
Happy Reading !!
"Kak makanan itu untuk siapa ?" Tanyanya karna dia tadi sudah menolak untuk makan.
"Untuk adik kakak lah ." Sahut Arvan, lalu bangkit dari tidurnya dan melangkag kan kakikny menarik tangan adiknya untuk duduk di sofa,
Stella yang agak sedikit takut dengan kakaknya, memilih mengikuti langkah Arvan dan mengikuti kemana dia akan menuntunya.
"Duduk !" Perintahnya
Stella yang medapatkan perintah duduk, langsung mengambil posisi senyaman mungkin ." Kamu harus makan! Gak boleh sampai sakit. Kakak gak mau hal itu terjadi lagi sama kamu ." Arvan memberi peringatan untuk adiknya.
"Aku gak nafsu makan kak. Nanti aja ." Tolaknya karna saat ini dia benar-benar tidak ingin makan .
"Makan !" Perintah Arvan tegas.
Stella langsung tersentak marah karna di bentak oleh kakaknya.
Arvan yang melihat raut wajah Stella langsung mengambil tangan adiknya, menuntun tanggan itu untuk mengambil sendok dan memotong-motong makananya.
"Dengarin ! Kamu tuh harus terbiasa hidup tanpa dia! Lihat sana orang-orang diluat sana banyak yang dikhiantai suaminya, bahkan terkadang dalam kondisi tengah mengandung aja, mereka bisa menghidupi dirinya sendiri, bisa ngapa-ngapain sendiri, gak nyusahin orang lain kaya kamu begini paham gak !?" Ucapnya memarahi adiknya yang sangat kekanak-kanakan hingga mogok makan seperti ini.
Stella yang mendengar ucapan kakaknya berubah menjadi begitu marah.
Pranggg ..
__ADS_1
dia menghempaskan sendok berlapis emas itu dengan keras di atas meja kaca dikamarnya.
"Shea !" Bentak Arvan
Plakkk satu tamparan berhasil mendarat dipipi mulus Stella.
Arvan yang kesal akibat ulah Stella yang tidak sopan menurutnya. Dengan tidak sengaja dia replek menampar wajah adiknya. Dan dia langsung tersdar dengan apa yang sudah di lakukan . Dia segera melihat kearah tangannya dan pipi adiknya ." Shea maafin - "
Pranggggg Stella melempar piring itu dengan sangat kuat.
Stella yang marah dan sakit hati kakanga menampar dirinya cuman gara-gara tidak mau makan. Dia melemparkan piringnya dengan keras hingga pecah dan berserakan di atas lantai.
Dengan rasa sakit hati dia langsung berlari dan memakan makananaya yang sudah jatuh dilantai tanpa perduli dengan pecahan-pecahan piring yang berserakan bersamaan dengan makanan itu.
Arvan yang sangat merasa bersalah langsung memeluk tubuh adiknya yang tengah menangis histeris agar berhenti memakan makanan yang sudah jatuh dilantai dengan bercampuran pecahan-pecahan kaca piring.
"Kakak sama aja sama Arnon, Jahat ! Kalian berdua jahat sama aku ." Tangisnya sakit hati karna seumur hidupnya baru pertama kali di tampar oleh kakaknya.
"Maafin kakak sayang pleas ." Pintanya lagi dan lagi
"Pelayan ." Pekiknya memenggil seluruh pelayan di mansionya.
"Kami tuan ," jawab seluruh pelayan dirumahnya.
"Bersihkan semua pecahan piring itu, dan sebagian bantu adik saya memenersihkan dirinya ," titahnya dan segera di jalanjan oleh para pelayan.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab seluruhnya serempak.
Setelah satu jam kemudian Stella selesai mandi dengan dibantu para pelayan.
Saat ini Stella seperti sudah kehilangan jiwanya, dia hanya diam melamun menatap ke arah hampatan air laut yang luas, karna mansionya dia di bangun di pesisir pantai.
Dia melihat matahari terbenam meskipun dia tidak menikmatinya kali ini.
Arvan yang melihat adiknya seperti itu, merasakan sakit dihatinya, bagaimana tidak? Adiknya yang sangat dicintainya, adik satu-satunya yang dia punya. Kini harus merasakan sakit hati akibat sebuah pengkhiantan ." Papah, Mamah. Apa kalian melihat dari sana, wanita kecil kesayangan kita saat ini sedang terluka, karna sebuah pengkhiantan laki-laki yang kalian pilihkan untuknya." Batinya mengadu pada bayangan Papah dan Mamahnya.
Arvan melangkah mendekati adiknya namun tak ada respon sama sekali. " maafkan kakak ya sayang ." Lagi dan lagi dia berusaha mendapatakan maaf dari Stella atas kejadian tadi di kamar. Namun Stella benar-benar tidak meresponya.
Sakit yang dia rasakan saat ini, karna mendapatkan adiknya seperti ini. Marah karna dia memberikan adiknya kasih sayang dan cinta yang sangat besar, namun orang lain malah memberikanya luka,
Karna masih tidak ada respon dari Stella. Akhirnya dia memutuskan untuk melangkahkan kakinya pergi, untuk membiarkan adiknya sendiri dulu.
Namun disaat dia baru melangkahkan kakinya. Stella langsung menggengam tangan kakaknya dan menariknya untuk duduk kembali.
Setelah Arvan kembali duduk,Stella langsung menyandarkan kepalanya pada bahu kekar milik Arvan. Akan tetapi masih dalam mode diam tak besuara .
Drt .. drtt
Jangan lupa Like,Komen dan Vote karya Mimin sebanyak-banyaknya yah gengs !!
Terima kasih !!
__ADS_1
Follow Ig Mimin @Andrieta_rendra