Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Tindakan Preventif


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana ujian semester berlangsung. Pagi-pagi Lifi terlihat menyiapkan kebutuhan suaminya. Mulai dari baju yang akan dipakai Byan kekampus sampai keperluan lainnya.


Meski Lifi harus membagi waktu antara belajar dan mengurus sikecil. Namun hal itu tak pernah membuat seorang Lifi sampai harus mengabaikan suaminya. Karena sejauh ini sebisa mungkin Lifi selalu berusaha menjadi istri yang selalu ada untuk melayani setiap kebutuhan suaminya sekalipun suaminya ini tidak pernah memintanya.


Beruntung sekali mertuanya selalu membantunya dalam mengurus sikecil, ditambah lagi baby Rayyan tidak rewel sama sekali. Seolah-olah mengerti saja jika mamanya masih punya kesibukan kuliah.


"Sayang....kamu gak perlu nyiapain kebutuhan mas. Kamu sendiri sekarang kan juga mau ujian, belum lagi harus ngurusi Rayyan. Biar mas aja yang nyiapin ini" Byan mengatakan itu sambil mengambil alih pekerjaan yang sedang dilakukan istrinya.


"Gak pa pa mas, lagian aku juga gak sibuk-sibuk amat kok"


"Tapi mas gak mau kamu kecapek'an. Mas takutnya kamu sakit" Byanpun membelai sayang kepala istrinya.


"Kalau aku capek kan bisa istirahat mas. Jadi mas gak usah khawatir ya" Lifi sendiri kemudian menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya.


Byanpun mendekap erat tubuh istrinya. Sungguh dalam posisi seperti menurut Lifi ada kenyamanan tersendiri. Berasa tidak ada beban dan berasa damai sekali dirinya. Apalagi saat ini tangan Byan terus membelai sayang kepalanya sambil sesekali mendaratkan ciuman lembut dikeningnya.


" Sayang.....mas kalau kayak gini jadi males mau kekampus"


Mendengar ucapan Byan, Lifi langsung melepaskan diri dari dekapannya. Dia faham saat ini suaminya mulai beralih ke mode mesumnya.


"Sayang....kenapa dilepas sih. Mas kan masih pengen meluk kamu. Emang kamu gak suka mas peluk kayak barusan" Byan protes dengan ulah istrinya ini.


"Bukannya gak suka mas, aku cuman lagi jaga-jaga aja. Soalnya kalau udah kayak gini penyakit mesum mas mulai kambuh. Jadi aku sengaja lepas dari pelukan mas itu sebagai bentuk dari tindakan preventif aku" Lifi terlihat menjelaskan panjang lebar perihal dirinya yang tiba-tiba sengaja melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Huft.....masih 29 hari lagi" Byan nampak mendesah frustasi. Wajahnyapun seketika terlihat lesu


"Ya elah pakek dihitung segala. Lagian siapa suruh bikin aku hamil, kalau udah kayak gini semua resiko ditanggung penumpang" Lifi terlihat seperti sedang meledek suaminya.


"Kalau kamu gak hamil justru akan semakin membuat mas khawatir. Habisnya kamu kayak belum sepenuhnya nerima kehadiran mas, selain itu yang tak kalah gentingnya, si Raka kayak gak pernah ada bosennya deketin kamu mulu." Byan pun akhirnya menyampaikan unek-uneknya selama ini.

__ADS_1


Tak ingin mendengar suaminya semakin ceramah panjang lebar, Lifipun langsung mendekat kerahnya dan


Cup.......


Satu ciu-man berhasil Lifi daratkan dengan begitu lembutnya dan tepat mengena dibi-bir merah suaminya. Hingga membuat siempunya seketika langsung mematung ditempatnya


"Anggap aja itu nutrisi tambahan, biar nanti semangat ngerjakan ujiannya" Lifipun mengatakan itu sambil berbisik ditelinga suaminya hingga membuat Byan seketika langsung tersadar dari lamunannya.


"Kamu bilang mas harus puasa, tapi kamunya malah mancing-mancing terus hm" Seketika Byanpun kembali memeluk istrinya dengan begitu posesifnya.


"Aku gak ada ya mancing-mancing, aku itu cuman ngasih penyemangat. Udah ah sana berangkat entar bisa telat" Lifipun mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


"Kalau gak mau gimana hm" Byan sekali lagi meraih tubuh istrinya untuk dia dekap.


"Mas lep...." belum selesai Lifi berucap, Byan sudah lebih dulu membungkam mulut istrinya dengan ciu-mannya.


Namun sayang, moment itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja Rayyan menangis. Hingga dengan terpaksa Byan langsung menghentikan aksinya.


"Anak mama pinter ya. Tau aja kalo papanya lagi nakal, makanya langsung nangis." Lifi terlihat sedang berbicara dengan putranya meski yang diajak bicara sama sekali belum mengerti.


"Sekarang mamanya full deh buat adek, entar kalau masa tenggangnya udah lewat adek harus mau bagi waktu sama papa ya" Byan sengaja berbisik ditelinga putranya namun bisikannya itu masih bisa didengar oleh istrinya.


"Mas apaan sih, masak anaknya dibisikin kayak gitu" kesal Lifi pada suaminya.


"Emang mas bisikan apa coba" Byan menanyakan itu karena sengaja ingin menggoda istrinya.


"Tau ah sebel" ucap Lifi kesal. Bahkan Lifipun terlihat sedang memanyunkan bibirnya.


"Tuh kan gak bisa jawab. Ayo.....sekarang ketahuan kan sebenarnya yang pikirannya mesum itu siapa" Byan terlihat tertawa sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah istrinya.

__ADS_1


"Apaan sih, kok malah aku yang diledekin" Lifi masih terlihat kesal pada suaminya.


Namun hal itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba mertuanya terdengar sedang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk aja mah, pintunya gak dikunci kok" Lifi mempersilahkan mertuanya agar masuk kedalam kamarnya.


"Cucu mama lagi minum asi rupanya" Bu Kinan begitu masuk langsung menghampiri cucunya.


"Byan......kamu kenapa belum berangkat juga sih. Katanya hari ini ujian, awas telat lho kamu nyampek kampusnya" bu Kinan mengatakan itu begitu tatapannya tiba-tiba bertemu dengan Byan.


"Iya mah, ini juga mau berangkat kok"


Byanpun kemudian langsung menyalami mamanya dan tak lupa juga dia mendaratkan satu kecu-pan dipipi mamanya.


Setelah itu Byapun beralih pada istrinya. Byan juga terlihat memberikan satu ciu-man dipipi kanan istrinya, satu dipipi kiri, satu dikening dan terakhir satu ciu-man mendarat mulus di bi-bir isrinya.


Melihat aksi putranya, bu Kinan langsung manarik kerah kemeja yang dikenakan oleh putranya.


"Ini anak udah tau istrinya lagi ngasih anaknya asi, malah digangguin"


"Ini sih mama yang gangguin aku. Aku kan mau ujian, jadi butuh booster biar nanti semangat pas ngerjakan soalnya" Byan terdengar sedang membela diri.


sementara Lifi yang mendengar penuturan suaminya hanya bisa menatap kesal. Sungguh ingin sekali dia menimpuk suaminya jika saja tidak ada mertuanya disitu.


Setelah mengatakan itu, Byanpun kemudian benar-benar pergi menuju kampus. Sedang Lifi, dia masih terlihat menyu-sui putranya sambil ditemani mama mertuanya.


"Ayo udah dulu ya sayang, kasian mamanya mau ujian" ucap bu Kinan sambil mengambil alih Rayyan dari gendongan mamanya. Bu Kinanpun kemudian membawa cucunya keluar agar Lifi bisa segera menyiakan apa saja yang dibutuhkan untuk ujiannya.


Disaat seperti ini, lagi-lagi Lifi merasa sangat bersyukur karena sudah diberikan mertua yang begitu perhatian kepadanya. Sehingga dirinya masih bisa mengikuti ujian tanpa harus terkendala oleh kesibukan merawat putranya.

__ADS_1


Dulu Lifi sempat menduga jika semua mertua itu akan bersikap kurang baik dalam memperlakukan menantu perempuannya. Namun saat dirinya menikah dan tinggal bersama mertuanya, semua persepsi itu Lifi buang jauh-jauh. Karena nyatanya mertuanya ini selalu memperlakukannya dengan baik, seperti selayakanya memperlakukan putrinya sendiri.


__ADS_2