
Byan dan Lifi, mereka berdua benar-benar mengikuti intruksi mamanya untuk pergi kedokter kandungan.
Sekitaran jam empat sore mereka pergi menuju tempat dimana tantenya, dr.Lisa praktek.
Sepanjang perjalanan, terlihat Lifi hanya diam saja. Entah apa yang sedang difikirkannya.
Byan sendiri memilih tidak banyak bertanya. Ia hanya sesekali melemparkan senyum pada istrinya ini.
Hingga tidak terasa setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah jam, mereka sampai dirumah sakit tempat tantenya bertugas.
Keduanya berjalan dengan Byan yang terus menggenggam tangan istrinya erat-erat. Bahkan tidak sekalipun Byan melepaskan genggamannya.
Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk kedalam ruang dokter yang sekaligus merangkap sebagai tantenya ini.
"Ayo masuk" Terdengar dr.Lisa menyuruh mereka berdua untuk masuk.
Baik Lifi maupun Byan, keduanya langsung menyalami tantenya. Merekapun kemudian dipersilahkan untuk duduk.
"Wah jadi, ini ta istrimu. Cantik banget anaknya, pantesan awal-awal mau dijodohin Byannya nolak keras. Orang gadis yang diincar cantiknya kayak gini." Hingga tanpa sadar dr.Lisa memegang sebelah pipi Lifi. Mungkin saking kagumnya saat pertama kali melihat Lifi.
dr. Lisa memang baru sekarang bertemu Lifi langsung. Karena pas acara akad nikah Byan, dirinya sedang ada tugas diluar kota.
"Tapi bersyukur ternyata jodohnya kamu sayang. Karena tanpa sengaja gadis yang dimaksud kak Rahman itu ternyata kamu. Kalau sampai bukan kamu, entah kayak apa jadinya ponakan tante satu ini. Udah jadi pasien ODGJ kali ya" dr. Lisa malah meledek Byan sambil tertawa.
"Tante tega bener deh. Masak ponakan ganteng gini dibilang pasien ODGJ"
"Oh iya, ada yang perlu tante bantu sayang? Tadi mbak Kinan telfon, katanya kamu mual-mual ya" dr. Lisa berbicara dengan begitu ramahnya.
"Iya tan, menurut Lifi itu mungkin masuk angin. Tapi gak tau kenapa mama malah nyuruh kita kesini" Lifi mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya. Karena jujur ia merasa sedikit malu.
"Yasudah, biar lebih jelas penyebab kamu mual-mual itu apa, biar tante periksa ya. Ayo berbaring disana"
Lifipun kemudian berbaring sesuai yang diintruksikan oleh dr. Lisa
"Dibuka ke atas bajunya sayang"
Dengan ragu-ragu Lifi mengangkat bajunya keatas. Jujur Lifi sangat malu karena sebelumnya ia tidak pernah memperlihatkan anggota bagian dalam tubuhnya kecuali bundanya dan tentu saja sekarang suaminya.
"Gak usah malu. Lagian tante kan juga perempuan"
__ADS_1
Setelah baju Lifi terbuka, barulah dr.Lisa menaruh gel khusus diatas perut Lifi kemudian dia meletakkan alat transducer dan menggerak-gerakkannya.
Begitu selesai memeriksanya, terlihat dr. Lisa tersenyum dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Jadi bagaimana hasilnya Tan?" terdengar Byan sepertinya sudah tidak sabar ingin segera mengetahui hasil dari pemeriksaan istrinya.
"Selamat, usianya sudah masuk minggu kedua. Tolong dijaga baik-baik ya"
"Maksud tante gimana ya"
Sepertinya Byan masih terlihat belum faham dengan apa yang diucapkan oleh tantenya ini.
Begitu juga dengan Lifi, dia masih nampak bingung dengan apa yang baru saja diucapkan oleh dr. Lisa
"Jadi begini, dari hasil USG tadi istri kamu ternyata positif. Usia kehamilannya baru memasuki minggu kedua. Jadi tante harap kalian menjaganya dengan baik." jelas dr.Lisa pada keduanya.
"Jadi Lifi positif hamil? Tante gak lagi bohong kan?" Byan masih saja nampak belum percaya.
"Ck....mana ada dokter ngasih informasi bohong sama pasiennya" dr. Lisa sampai kesal sendiri pada ponakannya yang masih saja belum percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Sayang....kamu beneran hamil. Mas seneng banget dengernya. Terimakasih ya, kamu sudah membuat hidup mas makin terasa sempurna"
Lifi sendiri juga memilih menampakkan senyumnya. Namun lebih tepatnya senyum yang sedikit dipaksakan. Karena jujur Lifi masih kaget dengan adanya hasil pemeriksaan yang menyatakan dirinya ternyata betul-betul positif hamil.
"Ini tante kasih resep obat, nanti kalian tebus diapotik ya. Ingat Byan, istrinya jangan sampai melakukan aktifitas berat dan pola makannya juga dijaga" dr. Lisa nampak memberi penjelasan kepada keduanya. Terutama kepada Byan
"Siap Tan, tanpa diminta Byan akan menjaga ibu dan calon dedek bayinya dengan sebaik mungkin" Byan mengatakan itu sambil meraih pinggang Lifi untuk dirangkulnya
"Oh iya Tan, ada satu pertanyaan. Kira-kira selama Lifi hamil apa aku masih bisa nengokin dedek bayinya" Byan berbicara sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Boleh dong, malah harus rutin ditengok tiap sebulan sekali" dr. Lisa pura-pura tidak faham dengan pertanyaan yang dilontarkan keponakannya.
"Apa tan, sebulan sekali? tante gak salah bicara kan?" Byan nampak kaget begitu mendengar penjelasan dari tantenya.
"Ya iyalah sebulan sekali kamu musti kesini anter istri kamu USG. Jadi sekalian kan kamunya ikutan nengokin calon dedek bayinya"
"Tante....maksud aku bukan nengokin itu. Jangan bilang tante barusan ngerjain aku ya?"
"hahahaha" terdengar dr. Lisa tertawa karena sudah berhasil mengerjai keponakannya.
__ADS_1
"Habisnya kamu, istri hamil bukannya mikir kesehatannya ini malah mikir jatahnya mulu" dr.Lisa terlihat gemas bercampur kesal.
"Ingat Byan, selama trimester pertama jangan terlalu sering minta jatah." dr. Lisa memperingatkan keponakannya
"kalau ponakan tante ini masih bandel, suruh aja dia tidur disofa" kali ini Lifi yang dia beri peringatan.
"Siap tante, dengan senang hati"
Mendengar jawaban dari Lifi, sontak membuat Byan membulatkan matanya dengan sempurna. Karena bisa-bisanya istri dan tantenya ini terlihat kompak sekali dalam urusan menyudutkannya.
"Yang, mana ada kamu nyuruh aku tidur disofa, kamu tau sendiri aku gak bisa tidur kalau gak meluk kamu" Byan terlihat bergelayut manja dilengan Lifi. Persis seperti anak kecil yang sedang merengek minta sesuatu.
"Mas kamu apaan sih, jangan kayak anak kecil gini deh" Lifi mengatakan itu dengan sedikit berbisik karena merasa tidak enak hati, mengingat didepannya saat ini sedang ada tantenya.
Sedang dr.Lisa hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah keponakannya ini.
Benar yang dikatakan kakaknya, jika keponakannya ini terlihat bucin sekali pada istrinya.
"Tante, kalau begitu kita pamit dulu. Terima kasih atas penjelasannya tadi" Lifi berinisiatif untuk berpamitan lebih dulu sebelum suaminya ini bertingkah lebih aneh lagi.
"Sama-sama sayang. Jaga terus kesehatan calon bayinya ya. Sampai ketemu lagi bulan depan"
Keduanyapun langsung menyalami tante yang sekaligus merangkap menjadi dokter kandungannya ini.
Sepanjang perjalanan, Byan nampak terus memperlihatkan senyum bahagianya.
Meskipun usianya masih terbilang muda, namun dia begitu terlihat bahagia saat mengetahui istrinya ternyata benar-benar hamil. Karena dengan hadirnya calon buah hati ini Byan berharap akan semakin menguatkan ikatan antara dirinya dengan Lifi, gadis yang teramat dicintainya selama ini.
"Sayang....kamu gak ada kepengen apa-apa gitu? Mumpung belum nyampek rumah. Barang kali kamu mau beli sesuatu"
"Enggak mas, aku cuman pengen cepet nyampek rumah aja. Biar bisa segera rebahan" Lifi mengatakan itu sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
"Kamu kenapa, apa kamu merasa mual atau punggung kamu terasa pegel? Bilang sama mas" Byan seketika terlihat panik.
"Enggak mas, aku gak pa pa. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku ngerasa ngantuk banget"
"Yasudah kamu tidur aja. Nanti begitu sampai rumah mas bangunin kamu"
Tanpa menunggu waktu lama, Lifipun langsung terlelap. Byan yang melihatnyapun langsung tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Kasian, ini pasti anak papa lagi kecapean ya. Sampek mamanya ngantuk gini. Baik-baik didalam perut mama ya sayang. Jangan rewel, kasian mama kamu" Byan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala Lifi dan kemudian beralih mengusap-usap perut Lifi yang masih terlihat datar.