
saat jam perkulihan pertama selesai, Airin benar-benar langsung membawa paksa Lifi ke ruang perpustakaan karena ia sangat penasaran ingin segera mendengar penjelasan dari sahabatnya.
Bahkan saking penasarannya, sampai-sampai Airin sama sekali tidak bisa fokus saat mengikuti jam perkuliahan tadi. Fikirannya nampak berkelana, menebak-nebak ada hubungan apa antara sahabatnya itu dengan Byan. Laki-laki yang dulu di nobatkan sebagai pria paling menyebalkan oleh Lifi, justru tadi pagi malah terlihat satu mobil saat berangkat kuliah.
"aduh jangan di tarik kayak gini, sakit ini tangan gue"
Lifi nampak kesal, pasalnya Airin menarik tangan Lifi sepanjang perjalanan ke ruang perpus dengan lumayan kuat. Bahkan kini pergelangan tangan Lifi nampak berwarna merah.
"buruan lo cerita ke gue sekarang"
Ucap Airin manakala mereka sudah nampak duduk di salah satu sudut ruang perpus.
"hem....." Lifi nampak membuang nafas berat sebelum memulai ceritanya.
"gue sama Byan udah menikah"
Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Lifi.
"What....." teriak Airin sehingga membuat atensi yang ada diruang perpus tersebut tertuju pada dua gadis yang sedang duduk dideretan bangku paling pojok itu.
"ssstttttt" lo bisa gak sih gak usah teriak-teriak, ini tu perpus bukan hutan" kesal Lifi pada sahabatnya yang tiba-tiba berteriak.
"sumpah, gue gak lagi salah dengar kan" Airin berbicara sambil mengecek kedua telinganya. Memastikan jika indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Setelah memastikan telinganya ternyata masih berfungsi, Airinpun kemudian mengangkat telapak tangannya untuk ditempelkan pada kening Lifi.
"gak demam" ucap Airin lirih.
"ck....emang gue lagi sakit apa" Lifi berdecak kesal.
Lifipun kemudian mulai menceritakan asal mula rencana perjodohannya dengan Byan sampai dengan dia dan Byan yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya bukannya bersimpati, Airin justru tertawa terbahak-bahak.
Airin teringat kala dirinya beberapa kali pernah menyumpai Lifi berjodoh dengan Byan hanya karena dia merasa gemas pada Lifi yang sampai segitunya membenci Byan.
"kayaknya sumpah gue ampuh banget ya" ucap Airin sambil cekikikan
"ck.....dasar temen gak ada akhlak, lho bukannya simpati ke gue malah lho ngetawain gue" lagi-lagi Lifi berdecak kesal kerena Airin nampak menertawakannya.
"tapi lho jahat banget Lif, masalah sebesar gini lho baru cerita ke gue. Mungkin kalau tadi gue gak liat lho sama Byan di parkiran, lho gak bakalan nyeritain ini ke gue." Airin berbicara panjang lebar sebagai bentuk ungkapan rasa kecewanya.
"bukan begitunya Rin, semuanya serba mendadak buat gue. Bahkan sampai detik ini gue sendiri masih radak gak percaya kalau gue udah nikah sama tu komet.
Dan perlu lho tau, gue berani sumpah saat ini selain keluarga gue sama mas Byan, cuman lho yang tau soal pernikahan kita" Lifi mencoba memberi penjelasan.
Namun alih-alih Airin fokus pada penjelasan Lifi, justru Airin malah fokus sama panggilan Lifi pada Byan.
__ADS_1
"Lif, bentar-bentar lo manggil Byan apa tadi?" tanya Airin sekali lagi ingin memastikan apa yang didengarnya barusan.
"M-mas" ucap Lifi sedikit terbata.
"oke fix....berarti yang kemarin gue dengar waktu Byan nyebut dirinya mas ke lho itu ternyata..." Airin tak lagi meneruskan ucapannya. Ia malah reflek menutup mulutnya.
Ternyata kecurigaannya kemarin benar, jika ada yang tidak beres sedang terjadi antara Byan dan sahabatnya.
"Rin....gue mohon lho jangan cerita ke siapa-siapa ya. Plisssss" ucap Lifi dengan nada memohon.
"Lho tenang aja, gue gak bakal cerita sama siapa-siapa"
"ngomong-ngomong lho udah ngerasain MP belum" ucap Airin dengan raut wajah penuh penasaran.
"makanan pendamping, maksud lo?" tanya Lifi yang nampak bingung
"lho bener-bener ya, emangnya lo balita pakek bahas makanan pendamping segala. Maksud gue malam pertama do-dol" kesal Airin karena Lifi yang tak kunjung faham akan maksud pembicaraannya.
"Dasar otak mesum, pikiran lho kayaknya butuh gue rendem pakek pemutih deh" Lifi mengatakan itu sambil menyentil kening sahabatnya
"aduh sakit Lif, wah....lho kalau mau kdrt jangan sama gue. Noh sama laki lho" kesal Airin. Pasalnya Lifi menyentil keningnya sedikit keras.
"sumpah ya, lo kalo ngomong udah ngala-ngalain tukang panci yang lagi narik kreditan, heran deh. Gak sekalian aja lo umumin tuh pakek toa mesjid"
kesal Lifi. Pasalnya sahabatnya ini ngomongnya gak bisa dipelanin sedikit.
"siapa?" tanya Airin
" Byan"
"udah lho angkat aja"
Lifipun kemudian menerima panggilan dari suaminya dengan Airin yang berada disebelahnya nampak jadi pendengar setia.
Setelah menerima panggilan itu, keduanya langsung beranjak ke kantin sesuai intruksi dari Byan.
"kalian dari mana, kok tiba-tiba main ngilang aja" protes Chaca saat Lifi dan Airin baru saja duduk bergabung bersama mereka.
"balikin buku ke perpus" Airin yang nampak menjawab.
"kirain dari mana, tuh dimakan baksonya keburu dingin" Alan kali ini yang menimpali
"Lho, kita kan belum pesen" heran Lifi karena didepannya sudah ada semangkuk bakso lengkap dengan minumannya
"ditraktir sama si sultan" ucap Chaca asal
"udah buruan dimakan, habis itu balik. Dosennya hari ini gak masuk, cuman nitipin tugas doang"
__ADS_1
Byan sengaja menyela pembicaraan Chaca agar tak merambat ke mana-mana.
Jujur Byan sendiri sebenarnya merasa risih setiap kali dirinya dipanggil dengan embel-embel sultan.
Setelah menyelesaikan makan, mereka semua langsung bergegas pulang.
"Lif, gue balik dulu ya" Airin menaiki motornya untuk segera pulang setelah memastikan ketiga temannya yang lain sudah pada beranjak lebih dulu.
"lho hati-hati bawa motornya" Lifi mengingatkan sahabatnya.
"lho juga, hati-hati entar malem diapa-apain ma tu laki" ucap Airin dan sejurus kemudian ia langsung tancap gas sebelum sahabatnya ini mengumpat kesal karena apa yang diomongkannya barusan.
"udah pulang yuk, gak usah manyun-manyun gitu" ajak Byan pada istrinya.
"ya habisnya tu anak tumben-tumbenan hari ini ngeselin banget"
Byan lantas membukakan pintu mobilnya dan menyuruh istrinya ini untuk masuk.
Sepanjang perjalanan nampak Byan yang mendominasi obrolan. Sementara Lifi sendiri hanya menjawab seperlunya saja.
"sayang, ikut mas bentar ke cafe ya"
"ngapain?" tanya Lifi. karena sebelumnya Byan tidak mengatakan kalau sepulang kuliah akan mampir dulu ke cafenya.
"Cuman mau ngecek-ngecek aja. Lagian udah beberapa hari ini mas gak ke cafe."
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua sudah sampai di cafe milik Byan.
Ini kali keduanya Lifi berkunjung ke cafe milik suaminya. namun kunjungan kali ini berbeda, karena ia sudah berstatus sebagai nyonya dari pemilik cafe ini.
Disana Lifi langsung disambut ramah oleh para pelayan cafe tersebut. Mereka nampak memberi hormat pada Lifi.
sepertinya mereka tau kalau Lifi adalah istri dari pemilik cafe tersebut.
"wih....pengantin baru habis ngapain aja, gue pikir lho lupa sama ni cafe"
Nampak Alvian datang menghampiri keduanya.
"selamat datang nyonya Bos, perkenalkan saya Alvian. Sahabat sekaligus merangkap sebagai asisten pribadinya"
Alvian hendak mengulurkan tangannya pada Lifi. Namun secepat kilat Byan menepisnya.
"ck....pelit banget, orang cuman kenalan doang" Alvian nampak berdecak kesal karena bosnya ini sama sekali tak mengizinkannya untuk berjabatan tangan dengan istrinya.
Lifi sendiri sebenarnya merasa tak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi, Byan memang selalu bersikap berlebihan jika sudah menyangkut dirinya.
"sayang, ayo mas antar kamu keruangan mas dulu ya, karena mas mau ngecek laporan bulanan. Sebentar doang kok" ucap Byan sembari mengajak Lifi untuk menuju ruangannya.
__ADS_1
Sementara Lifi berada diruangannya, Byan nampak sedang bersama Alvian untuk melihat laporan bulanan cafe.