Terpaksa Mengkhianati

Terpaksa Mengkhianati
Chapter 106


__ADS_3

Happy Reading 👩🏼‍💻📖


Saat ini Stella sudah siuman dari pingsanya,


Dengan diam dia menatap kearah mobil suaminya yang tengah di eksekusi oleh polisi, Dan kali ini sikapnya berbeda, tatapanya kosong seperti tidak mempunyai jiwa,


Sesekali buliran kristal itu masih jelas jatuh dari matanya yang hanya menatap lurus kedepan,


Jiwanya sudah terbang ikut bersama dengan pria yang sangat dicintainya.


Dia begitu tidak menyangka jika di tahun kesebelas mereka bersama, Tuhan memberikan dua orang malaikat untuknya, namun Tuhan juga mengambil satu malaikat dalam hidupnya.


Begitu tidak adilnya ini baginya, di detik-detik terakhir dia masih ingin mencium aroma tubuh suaminya, dia masih begitu ingin mendekap hangat tubuh suaminya, dia ingin melihat mata indah suaminya. Dia ingin menggenggam erat tangan kekar yang selalu membawanya masuk kedalam kebahagian yang sederhana.


Kini semunya sudah hilang seketika, disaat meledaknya mobil itu bersamaan dengan hancurnya semua mimpi dan janji indah yang mereka buat bersama.


"Aku benar-benar sulit untuk kehilanganmu, hati dan fikiranku terasa sangat sakit disaat aku melihat semuanya ini. Kewarasaanku benar-benar hancur saat ini, kamu telah pergi Arnon, kenapa kamu tinggalkan aku begini. Kamu yang membuat hidupku Hancur, kamu yang meremukan jantungku dan pikiranku." Dalam diam dia menatap kearah mobil itu berharap ada keajaiban dari Tuhan yang menyelamatkan suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku Arnon, semuanya salahku, maafkan aku yang gak bisa jagain kamu, bahkan untuk meyakinkan hatiku saja aku benar-benar gak sanggup, semuanya bagaikan mimpi saat ini, mimpi buruk bagiku, sangat-sangat buruk untuk ku kehilanganmu.


"Kamu bodoh Stella, kenapa kamu tidak melarangnya pergi tadi, padahal sudah jelas-jelas kamu merasakan keganjalan pada hari ini." Buliran kristalnya tak sanggup untuk dihentikan saat ini dia benar-benar seperti sudah seperti patung saat ini. Hanya terlihat air mata yang mengalir tanpa ada kedipan dan suara tangisan apapun.


Disaat dia menatap kosong kedepan, dia melihat seorang polisi membawa sebuah jasad yang sudah tidak bisa dikenali lagi,


Seketika Elena, Marcell,Alex,Jerry dan yang lainya langsung menangis histeris menangisi jasad yang sudah terbakar itu.


Karna didalam mobil sudah tidak ada lagi selain Arnon, jadi sudah bisa dipastikan bahwa jasad yang terbakar itu adalah Arnon.


Namun berbeda dengan Stella, dia berjalan dengan langkah yang gontai mendekati jasad suaminya.


"Ini bukan Arnon, ini bukan suamiku." Pekiknya dengan tegas.


"Hikss..hikss.. ini bukan suamiku, kalian salah ini bukan Arnonku!" Teriaknya menggila.


"Stella,tenangkan dirimu nak." Ucap Alex menenangkan anak menantunya.

__ADS_1


"Enggak Pah, jasad ini bukan Arnon, aku yakin 1000% ini bukan Arnon." Pekiknya dengan tegas.


"Sayang tenangkan dirimu nak, itu gak mungkin karna yang ada didalam mobil itu hanya Arnon saja, tidak ada yang lain." Ucap Alex lagi-lagi menjelaskan pada Menantunya.


"Iya benar La, gak mungkin jika jasad ini bukan Arnon, karna tidak ada lagi didalam sana selain suami kamu." Ucap Marcell yang prihatin dengan kejiwaan dari sahabtnya itu.


"Enggak ini bukan Arnon, hikss..hikss. Ini bukan suami ku, kalian tolong percaya sama aku." Tangisnya histeris tak bisa dibendungkan lagi.


Dengan cepat Elena langsung maju memeluk tubuh Anak menantunya yang sudah terlihat tidak bisa berdiri lagi, "hikss..hikss mah, aku mencintai Arnon, dia gak boleh pergi ninggalin aku dan anak-anak." Ucapnya lembut dengan kesadaran yang lagi-lagi mulai menurun dan membuatnya kembali jatuh pingsan didalam pelukan sang ibu mertua.


"Stella, sadar Stella." Ucap Elena yang saat ini masih memeluknya. Dan meniciumi Pipi Stella.


"Tante, baik kita bawa pulang saja Stella, saya takut itu tidak akan baik untuk kandungnya Tante." Usul Angel yang tak sanggup melihat kerapuhan Stella saat ini.


"Arnon jangan pergi sayang, kembalilah." Gumamnya dalam alam bawah sadar.


"Hikss..hikss Stella tolong jangan begini sayang." Lirih Elena pelan memeluk tubuh rapuh menantunya dengan erat.

__ADS_1


"Ayo mah, kita bawa dia pulang terlebih dahulu, biar jasad putra kita diurus oleh polisi dan langsung kita bawa pulang." Ajaknya pada sang iStri.


To be continue


__ADS_2