Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Soto Ayam


__ADS_3

Didepan kamar mandi, Byan nampak terus menggedor-gedor pintu sambil mengatakan sesuatu pada Lifi.


Namun sayangnya tak sekalipun Lifi menghirukan teriakan suaminya itu.


Merasa tidak ada respon dari istrinya, Byanpun memilih merebahkan dirinya diatas ranjang.


Hari ini Byan merasa sedikit capek. Lebih tepatnya capek pikiran karena memikirkan Raka yang sepertinya menyukai istrinya. Hingga tanpa terasa Byanpun tertidur pulas.


Setelah hampir satu jam, Lifi baru menyelesaikan ritual mandinya. Ia sengaja berlama-lama dikamar mandi karena ingin mengerjai suaminya.


Namun sayangnya, ternyata orang yang dikerjai malah tertidur pulas.


"Yaelah malah molor nih orang"


Lifipun kemudian membangunkan tubuh Byan dengan cara mengguncang bahunya.


"Mas bangun, sana kamu mandi dulu"


Sekali masih belum nampak tanda-tanda Byan terbangun, Lifipun mencobanya lagi


"Mas bangun, mandi dulu" Lifi berusaha membangunkan lagi suaminya.


"Ennngggghhhh......" terdengar


Byan menggeliatkan tubuhnya.


"Kiss dulu dong, biar semangat mas bangun tidurnya" Byan berucap masih dalam posisi matanya terpejam namun tangannya nampak bisa menunjuk ke arah pipinya.


"Gak usah aneh-aneh deh. Kamu baru bangun tidur. Itu ilernya masih basah" Lifi sengaja berbohong untuk mengelabui suaminya


"Masak sih yang, perasaan aku kalau tidur gak pernah ileran deh"


Dengan sendirinya Byan nampak mengusap-usapkan tangannya pada kedua pipinya.


"Gak ada, ini pipi perasaan kering. Gak ada basah-basahnya sama sekali" Byan nampak berguman sendiri.


"Kamu gak usah boh......"


Byan tak lagi menyelesaikan bicaranya. Karena saat itu juga ternyata istrinya ini sudah kabur lebih dulu.


"Gadis nakal. Awas aja entar kalau ketemu" Byan nampak bicara sambil senyum-senyum sendiri


Dan setelahnya Byan langsung berjalan kekamar mandi.


Sementara Lifi sendiri langsung bergegas menuju dapur. Seperti biasa dia akan membantu pekerjaan di sana.

__ADS_1


sesampainya Lifi di dapur, dia sudah disuguhi pemandangan bik Darsih sedang meracik bumbu.


"Bik....hari ini masak apa?"


"Itu non, lagi bikin soto ayam. Tadi siang den Byan minta dibikinin soto ayam buat makan malam" jelas bik darsih pada Lifi


Tadi pagi sebelum berangkat kuliah, Byan memang sempat pergi ke dapur menemui pembantunya agar nanti pas makan malam dibuatkan soto ayam.


"Emang mas Byan suka banget sama soto bik?" Lifi sengaja bertanya karena dia ingin tau makanan apa saja yang disukai oleh suaminya itu


"Iya non, den Byan suka sekali soto ayam. Apalagi jika dikasih pelengkap seperti irisan seledri, bihun rebus, ayam suwir, koya, sama telur rebus. Dan tak lupa den Byan suka jika ditaburi kentang goreng kering yang diiris kecil-kecil" jelas bik Darsih pada Lifi.


"Hem....gitu ya bik" Lifi menjawabnya sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.


"Sini bik biar saya yang lanjut bikin bumbunya. saya akan cobak bikin sesuai yang pernah saya pelajari dari bunda. Nanti bibik yang bagian icip-icip ya" Lifi mengatakan itu sambil mengambil alih pekerjaan bik Darsih.


"Emang non gak capek. Non baru pulang kuliah. Nanti kalau ketahuan den Byan sama nyonya saya takut dimarahi"


"Gak pa pa, lagian ini kemauan saya sendiri kan. Dari pada dikamar terus bosen bik" ucap Lifi sambil mulai mengupas bawang merah


"Masak sih non diem dikamar bikin bosen. Biasanya pengantin baru itu lebih demen dikamar dari pada didapur lho" Bik Darsih mencoba menggoda majikannya


"Bibik ada-ada saja"


setelah satu jam berkutat didapur, akhirnya Lifi menyelesaikan proses memasak soto beserta pelengkapnya. Bagi Lifi yang sudah terbiasa didapur tidak akan begitu sulit untuk memasak menu ini.


Bik Darsihpun nampak mengambil sendoknya dan mengisinya dengan kuah soto, baru kemudian mencicipinya.


"Wah....ini enak sekali non. Bibik aja gak pernah bikin soto seenak ini lho"


"Bibik sengaja muji biar Lifi gak kecewa karena rasanya gak enak ya?" ucap Lifi karena belum begitu percaya pada apa yang diucapkan pembantunya barusan.


"Beneran non, ini enak sekali dan rasa sedapnya juga pas. Kalau non gak percaya kita lihat nanti reaksi den Byan saat makan malam." Bik Darsih mencoba meyakinkan.


Akhirnya waktu makan malampun tiba. Semua nampak sudah berkumpul dimeja makan.


Seperti biasa Lifi akan mengisi piring Byan terlebih dahulu sebelum mengisi piring miliknya.


Belum sempat Byan memasukkan satu suapan nasi kemulutnya nampak pak Rahman sang papa berucap


"Ini soto kok rasanya beda dari biasanya ya mah" Pak Rahman berkata sambil kembali memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.


"Masak sih pa, ini soto biasanya kok. Emangnya kenapa pah sama rasanya" Bu Kinan nampak penasaran


"Mending mama coba dulu deh"

__ADS_1


Bu kinan pun langsung mencoba mencicipinya. Bahkan Byanpun nampak ikutan mencoba dan setelah itu keduanya sama-sama tertegun.


"Mah, ini rasanya kok beda ya?" Kali ini Byan ikutan berkomentar.


Lifi yang sejak tadi memperhatikan ekspresi mertua dan suaminya saat mencicipi soto buatannya menjadi ketar-ketir.


Dia berfikir mungkin soto buatannya sama sekali tidak enak setelah memperhatikan ekspresi ketiganya.


"Bik...sini deh bik" bu Kinan nampak memanggil Bik Darsih pembantunya.


Bik Darsihpun kemudian menghampiri majikannya.


"Bik....ini soto bibik yang bikin kan ya?"


"Memangnya kenapa Nyah" Bik Darsih malah bertanya balik


"Rasanya enak banget, seger juga. Pokoknya gak kayak biasanya bik" Bu Kinan mengatakan itu sambil sesekali mencicipi kembali kuah dari soto tersebut.


"Itu Nyah, yang bikin non Lifi"


Mendengar itu, semua yang berada disana langsung menatap pada pemilik nama yang disebut bik Darsih barusan.


"Beneran yang, ini kamu yang masak?" Nampak Byan yang bertanya.


Dan dengan ragu-ragu Lifi menganggukan kepalanya.


"Sumpah yang, ini enak banget" ucap Byan Mantap


"Bener nak, ini enak banget. Papa aja malah pengen nambah ini" Kali ini pak Rahman ikut menimpali.


"Wah....mantu mama bener-bener jago masak ini" Bu Kinanpun nampak tak mau kalah.


Lifi yang dipuja-puji oleh semua orang hanya bisa tersenyum canggung. Ia merasa malu sendiri karena kedua mertuanya terlalu berlebihan dalam memuji masakannya.


Byan yang melihat tingkah istrinya yang terlihat malu-malu jadi gemas sendiri. Saking gemasnya Byan sampai reflek mencubit pipi istrinya.


"Mas sakit, kebiasaan banget deh" Lifi nampak kesal dan terlihat wajahnya cemberut.


"Kak Byan ngapain sih cubit-cubit pipi kak Lifi. Kasian sampek merah kayak gitu pipinya" Naila nampak tak terima dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya.


"Suka-suka kakak lah, kan dia istri kakak. Mau kakak apakan aja boleh. Bahkan mau kakak cium disini sekalipun juga boleh. Ya gak yang" Byan nampak meminta persetujuan Lifi.


Namun belum sempat Lifi mengatakan sesuatu, Byan yang posisinya duduk disebalahnya tiba-tiba langsung mendekat padanya dan dengan tanpa malunya dia betul-betul mencium pipinya didepan adik dan mertuanya.


Lifipun sontak membulatkan kedua matanya karena merasa kaget dengan apa yang barusan dilakukan oleh suaminya ini.

__ADS_1


Sementara pak Rahman hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak laki-lakinya ini. Tapi kalau bu Kinan, jangan ditanya lagi. Dia nampak menceramahi putranya karena bisa-bisanya dia melakukan hal itu didepan adiknya.


__ADS_2