
Hingga pagi tiba, baik Byan maupun Lifi sama-sama mengurung diri dikamar mereka masing-masing. Lifi hanya keluar saat bundanya memanggilnya untuk sarapan. Bahkan setelah sarapanpun dia langsung kembali lagi ke kamarnya. Karena memang pas hari itu adalah hari sabtu, dan jadwal kuliahnya sedang free.
Hal yang sama juga Byan lalukan dirumahnya. Ia keluar hanya saat dirinya dipanggil untuk sarapan oleh adiknya.
"Pa, apa tidak sebaiknya sekarang saja kita mengatakannya pada Byan" bu Kinan sedikit meminta pada sang suami agar mau mengatakan pada putranya tentang siapa gadis yang akan dinikahinya besok. Ia tidak tega melihat putranya seperti ini.
"besok saja, sekarang biarkan dia dikamarnya. Itung-itung Byan menjalani proses pingitan" ucap pak Rahman sambil sedikit tersenyum pada istrinya
"ish....papa masih sempet-sempetnya tersenyum, gimana kalau Byan kabur hem?" bu Kinan sedikit kesal karen suaminya malah mengajaknya bercanda.
"mama tenang aja. Dia gak bakalan kabur. mana tega tu anak bikin mamanya menangis" ucap pak Rahman yakin.
"apa mama malam ini tidur sama Byan aja pa, untuk memastikan anak itu tetap berada di rumah" ucap bu Kinan memberi masukan pada suaminya.
"Mana ada mama mau tidur sama Byan. Lagian dia udah besar. Papa yakin itu anak baik-baik saja" jawab suaminya, Ia merasa gemas sendiri karena bisa-bisanya istrinya itu punya ide aneh aneh seperti itu.
"Ck....mama kan cuman khawatir" ucap bu Kinan sedikit kesal. Karena memang sejak dulu pak Rahman tidak pernah membiarkan dirinya tidur dengan anak-anaknya.kecuali saat mereka sakit, baru ia memperbolehknnya. Alasannya cukup klasik, katanya gak bisa tidur kalau gak sama dirinya.
Sama halnya dengan Lifi, saat ini dirinya tengah berada dikamarnya. Faris yang baru datang langsung diminta Nadira dan ibunya agar pergi ke kamar adiknya untuk melihat kondisinya.
"dek....ini kakak. Buka pintunya dong" ucap Faris sambil mengetuk pintu kamar Lifi.
Lifipun kemudian bergegas untuk membukakannya.
"kok gak nyambut kakak datang sih, biasanya antusias banget kalau kakak datang" Faris berkata sambil berjalan masuk ke dalam dan duduk ditepi ranjang.
"maaf kak, Lifi gak tau kalau hari ini kakak datang" jawab Lifi
"kamu kenapa kayak habis nangis hem?" Faris sengaja pura-pura bertanya ingin tau apa jawaban dari adiknya ini.
" kakak gak tau, apa pura-pura gak tau?" ucap Lifi sambil mengerucutkan bibirnya
Faris pun terkekeh sendiri melihat tingkah adiknya.
__ADS_1
"udah gak usah nangis, mau lihat gak foto calon suaminya kayak gimana?" Byan membuka ponselnya dan bermaksud memberikannya pada Lifi untuk memperlihatkan wajah calon yang akan menjadi suaminya besok.
"gak mau, palingan orangnya jelek dan umurnya juga beda jauh sama Lifi"
Lifi mengira kalau yang akan menikah dengannya adalah laki-laki yang sudah berumur.
"kamu salah dek, dia masih muda. Mana ganteng lagi" Faris nampak memandang foto yang terpampang dilayar ponselnya.
"maaf Lifi gak tertarik" ucap Lifi sambil membelakangi kakaknya dan nada bicaranya sedikit ketus.
"yasudah kalau gak mau" Faris pun memasukkan kembali ponsel itu kedalam sakunya.Faris semakin mendekat ke arah adiknya
"dek, kakak tau ini berat buat kamu, tapi kamu harus percaya gak ada orang tua yang mau bikin anaknya bersedih. Kakak yakin, laki-laki yang dipilihkan ayah buat kamu ini adalah laki-laki baik dan berasal dari keluarga yang baik juga. mungkin sekarang kamu belum bisa menerimanya karena kamu belum mengenalnya. Tapi kakak yakin seiring berjalannya waktu, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Dan kakak juga yakin jika pria itu bisa menyayangi kamu sama seperti halnya ayah dan kakak menyayangimu. Kamu juga harus yakin itu" Faris berbicara dengan mengelus puncak kepala adiknya, berusaha sedikit memberi nasihat agar adiknya itu tidak terlihat bersedih lagi. Farispun kemudian keluar dari kamar Lifi setelah memastikan adiknya baik-baik saja.
Kini Lifi nampak sedang berusaha mencerna apa yang dibilang kakaknya. Perlahan hatinya mulai melunak dan kembali berusaha menerima apa yang akan menjadi takdir hidupnya.
Jika ayahnya pernah bilang bahwa menjodohkannya dengan anak dari temannya itu adalah salah satu bentuk untuk membalas budi pada sahabatnya, mungkin dengan dia menerima perjodohan ini adalah sedikit bentuk balas budi Lifi pada orangtuanya.
"andai gadis itu kamu Lif" ucap Byan dalam hati sambil membayangkan jika seandainya gadis yang akan dinikahinya besok itu adalah Lifi
"harus melepasmu bahkan sebelum mengatakan perasaan yang sebenarnya, kenapa rasanya seberat ini Lif" Byan pun nampak berbicara sendiri.
Sekarang Byan baru sadar, jika tidak selamanya yang hadir itu akan menjadi takdir.Tapi apa yang sudah ditakdirkan sudah pasti akan dipertemukan dan dipersatukan.
"Hem....." Byan pun menghembuskan nafasnya kasar, berharap membuat hatinya yang sesak menjadi sedikit longgar.
Saat Byan masih fokus dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk dan yang mengetuknya tak lain adalah mamanya sendiri. namun suara ketukan itu tak didengar oleh Byan.
Merasa tidak ada jawaban dari dalam, Bu kinanpun langsung masuk. Untung pintunya tidak dikunci dari dalam.
Bu Kinan langsung mengambil posisi dengan duduk disebelah Byan. Dia pun menepuk punggung putranya, agar putranya ini tersadar dari lamunannya.
"Mama" ucap Byan sedikit keget
__ADS_1
"maaf ma, Byan gak sadar kalau ada mama" ucap Byan kemudian
" kenapa belum tidur hem" mamanya bertanya
"belum ngantuk aja mah" jawab Byan asal
"mama faham dengan situasi kamu saat ini. Tapi mama mohon percayalah sama mama. Mama yakin kamu tidak akan kecewa. Dia gadis yang baik, cantik lagi." Bu Kinan berkata seperti itu karena dia faham dengan apa yang tengah dipikirkan oleh putranya
"mama tau kan kalau Byan menyukai gadis lain? Bahkan mama sudah bertemu dengannya" kali ini Byan berbicara dengan menatap lekat-lekat wajah mamanya.
"sekarang Byan tanya, apa gadis itu sama baiknya seperti Lifi mah? Bukannya mama juga menyukai Lifi. Tapi kenapa mama tidak membantu Byan untuk meyakinkan papa agar memikirkan ulang perjodohan ini. Kenapa mama malah mendukung papa" Byan berbicara dengan nada yang menggebu-gebu.
"hem...." bu Kinan nampak menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan maraton dari putranya.
"sayang....jujur, awalnya mama sedikit keberatan dengan perjodohan ini.bahkan dulu mama menganggapnya sama seperti kamu, sangat konyol. Tapi kamu tau sendiri kan kalau dalam hal yang satu ini papamu tidak mau dibantah". Bu Kinan pun sejenak menjeda ucapannya sebelum lanjut dengan penjelasannya
"hingga saat mama mengetahui siapa gadis itu, entah mengapa mama tidak bisa menolakknya. Bahkan mama langsung menyukainya. Saat itu juga mama yakin kalau dia jodoh yang terbaik buat kamu" lanjut bu Kinan pada putranya
"baik lah jika mama bisa menjamin itu, Byan akan berusaha menerimanya" ucap Byan pasrah.
Bagi Byan akan sangat percuma berdebat lagi, jika mamanya sudah mengatakan hal seperti itu bagaimana bisa dia membantahnya.
"ya sudah, kamu sekarang istirahat dulu. Persiapkan dirimu buat besok" Ucap bu Kinan, kemudian beranjak dari tempatnya.
Namun saat hendak keluar tiba-tiba dia teringat sesuatu
"ya ampun....mama sampai lupa" bu Kinan sampai menepuk keningnya sendiri.
Bu kinan hampir lupa dengan maksud dan tujuannya pergi ke kamar Byan.
" sayang....kamu jangan lupa belajar ijab qobulnya. Maharnya sudah mama persiapkan. Uang tunai dua puluh lima juta, satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat. Untuk namanya besok saja ya, mama lupa membawa kertasnya" ucap bu Kinan.
Ia pun sengaja beralasan lupa tidak membawa tulisan nama mempelai putrinya. karena sesuai tujuan semula, dimana papanya yang sedikit ingin memberi pelajaran pada Byan. Biarlah besok pas dijalan saja saat hendak menuju ke tempat akad dia dan suaminya akan memberi tahu nama gadis itu. Mereka yakin, sekali melihat namanya tanpa belajarpun Byan akan langsung lihai mengucapkan ijab qobulnya.
__ADS_1