
"Mas Byan.....ayo bangun jangan tidur lagi, ini kita kan mau ke rumah bunda" Pagi-pagi sekali sudah terdengar suara Lifi sedang membangunkan suaminya.
Pagi ini memang keduanya berencana untuk pergi kerumah orang tua Lifi. Maklum, sejak Lifi melahirkan hingga sekarang bayi mereka berumur hampir dua bulan. Atau lebih tepatnya berumur lima puluh lima hari, belum sekalipun Lifi berkunjung ke rumah orang tuanya.
Selama ini bunda dan ayahnya yang selalu mengunjungi cucunya setiap minggu. Bahkan sesekali kakaknya, Faris beserta istrinya juga ikut.
Sebenarnya Lifi ingin sekali berkunjung, hanya saja bunda dan ayahnya yang melarangnya dengan dalih menunggu sampai dirinya benar-benar pulih dan bayinya juga sudah siap untuk dibawa kemana-mana.
Sudah dua kali Lifi mencoba membangunkan suaminya, namun entah mengapa suaminya ini masih terlihat setia dengan posisi memejamkan matanya.
Lifipun tak kehabisan akal, dia mendekat pada suaminya. Dan tanpa ragu-ragu Lifi memberikan satu ciuman di bi-bir suaminya. Hingga seketika mata Byan yang tadinya masih terpejam, seketika langsung terbelalak.
"Sayang....gak usah mancing-mancing deh" Byan nampak kesal pada istrinya. Karena bisa-bisanya istrinya ini melakukan hal yang bisa menguji keimanannya.
"Habis kalau gak digituin mas gak bangun-bangun" Ucap Lifi tak kalah kesalnya.
"Tapi kan bisa pakek cara lain, kamu gak kasian apa sama suamimu ini" ucap Byan dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.
"Mas....ini kita jadi kan kerumah bunda". Lifipun kemudian lanjut bertanya pada suaminya perihal dirinya yang akan berkunjung kerumah orang tuanya tanpa memperdulikan ekspresi wajah suaminya.
"Jadi sayang....tapi...." Byan nampaknya menjeda pembicaraannya.
"Tapi apa mas" Lifi sampai dibuat penasaran kenapa tiba-tiba suaminya ini menghentikan sejenak pembicaraannya.
"Bentar-bentar, Sayang.....kamu udah selesai belum" Tanya Byan kemudian, yang ditanggapi Lifi dengan mengernyitkan kening karena merasa tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya.
"Apanya yang selesai mas, kalau nanya yang jelas dong" Lifipun bertanya balik karena memang tidak faham dengan maksud pertanyaan dari suaminya.
Byanpun terlihat menggaruk tengkuknya karena bingung mau menjelaskan pada istrinya maksud dari pertanyaannya.
"Yasudah kalau begitu mas mandi dulu. Tolong siapin baju yang mau mas pakai" Tanpa memperdulikan istrinya yang masih diliputi rasa penasaran akibat pertanyaannya, Byan malah memilih untuk beranjak menuju kamar mandi.
Pandangan Lifi terus mengikuti arah Byan berjalan, sungguh menurut Lifi pagi ini suaminya terlihat aneh sekali.
Masih diliputi dengan rasa penasaran pada pertanyaan suaminya, Lifipun kemudian mempersiapkan baju yang hendak dipakai suaminya.
Hingga tak lama kemudian Byan nampak keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dia lilitkan pada pinggangnya.
Entah kenapa Lifi seolah terhipnotis saat melihat suaminya. Padahal dirinya sudah hampir setiap hari menyaksikan pemandangan seperti ini. Namun entah mengapa kali ini terasa berbeda.
__ADS_1
Ditatap seperti itu justru tak membuat Byan merasa salah tingkah. Bahkan dalam pikirannya muncul ide jahil untuk mengerjai istrinya.
Byan sengaja mendekatkan dirinya pada Lifi. Tak lupa dirinya dengan sengaja mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah hingga mengenai wajah istrinya. Dan tentunya hal itu membuat Lifi seketika tersadar dari akvitasnya memandang tubuh tegap suaminya.
"Yang....ilernya awas jatuh" Byan mengatakan itu sambil tersenyum. Membuat Lifi salah tingkah karena kedapatan sedang mengagumi suaminya.
"Mm-mas Byan su-sudah selesai" Lifipun sampai dibuat gugup sendiri sampai tidak bisa berbicara denga normal.
"Bukannya dari tadi mas sudah selesai dan sejak tadi juga kamu terpesona sama mas kan" Byan mengatakan itu sambil terus mendekatkan tubuhnya pada Lifi hingga membuat tubuh Lifi mentok pada dinding tembok.
"Mm-mas kamu mm-mau ap-pa" Lifipun semakin dibuat gugup dengan ulah suaminya.
"Bukannya kamu dari tadi terlihat mengagumi tubuh suamimu hm, jadi sekarang mas izinkan kamu memandangnya lebih dekat. Bahkan mas bebaskan untuk kamu menyentuhnya" Byan mengatakan itu sambil berbisik ditelinga Lifi sambil menarik tangan Lifi agar menyentuh dada bidangnya. Hal ini tentu membuat Lifi seketika langsung meremang.
"Mas tolong jangan kayak gini" Lifi nampak berusaha menarik tangannya.
"Kenapa sayang" Lagi-lagi Byan berbicara dengan berbisik.
"Mas sebaiknya pakai bajunya, aku mau lihat Rayyan dulu. Takutnya dia nangis" Lifi sengaja beralasan demikian agar suaminya bisa melepaskannya.
"Bukannya Rayyan bersama mama, jadi dia gak bakalan nangis" Byan terlihat tidak menerima alasan istrinya.
"Tapi mas ini waktunya Rayyan minum susu" Lifi masih terus berusaha mencari alasan untuk bisa lepas dari suaminya.
"Tapi mas...."
"Sssttttttt" Byan meletakkan jari telunjukknya tepat dibibir istrinya.
"Sekarang mas mau nanya, kamu sudah selesai apa belum" Lagi Byan mengulangi pertanyaan yang tadi belum sempat dijawan oleh istrinya.
"Aku gak ngerti maksud pertanyaan mas" Akhirnya Lifipun mengatakan jika dirinya sejak tadi tidak faham maksud dari pertanyaan suaminya.
"Masa nifas kamu, apa sudah selesai"
"Glek....." Lifipun sampai harus menelan salivanya sendiri setelah suaminya memperjelas maksud dari pertanyaannya.
"Memangnya kenapa mas" Sengaja Lifi pura-pura tidak mengerti kenapa suaminya bisa bertanya hal itu.
Namun sayangnya Byan merasa jika Lifi sengaja berpura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Yakin kamu gak ngerti maksudnya" Ucap Byan sambil tersenyum licik.
"Mas kenapa sih, kok senyumnya nyeremin banget" Lifi terlihat sedikit was was dengan senyum yang dilontarkan suaminya. Karena seolah-olah dalam senyum itu menyimpan maksud tersendiri.
"Sayang....apa mas udah boleh buka puasa" tanpa menghiraukan ekspresi istrinya yang terlihat was-was, dan tanpa basa basi lagi Byan langsung saja bertanya pada intinya.
"Boleh ya" Kali ini nada bicara Byan sedikit melemah, bahkan wajahnya terlihat seperti sedang mengiba.
"Tapi mas gimana kalau Rayyan nangis" Lifipun terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu
"Kamu tenang saja, Rayyan gak bakalan nangis. Dan kalaupun nangis ada mama sama bik darsih juga." Byan mencoba menjawab kekhawatiran istrinya.
Tanpa menunggu persetujuannya, Byan langsung menuntun Lifi perlahan menuju ranjang.
Lifi yang dari semula sudah terhipnotis dengan ketampanan suaminya, entah mengapa dirinya jadi tidak bisa menolak saat suaminya membawanya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Hingga akhirnya pagi itu, Lifi membiarkan suaminya untuk melakukan apapun pada dirinya. Meski awalnya merasa takut karena dirinya habis melahirkan, namun Byan lagi-lagi berhasil meyakinkan dirinya.
Dan pagi itu benar-benar menjadi pagi yang syahdu bagi keduanya, terutama bagi Byan. Bagaimana tidak, setelah hampir dua bulan menahan diri. Akhirnya pagi Ini Byan sudah bisa berbuka puasa.
"Terima kasih sayang. Maaf sudah bikin kamu berkeringat pagi-pagi" Byan mengatakan itu begitu dirinya sudah menyelesaikan aktivitas panasnya.
Terlihat Byanpun menyeka buliran keringat yang membasahi kening istrinya. Dan setelahnya Byan mendaratkan ciumannya disana dengan begitu lembutnya.
"Sama-sama mas. Maaf udah buat kamu nunggu cukup lama" Masih dengan nafas yang sedikit tersenggal saat Lifi berbicara.
"Gak pa pa mas ngerti kok. Tapi nanti malam lagi ya" ucap Byan sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Apan sih mas, kebiasaan deh. Baru aja bersikap manis, kok udah nyebelin lagi" Lifi terlihat kesal pada suaminya ini.
"Yasudah kalau gak boleh. Gimana kalau sekarang aja nambahnya. Tanggung Yang, mumpung belum mandi"
"Mas Byan....." Lifi yang sudah sangat kesal sampai sedikit berteriak memanggil nama suaminya.
"Canda sayang, mau kerumah bunda kan. Yaudah kita mandi bareng yuk biar cepet" Ajak Byan kemudian pada istrinya
"Ogah, entar ujung-ujungnya gak jadi mandi malah kamunya nambah lagi"
"Nah itu kamu faham" ucap Byan dengan begitu entengnya dan langsung mendapat pelototan tajam dari istrinya.
__ADS_1
"Oke oke kalau gitu kita tetep mandi bareng biar cepet. Mas janji cuman mandi kok, gak bakal ngapa-ngapain"
Tanpa aba-aba Byan langsung menggendong istrinya dan membawanya kedalam kamar mandi. Byan bahkan tidak memerdulikan istrinya yang terlihat berusaha memberontak sambil memukuli dada bidangnya.