Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Garcep Banget


__ADS_3

Pagi-pagi Byan sudah terlihat sedang duduk bersama ayah mertuanya diruang tamu dengan ditemani secangkir teh dan cemilan.


Sementara Lifi, semenjak dirinya hamil setiap pagi dirinya selalu menghabiskan waktu didalam kamar dengan rebahan.


Biasanya pagi-pagi seperti ini, Lifi sudah akan terlihat sibuk didapur. Karena pada dasarnya Lifi memang tergolong anak yang rajin.


Namun mungkin karena efek hormon kehamilannya ini, membuat Lifi sedikit malas. Di tambah lagi dirinya selalu mual saat mencium aroma bumbu dapur.


"Lho nak Byan kenapa malah disini sama ayah, Lifi mana?" Bu Maira menanyakan putrinya Karena pagi ini dia hanya melihat Byan duduk berdua saja dengan suaminya.


"Dia kalau pagi gini lebih suka tidur-tiduran bun, mungkin bawaan hamil." Jawab Byan pada mertuanya.


"Apa Lifi tiap pagi sering mengalami mual"


"Jarang sih bun, cuman itu kalau pas didapur gak bisa nyium bau bumbu sedikit saja. Bawaannya langsung mual bahkan sampek muntah-muntah segala" Byan menjelaskan kondisi istrinya pada ibu mertuanya.


"Pantesan itu anak gak kedapur. Biasanya meskipun mau dilarang bagaimanapun kalau sudah urusan dapur dia susah nurutnya. Dia itu sejak SMP emang seneng banget bantuin bunda masak"


Setelah mengatakan itu bu Maira kembali kedapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.


Pagi ini juga rencananya Faris dan istrinya juga akan pulang. Jadi otomatis bu Maira hari ini memasak lebih banyak menu makanan untuk anak-anaknya.


Dan benar saja, tepat pukul tujuh, Faris sudah tiba dirumah. Dia datang bersama istri dan anak semata wayangnya.


"Gimana kabarnya dek" Sapa Faris pada adik iparnya.


"Baik kak"


"Lifi mana, kok gak kelihatan" Faris menanyakan adiknya. Pasalnya sejak masuk rumah, dia belum melihat sosok Lifi sama sekali.


Padahal biasanya gadis ini akan terlihat sangat antusias menyambut kedatanyannya. Apalagi jika datangnya bersama sikecil Abidzar.


"Lagi dikamar kak, biar saya panggil dulu"


Setelah itu Byan langsung menuju kamar untuk memanggil istrinya.


Begitu sampai kamar, Byan mendapati istrinya masih terlelap. Diapun merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Akhirnya Byan memilih duduk didekat istrinya sambil membelai sayang rambutnya.

__ADS_1


Dan ternyata apa yang dilakukan oleh Byan ini justru membuat Lifi mengerjapkan matanya.


"Sayang, maaf mas gak bermaksud bangunin kamu" Byan merasa tidak enak karena apa yang dilakukannya barusan justru membuat istrinya terbangun.


"Gak pa pa mas. Lagian ini juga udah siang"


Lifipun kemudian memposisikan tubuhnya bersandar pada headboard ranjangnya.


"Kamu ditanyain kak Faris. Ayo cuci muka dulu, baru setelah itu kamu temui kak Faris"


"Iya mas, bentar aku masih agak sedikit pusing" Lifi berbicara sambil memegangi kepalanya.


"Apa perlu mas antar saja ke kamar mandinya. Mas khawatir nanti kamu pusing pas didalam" Byan terlihat khawatir.


"Gak perlu. Aku cuman pusing karena efek baru bangun tidur aja kok"


Diapun kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Sementara Byan dengan setia menunggu dirinya sampai benar-benar keluar.


Byan merasa khawatir jika dia keluar lebih dulu. Takut-takut kalau terjadi apa-apa pada istrinya saat sedang berada dikamar mandi.


Tak lama kemudian akhirnya Lifi sudah selesai, merekapun berdua langsung keluar untuk bergabung bersama yang lain.


"Dek kamu lagi sakit, tumbenan jam segini kamu tidur" Faris bertanya saat Lifi terlihat baru saja datang dan menyalaminya.


Lifi sengaja mengatakan hal yang demikian karena jujur dirinya malu kalau harus mengatakan langsung pada kakaknya perihal dirinya yang tengah hamil.


"Kak Nadira sama Abidzar dimana" Lifi sengaja mengalihkan pembicaraan, khawatir kakaknya ini akan mengajukan pertanyaan yang semakin membuatnya bingung untuk mencari jawaban agar tidak mengatakan tentang kondisi dirinya saat ini.


"Lagi didapur bantuin bunda nyiapin sarapan, kalau Abidzar dia tidur dikamar"


Diapun kemudian memilih menuju dapur untuk bergabung bersama bunda dan kakak iparnya.


Namun baru saja dirinya menginjakkan kaki didapur, bau bawang goreng langsung menyengat dihidungnya hingga membuat Lifi seketika langsung mual dan terdengar seperti sedang muntah-muntah.


Melihat itu membuat bu Maira langsung mengahampiri putrinya dengan diikuti Nadira dibelakangnya.


"Sayang kamu ngapain ke dapur, pasti kamu nyium bau bawang makanya bisa sampek muntah-muntah kayak gini" Byan yang tadinya juga mendengar suara istrinya yang seperti sedang muntah-muntah, dengan cepat langsung berlari menghampirinya.


Byanpun kemudian membawa istrinya kekamar mandi yang ada didekat dapur dan langsung membantu memijati tengkuk istrinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa dek, kok bisa sampek kayak gini" Nadira bertanya karena melihat kondisi adik iparnya terlihat lemas setelah memuntahkan isi perutnya.


"Gelaja hamil muda, adikmu sering mual kalau habis nyium bau-bau tertentu" Bu Maira yang terlihat menjawab pertanyaan Nadira sambil memberikan segelas teh untuk diminum Lifi guna mengurangi rasa mualnya.


"Beneran dek, kakak gak lagi salah denger kan" Faris yang saat itu juga berada diantara mereka untuk melihat kondisi Lifi langsung dibuat kaget saat mendengar penuturan bundanya.


"Iya kak bener, Lifi memang lagi hamil" Byanpun ikut membenarkan apa yang diucapkan ibu mertuanya barusan.


Tawa Farispun seketika pecah begitu mendengar Byan membenarkan ucapan bundanya.


Lifi yang melihat kakaknya seperti sedang menertawakannya langsung memasang wajah cemberut. Bisa dipastikan sebentar lagi kakaknya ini akan meledeknya habis-habisan.


"Dek, ini gimana ceritanya bisa hamil" Byan berbicara sambil menahan tawanya.


Benar saja, sesuai dugaan Lifi kakaknya ini langsung meledeknya.


"Ya bisalah lah kak, orang ada suaminya" Lifi yang kesal langsung menjawab pertanyaan kakaknya asal.


"Cie....cie....ada yang udah ngakuin suaminya nih. Dulu aja pas mau dinikahin sampek nangis-nangis segala. Gak taunya garcep banget nih proses bikinin abidzar adik buat main bareng" Faris masih terus meledek adiknya.


"Kak Faris apaan sih nyebelin banget deh" Lifi nampak kesal sendiri dengan kakaknya.


Nadira yang melihat suaminya terus-terusan meledek Lifi, merasa geram sendiri. Hingga diapun reflek mencubit pinggang suaminya ini.


"Aduh Mah, kenapa dicubit sih. Mana sakit lagi" Faris terlihat mengusap-usap pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan istrinya.


Sungguh Nadira terpaksa melakukan itu karena merasa tak enak hati pada Byan.


"Makanya diem, adik lagi hamil bukannya bersyukur malah diledekin" Ucap Nadira dengan penuh kesal pada suaminya.


"Mas sih bersyukur sekali karena bentar lagi bakalan dapat ponakan. Cuman mas itu masih heran aja gimana ceritanya bisa hamil. Secara dulu sampek nangis-nangis, waktu mas nunjukin foto suaminya aja dia gak mau. Katanya pasti orangnya tua" Faris lagi-lagi mengulangi ucapannya tadi.


"Diem gak mas, mending balik kedepan sana. Temenin ayah ngobrol kek, atau apalah dari pada disini malah bikin Lifi kesel."


Nadirapun mendorong suaminya ini agar segera meninggalkan dapur.


"Udah ya dek, gak usah didengerin omongan kakak kamu yang barusan. Dia emang suka gitu, kayak demen banget kalau bikin kamu kesel" Ucap Nadira pada adik iparnya.


"Gak pa pa kok kak, lagian kan kak Faris cuman bermaksud bercanda doang kok" Tersengar Byanlah yang merespon perkataan Nadira.

__ADS_1


Sementara Lifi, dirinya saat ini merasa masih sesikit kesal bercampur malu.


Kesal karena Faris yang terus meledeknya dan malu karena kondisi dirinya saat ini berbanding terbalik dengan sikapnya dulu yang menolak keras untuk dinikahkan.


__ADS_2