
"Lif....Malam ini Rayyan boleh gak tidur sama bunda" Bu Maira meminta persetujuan putrinya.
Dalam hati Byan bersorak gembira kala mendengar mertuanya berniat meminta pada Lifi agar Rayyan bisa tidur bersamanya. Bagi Byan ini kesempatan emas. Karena dengan ini dia bisa menghabiskan malam panjang dengan istrinya.
"Tapi mah, nanti gimana kalau Rayyan haus"
"Kan bisa sufor Yang" dengan cepat Byan menjawab kekhawatiran Lifi dengan memberi ide tersebut. Hingga membuat Lifi seketika langsung menatap tajam ke arah suaminya karena mengerti maksud suaminya memberi ide tersebut.
"Benar kata nak Byan Lif, anggap aja Rayyan lagi ditinggal kuliah sama kamu" Bu Maira nampak mendukung ide dari menantunya itu. Tak tau saja jika dibalik ide yang diusulkan Byan ada maksud tersembunyi didalamnya.
"Apa aku tidur sama bunda aja ya malam ini. Jadi enak kan kalau Rayyan bangun aku bisa langsung ngasih susu ke dianya" Lifi sengaja mengatakan hal itu karena ingin melihat bagaimana reaksi suaminya. Selain itu jika sampai bundanya mengizinkan dia tidur dikamarnya, setidaknya malam ini dirinya bisa sedikit terbebas dari suami mesumnya ini.
"Mana ada Yang aku tidur sendiri. Kamu tau sendiri kan aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu" Benar saja, suaminya ini langsung protes begitu mendengar ucapannya. Bahkan Byan sampai lupa jika disebelahnya ada mertuanya. Bagi Byan tidur tanpa Lifi adalah hal paling buruk dan tidak boleh dibiarkan.
Bu Maira sendiri seperti sedang menahan senyum saat melihat ekspresi menantunya yang dengan terang-terangan menolak untuk tidur sendirian.
"Yasudah kalian istirahat saja, nanti Rayyan biar tidur sama kita saja. Lagian ayah juga kepengen tidur sama cucu ayah ini" Pak Ilham yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka bertiga langsung ikutan membuka suara.
Lifi dan Byanpun kemudian beranjak menuju kamarnya dengan tetap membiarkan putranya berada dikamar orangtuanya.
"Yang....ternyata ayah sama bunda pengertian banget sama mantunya. Tau aja kalau mantunya habis libur panjang" Ucap Byan saat dirinya tengah berada didalam kamar.
"Maksudnya" Lifi tampaknya belum mengerti maksud dari ucapan suaminya.
"Ya elah, ini bini kenapa belum ngerti juga" Byan mengatakan itu dengan suara yang sengaja dikecilkan agar tidak terdengar oleh istrinya.
"Yang beneran nih gak ngerti, jangan-jangan sengaja cuman pengen ngerjain mas nih" Byan sedikit tidak percaya.
"Terserah deh. Mending aku mompa asi dulu, habis ini aku anterin ke bunda" Lifipun hendak beranjak mengambil alat pompa asinya. Namun baru selangkah Byan sudah menarik pergelangan tangannya.
"Mas kenapa akunya ditarik-tarik sih" Lifi yang sedikit heran mengapa tiba-tiba suaminya menarik tangannya.
"Biar mas aja yang bantu ya. Malam ini suami ganteng kamu juga lagi butuh asi buat penambah imun" Byan terlihat sengaja memasang wajah memelas. Seolah-olah dirinya sangat mengiba pada istrinya.
__ADS_1
"Idih...kayak bayi aja minta asi. Denger mas ya, mas itu udah jadi orang tua. Ngalah dikit dong sama anak". Lifi sedikit kesal dengan tingkah suaminya ini.
"Tapi mas kan juga butuh disayang-sayang sama kamu. Masak kamu gak kasihan sih, hampir dua bulan lo Yang mas puasa buat nahan diri" Lagi-lagi Byan memasang wajah penuh iba.
"Suruh siapa bikin aku ham....." Tidak ingin mendengar Lifi beralasan lagi, Byan langsung saja membungkam mulut istrinya dengan menciumnya. Dan malam itu lagi-lagi Lifi tidak bisa menolak keinginan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Engggghhhhhh....." Terdengar suara lenguhan dari Lifi saat dirinya bangun dari tidur. Diapun terlihat meraba-raba disebelahnya. Mencari sosok suaminya yang semalam sudah membuatnya terkulai lemas.
"Selamat pagi sayang......" Terdengar suara dari sosok yang dia cari.
"Mas....kok aku gak dibangunin sih. Jangan bilang kamu gak tega buat bangunin aku gara-gara udah dibikin kecapek'an sama kamu" Baru bangun tidur istrinya ini sudah mulai kesal pada dirinya.
"Baru bangun kok udah ngambek aja sih, ini masih pagi banget. Makanya mas sengaja gak ngebangunin kamu. Kalau gak percaya itu kamu bisa lihat jam disebelah kamu"
Lifipun kemudian menoleh pada jam kecil yang ada diatas nakas tepatnya disebelah ranjangnya.
Dan benar apa yang diucapkan suaminya. Ini masih jam empat kurang lima belas menit. Itu artinya ini masih sangat pagi sekali.
Sementara Lifi berada dikamar mandi, Byan memilih untuk merapikan tempat tidurnya yang terlihat seperti kapal pecah, akibat ulahnya sendiri.
"Sholat subuh bareng yuk" Byan mengatakan itu manakala dirinya melihat istrinya sudah nampak keluar dari kamar mandi.
Merekapun akhirnya sholat subuh bersama. Dan setelahnya Lifi langsung keluar kamar untuk melihat putranya.
"Bunda....Rayyan dimana" tanya Lifi yang saat dirinya hendak menuju kamar bundanya malah berpapasan diruang tengah.
"Masih anteng tidur sama kakeknya." Jawab bu Maira sambil menunjukkan tangannya kearah kamar dimana Rayyan tidur bersama kakeknya.
"Ya udah Lifi mau bantuin bunda masak aja kalau gitu".
Keduanyapun kemudian terlihat sedang berkutat didapur. Tak lupa juga Lifi menyiapkan dua cangkir teh untuk suami dan juga ayahnya.
__ADS_1
"Kayak suara Rayyan itu Lif" Samar-samar bu Maira mendengar suara cucunya menangis.
Dan benar saja, pak Ilham terlihat menggendong cucunya yang sedang menangis.
"Uluh-uluh....cucu nenek haus ya" Bu Kinan mengambil Rayyan dari gendongan suaminya dan memberikannya pada Lifi.
"Kamu kasih asi dulu, biar bunda yang lanjutin masaknya" Ucap bu Maira saat memberikan Rayyan pada Lifi.
Baby Rayyanpun seketika langsung diam begitu dirinya bertemu dengan sumber kehidupannya.
"Sayang....Rayyan kenapa, kayaknya barusan nangis" Byan tiba-tiba sudah berdiri tepat disebelah Lifi. Dirinya tadi buru-buru keluar dari kamar begitu mendengar suara putranya yang sedang menangis.
"Bangun tidur dianya nangis minta minum"
"Anak papa lahap banget nyusunya, sampek keringetan gitu" Byan terlihat mengusap dengan lembut butiran keringat yang ada di kening putranya.
"Kacian banget semalam gak ketemu sama sumber asinya. Maaf ya sayang, kemarin malam papa pinjem bentar. Sekarang full deh buat adek" Lanjut Byan berbicara pada Baby Rayyan yang terlihat terus memandangi wajah papanya.
Mendengar apa yang di ucapkan Byan pada putranya membuat Lifi langsung menghadiahi suaminya itu dengan cubitan dipinggang suaminya.
"Aduh.....kok dicubit sih Yang" Byan yang terkejut karena tiba-tiba mendapat hadiah cubitan dari istrinya.
"Habis mas nyebelin sih. Anak masih bayi udah diajak ngomong kayak begituan. Heran deh" Lifipun menampakkan raut kekesalannya pada Byan.
"Emang ada yang salah sama omongan mas hem"
Belum sempat Lifi menimpali omongan suaminya barusan, dari arah dapur terlihat bu Maira berjalan menghampirinya. Hingga membuat Lifi diam seketika.
"Nak Byan ayo tehnya diminum mumpung masih hangat. Itu sekalian bunda bikinin pisang goreng" Dengan tersenyum ramah bu Maira mempersilahkan pada menantunya.
Sementara, Lifi terlihat menatap jengah saat suaminya mengerlingkan sebelah matanya pada dirinya.
Byan saat ini merasa menang dan selamat dari omelan istrinya. Karena belum sempat dia akan memberikan ceramah panjang lebar, bundanya sudah terlebih dulu muncul dan berada diantara mereka.
__ADS_1
Beliau terlihat mondar-mandir membawa piring berisi menu untuk sarapan nanti.