
Happy Reading π€¦π»ββοΈπ
Lima tahun kemudian.
Stella yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang.
Jika dulu dia dipenuhi dengan sifat kehangatan dan keceriaanya setiap waktu, maka kali ini berbanding terbalik.
Stella yang sekarang adalah sosok yang paling menakutkan, sorot mata yang penuh kebencian, wajah yang terlihat sangat dingin dan menyimpan sebuah amarah yang besar. Bahkan saat ini tidak ada yang bisa mengajaknya berbicara seperti dulu. Karna siapapun yang melihatnya sekarang akan merasakan ketakutan walau hanya ditatap dengan matanya.
Seperti biasa saat ini keluarga besar Lesham tengah sarapan bersama, hal yang wajib dilakukan setiap pagi sebelum mereka semua beraktivits.
"Kamu ke kantor jam berapa hari ini La?" Tanya Alex memecah keheningan.
"Selepas mengantarkan anak-anak, Stella langsung ke kantor Pah." Jawabnya sambil memotong-motong sarapan milik Aiden dan Airein, hal yang sama persis dilakukanya untuk Arnon setiap pagi.
"Bubu, hari ini disekolah kami ada lomba cerdas cermat." Sahut Airein sambil mengucah roti yang di suapkan oleh ibunya.
"Oh ya, jam berapa sayang? Nanti Bubu akan datang." Janjinya yang selalu membuat anak-anaknya itu merasakan kebahagian.
"Jam 10 Bu," jawab Aiden singkat, sifat yang sama persis seperti Paponya.
"Baiklah, nanti Bubu akan pergi untuk menyaksikan kepintaran anak-anak Bubu ini." Ucapnya datar tanpa senyum.
__ADS_1
Namun hal itu sudah tidak dipermasalahkan lagi dengan putra dan putrinya. Karna setiap hari keduanya selalu di berikan pemahan dari Wekong dan juga Weponya, tentang bagaimana kesedihan Ibunya kehilangan seorang ayah untuk mereka. Dan beruntungnya, Aiden dan Airein adalah keturunan yang mempunyai IQ yang tinggi menurun dari Arnon dan Stella.
"Apakah kalian sudah siap Children?" Tanya Stella pada anak-anaknya.
"Yes Bubu." Jawab keduanya serentak.
"Baiklah, ayo kita pergi nanti kalian bisa terlambat," ajak Stella karna dia juga harus menyelesaikan pekerjaanya sebelum melihat pertandingan Putrinya.
Aiden dan Airein langsung melangkah mengarah ke Alex dan Elena untuk berpamitan, "bye-bye Wekong, Bye-bye Wepo." Ucap keduanya mencium lembut kedua pipi Alex dan Elena.
"Bye-bye Cucu Wepo." Sahut Elena tersenyum bahagia.
"Belajar yang rajin ya sayang." Sahut Alex memeluk tubuh cucu-cucunya.
Stella juga langsung berpamitan kepada kedua mertuanya." Stella pamit ya Pah Mah," ucapnya memeluk tubuh Alex dan Elena,
"Sayang apa kamu tidak berdoa dulu kepadanya?" Tanya Elena yang sudah tak pernah melihat Stella berkunjung ke gereja lagi selama kepergian Arnon.
Stella yang ditanya seperti itu langsung menatap tajam ke arah patung salib yang berada di Mansion itu," aku membencinya hingga kematianku, tidak akan pernah menyembahnya kembali sebelum dia mengembalikan suamiku." Sahutnya tegas menatap kebencian pada Tuhan yang selama ini menuntunya.
Alex dan Elena yang mendengar jawaban itu langsung mengerti, jika Stella masih menyimpan luka yang sangat mendalam dan hati yang belum ikhlas sepenuhnya dengan kepergian Arnon." Baiklah sayang, berangkatlah! Anak-anak sudah menunggumu." Balas Elena canggung mendapatkan tatapan tajam dari Stella.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Pah, Mah Bye." Pamitnya langsung melangkahkan kakinya keluar menuju mobilnya.
Setiap harinya dia memang selalu mengantarkan anak-anaknya itu kesekolah dan menjemputnya, sesibuk apapun dia dikantor pasti dia akan menyempatkan waktunya untuk Putra dan Putrinya yang sangat berharga baginya.
Setelah kepergian Arnon, Stella kembali pada Posisinya yaitu sebagai CEO dari perushaan Cyberaya Cabang Asia dan Australia menggantikan suaminya.
Dia selalu menyibukan dirinya agar tidak selalu teringat akan bayang-bayang dari Arnon, namun dia tidak ingin melupakanya sama sekali, karna baginya Arnon adalah cinta pertama dan terakhir untuknya dan Anak-anaknya.
"Aiden, ingat pesan Bubu, jika disekolah harus selalu bersama kakak kamu Airein, Bubu tidak mau kalian berpisah dan berpencar lalu kemudian terjadi sesuatu yang kalian tidak duga." Pesanya yang selalu di ucapkan pada anak-anaknya.
"Siap Bubuku yang cantik," goda Aiden agar Ibunya itu tersenyum walaupun setipis mungkin.
"Good boy sayang." Balas Stella dengan memberikan kecupan di kening Putranya.
"Bubu, pulang nanti kita jadi mampir ke makam kakak Nara dan Papo kan?" Tanya Airein antusias jika ingin berkunjung ke makam Arnon dan Nara.
"Tentu saja sayang." Nanti habis pulang pertandingan kita mampur kesana dan memberikan bunga untuk Papo dan kakak." Sahut Stella dengan lembut pada Putrinya.
"Yesss." Ucap keduanya menunjukan kebahagian.
Stella yang melihat senyum yang merekah dari putra putrinya, langsung menatap kedepan dalam kekosongan." Seandainya kamu ada disini My Dear, pasti rasanya akan jauh lebih bahagia, melihat senyum kebahagian dari Anak-anak kita. aku sangat merindukanmu Arnon." Batinya menatap senyum kebahagian Aiden dan Airein
To be continueπ
__ADS_1
Jangan Lupa. like.komen dan Vote ya ππ»ππ»