
Happy Reading !!
"Apa yang kamu coba untuk bicarakan, kenapa kamu mendadak seperti orang lain saja ,"Sahut Darren memecah kecanggungan akibat ucapan terima kasih yang tulus keluar dari mulut sahabatnya.
Mereka sadar bahwa selama ini Arnon bukanlah tipe orang yang suka berbasa basi hanya lantaran karna sebuah ucapan "Terima Kasih. "
"Jamg sungkan sama kami Ar, kami akan selalu membantu kamu dan terus akan berada di sampingmu dan juga Stella, "Ucap Marcell dengan senyum tipis di wajahnya, karna dia meraskaan bahwa akan ada sesuatu hal yang besar akan terjadi di balik ucapan dari Arnon tersebut.
"Yoi bro , kalian itu sudah seperti keluarga bagi kami ." Sahut Jerry dengan ikut tersenyum paksa.
Sedangkan Angel dan Citra hanya menyimak saja tanpa berniat sedikit pun untuk menyela omongan dari pihak lelaki, karna takut salah ngomong nantinya bisa berakibat fatal bagi mereka,
Arnon hanya menganggukan kepalanya paham atas kondisi kecanggungan dari para sahabatnya itu,
Kemudian dia langsung memperbaiki duduknya, menegakan tubuhnya dan mulai menatap kepada wajah-wajah sahabatnya yang berada di meja itu,
"Aku mau nitip pesan sama kalian, dan dengan sangat memohon kepada kalian agar mau menjalankan pesan dan permintaan terakhir dari ku ini ." Ucapnya dengan mata yang sudah telihat berkaca-kaca,
Dan detik selanjutnya tetesan buliran air itu pun lolos dari mata indah milik Arnon.
Para sahabat pria yang melihat Arnon menangis langsung merasakan perasaan tidak enak, mereka merasa bahwa telah terjadi sesuatu di balik hubungan sahabatnya itu,
Sedangkan Angel dan Citra yang terbawa suasana juga mulai ikut berkaca-kaca melihat Arnon yang sedang menahan kepedihan yang sangat dalam.
Sambil menarik nafas panjang dia pun melanjutkan lagi kalimatnya.
"Jika suatu saat aku pergi, aku mohon sama kalian semua agar mau menggantikan posisi ku untuk menjaga dan selalu ada di samping Stella, karna dalam kondisi jantungku yang semakin lama semakin lemah aku yakin tidak akan bertahan lebih lama lagi, "Ucapnya menundukan kepalanya dengan air mata yang sudah menetes sedari tadi.
Marcell sedari tadi menatap ke arah sahabatnya itu kini mulai mengalihkan pandanganya ke arah lain karna mulai merasakan air mata yang akan ikut terjatuh. "Kamu itu ngomong apaan sih Ar, kamu bahkan tau aku juga terus berjuang untuk melawan kondisimu itu , bukanya kami tidak mau menjaga Stella, tapi kamu tau sendiri hanya kamu yang benar-benar bisa menjaga dan mengisi kekosongan di hatinya setelah dia kehilangan orang tuanya dulu . Jadi aku harap kamu juga ikut berjuang melawan penyakit mu itu. Karna jika hanya aku saja yg berjuang dan kamu tidak semuanya akan sia-sia Ar . "Bentaak Marcell dengan menahan air matanya tak habis pikir dengan apa yg di katakan pria itu.
__ADS_1
Arnon hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan untuk membalas perkataan dari Marcell." Aku nyetah Cell, aku gak bisa terus-terusan menahan keegoisan di dalam hatiku yangmemaksakan kehidupan ini harus terus berjalan. Aku sakit Cell, sakit , " Ucapnya dengan menepuk dada menunjukan bahwa dia sudah tidak mampu untuk menahan sakit yang selalu datang menghampirinya,
"Sepuluh tahun aku menahan dan memaksakan Stella untuk bersama ku, untuk selalu mendampingi ku, memberikan dia kebahagian yang mungkin akan bisa dia kenaang ketika aku pergi nanti. Aku juga gak sanggup selalu melihat dia di hina dan di kata-katai dengan kasar oleh orang tua ku, apa kalian tau sakit rasanya melihat dia yang hanya bisa diam ketika mendapatkan cacian dari mamah ku, sedangkan aku hanya bisa terdiam tanpa tidak tau harus berbuat apa-apa. Di satu sisi aku tidak bisa melawan orang tua ku di sisi lain hanya Stella orang yang aku cintaii, hanya karnanya aku hidup hingga saat ini. Hanya karnanya aku rela menahan sakit yang setiap saat mengerogoti kehidupanku , jika aku di paksa untuk berpisah dengannya berarti tuhan juga memaksakan kehidupan ku berhenti di saat itu juga ."Ujarnya dengan menutup matanya yang membayangkan jika semua itu benar-benar akan terjadi.
"Kami akan menjaganya Ar, kami akan menjaganya, kami janji akan menjaganya ."Jawab Darren di sela tangisanya.
Semua yang berada di meja itu ikutmenangis merasakan kepedihan yang di rasakan oleh sahabanya, mereka menangis bukan karna mereka cengeng tapi lantaran mereka yang paling tau dengan kepedihan sakit yang di rasakan oleh Arnon.
Di saat mereka tengah menangis massal , terlihat Stella yang baru saja kembali dari toilet menghampiri meja makan yang di dudukinya tadi di sebelah Arnon,
Stella langsung mendudukan tubuhnya kembali ke kursi dan melihat ke arah semua orang yang berada di meja itu, dia mengnyeritkan keningnya bingung "Ada apa sih koq mata kalian semua pada merah ,?"Tanyanya menatap ke wajah sahabatnya satu persatu.
"Ini juga Citra sama Angel kenapa lagi nangis kaya gtu " tunjuknya meliha ke2dua sahabat wanitanya yang masih ada air mata di pipinya.
Namun belum mendapatkan jawaban sama sekali, dia langsung mengalihkan pandangan ke arah kekasihnya yanv terlihat sama mata yang juga memerah, dan di langsung menangkupkan kedua tanganya di pipi arnon merasakan lengket yg dia yakini Arnon menghapus bekas air mata itu, dengan menarik sedikit wajah Arnon dan dihadapkan dengan wajahnya untuk mencari jawaban yang sebenarnya " liat ke dalam mata ku Arnon ! " perintahnya dengan tegas.
Sambil menarik nafas panjang Arnon langsung menjawab pertanyaan dari kekasihnya. "Sayang udah ya gak usah di bahas , ini hanyalah sebuah kisah masa lalu kehidupanya Jerry yang sedih jadi tidak perlu khawatir ya ." jawabnya mencoba menyakinankan Stella.
"Benarkah seperti itu Jer ?" Tanya Stella yang tidak yakin dengan jawaban lelakinya.
" I - iyah la ." jawbanya dengan menahan nafas karna takut salah ucapan.
Stella yang tidak ingin merusak suasana dengan kecurigaanya hanya bisa meyakinkan dirinya untuk percaya dengan kata-kata Arnon dan Jerry.
"Hem baikalah aku percaya, "Ucapnya dengan senyum di bibirnya.
Sontak saja semua yang berada di meja situ bernafas lega karna bisa melunturkan kecurigaan Stella ,
Tak lama makanan yang mereka pesan datang setelah 20 menit waktu yang di gunakan untuk mengunggu dengan deraian air mata,
__ADS_1
Satu persatu dari mereka mulai menyantap makan yg mereka pesan masing-masing,
Suasana sangat hening hanya ada dentuman sendok dan garpu yg terdengar dari meja itu ,
Arnon yang sudah sejak tadi menyelesaikan makan malamnya, hanya asyik menatap wajah Stella , akhirnya tersenyum dengan sebuah idea di wajahnya,
Lalu dia meminta ponselnya dari Stella untuk menjalakan rencanaya," sayang ponsel ku mana ?"Tanyanya pada kekasinya yang masih asik dengan makananya,
"Dibdalam tas ,"Jawabnya sambil mengunyah makanan.
Arnon langsung mengambil tas Stela yang berada dibelakang tubuh Stella dan mencari ponselnya,
Ketika dia menemukan ponselnya, dia segera mengetikan sebuah pesan singkat kepada seseorang.
Setelah selesai mengirim pesan itu, dia langsung memasukan lagi ponselnya ke dalam tas milik Stella " kirim pesan buat siapa ?"Tanya Stella yang tadi melihat Arnon mengetikan sebuah pesan singkat,
"Oh itu wa dari Arga sayang tadi mau menanyakan keadaan di rumah ." jawabnya dengan senyuman takut di curigai oleh kekasihnya ,namun Stella hanya menganggukan kepalanya singkat dan menyeruput minumanya setelah mengahabiskan makananya.
Arnon segera izin ke toilet untuk menjalankan rencananya untuk Stella.
Selang lima menit Arnin izin ke toilet, tiba-tiba ada beberapa orang menghampirinya memberikan bunga mawar merah favoritenya itu satu persatu, membuat dia bingung siapa yg memeberikan dia bunga, karna dia pikir tidak mungkin Arnon karna kekasihnha itu sedang bersamanya saat ini,
"Wih banyak banget tuh bunga udah kaya kuburan aja nih meja ."Ucap Jerry yang ikut bingung ,mengapa semua orang datang untuk memberikan bunga- bunga itu kepada Stella.
"Hehe dari pengagum rahasia loe kali la," Sahut Citra meledek wajah bingung dari Stella.
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak"nya ya gengs 😘
So very thankfull for you all , karna sudah membaca hasil karya ku ini 🙏🏻🙏🏻
__ADS_1