
Pagi-pagi sekali nampak bik Darsih sudah sibuk didapur untuk mempersiapkan menu sarapan.
Tak lama kemudian sang majikanpun juga nampak berada didapur untuk membantu pekerjaannya.
"Eh nyonya....bibik kira non Lifi. Soalnya biasanya pagi-pagi begini non Lifi suka bantu-bantu didapur" Bik Darsih mengira jika yang baru tiba didapur adalah Lifi.
"Ngomong-ngomong non Lifi kemana Nyah, dari kemarin sore bibik gak kelihatan sama sekali. Sama den Byan juga. Apa lagi ke rumah orang tuanya non Lifi ya Nyah" tanya bik Darsih pada majikannya.
"Ada kok bik, cuman itu kemarin Byan bilang kalau mereka ada tugas kuliah yang mesti dikerjakan. Mungkin tugasnya lumayan banyak kali bik. Makanya saya sering ngelarang Lifi ke dapur. Saya takut dia kecapek'an" tutur bu Kinan pada bik Darsih.
"Tapi non Lifi orangnya rajin sekali Nyah, udah cantik, pinter masak lagi. Beruntung nyonya dapat mantu yang kayak begitu. Biasanya anak perempuan sekarang paling anti kalau soal urusan dapur" Terdengar bik Darsih sedang memuji nona mudanya.
"Bibik bener, bukan cuma saya saja yang beruntung. Tapi Byan juga tak kalah beruntungnya" Bu Kinan sependapat dengan apa yang dibilang oleh ARTnya itu.
Tak lama kemudian, semua menu untuk sarapan pagi telah siap untuk dihidangkan.
Pak Rahman dan Naila sudah nampak berkumpul dimeja makan, begitu juga bu Kinan. Kini hanya tinggal sepasang suami istri yang belum memperlihatkan batang hidungnya.
"Mah....Byan sama Lifi mana, kok belum turun juga?" Tanya pak Rahman pada istrinya.
"Bentar Pah, biar Mama panggil dulu mereka."
Namun saat bu Kinan hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba dari lantai dua terlihat keduanya nampak berjalan hendak menuruni anak tangga.
"Nah itu mereka pah" Bu Kinan mengatakan itu sambil menunjuk ke arah Byan dan Lifi.
Sementara disana Byan sejak tadi rasanya ingin tertawa karena melihat cara Lifi berjalan yang sedikit aneh dari biasanya.
Menurut Byan cara berjalan istrinya ini menyerupai bebek saja. Hanya saja Byan tidak berani mengatakannya lagi seperti kemarin malam.
Namun bukan Byan namanya kalau tidak bisa menemukan cara lain untuk meledek istrinya. Diapun mendekat pada telinga Lifi dan membisikkan sesuatu.
"Sayang, gimana kalau kita lomba cepet-cepetan turun tangga. Kalau mas menang entar malem dapat jatah tiga kali main. Tapi kalau mas kalah, malam ini kamu bisa bobok nyenyak tanpa gangguan apapun"
Mendengar ucapan Byan barusan, membuat kedua buah mata Lifi membulat sempurna sambil tatapannya mengarah pada dirinya.
Andai nimpuk suami tidak dosa, sudah pasti saat ini juga sudah lakukan.
__ADS_1
Lifipun memilih terus menuruni anak tangga tanpa mempedulikan Byan lagi.
Dari bawah ternyata bu Kinan sejak tadi juga memperhatikan cara berjalan menantunya.
Bu Kinan yang sudah berpengalaman tentu faham apa yang menyebabkan Lifi sampai berjalan seperti itu.
Bu Kinanpun kemudian tersenyum karena baru memahami maksud putranya kemarin yang mengatakan tidak bisa ikut malam bersama karena ada tugas penting yang harus diselesaikan hari itu juga.
Ternyata diam-diam rupanya putranya ini sedang menjalankan misi besar yang dikemudian hari akan berimbas pada dirinya juga. Apalagi kalau bukan keinginannya untuk memiliki seorang cucu bisa segera terwujud.
"Mah....maaf tadi Lifi gak bisa bantu mama sama bik Darsih masak" Ucap Lifi begitu dirinya akan duduk.
"Gak pa pa sayang. Lagian mama sudah sering bilang kalau kamu gak usah kedapur. Biar gak kecapek'an"
"Oh iya, gimana yang katanya kemaren ada tugas? Sudah beres kan?" sengaja bu Kinan menanyakan hal itu karena dalam hati niat menggoda keduanya.
Lifi nampak gelagapan mendengar pertanyaan dari mama mertuanya. Karena ia teringat kemarin ucapan suaminya yang katanya berbohong dengan mengatakan ada tugas hingga tidak bisa makan malam bersama.
Sementara Byan, malah dengan entengnya menjawab pertanyaan mamanya
"Sudah mah, semuanya sudah beres. Kemarin malam kita sampek lembur biar cepet kelar. Iya kan yang" Byanpun sampai harus meminta pernyataan istrinya untuk meyakinkan kebohongannya pada sang mama. Namun Lifi lagi-lagi hanya menaggapinya dengan tersenyum.
Byan sendiri akhirnya mulai menyadari kemana sebenarnya arah pembicaraan mamanya ini. Rupanya mamanya sudah tau kalau kemarin malam dirinya berbohong masalah mengerjakan tugas itu.
"Emang selesainya sampai jam berapa kak? terus sulit banget ya kak tugasnya? Soalnya aku liat kak Lifi kayak capek banget gitu" Nailapun akhirnya ikutan nimbrung.
Dan pertanyaan dari Naila ini semakin sukses membuat Lifi yang tak pandai berbohong semakin dibuat kebingungan untuk menjawabnya.
"Eh ikan Nila....kamu tau apa soal tugas orang dewasa, intinya sulit banget. Makanya selesainya sampek jam satu dini hari. Udah kamu makan aja gak usah sok nanya-nanya lagi" Ucap Byan ketus.
"Kok kakak yang sewot sih, orang aku nanyanya sama kak Lifi. Kak entar kalau ada tugas ngerjakannya dikamar aku aja. Palingan kak Byan molor malah kak Lifinya yang ngerjakan" Naila nampak tak mau kalah sama kakaknya.
Mendengar kedua anaknya mulai berdebat, akhirnya pak Rahman buka suara dan menasehati keduanya.
Merekapun kemudian menikmati sarapan pagi mereka hingga selesai dengan tenang tanpa berbicara lagi.
Pak Rahman dan Naila sudah berangkat terlebih dahulu. Sementara Lifi dan Byan kembali lagi ke kamar.
__ADS_1
Sesampinya di kamar Lifi langsung merebahkan dirinya. Sungguh hari ini ia sangat mengantuk sekali. Ditambah lagi badannya terasa remuk setelah semalam dibolak-balik oleh suaminya ini.
"Sayang, gimana kalau kita izin saja kuliahnya. Kamu kayaknya ngantuk banget itu." Byan nampak memberi masukan
"Gak mau, lagian entar ngantuknya juga ilang" Lifi sepertinya kurang setuju dengan usulan suaminya.
"Tapi mas gak mau kamu nanti kecapek'an sayang. Mana jalan kamu masih kayak bebek gitu. Entar yang ada kamu diledekin sama temen-temen kamu" dengan entengnya Byan mengatakan hal itu. Padahal jelas Lifi jadi seperti itu karena ulahnya.
"Mas bilang apa barusan" Tanya Lifi memastikan kembali apa yang didengarnya barusaja.
Byanpun tidak bisa menjawabnya. Dalam batin Byan mengumpat pada dirinya sendiri karena sudah keceplosan mengatakan hal tersebut.
"Mas gak bilang apa-apa kok, mungkin sayangnya mas ini salah dengar" Byan nampak berkilah
"Salah denger apaan. Awas aja ya, pokoknya selama sebulan gak boleh main lagi"
"What....sebulan yang? Mana ada kayak gitu. Ini aja mas udah pengen. Masak harus nunggu sebulan lagi. Bunuh aja mas sekalian kalau gitu" Byan nampak terkejut mendengar ancaman istrinya itu.
"Suruh siapa ngatain aku kayak bebek" Lifi nampak masih tak terima
"Kalau gitu mas minta maaf yah, sini deh mas pijitin biar capeknya ilang. Tapi entar malem main lagi ya" Byan nampak merayu istrinya yang sedang dalam mode marah.
"Gak mau. Ini aja masih sakit banget"
"Yang, justru kalau kepengen sakitnya ilang musti main lagi. percaya deh sama mas. Apa perlu kita buktiin sekarang, ini masih ada waktu dua jam lho buat kekampus. Jadi cukuplah, yang penting sat set gitu mainnya" Ucap Byan dengan ekspresi meyakinkan. Kali saja istrinya ini mau mengikuti sarannya.
"Gak usah modus deh, yang ada badan aku tambah remuk semua ini"
"Tapi enak kan, buktinya semalam habis bilang sakit mas, eh....malah men-de-sah keenakan. Ayo ngaku?" byan mengatakan itu sambil manaik turunkan alisnya.
Mendengar itu tentu saja Lifi merasa sangat malu. Karena nyatanya apa yang diucapkan suaminya ini memang benar. Meski awalnya terasa sakit, namun berikutnya dia malah menikmati setiap permainan yang dilakukan suaminya.
"Kok diem aja, hayo lagi ngebayangin yang semalam ya. Dari pada cuman dibayangin mending gas ajalah sekarang"
Dan tanpa babibu lagi Byan langsung mendorong Lifi yang saat itu sedang berdiri tepat dipinggir ranjang.
Byanpun mulai melancarkan aksinya dengan memberikan beberapa sen-tu-han di area sen-sitif milik istrinya.
__ADS_1
Kalau sudah seperti ini, dipastikan Lifi tidak akan bisa menolaknya lagi.
Dan benar saja, pagi ini mereka melakukan olah raga pagi. Tidak hanya sekali, mereka melakukannya sampai dua kali. Bahkan mereka sampai lupa kalau hari ini ada jadwal kuliah jam sembilan.