
"Bi Darsi tolong pudingnya dimasukin ke lemari es, sekalian sama ini juga ya". Dari suaranya, nampak saat ini kalau bu Kinan sedang berada di dapur. Ia terlihat sedikit sibuk lantaran hari ini dia akan kedatangan tamu yang merupakan calon besannya. Padahal yang datang hanya dua orang, tapi sejak pagi dia sudah sangat antusias sekali untuk menyambutnya. Bahkan Byan dan Naila pun pagi-pagi sekali sudah di suruh bangun untuk ikut membantu. Padahal hari ini adalah hari libur.
"Mah, memangnya mau ada tamu siapa sih kok sibuk banget. Kayak mau kedatangan wali kota saja" kesal Byan pada mamanya. Bayangkan saja pagi sekali dia sudah dibangunkan dan di suruh ke minimarket untuk membeli sesuatu.
"Ini tu yang mau datang calon mertua kakak, harusnya kakak doang yang bantuin. Ini malah aku kena imbasnya juga. Harusnya kalo libur gini adek masih tidur, ini malah udah disuruh bersiin rumah" kesal Naila pada kakaknya. gara-gara ART yang bagian bersih-bersih rumah sedang sakit dan bi Darsih harus fokus buat nyiapin menu makan siang nanti, al hasil Naila jadi kena imbasnya.
"Ye kok protesnya sama kakak. Lagian kan bukan kakak yang ngundang mereka. Tuh protes sono sama mama, sekalian sama papa juga" ucap Byan tak kalah kesalnya. Bagaimana tidak kesal, pagi-pagi sekali ia disuruh ke minimarket, setelah itu sama seperti hal nya Naila ia juga disuruh bersih-bersih rumah. Dan yang lebih menyebalkan lagi, hari ini dia tidak boleh ke mana-mana lantaran kata mamanya calon mertunya ingin bertemu dengannya. Sungguh saat ini Byan merasa dirinya sudah seperti Siti Nurbaya, hanya saja dalam versi laki-laki.
Dan benar saja, tepat pukul 09.00 tamu yang dari tadi ditunggu-tunggu kedatangannya kini sudah berada dirumahnya. Sesuai janji, pak Ilham datang hanya berdua saja dengan istrinya, merekapun kemudian di ajak masuk. Tak lupa pak Rahman mengenalkan istrinya pada bu Maira. Karena memang ini kali pertama mereka bertemu.
Disana pak Rahman dan bu Maira betul-betul disambut dengan sangat baik. Seperti saat ini, diruang tamu nampak meja sudah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan. Seperti akan kedatangan tamu dalam jumlah yang banyak saja, begitu pikir istri pak Ilham.
__ADS_1
"Mari pak, bu silahkan dinikmati, jangan sungkan-sungkan" begitulah bu Kinan mempersilahkan pada tamunya. Dan saat tengah asik berbincang-bincang, tiba-tiba Byan nampak sedang menuruni anak tangga.
"Byan kemari" panggil papanya, dan Byanpun kemudian datang menghampiri papanya. "perkenalkan ini pak Ilham teman papa yang pernah papa ceritakan waktu itu. Dan disebelahnya ini adalah bu Maira, istrinya" jelas papanya pada Byan.
Byan pun kemudian mencium takdzim tangan pak Ilham, setelahnya bergeser pada istrinya. Byan pun menyapa pak Ilham dan istrinya dengan seramah mungkin. Awalnya ia ingin sekali sengaja bersikap sedikit cuwek agar teman ayahnya ini merasa ilfil, hingga membuat mereka membatalkan perjodohan ini. Tapi karena mengingat saat papanya yang meminta agar bersikap sopan dengan sedikit memohon, ia jadi tidak tega sendiri. Dan lagi bukan sifat asli Byan jika harus bersikap tidak sopan pada orang lain. Terlebih pada orang yang umurnya lebih tua darinya.
Melihat sikap Byan, membuat bu Maira sedikit lega, karena ternyata Byan anaknya sopan, ramah dan ditambah lagi Byan betul-betul tampan. Bu Maira pun tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya pada sang suami sebagai isyarat jika dia menyukai pria yang akan dijodohkan dengan putrinya ini.
"Jadi begini kang, saya akan sedikit bercerita" Pak Rahman sengaja membuka obrolan setelah sempat terjeda karena kedatangam Byan. "Ternyata Byan dan putri kang Ilham itu, mereka adalah teman satu kelas di kampusnya. Istri saya taunya setelah kemarin saya menunjukkan foto putri kang Ilham. Beberapa hari yang lalu Byan dan teman-temannya melakukan kerja kelompok di sini. Dan ternyata salah satu dari mereka itu adalah Lifi" jelas pak Rahman.
Penuturan pak Rahman ini sontak membuat pak Ilham dan bu Maira kaget. Pasalnya mereka tidak pernah menyangka sama sekali akan terjadi kebetulan yang seperti ini. Byan dan Lifi ternyata sebenarnya saling mengenal. Mereka sendiri sebenarnya sedikit khawatir , takut kalau membuat Lifi dan Byan akan sulit untuk bisa mengenal dan memahami satu sama lain. Tapi setelah mendengar cerita dari pak Rahman mereka semakin lega. Karena ternyata kekhawatiran mereka terjawab sudah.
__ADS_1
"Dan satu lagi kang, mungkin ini akan membuat kang Ilham dan bu Maira lebih terkejut lagi" pak Rahman mulai melanjutkan obrolannya. "apa itu Man, bikin penasaran saja kamu itu" jawab pak Ilham. "begini kang, menurut penuturan istriku, ternyata Byan itu menyukai Lifi. Pantas saja akhir-akhir ini setiap aku membahas masalah perjodohan dia selalu membantah, bahkan dia terang-terangan mengatakan kalu dian menyukai gadis lain. Tentu saja aku sangat kesal pada anak itu." ucap pak Rahman dengan ekspresi yang menunjukkan kalau ia sedang kesal, dan tentu saja kesalnya itu pada Byan. "waktu saya nunjukin foto Lifi pada istri saya, dia kaget. Pasalnya menurut istri saya, Byan pernah mengatakan kalau dia menyukai gadis di foto itu. Kalau kang Ilham tidak percaya, silahkan bisa bertanya langsung pada istriku." terlihat pak Ilham hanya manggut-manggut saja mendengar penuturan temannya ini.
"Benar pak Rahman, ternyata Byan itu menyukai Lifi. Makanya suami saya ingin memberi pelajaran pada Byan dengan tidak memberi tau tentang siapa gadis yang akan menjadi istrinya. Papanya kesal karena bisa-bisanya dia menolak sebelum bertemu dengan calonnya meski sekali saja." ucap Bu Kinan yang ikut memberikan penjelasan.
Namun ada satu hal yang ditutupi.Bu Kinan sengaja tidak mengatakan jika sebenarnya Lifi belum menyukai putranya. Dia berfikir biar ini menjadi tugas Byan untuk bisa meluluhkan hati calon menantunya. Menurut bu Kinan, siapa tau setelah menikah Lifi perlahan-lahan mau menerima Byan. Selain itu Bu Kinan juga takut jika saja pak Ilham dan istrinya tau jika putri mereka tidak menyukai Byan, bisa saja mereka akan membatalkan perjodohan ini. Padahal saat ini bu Kinan sangat berharap Lifi bisa segera menjadi menantunya. Karena entah mengapa, saat pertama melihat Lifi, ia sudah begitu menyukainya.
Akhirnya setelah saling berembuk, mereka sepakat untuk mempercepat pernikahan mereka. Masalah resepsi biarlah menjadi urusan nanti. karena bagi mereka yang terpenting anak-anak mereka sah dulu menjadi sepasang suami istri. Baru setelah itu mereka akan membicarakan masalah resepsi.
Merekapun kemudian makan siang bersama. awalnya pak Ilham dan istrinya menolak. namun karena bu Kinan yang mengatakan jika dia sengaja mempersiapkan semua ini khusus untuk mereka berdua, tentu membuat pak Ilham dan istrinya tidak enak hati untuk menolaknya. Mereka tidak ingin mengecewakan bu Kinan.
Makan siang bersama telah usai, dan pak Ilham beserta istrinya juga sudah pamit pulang. Kini hanya tinggal sepasang suami istri yang sedang duduk diruang tamu. Senyumpun nampak terpancar dari raut keduanya. Pak Rahman merasa lega karena setelah sekian lama tidak bertemu bahkan hilang kontak dengan sahabatnya, akhirnya bisa bertemu kembali dan bisa mewujudkan apa yang menjadi harapannya selama ini. Sementara sang istri merasa bahagia, karena gadis yang akan menjadi menantunya adalah gadis yang disukainya. Terlebih lagi ternyata gadis itu yang diinginkan putranya selama ini.
__ADS_1