Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Puasa Empat Bulan


__ADS_3

Byan kembali dari kantin bersama Alan dengan membawa kantong yang didalamnya berisi beberapa minuman dan juga jajanan untuk dibagikan pada teman-temannya.


"Papa, ayah, sudah dari tadi" Tanya Byan begitu melihat papa dan ayah mertuanya nampak duduk dikursi yang ada di luar ruangan tempat Lifi dirawat.


"Kami baru sampai. Kamu sendiri dari mana" Pak Rahman yang bertanya pada Byan


"Dari kantin, ngopi Pa. Mumpung didalam ada teman-teman Lifi. Jadi Byan keluar sebentar. Papa sendiri kenapa kok gak masuk, apa mama sama bunda udah didalam"


"Mama sama mertuamu didalam. Kita diluar saja. Didalam udah penuh" Jawab pak Rahman pada putranya.


Saat keduanya tengah terlibat obrolan, bersamaan itu Dokter Lisa hendak menuju ruangan Lifi.


"Loh mas, udah dari tadi. Kenapa gak masuk aja" Dokter Lisa terlihat menyapa kakak iparnya.


"Baru aja kok. Gimana, apa menantuku bisa pulang sekarang" Tanya pak Rahman pada adik iparnya ini.


"Iya dong mas. Kondisi Lifi sehat, bayinya juga sehat. Ini juga aku mau nyuruh Byan buat neyelesain administrasi sama ngurus surat-surat kepulangannya."Jelas dokter Lisa.


Byan yang kebetulan sedang berada disana langsung bergegas untuk mengurus administrasi yang dimaksud oleh tantenya barusan.


Tak lupa Byanpun mengajak serta Alan. Menurut Byan dari pada temannya ini ditinggal sendiri bersama dengan para kakeknya baby Rayyan dan terlibat obrolan yang pastinya membosankan karena mereka yang tak seumuran, mending Alan ikut dengan dirinya saja.


"Lo tungguin gue disini. Gue masuk bentar ngasih ni minuman sama yang didalam"


Byanpun kemudian masuk dan memberikan kantong yang berisi minuman dan jajanan itu pada ketiga temannya.


"Loh...Byan kamu mau kemana lagi" tanya bu Kinan saat melihat putranya yang baru saja masuk tiba-tiba mau main langsung keluar saja.


"Mau urus administrasi kepulangan Lifi mah. Barusan dikasih tau tante Lisa" Jelas Byan pada mamanya.


Setelah itu Byan kembali melanjutkan langkahnya untuk beranjak setelah baru saja sempat tertahan karena harus menjawab pertanyaan mamanya.


"Kalau gitu bunda bantu kemas-kemas mana aja barang yang mau dibawa pulang" Bu Maira terlihat mengambil tas besar yang berada disofa ruangan itu.

__ADS_1


Dengan dibantu bu Kinan, kedua nenek itu kompak mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang. Saat semuanya sudah rampung bersamaan itu Byan, Alan dan kedua kakeknya baby Rayyan masuk secara bersamaan kedalam ruang rawat Lifi.


"Sayang....sekarang kamu udah bisa pulang. Administrasinya udah beres" Ucap Byan begitu masuk kedalam sambil mendorong sebuah kursi roda.


"Yasudah ayo sayang mama bantu kamu buat bangun" dengan sangat hati-hati bu Kinan membantu menantunya untuk bangun. Padahal sebenarnya Lifi bisa melakukannya sendiri. Hanya saja mama mertuanya itu terlalu mengkhawatirkan keadaannya hingga membuat Lifi tak enak sendiri mau menolak niatan baiknya.


Sementara teman-teman Lifi terlihat membantu membawa barang-barang Lifi yang akan dibawa pulang.


"Byan kamu dorong kursi rodanya. Biar mama yang gendong Rayyan" Bu Kinan mengatakan itu sambil mengambil Baby Rayyan dari tangan perawat.


Bu Maira yang melihat ekspresi besannya yang terlihat begitu perhatian pada putri sekaligus cucunya merasa sangat bahagia. Diapun tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan Lifi, karena putrinya berada ditangan keluarga yang begitu menyayanginya.


Setelah semua beres, merekapun langsung bergegas menuju mobil untuk segera pulang. Dan setelah hampir setengah jam mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dikediaman orang tua Byan.


"Selamat datang dirumah sayang" Ucap bu Kinan begitu dirinya sampai didepan pintu utama rumahnya.


Terlihat bik Darsih sudah menyiapakan segala keperluan untuk penyambutan cucu pertama dari keluarga itu.


Sementara bu Kinan dan bu Maira, kedua nenek itu langsung menuju kamar untuk menidurkan baby Rayyan yang sejak didalam mobil tadi nampak sudah tertidur.


Lifi sendiri saat ini sedang dibawa Byan menuju kamar tamu. Karena untuk sementara waktu sampai dirinya benar-benar pulih Lifi akan menempati kamar tamu. Tujuannya supaya tidak bolak-balik naik tangga.


"Lif....kita balik dulu ya, habis ini kan ada jam kuliah. Besok-besok kita bakalan kesini lagi kok" Airin berpamitan dan diikuti oleh yang lain.


"Bro....lho hari ini masuk apa izin" Tanya Alan pada Byan.


"Mas....kamu masuk aja. Lagian aku gak pa pa kok. Kan ada mama, bunda sama bik Darsih juga" Bukan Byan yang menjawab malah Lifi yang terlihat menyuruh suaminya untuj masuk kuliah.


"Untuk mata kuliah yang pertama mas izin aja. Lagian tadi pagi-pagi sekali mas sudah konfirmasi sama dosennya kok. Entar siangan mas kekampus bentar buat minta dispensasi agar kamu nanti ujian semesterannya bisa online."Jelas Byan pada istrinya.


Setelah mendengar penuturan dari Byan, keempat sahabatnya itu langsung bergegas dari rumah Byan. Mereka khawatir akan terlambat jika masih kelamaan berada disana.


Sepulangnya mereka, Byan langsung memeluk tubuh Lifi dari samping. Lifipun sampai kaget karena tiba-tiba suaminya ini main peluk-peluk aja.

__ADS_1


"Mas....kamu kenapa sih"


"Terima kasih sayang....kamu udah bikin hidup mas terasa sempurna. Mas sayang banget sama kamu dan anak kita" Lagi-lagi Byan mengatakan kata terima kasih. Lifi sendiripun sampai heran sendiri karena akhir-akhir ini suaminya sering mengucapkan kata terima kasih kepadanya.


"Mas denger ya.....mas gak perlu terus menerus mengucapkan terima kasih sama aku. Sejak kita menikah, kita ini sudah jadi satu paket. Kita memang sudah seharusnya untuk saling melengkapi. Saling memberi kebahagiaan dan jika ada masalah atau mungkin mengalami kesusahan kita harus siap untuk saling berbagi kesusahan itu. Apapun yang aku lakukan, itu semua karena memang udah jadi kewajiban aku sebagai istri. Justru seharusnya aku yang minta maaf sama mas karena dulu sempat mengabaikan mas, sempat meragukan cinta mas, sempat nolak juga sama pernikahan ini" Lifipun kembali mengingat kembali kesalahannya


"Gak pa pa, yang penting kan sekarang udah cinta" Ucap Byan penuh percaya diri.


"Idih....kumat deh narsisnya. Emang kapan cobak aku bilang cinta sama mas" Lifi mengatakan itu sambil menatap jengah pada suaminya.


"Gak perlu bilang juga mas udah tau" Ucap Byan begitu yakin.


"Sok tau banget deh"


"Sayang.....bagi mas dengan kehadiran Rayyan itu sudah cukup ngebuktiin kalau kamu udah cinta sama mas. Tapi kalau misalkan kamu hamil lagi habis ini mas akan lebih yakin lagi" Sengaja Byan mengatakan itu diakhir kalimatnya karena ingin menggoda istrinya.


"Emang aku kucing apa, ini aja masih kerasa sakitnya udah mau hamil lagi. Yang ada mas mulai sekarang harus puasa empat bulan" Kesal Lifi pada suaminya.


"Setau mas biasanya empat puluh hari lo Yang. Ini kamu dapat dari mana empat bulan puasa" Byan seperti merasa ada yang salah dengan apa yang baru saja dikatakan istrinya.


"Ya karena ini gak biasa mas makanya empat bulan"


"Mana ada yang kayak begitu. Nahan empat puluh hari aja mas udah gak kuat, apa lagi empat bulan. Gak sekalian aja kamu bunuh mas" Byanpun tak kalah kesalnya dengan istrinya ini karena bisa-bisanya menyuruh dirinya untuk puasa empat bulan.


"Emang mas mau aku jadi janda hm" ucap Lifi sambil tersenyum licik.


"Ya enggak lah, yang ada entar si Raka malah keenakan bisa ngedeketin kamu" Raut wajah Byan lagi-lagi berubah menjadi kesal. Byanpun kemudian memalingkan wajahnya dari Lifi.


"Idih....gitu aja ngambek. Padahal siapa dulu cobak yang ngajakin bercanda" Bukannya minta maaf, Lifi malah justru sengaja meledek suaminya.


"Mas gak suka kalau bercandanya kayak gitu. Awas aja, sebagai hukumannya mas pastiin habis ini kamu mas bikin hamil lagi." Ancam Byan pada istrinya.


Lifi yang mendengar ancaman suaminya hanya bisa geleng-geleng sendiri. Bagi Lifi suaminya ini suka bertingkah absurd jika sedang ngambek.

__ADS_1


__ADS_2