Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Makhluk Halus


__ADS_3

Siang itu Byan benar-benar pergi kekampus. Tujuannya tentu saja untuk meminta keringanan agar istrinya bisa mengikuti ujian secara online.


Sebenarnya tidak sulit bagi Byan untuk meminta pihak kampus agar memberikan dispensasi agar istrinya bisa ujian online, mengingat Byan masih kerabat dengan sipemilik kampus. Hanya saja Byan ingin melewati semuanya sesuai prosedur peraturan yang berlaku.


"Mas tinggal dulu sebentar gak pa pa kan" Lagi Byan terlihat meminta persetujuan istrinya.


"Yaelah pergi aja mas aku gak pa pa. Lagian aku udah bilang kan dirumah ada mama sama bunda juga" Lagi-lagi Lifipun meyakinkan suaminya agar tidak menghawatirkannya.


"Kalau begitu mas pergi dulu ya" Byanpun tidak lupa mengecup kening istrinya sebelum pergi.


Setelah keluar dari kamar, Byan sendiri tidak lantas langsung pergi begitu saja. Dia terlebih dulu menghampiri putra kesayantgannya yang saat ini sedang ditemani kedua neneknya.


"Byan, kamu mau kemana" Tanya bu Kinan yang melihat putranya masuk kamar dengan sudah menenteng tas ransel.


"Mau kekampus mah" Jawab Byan.


Diapun kemudian langsung mendekat menuju baby Rayyan.


"Anak papa baik-baik dirumah. Gak boleh rewel ya, kasian nenek sama mama" seperti hal yang tadi dilakukan pada Lifi, Byanpun mencium kening dan kedua pipi putranya. Baru setelah itu dirinya benar-benar pergi menuju kampus.


Tak lama setelah Byan pergi, Baby Rayyan pun menangis.


"Uluh....uluh....cucu nenek aus ya. Pengen minum cu-cu hm" terdengar suara bu Kinan seperti menirukan suara anak kecil


"Kayaknya haus ini bu, soalnya dari tadi tidur dan belum nyu-su sama sekali" Bu Maira menimpali ucapan besannya.


Baby Rayyanpun kemudian dibawa menuju mamanya. Karena tadi saat pertama datang sidedek langsung dibawa kekamar atas. Sementara mamanya ada di kamar tamu.


"Lif....ini Rayyannya mau minum ASI, soalnya bangun tidur dianya langsung nangis" Bu Maira langsung bersuara begitu membuka pintu kamar dimana Lifi berada.


Sedang Bu Kinan langsung menyerahkan bayinya pada Lifi agar segera di beri ASI.


"Jagoan mama aus ya, kacian sampek nangis" Lifi mengatakan itu sambil membelai sayang rambut putranya yang tidak begitu lebat itu.


Setelah memastikan cucunya menyu-su dengan benar, bu Kinanpun bergegas keluar.


"Bu, saya tinggal sebentar ya. Bu Maira disini saja temani Lifi" Bu Kinan mengatakan itu kemudian sambil beranjak keluar dari kamar. Tujuan utamanya satu, yaitu menuju dapur untuk melihat bik Darsih apakah sudah selesai merampungkan masakannya atau belum.


"Gimana Bik, apa semuanya sudah selesai" Tanya bu Kinan saat sudah berada didapur.


"Sudah nyonya, ini bibik tinggal menata dimeja makan saja. Soalnya tadi bibik dibantuin sama Lastri."


Lastri sendiri adalah istri dari Mang Asep. Dia biasanya bagian bersih-bersih rumah. Datangnya pagi dan akan pulang sebelum sore.


Mang Asep dan Bik Lastri tidak tinggal dirumah majikannya. Tetapi mereka tinggal di daerah yang tak jauh dari rumah pak Rahman. Dulu awalnya mereka mengontrak, namun setelah beberapa tahun pak Rahman memberikan mereka rumah sederhana untuk ditempati. Jadi mereka tidak perlu susah-susah untuk membayar biaya kontrakan.


Sementara di kamar, Lifi terlihat sedang mengobrol bersama bundanya.

__ADS_1


"Lif....bunda sama ayah habis ini pulang ya. Soalnya rumah kosong" Ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba bu Maira mengatakan bahwa dirinya hendak pulang.


"Bunda gak mau nginep sini" Lifi masih menanyakan hal yang sebelumnya sudah terlebih dulu bundanya jelaskan.


"Kapan-kapan saja ya. Pas kakakmu datang, bunda mungkin bisa menginap disini. Tapi bunda usahakan sering-sering kesini buat nengokin Rayyan." Bu Maira nampaknya sedang bernegoisasi dengan putrinya.


Sebenarnya bu Maira ingin sekali menginap karena ingin menjaga putrinya yang baru saja melahirkan. Bu Maira khawatir putrinya akan merasa sungkan untuk minta tolong jika membutuhkan sesuatu. Hanya saja bu Maira tidak bisa meninggalkan suaminya sendiri. Nanti siapa yang akam menyiapkan kebutuhan suaminya. Ditambah lagi beliau merasa sungkan jika harus menginap dirumah besannya.


"Yasudah gak pa pa kok bun, Lifi ngerti. Lagian disini ada bik Darsih sama mama juga. Terus mas Byan juga selalu jagain Lifi. Jadi bunda tenang aja, karena disini Lifi gak sendiri kok" Lifi mengatakan hal demikian agar bundanya tidak merasa khawatir lagi dengan keadaannya.


Sedang terlibat obrolan serius, tiba-tiba bu Kinan datang menghampiri keduanya.


"Wah....serius benget kelihatannya, lagi ngomongin apa sih"


"Gak lagi ngomongin apa-apa kok mah" Lifi yang menjawab pertanyaan mertuanya .


"Mari bu kita makan bareng-bareng, bik Darsih sudah mempersiapkannya." dengan ramah bu Kinan mengajak besannya .


"Gak usah bu, saya sama ayahnya Lifi mau pamit pulang saja" Bu Maira menolak karena merasa tidak enak hati.


"Gak usah gimana, lawong semua udah disiapin. Lagian pak Ilham sudah menunggu bareng suami saya" bu Kinan tidak menerima penolakan dari besannya.


"Bunda makan aja dulu, nanti nyampek rumah bisa langsung istirahat." Kali ini Lifi ikut menimpali.


Setelah bu Maira menerima ajakan untuk makan bersama, mereka berduapun keluar. Sementara Lifi, makanannya akan diantar kemakarnya karena mama mertuanya yang belum memporlehkan dia banyak beraktifitas.


Saat semuanya sedang menikmati makan, dari arah ruang tamu nampak Byan sudah datang.


"Loh Byan, kamu ke kampusnya cepet sekali" Bu Kinan merasa heran karena hanya berselang beberapa jam putranya ini sudah kembali dari kampus.


"Cuman mengurus izin cutinya Lifi mah, mau lanjut masuk kelas ternyata dosennya izin gak bisa masuk" Terang Byan pada mamanya.


"Lifi mana mah" Byan mencari keberadaan istrinya


"Dikamar kak, lagi sama Rayyan." Naila yang menjawab pertanyaan kakaknya.


Byanpun langsung menghampiri istrinya yang saat itu kebetulan sedang merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata.


Byan mengambil posisi duduk disamping istrinya sambil tangannya membelai sayang rambutnya.


"Mas......." Lifi langsung membuka matanya dan mendapati suaminya yang berada disampingnya.


"Loh, kamu gak tidur Yang"


"Enggak mas, ini baru aja selesai ngasih Rayyan ASI. Mas kok udah pulang aja" Lifi sekarang yang berbalik tanya pada Byan.


"Dosennya gak masuk, jadinya tadi mas cuman ngurusin izin cuti kamu saja" Jelas Byan pada istrinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa gak makan sayang" tanya Byan karena melihat makanan istrinya yang ada diatas nakas belum tersentuh sama sekali.


"Entar aja makannya, aku masih belum lapar kok"


"Sayang....kamu itu sekarang kalau makan jangan nunggu lapar. Kamu sekarang lagi menyu-sui lo, mas gak mau kamu sakit karena kekurangan nutrisi" Byan terlihat sedang menasehati istrinya.


"Ayo mas suapin ya" Byan langsung mengambil piring yang berisi makanan dan mulai menyuapkannya kedalam mulut istrinya.


Lifi sendiri meski enggan, namun tidak bisa menolak. Hingga perlahan dia mulai membuka mulutnya untuk makan.


"Mas....aku udah kenyang ini" Lifi yang merasa dirinya sudah kenyang, langsung mendorong sendok yang sedang suaminya arahkan pada mulutnya.


"Sekali lagi sayang...." Byan masih mencoba memaksa.


"Gak mau mas, perasaan dari kemarin disuruh makan terus deh akunya." Wajah Lifi terlihat cemberut.


"Kan sekarang kamu lagi menyu-sui, dua orang lagi. Kalau sampai nutrisi kamu kurang, kan kasian dedek sama papanya" Byan mulai bicara absurd. Lifi yang mendengarnyapun langsung mengernyitkan dahinya.


"Apa hubungannya sama kamu ya mas" Lifi masih belum faham maksud ucapan suaminya.


"Ya kan papanya juga butuh asi biar sehat. Masak cuman Rayyan saja" Byan berkata dengan begitu entengnya.


mendengar itu, Lifipun langsung mencubit lengan suaminya dengan keras hingga membuat siempunya meringis kesakitan.


"Sayang....kok mas malah dicubit sih. Harusnya kan mas itu dikasih nutrisi asi mumpung Rayyannya lagi tidur." Byan berucap dengan wajah yang dibuat semelas mungkin, namun setelahnya ia langsung tertawa. Sementara Lifi terlihat menatap jengah pada suaminya.


"Mas kesambet ya dijalan, pulang dari kampus pikirannya kok jadi mesum kayak gini" Lifipun terlihat mengomeli suaminya.


"Mas gak kesambet dijalan, tapi kesambet dikamar." Ucap Byan makin tidak jelas saja menurut Lifi.


"Emang disini ada makhluk halus apa" Kesal Lifi pada suaminya.


"Ada lah, ini makhluknya" Byan mengatakan itu sambil mencubit gemas hidung istrinya.


"Kok aku sih, nyebelin deh. Masak istri sendiri dibilang makhluk halus" Lifi terlihat memanyunkan bibirnya karena merasa kesal pada suaminya.


"Loh kan kamu yang udah bikin mas kesambet, lebih tepatnya hati mas yang kesambet sama pesona kamu sayang" Byanpun mengucapkan itu sambil mendekat kearah Lifi dan tak lupa dia mendaratkan ciu-man lembut dipipi istrinya.


Lifi yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa diam mematung ditempatnya. Entah kenapa ucapan suaminya kali ini membuat hatinya meleleh seketika.


Melihat tidak ada penolakan dari istrinya, Byan langsung beralih menyambar bi-bir ranum istrinya.


Namun baru saja menempelkannya, Lifi sudah mendorong Byan agar menjauh darinya.


"Mas, awas ah. Kamu kan lagi puasa, entar kalau kepancing gimana" Lifi mencoba mengingatkan suaminya.


"Maaf sayang, mas suka gak bisa nahan diri kalau deket-deket sama kamu" Byanpun terlihat membelai sayang pipi istrinya.

__ADS_1


"Kalau begitu mas mandi dulu ya, habis ini pengen gendong Rayyan"


Setelah mengatakan itu, Byan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


__ADS_2