
"Bunda....Lifi berangkat kuliah dulu." terdengar suara Lifi dari ruang tengah membuat sang bunda yang saat itu sedang berada di dapur langsung bergegas menghampirinya. "Sayang, kamu gak sarapan dulu?" bu Maira berbicara sambil mengamati wajah Lifi yang nampak sembab. Sudah di pastikan putrinya itu menangis semalaman. Melihat itu membuat hatinya sakit. Seharusnya semalam dia menemani putrinya, mendengarkan keluh kesahnya, menghapus air matanya, dan berusaha menenangkan hatinya. Namun karena sang suami yang tak memperbolehkannya, dengan dalih jika putrinya butuh waktu untuk sendiri membuat dia mengurungkan niatnya.
"Maaf bun, Lifi sudah hampir terlambat. Nanti Lifi makan di kantin saja." Lifi pun kemudian maraih tangan bundanya untuk menyalaminya. "Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Bundanya bertanya hal demikian karena melihat kondisi Lifi yang sepertinya sedang kacau. "Lifi baik-baik aja kok bun, Lifi berangkat kuliah dulu ya" tak lupa Lifi mengucapkan salam sebelum ia benar-benar berangkat kuliah.
Nampak bu Maira masih berdiri mematung ditempatnya. Ia masih menatap kepergian Lifi dengan rasa cemas. Meskipun Lifi mengatakan kalau dia baik-baik saja, namun dari raut wajahnya jelas mengatakan kalau kondisi Lifi saat ini justru sebaliknya. "Bunda ngapain berdiri di situ?" tiba-tiba terdengar suara pak Ilham dari belakang yang seketika membuat bu Maira terperanjat. "gak lagi ngapa-ngapain kok, yasudah ayo, ayah sebaiknya sarapan dulu" Ucap bu Maira sembari berjalan ke arah ruang makan. "Lifi mana bun, kok belum bergabung di sini" tanya pak Ilham saat tak menemuka sosok Lifi. "dia sudah berangkat kuliah, katanya takut kesiangan" jawab bu Kinan, dan mendengar itu pak Ilham pun hanya bisa menghela nafas panjang. Ia faham betul mengapa Lifi sampai melewatkan sarapan paginya.
Mereka pun kemudian makan dengan suasana hening tanpa ada yang berbicara. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu saja. Dan setelah itu pak Ilham seperti biasa langsung berangkat ke tokonya.
Sesampainya dikampus, Lifi mencoba untuk terlihat ceria seperti biasanya. Seolah-olah tidak ada masalah yang sedang mengganjal hati dan fikirannya. Ia tidak ingin teman-temannya curiga hanya karena melihat wajahnya yang murung, yang berakibat dirinya di cecari beberapa pertanyaan oleh teman-temannya, terutama oleh Airin. Hanya mata sembab nya saja yang tidak bisa di sembunyikan. Namun kendati demikian Lifi sudah mempersiapkan jawaban apa yang nantinya akan diberikan saat temannya nanti mungkin ada yang menanyakannya.
Dan benar saja, saat jam perkuliahan telah selesai, Airin langsung menyeret Lifi ke tempat yang sedikit menjauh dari teman yang lainnya.
"Lif....lho kenapa, lo habis nangis ya sampek mata lho sembab kayak gitu, lho ada masalah apa, cerita sama gue" begitulah Airin mencecari Lifi dengan beberapa pertanyaan.
"gue gak kenapa-napa, ini cuman gara-gara gue mewek pas baca novel online" jawab Lifi sesuai alasan yng sudah di persiapakannya matang-matang.
" lho gak lagi bohong kan Lif, gue sahabat lho. Gue bisa ngerasain kalau lho lagi ada masalah" Ucap Airin yang nampak masih belum sepenuhnya percaya dengan jawaban sahabatnya ini.
"lho gak usah sok jadi canayang deh" kesal Lifi pada sahabatnya yang sepertinya tidak mau langsung percaya dengan alasannya tadi.
Mereka berdua pun kemudian bergegas menuju kantin, menyusul Alan dan yang lainnya. sesampainya disana ternyata mereka sudah dipesankan makanan terlebih dahulu.
__ADS_1
Semuanya terlihat menikmati makannnya. Hanya Lifi saja yang sejak tadi hanya terlihat dengan tatapan kosong sembari tangannya mengaduk-ngaduk baksonya saja tanpa bermaksud untuk memakannya. Hal itu tentu tak luput dari pandangam Byan yang memang sejak tadi memperhatikannya. Byan pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Bermaksud untuk mengirim pesan pada Lifi, menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya. Karena tidak mungkin Byan akan bertanya langsung mengingat tempat duduknya yang berseberangan dengan Lifi.
[ Kok makanannya di aduk-aduk doang, apa mau gue suapin ]
Ting.....satu pesan berhasil masuk ke ponsel Lifi, yang membuat Lifi tersadar dari aktivitas melamunnya.
Lifipun bergegas membuka ponselnya dan sedetik kemudian ekspresi wajah Lifi berubah manakala ia membaca isi pesan itu dan saat tau siapa pengirim pesan itu, Ia pun kemudian langsung menatap tajam ke arah Byan.
Bukan Byan namanya jika berhenti hanya dengan sekali menggoda saja. Bagi Byan ada kesenangan tersendiri saat melihat wajah Lifi kesal. Byan pun berinisiatif untuk mengirim pesan kembali.
[ Banyak yang bilang, makan dari tangan orang lain itu rasanya lebih nikmat ]
Satu pesan kembali masuk ke ponsel Lifi, dan membuat si penerima pesan lagi-lagi menampakkan wajah kesalnya. Bahkan kali ini kekesalannya bertambah dua kali lipat. Lifi pun kemudian membalas pesan Byan.
Byan terkekeh saat membaca balasan pesan dari Lifi, dan bermaksud untuk membalasnya kembali
[ kalau lho mual, gue siap tanggung jawab kok 🤠]
Tanpa mereka sadari, sedari tadi tingkah mereka berdua mendapat perhatian dari teman-temannya. Mereka nampak heran dengan tingkah laku keduanya. Dimana Sicowok terlihat seperti seseorang yang sedang terkena virus bucin akut, sedang Siwanita nampak seperti kucing yang sedang melihat seekor tikus, bawaannya pengen nerkam aja.
"Kalian dari tadi bukannya makan, malah main pandang-pandangan" Ucap Airin yang sengaja ingin menggoda kedunya.
__ADS_1
"Tau tuh, bisa-bisanya didepan kita malah romantis-romantisan" Chaca pun tak mau kalah ikutan menggoda keduanya.
"Romantis-romantisan pala lho" Lifi berbicara sambil memukul pelan kening Chaca dengan sendok yang dipegangnya.
"Udah-udah, kalian kayak anak TK aja, dari tadi ribut mulu. Ayo lanjutin makannya habis ini kita ada kelas berikutnya" lerai Putri pada kedunya.
merekapun kemudian menyelesaikan makan siang mereka. Dan setelah itu mereka bergegas untuk mengikuti jam perkuliahan berikutnya hingga usai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Lifi sudah tiba di rumahnya. Kedatangnnya sudah disambut oleh ayah dan bundanya yang kala itu sedang duduk berdua di ruang tamu. Lifipun menyalami kedua orang tuanya.
"udah pulang nak?" tanya pak Ilham basa-basi. Ia sengaja menyapa Lifi terlebih dahulu karena ingin tau bagaimana reaksi putrinya kepadanya setelah kejadian semalam
"Ia yah" Jawab Lifi singkat. namun ekspresinya tidak seperti orang yang sedang marah.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih gih. habis itu kamu makan. Tadi pagi kan kamu gak sarapan juga" ucap bu Maira penuh rasa khawatir. " tadi Lifi udah makan di kantin kok bareng temen-temen. Jadi makannya nanti saja. yasudah, kalau begitu Lifi ke kamar dulu" Lifipun kemudian berlalu menuju kamarnya.
Setibanya di sana Lifi langsung merebahkan tubuhnya. Ia menatap ke langit-langit kamarnya. Fikirannya kembali teringat akan perjodohan yang sebentar lagi akan berubah menjadi pernikahan. Namun kali ini dia tidak menangis lagi. Ia harus berfikir positif dan yakin kalau pilihan ayahnya adalah yang terbaik untuknya.
"Siapapun dia, asal jangan si komet" ucap Lifi lirih. " Amit-amit dah kalau misalkan gue nikahnya sama tu cowok nyebelin" Lifi bergidik ngeri saat membayangkan andai yang dijodohkan dengannya adalah Byan. Bukan tanpa alasan Lifi membayangkan hal itu. Karena saat ini tiba-tiba Lifi teringat isi pesan Byan yang bilang, siap tanggung jawab kalau sampai dia mual."sumpah tu anak omongannya ngelantur. ya tuhan, jangan sampai gue punya suami modelan si komet nyebelin itu" lagi-lagi berguman sendiri.
__ADS_1
Tak ingin berlarut-larut dalam bayangan semu yang membuat dirinya ngeri sendiri, akhirnya Lifipun kemudian bergesas ke kamar mandi untuk. membersihkan dirinya.