Byan masih nampak diam saja. Dia langsung keluar dari mobil dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Lifi terlebih dahulu.


" Itu orang kenapa sih, kok jadi berubah serem kayak gitu" ucap Lifi begitu Byan sudah tak terlihat lagi.


Lifipun kemudian masuk ke dalam, dan saat sampai diruang tengah dirinya berpapasan dengan mama mertuanya.


"Sayang....kamu sudah pulang"


"Ia mah" jawab Lifi singkat.


"Lho suami kamu kemana" Bu Kinan bertanya karena ia mendapati Lifi hanya seorang diri


"Dia tadi masuk duluan mah, yasudah kalau begitu Lifi permisi ke kamar dulu ya"


Sesuai dengan apa yang dikatakannya barusan, Lifi benar-benar langsung beranjak menuju kamarnya.


Sesampainya disana dia tidak menemukan sosok suaminya itu. Namun sayup-sayup terdengar bunyi gemercik air dari dalam kamar mandi. Itu menandakan jika orang yang dimaksud Lifi sedang berada didalam kamar mandi.

__ADS_1


Lifipun kemudian memilih untuk duduk di tepi ranjang. Hingga beberapa saat kemudian nampak Byan sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berganti pakaian.


"Kamu habis mandi mas?"


Namun lagi-lagi Byan sama sekali tak menjawab pertanyaan Lifi. Dan lagi-lagi Byan langsung bergegas meninggalkan Lifi begitu saja.


Sungguh Lifi merasa sangat diabaikan. Hingga tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.


"Bunda Lifi ingin pulang" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.


Sebenarnya sedari tadi Lifi sekuat mungkin untuk tidak menangis. Namun karena sikap Byan yang semakin acuh kepadanya tanpa Lifi tau apa kesalahannya, membuat dia tidak mampu lagi menahan rasa sesak itu.


Hingga malam tiba, Byan belum menampakkan batang hidungnya lagi. Lifipun memilih untuk tidak keluar kamar. Sungguh saat ini ingin rasanya dia pulang saja kerumahnya.


Namun niat itu ia urungkan. Ia teringat pesan ayahnya jika seorang istri pantang keluar rumah jika tidak mendapat izin suaminya.


Meskipun sampai detik ini Lifi belum sepenuhnya mencintai suaminya, namun dia tidak ingin melanggar setiap apa yang sudah dinasehatkan oleh ayahnya.


Tepat pukul sepuluh malam, Byan kembali ke rumahnya. Bersaman itu juga bu Kinan sedang ke dapur hendak mengambil sesuatu.


Begitu melihat putranya baru pulang membuat bu Kinan bergegas untuk menghampirinya.


"Byan.....dari mana kamu, Lifi mana? kenapa kamu sendirian saja? Bukankah kalian habis pergi bersama?"


Bu Kinan nampak mencecari Byan dengan banyak pertanyaan. Karena sedari tadi bu Kinan mengira jika Lifi pergi bersama putranya. Hingga saat jam makan malam ia sengaja tidak memanggil menantunya itu.


"Astaga Byan, mama pikir kamu pergi sama Lifi. Makanya mama gak manggil dia pas makan malam. Kasian mantu mama dari pulang kuliah belum makan"


Setelah mengatakan itu bu Kinan langsung bergegas kekamar anaknya untuk melihat langsung kondisi menantunya dan disusul Byan juga dibelakangnya.


"Lifi sayang....."


Bu Kinan langsung masuk saat mengetahui pintu kamar itu tidak dikunci.


suasananya nampak temaram karena hanya nampak lampu tidur saja yang menyala.


Baik bu Kinan maupun Byan keduanya nampak sama-sama sedang mencari sosok Lifi di ruangan tersebut.


Byanpun kemudian menyalakan lampu utama kamarnya agar lebih terang. Dan setelah itu


"Astaghfirulloh.....sayang, kamu kenapa"


terdengar suara bu Kinan menjerit histeris


Bagaimana tidak, saat lampu kamar sudah menyala, bu Kinan langsung dihadapkan dengan pemandangan Lifi sedang duduk meringkuk dibawah dilantai samping ranjang dengan kaki ia lipat dan kepala menunduk pada lututnya.


"sayang....."

__ADS_1


Dengan gerakan spontan Byan langsung menggendong Lifi dan merebahkannya diatas ranjang.


"Bunda....bawa Lifi pulang"


Hanya itu kalimat yang berkali-kali Lifi ucapkan.


"Astaga tubuhnya demam, mama ambil kain buat ngompres dulu" ucap bu Kinan sambil beranjak keluar dengan secepat mungkin.


"Sayang....ayo bangun. Jangan kayak gini. Maafin mas ya"


Byan terus saja mengguncang tubuh Lifi, menciumi seluruh area wajah dan tangannya.


Tak lama kemudian bu Kinan datang dengan membawa bascom berisi air dan kain untuk mengompres Lifi.


"Sini biar aku aja mah"


Byanpun mengambil alih mangkok berisi air yang dipegang mamanya.


"Yasudah mama buatkan teh hangat dulu untuk Lifi"


Kini terlihat Byan mulai mengompres dengan sangat hati-hati dan Setelah beberapa menit kemudian, Lifi sudah nampak membuka kedua buah matanya.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga"


Byanpun hendak mencium kening Lifi, namun secepat kilat Lifi langsung menghindarinya dengan cara membelakangi Byan.


"Sayang maafin mas ya, tolong jangan seperti ini"


Byan terus mencoba untuk membujuk Lifi agar mau menghadap ke arahnya.


"Antarkan saya pulang" Lifi tiba-tiba mengatakan itu dengan posisi dirinya yang masih membelakangi suaminya.


" Mas minta maaf ya, mas udah berbuat salah sama kamu"


Belum sempat Lifi menjawab permohonan maaf suaminya, bu Kinan sudah datang dengan membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauknya, juga segelas teh hangat.


"Sayang....kamu sudah sadar. Syukurlah kalau begitu. Mama tadi sampai panik lihat kamu kayak gitu"


Bu kinanpun mengambil posisi duduk disebelah Lifi. Dia kemudian mengelus sayang kepala menantunya.


"Lifi gak pa pa kok mah. Maaf udah bikin mama panik" ucap Lifi lirih


"Kok ngomongnya gitu sih, kamu kan putri mama. Kamu sekarang makan dulu ya, baru nanti istirahat. Sekarang mama keluar dulu"


Setelah itu Bu Kinan keluar kamar dan tak lupa sebelum itu, dia memerintahkan pada Byan untuk menyuapi istrinya makan.


Bu Kinan sengaja keluar, karena ingin memberi kesempatan keduanya untuk saling bicara.

__ADS_1


Dia yakin jika antara anak dan menantunya ini sedang terjadi masalah.


__ADS_2