Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Ibadah Bareng


__ADS_3

Setelah memastikan suaminya benar-benar mandi, baru Lifi bergegas keluar kamar untuk melihat-lihat kedapur. Barang kali ada sesuatu yang bisa dia bantu disana.


Sesampainya disana, ternyata hanya ada bu Kinan mertuanya.


"Mah...lagi bikin apa, sini biar Lifi bantu" Lifi menghampiri mertuanya yang terlihat sedang mengaduk-aduk sesuatu.


"Eh.....ini mama lagi bikin puding. Kamu kenapa didapur, bukannya baru pulang kuliah. Kenapa gak istirahat saja"


Mertuanya ini tidak akan pernah langsung mengizinkan dirinya berada didapur. Ia begitu menyayanginya, oleh karena itu mertuanya ini tidak pernah membiarkannya capek. Hanya saja terkadang Lifi memaksa untuk bisa membantu pekerjaan dapur.


Bagi Lifi akan terasa membosankan jika hanya menghabiskan waktu di dalam kamar saja tanpa melakukan kegiatan apapun.


Karena Lifi yang tak mau beranjak dari dapur, akhirnya bu Kinanpun membiarkan menantunya ini membantu pekerjaannya.


Sebenarnya bu Kinan merasa sangat senang Lifi mau membantu pekerjaannya. Ia malah merasa bersyukur karena memiliki menantu yang cukup cekatan dalam urusan dapur. Hanya saja bu Kinan merasa kasihan, mengingat menantunya ini masih kuliah. Bu Kinan tidak ingin menantunya kecapek'an dan nantinya bisa berimbas pada nilai kuliahnya.


"Sayang....gimana gubungan kamu sama Byan, apa semuanya baik-baik saja?". Sengaja bu Kinan menanyakan hal ini karena ingin tau sejauh mana perkembangan hubungan anak dan menantunya. Mengingat Lifi sendiri awalnya tidak memiliki perasaan apapun pada putranya. Bahkan bisa dibilang Lifi kurang menyukai sosok putranya.


"Alhamdulillah....semuanya baik mah, hanya saja mungkin kita masih perlu adaptasi untuk bisa saling memahami satu sama lain. Tapi sejauh ini mas Byan baik kok sama Lifi." Ucap Lifi jujur, karena memang nyatanya selama ini Byan selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat-sangat baik.


"Syukurlah kalau begitu. Mama harap kamu bisa terima semua kekurangan anak mama ya. Mungkin bisa dibilang tingkahnya sedikit ngeselin, tapi perlu kamu tau, dia itu cinta banget sama kamu. mama dulu gak tega lihat Byan pas awal-awal dia dijodohin sama papanya. Tiap dirumah selalu murung, kayak gak punya semangat hidup. Bahkan Byan sering nolak secara terang-terangan perjodohan ini. Tapi papa kamu tetep keukeh sama pendiriannya. Jadi mama gak bisa berbuat apa-apa waktu itu" Bu kinan nampak bercerita pada Lifi


"Beneran mah sampek segitunya?" tanya Lifi mulai penasaran


"Beneran, mama sendiri sampek gak tega liatnya. karena Byan pernah cerita ke mama kalau dia itu sukanya sama kamu. Mama juga dulu sama kayak Byan, berharapnya kamu yang jadi mantu mama. Karena entah kenapa mama langsung suka saat ketemu kamu pertama kali. Hingga suatu hari mama minta sama papa untuk diperlihatkan foto gadis yang akan dijodohkan dengan Byan. Dan betapa kagetnya mama, karena ternyata gadis difoto itu adalah kamu" Bu Kinan bercerita dengan begitu antusiasnya.


Mendengar cerita dari mertuanya membuat Lifi merasa malu, pasalnya Byan suaminya itu ternyata malah curhat perihal perasaannya pada mertuanya. Tapi Lifi juga merasa bahagia karena ternyata mama mertuanya juga menyukainya jauh sebelum dirinya menjadi menantunya.


"Kamu sendiri gimana sayang waktu tau mau dijodohin?" Kini giliran Bu Kinan yang bertanya pada menantunya.


"Apalagi mah yang bisa dilakukan perempuan selain menangis. Lifi hanya takut suami Lifi nanti bakal nyuruh berhenti kuliah, belum lagi Lifi kepikiran gimana nanti caranya ngadepin mertua, rasanya Lifi pengen kabur aja waktu itu. Tapi Lifi gak tega sama ayah. Lifi gak mau buat ayah ngerasa berhutang janji sama sahabatnya. Akhirnya Lifipun berusaha berdamai dengan keadaan. Menerima tanpa mau tau seperti apa wajah calon Lifi sebelum akad nikah. Ya meskipun saat itu kak Faris maksa buat ngasih tau fotonya ke Lifi." sama halnya dengan mertuanya, Lifipun bercerita panjang lebar.


"Kalau papa sama mama memang sengaja ngerahasiain soal kamu yang ternyata akan dijodohkan dengan Byan. Papa mau ngasih pelajaran sama Byan karena udah nolak sebelum liat orangnya. Bahkan Byan tau nama yang bakal disebut pas ijab kobul saja itu saat hari-H. tepatnya pas rombongan baru sampai dirumah kamu." Bu Kinan bercerita itu sambil sedikit tertawa. Ia kembali mengingat bagaimana eskpresi putranya kala itu.

__ADS_1


"Sayang....sekarang kamu gak perlu lagi kepikiran gimana ngadepin mertua. Karena disini mama akan menyayangi kamu sama halnya mama menyayangi Byan dan Naila. Kamu gak perlu ngerasa sungkan sama mama, anggap mama ini kayak bunda kamu ya. Mama berharap kamu sama Byan bahagia terus dan kalau boleh mama minta satu hal. Mama pengen punya cucu, biar mama ada yang bisa dibuat temen dirumah" Bu Kinan mengatakan itu sambil menggenggam tangan Lifi.


Lifipun sempat tersedak ludahnya sendiri begitu mendengar kata cucu. Ia merasa bersalah pada mama mertuanya yang begitu berharap dirinya bisa segera hamil. Jangankan cucu, malam pertama saja Lifi masih mengulur-ulur waktu untuk melakukannya. Begitu yang ada dalam fikiran Lifi saat ini.


Byan yang ternyata mendengar mama dan istrinya sedang bercerita, karena memang dia sejak tadi berada disana tanpa sepengetahuan keduanya langsung ikutan nimbrung


"Mama mau cucu berapa dari Byan, nanti Byan bikinin sebanyak-banyaknya. kalau perlu tiap hari Byan lembur biar mantu mama bisa hamil tiap tahun"


Lifipun langsung membulatkan kedua bola matanya secara sempurna. Ia merasa geram dengan apa yang dikatakan suaminya barusan. Hanya saja Lifi tidak barani protes karena merasa tidak enak pada mertuanya.


Melihat ekspresi wajah Lifi yang terlihat kesal, membuat bu Kinan langsung angkat bicara.


"Mama mau cucunya satu aja dulu. Kasian mantu mama masih kuliah" Bu Kinan berkata sambil membelai sayang kepala menantunya ini.


"Yah kirain mama maunya cucu yang banyak. Byan aja udah semangat empat lima ini buat ngadonnya" Lagi Byan berbicara lumayan vulgar di dihadapan mamanya.


"Byan, kebiasaan banget itu mulut gak disaring dulu kalau ngomong. Mau mama sumpel pakek kain lap hem?" Bu Kinan nampak geram sendiri mendengar perkataan dari putranya ini.


Setelah puding yang dibuat sudah masak, semuanya nampak kembali kekamar masing-masing untuk menjalankan ritual sholat magrib.


Begitu selesai menjalankan ritual sholat magrib, keduanya nampak sedang duduk dilantai.


"Yang...." tiba-tiba Byan memanggil Lifi.


"Hem...." jawab Lifi singkat, sesingkat Byan memanggilnya


"Sayang...." Lagi-lagi Byan memanggil


"Hem...." Masih jawaban yang sama.


"Kok ham hem aja sih jawabnya" tiba-tiba nada bicara Byan terdengar seperti sedang kesal.


"La terus mesti jawab gimana mas" Tanya Lifi heran

__ADS_1


"Yang, kita ibadah bareng yuk"


Lifipun nampak mengernyitkan keningnya karena merasa tidak faham masud yang dibicarakan suaminya, yang tiba-tiba mengajaknya ibadah bareng.


"Kan barusan udah mas, entar isyak kita jamaah lagi biar kesannya kita ibadahnya barengan."


"Kok ibadah itu sih" Byan kesal karena istrinya kali ini belum faham juga maksud dirinya ngajak ibadah bareng.


"Lah kalau begitu apa mas, sumpah aku tu gak ngerti maksud kamu. Makanya kalau ngomong itu yang jelas dong"


"Sini Mas bisikin"


Mendengar kata bisik, Lifi langsung mencium aura-aura tidak mengenakan. Namun iapun memilih tetap mendekatkan telinganya pada Byan.


Namun bukannya membisikkan sesuatu, Byan malah langsung membopong tubuh istrinya dan menidurkannya diatas ranjang.


Sontak saja Lifi yang merasa tidak siap seketika langsung panik.


"Mas....kamu mau apa" tanya Lifi saat posisi Byan sudah mengungkung tubuhnya.


"Yang....boleh ya" Ucap Byan sendu dan penuh harap


"Ta-tapi mas, ini kan masih beberapa hari lagi sesuai kesepakatan" Lifi mencoba mengingatkan


"Mas udah gak bisa nahan lagi. Boleh yah?" Lagi-lagi Byan nampak memohon.


"Mas....bentar lagi kita mesti keluar makan malam. Gak enak sama mama sama papa juga kalau kita kelamaan turunnya" Lifi masih mencoba mencari alasan.


"Mama gak bakalan manggil kita kok, mas tadi udah bilang kalau kita makan malamnya nanti belakangan, karena ada tugas penting yang harus kita selesaikan".


Memang benar tadi sebelum kembali kekamar, Byan balik lagi menghampiri bundanya. Dia mengatakan kalau malam ini dia dan Lifi tidak ikut makan malam bersama karena beralasan ada tugas penting. Dia hanya minta pada mamanya untuk menyisahkan makanannya saja, karena khawatir nanti akan lapar saat sudah mengerjakan tugasnya.


"Tap-tapi mas....." belum selesai Lifi berbicara Byan sudah membungkam mulut istrinya ini dengan bi-birnya. Sehingga tak terdengar lagi suara protes dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2