
Sepulangnya dari alun-alun mereka mampir ke pusat jajanan yang letaknya masih disekitar alun-alun. Disana keduanya nampak berburu aneka jajanan.
"Mas aku pengen makan cimol yang diujung sana. Kayaknya enak deh" Ucap Lifi sambil tangannya menunjuk ke arah pedagang cimol.
Merekapun kemudian berjalan menghampiri pedagang cimol tersebut.
Begitu sampai disana, Lifi bermaksud hendak memesannya. Namun baru mendekat Byan sudah menariknya terlebih dahulu
"Sayang, itu kok kayak dikasih taburan cabe bubuk sih. Jangan bilang ini makanan pedes ya" Byan mengatakan itu dengan sedikit berbisik ditelinga istrinya.
"Cimolnya gak pedes mas, yang pedes itu bumbunya. Tapi ada kok yang gak pedes. Sekarang mending mas duduk saja, biar aku yang ngantri"
Byan akhirnya mengikuti intruksi istrinya. Sedang Lifi saat ini nampak sedang mengantri bersama pembeli yang lain.
Setelah beberapa saat, Lifi datang dengan membawa dua porsi cimol yang sudah siap untuk disantap dan memberikannya pada Byan.
"Sayang, itu kamu pakek bubuk cabenya kok banyak banget sih. Mas gak mau kamu sakit perut lagi kayak pas makan ayam geprek waktu itu"
"Mas tenang saja, aku udah terbiasa kok"
"kemarin pas makan ayam geprek yang super pedas bilangnya juga terbiasa. Tapi nyatanya malah berujung sakit perut juga" Byan mencoba mengingatkan kembali istrinya ini.
"Ck....masih ingat aja"
"Ya ingatlah, mana bisa mas lupa. Gara-gara insiden kamu sakit perut, malah berujung kamu bertemu sama mantan terindah" Wajah Byan berubah sedikit kesal kala mengingat kejadian itu.
"Mas, aku sama kak Raka gak pernah pacaran. Mana bisa dia disebut mantan" Lifi merasa tidak terima dengan apa yang di katakan Byan barusan
"Memang bukan mantan pacar sih, tapi lebih tepatnya mantan pemilik hati" Byan terlihat semakin kesal.
Bukannya terpancing emosi, justru Lifi merasa lucu saat melihat tingkah suaminya jika sedang mode cemburu. Hingga tanpa sadar Lifipun nampak tertawa sendiri.
Byan yang melihatnyapun menjadi semakin kesal.
"Kenapa ketawa, ada yang lucu" Ucap Byan ketus
"Mas...mas...kamu itu udah ngala-ngalain perempuan yang lagi PMS aja. Dari pada kamu marah-marah gak jelas, mending makan itu cimol keburu dingin gak enak"
"Ayo kita makan berdua yang punya mas aja, yang punya kamu gak usah dimakan. Udah keliatan banget kalau itu pedes" Ucap Byan sambil mengambil cimol yang ada ditangan istrinya.
__ADS_1
"Tapi mas aku pengen yang pedes, ayolah aku gak minta dibeliin berlian kok. Aku cuman minta cimol aku dibalikin"
"Mending kamu minta berlian atau apapun itu, dari pada minta ini cimol. Ini tu pedes banget mas gak mau lihat kamu sakit perut lagi"
Ucapan Byan kali ini terlihat sangat serius sekali.Lifipun jadi tidak berani untuk memakan cimol tersebut. Ia takut suaminya ini marah-marah hanya pekara cimol.
"Kamu tunggu disini sebentar, mas belikan minum dulu" Byan mengatakan itu sambil dirinya beranjak ke tukang jual minuman.
Hingga tak lama kemudian Byan datang membawa dua botol air mineral dingin.
"Loh, kok masih utuh itu makanan, kenapa hem? Kamu ngambek sama mas gara-gara gak boleh makan yang pedes?
"Emang aku anak kecil yang hanya pekara makanan aja mesti ngambek" Kesal Lifi karena suaminya ini meledeknya.
"La kalau gak ngambek kenapa itu bibir manyun kayak gitu, jadi gemes pengen ngegigit bawaannya"
"Coba aja kalau berani, ini tu tempat umum"
"Siapa takut, lagian kamu itu istri sah mas. Kalau nanti ada yang protes tinggal tunjukin buku nikah aja, beres dah" Jawab Byan dengan entengnya.
"Kayak gak ada tempat lain saja. Emang dasar otak mesum" Lifi terlihat menggerutu sendiri
"Mas ini kenapa sih"
Lifi nampak kesal karena Byan tiba-tiba menariknya dan mengajaknya pergi begitu saja.
"Mas sebenarnya ini kita mau kemana" Lifi lagi-lagi dibuat bingung. Pasalnya suaminya ini tiba-tiba membawanya keparkiran dan menjalankan mobilnya entah kemana.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, mobil mereka sidah terparkir didepan sebuah gedung.
"Mas,ini kita ngapain berhenti disini, kamu lagi janjian sama orang"
"Ayo turun" Tanpa menjawab pertanyaan istrinya Byan langsung membukakan pintu mobil untuknya dan menggandeng tangannya masuk ke dalam gedung itu.
"Kamu duduk sini dulu, mas kesana sebentar"
Tanpa banyak bertanya Lifipun mengikuti intruksi suaminya. Sepertinya saat ini Lifi belum faham dengan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya ini.
"Ayo" terlihat Byan menghampiri Lifi dan mengajaknya untuk beranjak dari sana.
__ADS_1
Saat ini tujuan Byan adalah mengajak istrinya menuju kamar yang baru saja dipesannya.
Kini keduanya sudah berada tepat didepan punti sebuah kamar hotel.
"Ayo sayang masuk"
Lifi yang baru menyadari kalau saat ini dirinya dan Byan sedang berada dikamar sebuah hotel langsung kaget seketika.
"Mm-mas ini kita nga-pain disini" Lifi sedikit terbata saat mengatakan hal itu.
Byan nampak tersenyum sebelum mengatakan sesuatu pada istrinya ini
"Mas kok malah senyum -senyum sih, kita mau ngapain kekamar hotel kayak gini"
"La kamu bilang apa sayang sama mas waktu beli cimol tadi" Byan mencoba mengingatkan kembali apa yang Lifi ucapkan tadi
"Emang aku bilang apa mas" Lifi terlihat lupa dengan apa yang diucapkannya tadi.
"Intinya mas sekarang udah nyediyain tempat buat kita berdua. biar gak ada lagi orang bilang "Gak ada tempat lain lagi apa"."
"Astaga mas, jadi itu alasan kamu sampek pesen kamar hotel kayak gini" Lifi nampak menepuk jidatnya sendiri. Dirinya baru menyadari jika perkataannya tadi dianggap serius oleh suaminya. Bahkan kini menjadi bumerang bagi Lifi sendiri.
"Ayo mas mending kita pulang. Kayak gak ada kerjaan aja pakai tidur dihotel segala" Lifi kemudian hendak berlalu dari sambil menarik tangan suaminya
"Siapa bilang gak ada kerjaan, bukankah kita bisa olah raga sore disini atau kalau perlu kita bisa menghabiskan malam panjang disini hanya berdua" Ucap Byan sambil mengacungkan kedua jarinya tepat didepan wajah Lifi
"Jangan ngacok deh mas, mending kita pulang saja yuk. Kasian mama nanti malah nyariin"
"Gak bakalan, kan tinggal kirim pesan kalau kita malam ini nginep dihotel" Byanpun kemudian mengambil ponselnya dari saku celananya, kemudian dia mengirim pesan voice pada mamanya.
"Urusan mama beres, sekarang tinggal bagaimana urusan kita" Tanpa aba-aba Byan langsung menggendong istrinya dan membawanya menuju ranjang.
Lifipun nampak berteriak histeris karena merasa kaget saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang.
"Mas lepas gak, kamu gak usah aneh-aneh deh" Lifi nampak memberontak agar suaminya ini mau melepaskan dirinya.
"Gak ada yang aneh sayang, bukankah ini masih dalam hari dimana mas dapat jatah dua kali sehari dan anggap saja hari ini jatahnya mas rapel. Jadi besok kamu bisa libur sehari saja"
"Tapi mas ini masih so....." belum selesai Lifi berbicara, Byan sudah terlebih dulu membungkamnya.
__ADS_1
Alhasil, malam ini bisa dipastikan keduanya akan menghabiskan sore dan malam panas bersama dikamar hotel itu.