Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Kesiangan


__ADS_3

Menjelang magrib Byan nampak duduk santai bersama ayah mertuanya. Sedang Lifi sibuk membantu bu Maira di dapur.


Mereka terlihat memasak menu yang lumayan banyak. Itu karena rencananya Faris dan juga istrinya akan pulang.


"Oh iya Lif, kalau boleh bunda tau apa makanan kesukaan suami kamu, biar sekalian bunda masakin" tanya bu Maira pada Lifi sambil dirinya memotong sayur.


"Kata pembantu dirumah mama, mas Byan sukanya soto ayam bun" Jawab Lifi jujur, karena memang sejauh ini Lifi belum pernah bertanya pada Byan langsung perihal makanan kesukaannya. Ia hanya mengetahui itu dari Bik Darsih.


"Kok kata pembantu sih, emang selama ini kamu ngapain aja dirumah mertua kamu"


"Kayak biasanya dirumah bun, bantu mama sama bik Darsih masak. Ya meskipun kadang mama gak ngebolehin Lifi didapur. Alasannya takut Lifi kecapek'an. Mama juga bilang, kalau Lifi hanya perlu fokus aja sama kuliah" Lifi jadi bercerita pada bundanya.


"Bunda seneng mendengarnya, karena bu Kinan memperlakukan kamu dengan sangat baik. Bunda harap kamu juga harus bersikap sopan sama mertua kamu." Bu Maira terlihat sedang memberi nasehat pada putrinya.


"Iya bun, pasti itu. Sebisa mungkin Lifi bakal usahain buat selalu ngehormatin mertua Lifi"


Malam itu Faris benar-benar datang bersama istri dan juga anaknya Abidzar. Merekapun kemudian makan malam bersama.


Setelah makan malam selesai, Lifi nampak menghampiri Byan yang sedang duduk bersama Faris. Disana juga ada istrinya, Nadira.


"Mas, kita malam ini nginep apa gimana?" tanya Lifi pada Byan. Pasalnya ia tadi pergi kerumahnya lantaran ngambek sama suaminya.Dan Lifi sekarang bingung, karena dirinya belum meminta izan pada mama mertuanya.


"Malam ini kita nginep saja, karena mas tadi sudah mengabari mama kalau kamu langsung berangkat" Jelas Byan pada Lifi.


"Makasih mas" ucap Lifi kemudian.


Samar-samar Faris mendengar Lifi memanggil suaminya dengan sebutan mas. Ditambah lagi adiknya ini sepertinya sudah mulai mau menerima pernikahannya.


Melihat itu tentu membuat Faris lega. Setidaknya pernikahan adiknya saat ini dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah mengatakan itu pada suaminya, Lifipun kemudian bertanya pada Nadira


"Kak....Abidzar udah tidur gak, apa masih digendong bunda?


"Kayaknya udah tidur dek"


"Mau di apain dek, gak usah digangguin besok aja kalau mau diajak main" Terdengar Faris ikutan menimpali omongan mereka berdua.


"Kak Faris pelit banget deh, lagian siapa juga yang mau gangguin. Aku cuman pengen cubit-cubit dikit pipinya yang gemmol itu" Lifi mengatakan dengan ekspresi tangannya seperti sedang mencubit sesuatu.


"Kenapa gak bikin sendiri aja dek, jadi kan Abidzar ada temennya kalau pas pulang" kali ini Faris berniat menggoda adiknya.


Mendengar ucapan kakaknya barusan, membuat Lifi seketika langsung memanyunkan bibirnya.


"Bener dek, saran kakak kamu kalau bisa gak usah nunda buat punya anak. Kalau masalah kuliah bisa diatur. Lagian banyak kan yang kuliah tapi udah punya debay" Kali ini Nadira ikut menimpali.


Lifipun nampak diam saja tanpa bergeming sedikitpun.


Byan yang melihatnya merasa tak enak sendiri pada kakak iparnya.


"Nanti kita coba bicarakan lagi berdua soal saran dari kakak" Akhirnya Byan yang menanggapi saran dari kakak iparnya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Kalian istirahat saja sekarang, pengantin baru biasanya kan suka buru-buru masuk kamar" lagi Faris berniat menggoda adiknya.


"Kakak apaan sih" Kesal Lifi pada kakaknya


"Lho, kan emang bener. Coba kamu tanya kakakmu. Dulu waktu kita awal-awal nikah, bawaannya pengen dikamar terus" Faris malah menyuruh Lifi untuk bertanya pada Nadira

__ADS_1


"Itu kan kakak, bukan Lifi" Lifi nampak kurang sependapat dengan apa yang diucapkan Byan.


"Beneran nih kamu enggak, awas aja besok pagi bangun kesiangan" Byan nampak masih belum mau berhenti menggoda adiknya.


"Kapan cobak Lifi pernah kesiangan"


"Ya kali aja habis ini suami kamu ngajak lembur" Byan mengatakan itu sambil melirik ke arah Byan yang dari tadi terlihat hanya diam saja.


Byan sendiri memilih pura-pura cuek dengan obrolan mereka berdua. Namun dalam hati dia bersorak gembira. Karena kakak iparnya ini ternyata satu server dengan dirinya. dia merasa mendapat lampu hijau untuk menggempur adik kesayangannya malam ini.


Setelahnya, baik pasangan Faris maupun Lifi, semuanya nampak beranjak ke kamar mereka. Sementara bu Kinan dan pak Ilham, sepertinya mereka sudah beristirahat lebih dulu bersama Abidzar.


Sesampai dikamar, Byan langsung bergegas kekamar mandi untuk bersih-bersih diri.


Setelahnya dari kamar mandi, dia masih mendapati istrinya yang terlihat sedang sibuk merapikan lemarinya.


Sengaja Lifi melakukan itu hanya supaya dirinya terlihat sibuk dimata Byan. Dia masih ingat betul dengan syarat dari Byan yang sudah disetujuinya tadi sore.


Khawatir suaminya ini akan menagih, makanya ia sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian suaminya.


"Kamu gak mau bersih-bersih dulu" Byan mengatakan itu karena melihat Lifi yang sepertinya masih enggan beranjak dari aktivitasnya.


"Nanti aja mas, kalau mas ngantuk mas istirahat aja dulu" Lifi berusaha menjawab pertanyaan dengan setenang mungkin.


Padahal dalam hati saat ini Lifi merasa sudah sangat ketar-ketir.


"Mas mana bisa tidur kalau gak sama kamu" Byan mengatakan itu sembari menghampiri Lifi dan kemudian langsung memeluknya dari belakang.


"Mas bisa tolong dilepasin dulu, ini masih belum kelar soalnya" Lifi berucap dengan sehalus mungkin


"Sayang....ini masih bisa dikerjakan besok. Sekarang mas mau nagih apa yang sudah kamu ucapkan tadi"


"Ucapan yang mana ya mas" Sengaja Lifi berpura-pura lupa


"Mas aku bersih-bersih dulu ya" Lifi kali ini mencoba menghindar dari suaminya. Namun sayang, keinginannya untuk bersih-bersih tidak mendapat izin dari suaminya.


"Gak usah, nanti juga kamu bakalan berkeringat lagi" Byan mengatakan itu sambil membopong tubuh istrinya dan kemudian meletakkannya diatas ranjang.


"Mas, bentar doang kok. Lagian aku masih bau dapur ini. Soalnya tadi habis makan langsung nyuci piring" Lifi terlihat memohon sambil berusaha mencari alasan.


"Mana ada istri mas ini bau dapur, orang wangi kayak gini" Byan nampak mengendus-endus tubuh istrinya


"Mas, bukannya kesepakatannya mulai besok" Lifi lagi-lagi mencoba mencari alasan agar bisa terbebas dari suaminya


"Siapa yang bilang gitu. Perasaan tadi gak ada deh mas bilang gitu"


"Tapi kan tadi pagi udah mas" ucap Lifi lirih


"Berarti tinggal sekali dong. Kan jatahnya dua kali sehari" Byan nampak tak mau kalah.


Akhirnya yang terjadi merekapun kembali melakukan ritual suami istri itu setelah Byan sama sekali tidak memberi kesempatan Lifi untuk menundanya lagi.


Bahkan setelah sholat subuh Byan meminta untuk mengulanginya lagi. Al hasil mereka berduapun akhirnya ketiduran karena sama-sama merasa capek.


Mereka terbangun kala sinar mentari mulai menembus kaca jendela kamar Lifi. Bahkan keduanya kompak membuka mata karena merasa silau akibat pantulan sinar matahari yang mulai meninggi.


"Mas...ini jam berapa ya" ucap Lifi masih setengah sadar


"Bentar, mas liat diponsel dulu" Byan yang sudah nampak duduk langsung meraih ponselnya yang berada di atas nakas.

__ADS_1


"Jam stengah tujuh yang" Byan mengatakannya setelah ia membuka ponselnya


"Beneran setengah tujuh mas" Lifi nampak terkejut


Byanpun menjawab pertanyaan Lifi dengan menunjukkan ponselnya tepat didepan wajah Lifi.


"Astaga....kita kesiangan ini bangunnya"


Lifi langsung menarik selimut yang dipakai mereka berdua untuk menutupi tubuh polosnya. Setelah itu dia langsung bergegas menuju kamar mandi dengan di susul Byan dibelakangnya.


Beruntung saat itu Lifi tidak mengunci pintu kamar mandinya sehingga Byan bisa langsung masuk tanpa perlu mengetuknya.


"Mas kamu mau ngapain masuk kamar mandi. Jangan aneh-aneh deh. Kita udah kesiangan ini bangunnya" Lifi nampak mengomeli suaminya karena dia berfikir suaminya itu akan berbuat sesuatu yang bisa berunjung membuatnnya makin kesiangan.


"Ya mandilah yang, emang menurut kamu mas mau apa"


"kenapa gak gantian saja sih" Lifi langsung menarik handuk hendak menutupi tubuhnya.


"Udah gak usah ditutupi. Lagian mas mandi bareng gini biar cepet selesai. Jadi kamu gak usah mikir yang macem-macem. Atau kalau kamu masih mau nambah mas siap-siap aja" Byan masih sempat-sempatnya menggoda istrinya


"Dasar mesum" umpat Lifi pada suaminya


"Kok mas yang mesum, bukannya kamu tadi yang berfikiran mesum lebih dulu" Byan semakin gencar menggoda istrinya.


Lifipun memilih tidak menanggapi suami tengilnya ini. Diapun mandi cepat, bahkan tidak sampai stengah jam sudah selesai, begitu juga dengan Byan


"Mas, ini gimana. Aku malu mau keluar" Lifi terlihat mondar-mandir didepan pintu kamarnya.


"Justru kalau kita gak segera keluar kamar akan semakin membuat kita malu"


"Tapi nanti pasti kak Faris ngeledekin aku" Lifi terlihat memanyunkan bibirnya.


"Ya biarin ajalah yang, emang nyatanya kita kesiangan"Ucap Byan enteng


"Biarin-biarin, ini tu gara-gara kamu mas, kebiasaan deh kalau udah main suka gak ingat waktu. Jadinya kan gini, malah kita kesiangan bangunnya"Kesal Lifi pada Byan


"Lho, kok mas ya disalahin" Byan nampak tidak terima


"Udah ah buruan kita keluar"


Mereka berduapun dengan sangat terpaksa akhirnya keluar kamar juga.


Saat itu mereka mendapati anggota keluarganya sedang berkumpul diruang makan.


"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Ayo langsung gabung sarapan. Baru saja bunda mau manggil kalian buat sarapan" ucap Bu Maira pada mereka


"Maaf bun, tadi habis sholat subuh kita ketiduran" Lifi mengucapkan itu sambil menundukkan wajahnya karena menahan malu.


"Cie....yang habis lembur semalaman bangunnya sampek kesiangan" Benar saja, Faris langsung saja meledek dirinya


"Siapa yang lembur, orang kita cuman ketiduran. Iya kan mas" Lifi nampak mencari dukungan dari suaminya.


Byan sendiri hanya menanggapinya dengan menggaruk tengkuknya karena bingung mau menjawab apa.


"Udah gak usah dijelasin kakak sudah faham kok, ayo langsung sarapan saja. Biasanya kalau habis lembur bawaannya laper" Faris masih saja terus menggoda adiknya. Hingga istrinya yang ikutan kesal dengan sengaja langsung mencubit pinggangnya.


"Kok papa dicubit sih ma" Faris terlihat kaget karena tiba-tiba istrinya ini mencubitnya dengan lumayan keras.


"Ya habisnya adik sendiri diledekin mulu. Heran deh kayak dirinya gak pernah gitu aja" kesal Nadira pada suaminya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, karena semua sudah berkumpul mending kita mulai saja sarapannya. Gak baik bicara terus didepan makanan" Pak Ilham nampak membuka suara.


Dan merekapun akhirnya sarapan dengan tanpa bersuara lagi. Yang terdengar saat ini hanyalah dentingan suara dari sendok dan garpu yang menyentuh piring makan mereka.


__ADS_2