Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Istri Idaman


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga dimana Lifi menginap dirumah orang tuanya. Selama beberapa hari disana, tak banyak yang dapat Lifi lakukan. Hal ini karena kondisi kehamilannya. Hampir tiap pagi dirinya selalu mengalami morning sicknes.


Seperti saat ini, dia sedang terlihat berbaring lemas setelah beberapa saat lalu dirinya muntah-muntah hingga membuat badannya lemas sekali.


"Mas, kamu berangkat aja. Aku gak pa pa kok. Lagian disini kan ada bunda yang jagain aku"


Lifi mengatakan itu karena dari tadi suaminya enggan untuk berangkat ke cafe. Alasannya karena khawatir jika meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.


"Tapi mas nanti disana gak bisa fokus karena kepikiran kamu terus" Byan masih terlihat enggan untuk berangkat.


"Mas, aku gak pa pa. Beneran kok ini udah baikan. Lagian mas itu sekarang harus semangat cari rezekinya, karena sebentar lagi ada sikecil. Jadi papa gak boleh malas" Lifi mengatakan itu sambil tertawa sendiri. Tak lupa tangannya terlihat mengusap-usap perutnya sendiri.


"Kalau soal itu, mas udah siapin segalanya. Karena tujuan mas kerja kan buat nyenengin istri sama calon anak kita. Tapi sayangnya mamanya jarang banget makek uang yang mas kasih. Sekali-kali dong sayang, kamu belanja apa gitu. Biar mas makin semangat lagi cari uangnya" Byan mengatakan seperti itu karena selama Lifi menjadi istrinya, Lifi jarang sekali menggunakan uang belanja yang ia berikan padanya.


"Entar aku belanjanya kalau udah pengen. Sekarang lagi males mas" Jawab Lifi sekenanya.


"Yang...yang...baru kali ini mas lihat ada perempuan males belanja. Biasanya perempuan itu demen banget sama yang namanya shoping"


"Mas, belanja itu kalau memang lagi ada yang dibutuhkan. Kalau gak ada ngapain mesti buang-buang duit. Jatuhnya nanti malah kita jadi boros, kalau boros kesannya kita gak ngehargai gimana susahnya suami nyari duwit" Terang Lifi pada suaminya ini.


Byanpun yang mendengarkan penuturan istrinya langsung mendekat ke arahnya dan menghadiahinya dengan mendaratkan ke-cu-pan sayang di kening istrinya.


"Gak salah mas itu cintanya sama kamu, dan gak salah juga papa mati-matian buat jodohin mas sama kamu. Ternyata kamu benar-benar istri idaman"


Byanpun kemudian membawa Lifi kedalam dekapannya.


"Yasudah, kalau begitu mas berangkat dulu. Tapi janji kalau ada apa-apa kamu harus ngabarin mas ya."


"Siap Komandan" jawab Lifi sambil tangannya bergaya seperti sedang memberi hormat.


"Sayang, entar pulangnya mau dibawain apa? Atau kamu lagi kepengen sesuatu mungkin?"


"Apa ya mas, sementara belum ada. Entar aku kabari deh kalau emang lagi pengen sesuatu"


Setelah itu, barulah Byan pergi menuju cafenya dengan Lifi yang mengantarnya sampai teras depan.


"Mas hati-hati ya dijalan. Kabari aku kalau sudah sampai"


Byan menanggapinya dengan mengangguk sambil tersenyum.


Diapun kemudian mencium tangan suaminya, sedang Byan membalasnya dengan mengecup dalam-dalam kening istrinya.


Setelah itu Byan beralih dengan membungkukkan badannya dan mencium perut istrinya yang masih rata.


"Anak pa pa baik-baik ya didalam. Jangan rewel kasian mamanya"


Tanpa mereka sadari dari dalam sepasang suami istri terlihat saling melempar senyum. Mereka adalah orang tua Lifi yang rupanya sejak tadi memperhatikan interaksi anak dan menantunya yang terlihat begitu harmonis.


"Yah, bunda seneng banget. Akhirnya putri kita bisa bahagia. Meskipun awalnya dia sempat menolak, tapi akhirnya bunda lega setelah melihat pemandangan ini" Ucap bu Maira pada suaminya


"Ayah juga sangat bersyukur, ternyata menantu kita memperlakukan Lifi dengan sangat baik. Dia terlihat begitu menyayangi Lifi dan calon anaknya" Pak Ilham ikut menimpali.

__ADS_1


Saat kedua pasangan suami istri ini tengah sibuk membicarakan keromantisan hubungan anak dan menantunya, Lifi sendiri ternyata sudah berada tepat didepan mereka.


"Ayah sama bunda lagi ngomongin apa sih, kok kayaknya serius banget" Tanya Lifi yang merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tuanya ini.


"Eh...enggak kok, ini tadi cuman bahas masalah toko saja" Bu Maira terlihat sedikit gelagapan saat mendapati putrinya ini tiba-tiba ada dihadapannya.


"Oh gitu yah, kirain lagi bahas apaan"


Untung saja putrinya ini tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan olehnya. Karena setelah mendapat jawaban dari dirinya, Lifi langsung beranjak menuju kamarnya.


Didalam kamar Lifi terlihat berulang kali menatap ponselnya. Ia berharap barang kali ada pesan dari suaminya.


Namun nyatanya hingga siang hari suaminya ini sama sekali belum memberinya kabar.


Sementara ditempat lain, Byan terlihat sibuk memeriksa dokumen laporan keuangan selama sebulan ini. Selain itu dia juga terlihat sibuk mengecek stok bahan untuk kebutuhan cafenya.


"Astaga sampai lupa ngabarin kesayangan gue. Bisa ngambek itu anak nanti"


Byan baru teringat jika sejak tiba dicafe tadi, dirinya sama sekali belum memberi kabar pada istrinya.


Namun baru saja hendak menelfon istrinya, tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk. Dan ternyata orang yang mengetuk pintu ruangannya adalah Alvian.


"Ada perlu apa" Tanya Byan sesaat setelah asistennya ini masuk dan duduk diruangannya.


"Ada berkas yang harus ditandatangani" ucap Alvian sambil tangannya menyodorkan subuah map berwarna biru.


Byanpun kemudian menandatangani berkas tersebut, sambil menanyakan beberapa hal terkait kondisi cafenya pada Alvian.


"Gak usah, gue masih belum lapar" Jawab Byan jujur. Karena sampai saat ini entah kenapa dirinya belum merasa lapar. Padahal ini sudah masuk jam makan siang.


"Yasudah, entar tinggal panggil aja kalo butuh sesuatu" ucap Alvian sebelum meninggalkan ruangan bos yang sekaligus merangkap sebagai teman baiknya ini.


Setelah Alvian sudah tidak terlihat lagi, barulah Byan kembali berniat menghubungi istrinya.


Beruntung dalam sekali panggilan, Lifi langsung menerimanya.


Byan: Assalamu Alaikum sayang


Lifi: Waalaikum salam


Lifi menjawab dengan nada yang terdengar sedikit ketus.


Byanpun langsung faham mengapa istrinya ini bisa seperti ini.


Byan: Maaf mas baru bisa ngabarin kamu, soalnya tadi mas sibuk banget.


Lifi: hem.....


Hanya itu itu jawaban diberikan Lifi pada suaminya.


Byan: Sayang....jangan ngambek kayak gini dong, mas itu tadi ngebut nyelesain kerjaan biar bisa cepet pulang. Mas udah kangen banget sama istri dirumah. Bawaannya pengen deket-deket terus.

__ADS_1


Lifi: ish.....gombal deh


Byan: Kok malah dibilang gombal sih, mas serius ini. Emang kamu gak kangen sama mas hem


Lifi: Gak


Lifi masih saja terdengar cuek pada Byan.


Byan: Yaudah kalau istri mas gak kangen mending mas nginep di cafe ajalah


Byan sengaja mengatakan itu untuk menggoda istrinya.


Lifi: Mas, gak usah aneh-aneh deh. Aku nanti tidurnya gimana kalau kamunya gak pulang


Byan: La katanya gak kangen. Jadi bisa dong kalau cuman harus tidur sendiri.


Byan nampaknya masih belum puas menggoda istrinya.


Lifi: Awas aja kalau sampek gak pulang, bakalan aku susulin ke sana


Byan: Mau dong disusulin istri ke tempat kerja


Lifi: Kok makin nyebelin sih, aku matiin aja deh telfonnya


Ancam Lifi saat dirasa suaminya ini semakin menyebalkan saja.


Byan: Jangan sayang, mas cuman bercanda kok. Lagian mana bisa mas ngelewatin malam tanpa kamu. Mas itu sama kayak kamu, gak bisa tidur kalau gak meluk kamu.


Lifi: Mas nanti pulang jam berapa


Byan: Jam empat mas usahain udah dirumah. Gimana seharian ini, apa dedek bikin mamanya kerepotan


Lifi: Enggak kok mas, dedek anteng banget sehari ini. Yasudah mas lanjut kerja aja. Jangan lupa makan ya


Byan: Syukurlah. Yasudah kalau begitu mas lanjut kerja lagi. Biar bisa cepet selesai dan cepet pulang. Dan satu lagi, I Love you sayang


Lifi: Love you too mas


Baik Lifi maupun Byan, keduanya sama-sama mengakhiri panggilannya.


Menjelang sore, terlihat Lifi sedang menonton televisi sambil menikmati cemilan yang dibuatkan oleh bundanya.


"Lif....kira-kira suamimu pulang jam berapa?" Tanya bu Maira


"Mas Byan bilang tadi jam empatan sudah dirumah"


"Kalau begitu kamu mandi sana, entar keburu suamimu pulang. Nyambut suami pulang kerja itu musti terlihat bersih. Jadi dilihatnya itu enak" Bu Maira terlihat menasehati putrinya.


"Iya bun, kalau begitu Lifi kekamar dulu"


Tanpa banyak bicara, Lifipun kemudian segera beranjak untuk mengikuti nasehat bundanya

__ADS_1


__ADS_2