
Suasana kelas hari ini nampak sedikit ramai. Tentu saja ini karena semua dosen khusus difakultas ekonomi sedang ada rapat mendadak.
Alhasil banyak mahasiswa yang melewatkan waktu kosong itu untuk bercengkrama, ada yang ke kantin, perpus, dan ada juga yang memilih pulang saja.
"Woy....enaknya kita ngapain ini?"
Terdengar si paling aktif Chaca bertanya pada teman-temannya.
"Kantin ajalah, lagian rapat dosen selesai jam sepuluh. Sedang jam sebelas kita masih ada kelas lagi"
Nampak Airin memberi usul
"Bener juga, mending kantin ajalah" ucap Putri menyetujui dan diikuti anggukan kepala oleh yang lainnya.
Namun saat hendak menuju kantin tiba-tiba Byan mendapat telfon dari Alvian. Ia meminta agar Byan ke cafe sebentar karena ada urusan yang sedikit mendesak.
"Sayang....Mas kayaknya gak bisa ikut, barusan Alvi nelfon katanya ada sedikit masalah di cafe. Kamu mau ikut mas apa disini saja" Byan nampak memberi pilihan pada istrinya
"Em....kalau misalkan aku gak ikut gimana?" Lifi nampak terdengar ragu untuk mengatakannya.
"Yasudah gak pa pa. Tapi gak boleh nakal ya selama mas gak ada"
"Ck....emang aku anak kecil apa, pakek diajarin jangan nakal segala" Lifi berdecak kesal
"Ya kan mas cuman antisipasi. Apalagi akhir-akhir ini mas sedikit khawatir kalau ngelepas kamu di kampus sendiri. Ada Raka soalnya"
"Mulai deh cemburu gak jelasnya"
"Namanya juga sayang. Yasudah mas berangkat dulu" ucap Byan sambil membelai lembut pipi istrinya.
"Woi....kampus woi...." Chaca nampak berkomentar karena merasa gemas dengan tingkah Byan yang terlihat begitu romantis. Padahal saat ini mereka sedang berada di tempat umum.
"Mas...kebiasaan banget deh" Lifipun jadi ikut-ikutan kesal pada suaminya ini.
Byanpun akhirnya pergi menuju cafenya. Sementara Lifi dan kawan-kawannya langsung bergegas menuju kantin.
Suasana kantin saat itu memang sedikit ramai dari biasanya. Namun beruntung Lifi dan kawan-kawannya masih bisa menemukan bangku kosong untuk mereka duduki
Kelima orang ini terlihat sedang menikmati makanan makanan yang mereka pesan sambil bercengkrama. Hingga tidak terasa saat ini sudah menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit lagi.
"Balik yuk, bentar lagi kita ada kelas nih" ucap Alan mengajak teman-temannya
"Eh....laki lo napa belum balik-balik. Apa memang dia udah bilang kalau bakalan gak masuk jam keduanya?" Tanya Airin pada Lifi.
"Mungkin sudah di kelas duluan" Jawan Lifi enteng.
"Bisa jadi"
Sesampainya dikelas, mereka sudah mendapati dosen baru saja masuk. Untung saja mereka belum terlambat.
Lifi sendiri dari tadi nampak mengedarkan pandangannya, mencari sosok suami yang sepertinya belum juga kembali.
Lifipun sesekali menatap ke arah pintu kelas, berharap suaminya ini mungkin akan datang terlambat.
Namun sayang, hingga jam perkuliahan selesai Byan belum juga kembali ke kampus.
"Lif....ini lho mau gue antar pulang dulu atau gimana? Tanya Airin pada Lifi sesaat setelah ketiga temannya sudah pamit pulang lebih dulu.
"Kamu pulang duluan aja gak pa pa"
"Ye....mana tega gue ninggalin lho sendiri" ucap Airin sambil menepuk lengan sahabatnya
__ADS_1
"Beneran gue gak pa pa kok" Lifi nampak meyakinkan Airin
"Emang Byan gak ada ngabarin lho gitu?"
Lifipun hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja.
Akhirnya Lifipun mau ditemeni oleh Airin untuk menunggu suaminya setelah sedikit memaksa.
Saat keduanya tengah asik duduk di lobi kampus, nampak Raka datang menghampiri mereka.
Ehem......
Terdengar suara Raka berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka agar tertuju padanya.
"Kak Raka....." Ucap Airin terlihat antusias
"iya, kalian lagi apa disini?" tanya Raka pada keduanya.
"Ini kak lagi nungguin imamnya Lifi" Nampak Airin yang menjawab. Sedang Lifi dia hanya menunduk saja.
"Ra...." terdengar Raka memanggil Lifi.
Lifi menjawab hanya dengan menoleh ke arah Raka.
"Apa benar kamu sudah menikah?" Raka bertanya langsung pada intinya
Lifipun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.
Melihat jawaban dari Lifi, hati Raka sedikit tersentak. Mungkin jika kemarin Raka menganggap jika dirinya salah dengar saat Byan menyebut Lifi adalah istrinya, namun kali ini dirinya mendapatkan jawaban itu langsung dari Lifi.
Jauh dilubuk hati Raka masih berharap jika suatu saat dirinya bisa berjodoh dengan Lifi.
Namun sekarang semua itu hanya tinggal angan-angan saja. Karena nyatanya gadis yang dia cintai selama lima tahun trakhir sudah sah menjadi milik orang lain.
Setelah mengatakan itu Raka langsung berlalu begitu saja hingga membuat kedua wanita itu nampak heran dengan tingkahnya.
"Kenapa itu orang Lif......"
Lipipun hanya menjawabnya dengan mengangkat bahunya saja.
"Rin....lo pulang dulu aja gih. Kayaknya ini mendung, gue takut bentar lagi hujan." Terlihat Lifi mulai mengkhawatirkan sahabatnya.
"Wah....kok tiba-tiba mendung. Mana gue lupa bawa jas hujan lagi" Terlihat Airin mulai panik
Lifipun akhirnya memaksa Airin agar mau pulang dulu. Awalnya Airin tetap bersikeras menolak, namun akhirnya setelah Lifi mengatakan suaminya akan datang sebentar lagi, Airinpun akhirnya mau disuruh pulang dulu.
Kini tinggallah Lifi sendiri. Sepulangnya Airin, Lifi sudah hampir sejam menunggu suaminya. Ia mencoba menelfon namun tak diangkatnya juga. Bahkan saking lamanya, membuat Lifi
berinisiatif pergi ke kemusholla dulu buat sholat Asar. Dan kini sudah jam lima sore namun suaminya ini tak kunjung datang juga.
"Mas Byan kemana sih, mana ditelfon gak diangkat juga lagi" Lifi mulai terlihat panik.
Bagaimana tidak panik, saat ini hujan mulai turun meski tidak deras. Tentu saja jika Byan sampai tidak datang, dia akan sedikit kesulitan saat hendak ke halte bus. Mengingat dirinya tidak membawa payung
Sementara Byan dilain tempat terlihat panik. Karena tiba-tiba saja ban mobilnya bocor dan setelah dicek ternyata terkena paku yang lumayan besar juga.
"Sial...." Byan terdengar seperti sedang mengumpat kesal.
Iapun mencoba menghubungi Alvian dan beruntungnya, sekali saja di telfon Alvian langsung menjawab panggilannya.
Saat dirinya hendak memberi kabar pada istrinya ternyata ponselnya lowbet. Al hasil diapun hanya bisa menunggu Alvian datang agar bisa segera menjemput istrinya.
__ADS_1
Saat ini Raka hendak menuju parkiran, namun dilobi kampus tiba-tiba dia melihat Lifi masih nampak duduk disana. Dan kali ini dia hanya seorang diri.
Karena merasa khawatir akhirnya Rakapun menghampiri Lifi.
"Ra....kamu belum dijemput juga?" Raka mengatakan itu sambil duduk persis disebelah Lifi
"Belum kak"
"Kakak antar saja ya, kamu pasti sudah kecapekan karena udah nunggu dari tadi" ucap Raka menawarkan diri
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi sebentar lagi pasti datang kok kak" Lifi mencoba menolak dengan sehalus mungkin
"Yasudah kakak temenin saja disini sambil nunggu suami kamu"
Setelah itu, baik Lifi maupun Raka hanya diam saja. Tidak ada obrolan yang mereka ucapkan.
Namun tiba-tiba Raka mulai memberanikan diri bertanya pada gadis yang ada didepannya.
"Ra....boleh aku nanya sesuatu?" Raka memastikan dulu sebelum dirinya bernyata sesuatu pada Lifi
"Nanya aja kak"
"Sebelumnya kakak minta maaf, jika nanti pertanyaan kakak di rasa kurang mengenakkan. Apa kamu menikah karena dijodohkan?
Sebelum menjawab, Lifi nampak tersenyum. Dan beberapa detik kemudian barus dia menjawab peetanyaan Raka.
"Iya kak, kita nikahnya karena dijodohkan" jawab Lifi jujur
"Apa laki-laki yang jadi suami kamu itu putra dari teman ayah kamu" Lagi Raka nampak bertanya
"Kok kakak tau?" Heran Lifi karena ternyata Raka ini seolah tahu segalanya tentang dirinya. Padahal mereka saja baru beberapa hari bertemu. Itupun setelah tiga tahun lamanya
"Karena itu adalah alasan ayah kamu menolak saat mama sama papa aku berniat untuk menjodohkan kita" jelas Raka dan kemudian diapun mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
" Kakak saat itu merasa kecewa Ra, karena jujur kakak begitu menyayangi kamu. Apalagi mama, dia selalu berharap kamu yang bakalan jadi mantunya. Namun ternyata semua harapannya tidak bisa terwujud dan karena hal itu papa akhirnya sengaja membeli rumah baru untuk pindah. Bukan karena apa, itu karena papa takut aku semakin terluka saat nanti melihat kamu menikah" Raka kembali menjelaskannya pada Lifi.
Mendengar penjelasan dari Raka, hati Lifi tiba-tiba merasa sesak. Dulu sebenarnya dia juga ada rasa pada Raka, hanya saja dia memilih untuk tidak mengatakannya meskipun dulu Raka sering mengungkapkan perasaannya pada dirinya.
"Kak, maafin aku" Hanya itu yang bisa Lifi katakan
"Hey...kamu gak perlu minta maaf. Kakak gak pa pa kok. Yang benting kamu bahagia maka kakak pasti akan merasa ikut bahagia. Tapi jika sebaliknya, kakak akan selalu siap menjadi tempat untuk kamu kembali menemukan kebahagiaan itu" Raka berucap sambil menatap Wajah Lifi lekat-lekat.
Namun tanpa disadari ucapan Raka barusan terdengar jelas ditelinga Byan. Karena memang beberapa menit yang lalu dia sudah datang, namun dari kejauhan dia melihat istrinya sedang berbicara dengan orang lain. Saat semakin dekat, ternyata itu adalah Raka. Oleh karena itu Byan memilih berdiri dibelakangnya sambil mendengarkan obrolan keduanya.
Ia ingin tau seperti apa reaksi istrinya jika hanya sedang berdua dengan Raka.
Namun saat mendengar apa yang diucapkan Raka barusan, membuat Byan mengempalkan tangannya dengan kuat untuk menahan amarahnya.
Iapun menghampiri Lifi dan langsung berdiri tepat disampingnya.
"M-mas By-an" Ucao Lifi terbata. Jujur saat ini dirinya takut Byan akan marah karena mengira kalau dirinya sengaja bertemu dengan Raka.
"Maaf sudah bikin kamu nunggu lama. Tadi ban mobil mas bocor" Byan mengatakan itu sambil mengusap sayang kepala istrinya.
Setelah mengatakan itu, Byan beralih menatap kearah Raka
"Oh iya....terima kasih karena sudah menemani istri saya. Dan satu lagi, anda tidak perlu khawatir masalah kebahagiaan istri saya. Karena sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan istri saya pergi pada siapapun."
Setelah mengatakan itu Byan langsung membawa istrinya beranjak dari sana.
Mendengar kata-kata suaminya, Lifi menjadi begitu takut Byan akan memarahinya. Iapun hanya memilih diam tanpa bicara sepatah katapun.
__ADS_1
Bahkan hanya sekedar pamit dan mengucapkan terimakasih pada Raka saja dia sudah tidak berani.