
Setelah menerima telfon dari suaminya, Lifi tampak meringis karena tiba-tiba punggungnya kembali terasa sakit. Saking sakitnya sampai punggungnya terasa seperti terbelah menjadi dua.
"Ish.....kenapa sakit sekali" Lifipun kemudian merebahkan dirinya diatas sofa panjang yang ada dikamarnya, karena kalau memilih diranjang dia masih harus berjalan beberapa langkah untuk bisa sampai disana.
Byan sendiri saat ini tengah mengantri untuk membeli pesanan istrinya. Sementara bu Kinan terlihat sedang duduk santai diruang tengah sambil berbincang dengan suaminya, pak Rahman.
"Mah.....dari tadi papa kok gak kelihatan istrinya Byan" Pak Rahman terlihat sedang menanyakan menantunya.
"Mungkin dikamarnya pah, biar mama liat dulu. Takutnya kenapa-napa"
Setelah mengatakan itu bu Kinan langsung beranjak dari tempatnya untuk memastikan kondisi menantunya.
"Lif.....kamu didalam nak" Bu Kinan mengetuk pintu kamar sembari memanggilnya.
"Lif....kamu lagi ngapain nak" Dua kali bu Kinan mencoba memanggil menantunya.
Karena tak kunjung ada jawaban, bu Kinan langsung membuka pintu kamarnya. Beruntung saat itu kamarnya tidak dikunci. Sehingga dengan mudah bu Kinan bisa masuk kedalamnya.
"Sayang, kamu kenapa nak" Bu Kinan nampak sedikit berlari saat tiba-tiba dirinya melihat menantunya terlihat tiduran diatas sofa sambil meringis memegangi punggungnya.
"Kamu kenapa sayang" Bu Kinan terlihat panik
"Ma-mamah" Ucap Lifi sedikit terbata.
"Kamu kanapa, apa ada yang sakit" sekali lagi bu Kinan menanyakan perihal keadaan Lifi
"Lifi gak pa pa kok mah, cuman sakit punggung biasa. habis dibuat rebahan biasanya langsung enakan" Lifi sengaja berbohong agar tidak membuat mama mertuanya khawatir dengan dirinya.
"Tapi mama lihat kamu sepertinya sedang menahan sakit. Itu sampek kamu keringetan gini" Bu Kinanpun kemudian mengusap kening menantunya yang nampak basah oleh keringat.
"Beneran mah, Lifi gak pa pa kok. Mama tenang saja" Lifi terlihat memaksakan senyumnya agar mertuanya ini percaya kalau didirnya sedang baik-baik saja.
Bersamaan dengan itu terlihat pak Rahman dan Byan ikut masuk kedalam kamar. Tujuan pak Rahman tentu saja ingin melihat kondisi menantunya, mengingat sejak istrinya mengatakan akan melihat kondisi Lifi, namun kenyataannya sampai saat ini bu Bu kiman belum kembali juga. Pak Rahman mengira jika mungkin sedang terjadi apa-apa pada menantu kesayangannya ini.
__ADS_1
Sementara Byan sendiri baru tiba dirumah dan memang berniat langsung menuju kamarnya untuk melihat kondisi istrinya sekaligus memberikan pesanan yang diminta istrinya tadi.
"Mah, istriku kenapa" Tanya Byan saat dirinya baru saja tiba di kamarnya.
"Sayang.....kamu kenapa hem, kok sampek keringetan gitu. Apa punggungnya sakit lagi" Byan langsung menghampiri istrinya dan memberondonginya dengan banyak pertanyaan.
"Aku gak pa pa mas. Udah ah jangan panik kayak gini" lagi-lagi Lifi berusaha menutupi rasa sakitnya.
"Beneran Yang kamu gak pa pa" Byan masih belum nampak percaya begitu saja.
"Beneran mas. Oh iya mana pesenan aku tadi. Ada gak mas"
"Ada kok, ini mas udah beliin. Buat mama juga, takutnya entar mama ikutan ngidam" Byan memberikan satu bungkus manisan mangga pada mamanya
"Emang kamu mau punya adik lagi" Kesal bu Kinan pada putranya. Karena bisa-bisanya Byan malah menggodanya.
"Ogah ma, punya adik satu aja bawelnya minta ampun. Lagian mana bisa mama hamil. Kan papa sama mama udah gak produktif lagi"
"Siapa bilang papa gak produktig, papa masih bisa ngasih kamu adik lagi. Bahkan lima sekaligus papa masih sanggup" tiba-tiba pak Rahman ikut menimpali perdebatan istri dan anaknya.
"Mas....emang aku kucing apa, kok tiap tahun malah disuruh hamil" Kesal Lifi pada suaminya
"Eh ma-maksudnya bu-bukan gitu" Byan sampai bicara terbata setelah mendapat protes dari istrinya.
"Terus maksudnya apa" Lifi masih saja terlihat kesal
"Mas salah bicara tadi. Sebenarnya maksud mas, kamu hamil laginya entar aja setelah anak kita usia tiga atau empat tahunan. Tapi nyicilnya bisa tiap hari kan"
Mendenger ucapan Byan barusan, membuat bu Kinan dan pak Rahman hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. Sementara Lifi dia terlihat menahan malu pada mertuanya sekaligus menahan rasa kesal pada suaminya.
Setelah itu baik bu Kinan maupun pak Rahman, mereka memilih meninggalkan kamar putra dan menantunya agar keduanya bisa menikmati waktu berdua saja tanpa rasa canggung.
"Sayang ayo dimakan manisannya" Byan terlihat memberikan manisan itu pada Lifi
__ADS_1
Lifipun menerimanya dengan wajah yang terlihat masih kesal.
"Kok istri mas manyun gitu sih, bikin mas gemmes aja pengen nyi-um itu bi-bir" Byan mencoba menggoda istrinya agar tidak kesal lagi.
"Ck...dasar omes" umpat Lifi pada suaminya
"Gak pa pa, mesum sama istri sendiri kan berpahala. Malah kalau makin mesum pahalanya makin gede lo Yang" Byan mengatakan itu sambil mencuri ciu-man dipipi dan bi-bir istrinya.
Hingga tanpa sadar sakit dipunggungnya menghilang seiring kedatangan suaminya. Bahkan saat ini Lifi bisa bergerak dengan sedikit lebih leluasa dibandingkan tadi saat punggungnya terasa sakit.
"Sayang....kamu beneran kan udah makan nasi" Byan memastikan sebelum istrinya makan manisan mangga yang dibawanya. Byan tidak ingin istrinya ini sampai sakit perut.
"Udah mas, sini ah aku lagi pengen banget makan ini. Pasti seger banget deh"
Lifipun memakan manisan itu tanpa sedikitpun menunjukkan ekspresi ketika makan makanan asam. Byan yang melihatnyapun sampai menyipitkan matanya, seolah-olah dirinya yang merasakan asam dari manisan mangga itu.
"Yang....emang gak asem rasanya" Tanya Byan penasaran.
"Nih mas cobain aja. Enak kok, gak ada asem-asemnya sama sekali. Namanya juga manisan mas" Lifi terlihat menyodorkan potongan manisan itu pada suaminya.
Dengan ragu-ragu Byan mencobanya, dan benar saja rasanya memang manis meski masih ada asem-asemnya sedikit.
"Gimana mas"
"Beneran ini seger banget" Byanpun terlihat lebih antusias menikmati manisan itu dibanding istrinya.
"Ini yang pengen aku apa mas Byan sih" Byan terlihat berguman sendiri. Pasalnya setelah merasakan segarnya rasa manisan mangga, Byan langsung memakannya dengan lebih rakus lagi jika dibanding istrinya. Hinggal Lifi yang melihatnyapun merasa sedikit kesal.
"Buat mas semua" Lifi tiba-tiba memberikan bungkusan manisan yang tadi dipegangnya pada suaminya yang saat ini terlihat masih sangat menikmati manisan mangganya.
"Loh Yang, kenapa dikasihkan mas semua. Ini kan kamu yang kepengen." Byanpun seketika menghentikan aktivitas makannya karena merasa heran, istrinya tiba-tiba memberikan semua manisan itu pada dirinya.
"Aku udah kenyang, jadi mas aja yang ngabisin ini" Lifi mengatakan itu sambil dirinya beranjak hendak membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Yang....kamu marah sama mas" Byanpun langsung ikutan bergegas mengejar istrinya yang tiba-tiba maen keluar kamar aja.
"Marah kenapa coba, aku mau bantu mama sama bik Darsih masak" Setelah mengatakan itu Lifi benar-benar berlalu meninggalkan kamarnya dan menuju dapur. Sementara Byan, dia sendiri terlihat sedang melanjutkan aktivitas menikmati manisan mangganya.